
Pada malam hari, Pramana sedang duduk di lantai bersandar pada pinggiran tempat tidur memangku laptopnya dan tampak sibuk.
Anisa datang dengan membawa segelas susu jahe untuk Pramana. "Ini susu jahenya. "Tuan silahkan diminum!"
Pramana menoleh kepada Anisa sembari tersenyum. "Terima kasih sayangku!"
"Ich apaan sih?" Anisa menaikkan bahunya sebelah sembari mendudukan dirinya di tepi tempat tidur.
"Kok apaan sih? emangnya nggak boleh gitu panggil sayang?" balasnya Pramana sembari mengambil gelas tersebut yang masih hangat dan di isinya masih tampak berasap.
"Em ... malam ini aku mau tidur di kamar kak Aisyah dan kamu boleh tidur di atas tempat tidurku!" kata Anisa sembari melirik ke arah tempat tidurnya.
Pramana mengerutkan keningnya, lalu dia sedikit merubah posisi duduk dan menghadap ke arah Anisa yang duduk di atas. "Kenapa tidur di tempat Kak Aisyah ini kan kamarmu?"
"Ya ... biar kamu di sini bisa tidur di kasur tidak di lantai lagi dan aku akan tidur di kamar Kak Aisyah!" jawabnya Anisa sambil mengambil handphonenya.
"Ya sudah, kalau kamu mau tidur di kamar Kak Aisyah aku mendingan tidur di ruang tengah aja lah di sofa nggak apa-apa!" Pramana berdiri sembari menenteng laptopnya.
"Eeh, mau ke mana? kenapa tidur di sofa, kan udah tidur di sini di kamar ini! ngapain mau tidur di ruang tengah sih?" Anisa langsung meraih tangan Pramana sembari menatapnya.
Sejenak Pramana atau diam dan menatap ke arah Anisa. "Iya kan kita nggak boleh satu kamar, jadi kamu tidur di sini saja dan aku biar tidak di ruang tengah nggak apa-apa di sofa. Nggak masalah kok!" jawabnya Pramana.
"Iih jangan ... kamu di sini aja. Dan biar aku tidur di kamar kak Aisyah!" sambungnya Anisa dengan tatapan dekat ke arah Pramana yang mungkin tersinggung atau gimana.
"Nggak-nggak kalau kamu mau tidur di kamar Aisyah ... Aku juga mau tidur di ruang Tengah," jelasnya Pramana keduanya saling bertatapan dengan dalam.
"Kok kamu kayak gitu sih ... terus maunya gimana?" Anisa kebingungan.
"Pokoknya kalau kamu mau di kamar kak Aisyah. Aku juga mau tidur di ruang tengah titik." Kata Pramana kembali sambil masih berdiri.
Hening ....
Pramana pun kini duduk di sampingnya Anisa setelah meletakkan laptopnya di atas tempat tidur. Belakang tubuhnya.
"Terus kita mau gimana ... sama-sama tidur di sini!" suaranya Nisa sedikit bergetar dia merasa bingung dan kesal.
"Iya, kamu tetap di kamar ini, dan aku juga! itupun kalau nggak boleh aku tidur di ruang tengah. Lagian kita nggak ngapa-ngapain kok! kamu tahu sendiri kita masih punya batasan untuk melakukan sesuatu yang memang tidak dibolehkan! di tempatku ... Oke kita memang beda kamar, tapi kan di sini kita nggak ditempatkan di tempat yang berbeda! lagian di sini sifatnya hanya sementara!" ujarnya Pramana.
Anisa terdiam dia tidak menjawab dengan apa yang diungkapkan oleh Pramana.
"Nisa, aku rasa apa yang kita lakukan itu wajar yang ... bagaimanapun kita punya ikatan dan kita sama-sama normal, yang penting kita berdua masih bisa menahan dan punya batasan sendiri, orang pacaran aja yang jelas-jelas haram! terkadang nggak bisa menahan sesuatu yang bergejolak dalam diri. Apalagi kita yang bagaimanapun punya ikatan di atas kertas dan setiap harinya bertemu!" Pramana menatap ke arah Anisa yang menunduk dalam serta menautkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Lusa. Aku mau pulang! kamu mau ikut kan dengan ku? dan kita akan menikah lagi di sana secepatnya!" tatapan Pramana semakin lekat dan kini telunjuk Pramana mengangkat dagu Anisa agar mengangkat wajahnya.
Sejenak Anisa membalas tatapan Pramana lalu mengangguk pelan menandakan kalau dia mau ikut.
"Tapi boleh nggak? aku ngomong sesuatu sama kamu!" ucapnya Anisa sambil kembali menunduk.
"Apa itu ngomong aja tidak pernah ragu!" balasnya Pramana sembari mengelus pipinya Anisa.
"Apa kamu yakin, em ... maksud aku, apa kamu sudah memantapkan hati tentang perihal mau menikahi ku lagi? siapa tahu nanti kamu menyesal jika saja kekasih mu itu kembali, kalau kemarin kan ... terjadi pernikahan kita memang serentak! daripada pernikahan mu gagal dan alasan lainnya juga yang ada pada diriku!" ujarnya Anisa tanpa melihat ke arah Pramana.
Mendengar itu ... Pramana seolah berpikir dan sedikit bengong, kalau soal memantapkan hati. insya Allah Pramana memang yakin dan sudah mantap untuk menikahi Anisa kembali. Apalagi dengan dukungan dan ridho orang tua yang insya Allah akan membawa berkah.
Dan soal kepulangan Adisty ... Pramana merasa bimbang untuk menerimanya kembali atau tidak. Dan pada kenyataannya sampai detik ini Pramana rasanya belum siap untuk bertemu Adisty. Padahal sebelum dia pulang ia mencari-cari.
Namun setelah berjalannya waktu, justru ia terlalu nyaman bersama Anisa dan menambah rasa kecewanya atas kehilangan Adisty yang menjadikannya ia harus menikahi Anisa waktu itu.
"Kenapa diam? dan kenapa tidak menjawab? sekiranya ragu. Nggak pa-pa kok kamu lepasin aku! sebelum semuanya terlambat!" sambungnya Anisa sembari melirik ke arah Pramana dengan tatapan sendu.
Pramana hanya membalas tatapan Anisa dan memandangnya lebih dalam.
"Sesungguhnya ... aku nggak mau kamu menikahi ku hanya karena nafsu, em ... maksud aku. Karena kamu merasa kasihan kalau karena nafsu sih nggak mungkin kamu nafsu sama aku. Bagaimanapun kekasih kamu lebih segalanya dan aku tidak ada apa-apanya!" tambahnya Anisa kembali.
Dan Anisa mengangguk pelan, menyilakan Pramana untuk bicara.
"Kita menikah sudah beberapa bulan dan aku rasa ... kita sudah merasa nyaman bersama! apa salahnya kalau kita melanjutkan ini ke sebuah hubungan yang lebih dalam lagi dan keluarga kita pun sangat mendukung, meridhoi kita bersama dan ... aku yakin dengan ridho nya orang tua ... akan membawa berkah dan membuat kita bahagia!"
"Emangnya kamu yakin? gimana kalau nanti kekasih mu kembali ... dan ingin melanjutkan hubungan kalian berdua bahkan minta dinikahi gimana? apa--"
"Nggak gimana-gimana, menurut mu gimana?" Pramana balik bertanya dengan bibir tersenyum dan tangan sedikit meremas jari jemari tangan Anisa.
"Kok kamu malah tanya aku sih? Aneh deh! dia yang jalani kok aku yang ditanya!" Anisa menggeleng pelan.
"Seandainya kita sudah ... sudah sah menjadi suami istri, terus ... dia kembali dan meminta merajut kasih dengan ku lagi, apa yang akan kamu lakukan. Hem?" tanya Pramana sembari mengelus pipi Anisa dengan lembut.
Sesaat Anisa terdiam sembari menggigit bibirnya yang bawah, dia berpikir seandainya seperti itu? setelah mereka berdua menjadi sepasang suami istri yang sah, terus Pramana kembali menjalin kasih dengan wanita itu. Apa yang akan Anisa rasakan? tentunya pasti merasa sakit apalagi dengan perasaan yang ada.
"Apa yang akan kamu lakukan, hem?" lagi-lagi Pramana bertanya dengan nada yang sangat lirih.
"Jika terjadi seperti itu ... di saat kita sudah menikah. Aku akan pergi dan membiarkan kalian bahagia, karena sesungguhnya aku hanya pengganti mempelai di waktu gagalnya pernikahan kalian!" jawabnya Anisa sembari memandangi kedua netra mata pria tersebut.
Mereka masih tetap dan seolah-olah mendalami perasaannya masing-masing.
__ADS_1
"Kenapa seperti itu? apa kamu nggak sayang sama aku? sehingga mau meninggalkan ku!" selidik nya Pramana.
"Em ... karena aku ingin kamu bahagia bersamanya! ketika dia kembali ... tugas ku menjagamu selesai!" sahutnya Anisa seraya menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan sangat panjang.
"Kok gitu sih!" Pram menatap heran.
"Dia pergi juga, mungkin bukan karena nggak sayang! tapi mungkin hanya karena egonya saja. Sehingga meninggalkan mu disaat itu. Dan bila kamu sayang sama aku ... apa mungkin kamu akan menyakiti ku?" ucap Anisa.
Pramana mengembuskan nafasnya dari hidung dengan tampak kasar. Lalu menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, semua obrolan yang panjang dan tidak terasa waktu pun sudah larut malam.
"Ya sudahlah, kau tidur di atas dan aku tidur biar di bawah lagi," Pramana beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri lemari untuk mengambil selimut dan bantal.
Karena merasa nggak tega, Anisa nggak mungkin membiarkan Pramana tidur di bawah lagi. "Gimana kalau kamu juga tidur di atas, tapi kita pakai batas guling! gimana?"
"Aku nggak pa-pa kok, tidur di bawah." Kata Pramana sembari menyimpan bantal di lantai.
"Kalau kamu mau tidur di lantai. Aku juga mau tidur santai sebelah sana!" ancam Anisa sambil menunjuk ke sebelah kanan tempat tidur.
Bibir Pramana menyungging ke samping, membentuk sebuah senyuman dan menatap ke Anisa yang tengah menatap dirinya. "Baiklah sayang, aku setuju kita tidur di atas sama-sama dan pakai batas! guling, oke!"
Anisa pun tersenyum lalu membereskan tempat tidur, memasang guling di tengah-tengah sebagai pembatasnya. "Awas ya ... kalau macam-macam!"
"Iya, kalau nggak khilaf!" Pramana mesem lalu duduk di tepi sebelah tempat tidur dan bersiap untuk berbaring begitupun dengan Anisa.
"Pokoknya jangan khilaf!" Anisa berbaring dan memunggungi Pramana yang berbaring terlentang.
"Lho, emangnya orang khilaf itu sadar? kan nggak!" tubuh Pramana miring dan menghadap punggungnya Anisa.
Dasar Pramana, tangannya malah merayap dengan perlahan tapi pasti ke pinggangnya Anisa. Padahal sudah diberi batas dengan guling.
Yang langsung di tepis Anisa dan menyingkirkannya. "Iih, dah di dibilang jangan macam-macam!"
"Nggak macam-macam sayang, cuma meluk doang," tiba-tiba suara itu sudah sangat dekat di telinganya Anisa.
Anisa memejamkan matanya kuat-kuat seraya berkata. "Pram ... jangan buat aku risih dong. Aku khawatir--"
"Aku cuman meluk doang, nggak ngapa-ngapain! aku janji," gumamnya Pramana sembari memejamkan kedua netra matanya dengan tangan yang memeluk pinggang Anisa yang semakin erat ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like comment dan bagi yang belum subscribe ... subscribe dulu ya! makasih atas dukungannya, Makasih banyak reader ku tercinta.
__ADS_1