Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Nyelonong boy


__ADS_3

Carolin begitu terkejut melihat Pramana sama Anisa sedang pelukan. Bahkan dengan pemandangan yang bikin panas hati, membakar jiwa.


Mulut Carolin menganga dan kedua matannya melotot ke arah Pramana dan Anisa.


Anisa berusaha menjauhkan dirinya dari Pram, namun Pram sama sekali tidak melepaskannya. Ia tetap melingkarkan tangannya di pinggang Anisa, si wanita cantik berkerudung tersebut.


"Ka-kalian sedang apa? kalian tidak punya malu ya? ini kan tempat kerja bukan tempat pribadi yang bisa bermesraan di mana saja!" akhirnya Caroline bersuara setelah beberapa saat terdiam begitu saja.


"Ini ruangan ku, tempat kerja ku dan aku mau melakukan apapun di sini ya terserah aku. Apalagi dengan istriku, kamu sendiri mau apa ke sini nyelonong boy aja main masuk tanpa permisi?" kata Pram dengan jelas serta tatapan tajam.


"Em ... ya sorry gua pikir nggak ada siapa-siapa, atau dirimu sendiri. Makanya aku langsung masuk," jawabnya Carolin dengan masih berdiri tidak jauh dari pintu.


"Mau ada aku doang atau siapapun, kamu harusnya permisi dulu jangan langsung seperti itu dan aku rasa kamu bukan anak kecil! kamu punya tata kesopanan kan?" Pramana tampak kesal, dia memang merasa terganggu dengan kehadiran Carolin di tempat tersebut, lebih-lebih di saat dia bersama Anisa.


"Em ... aku mau pulang dulu." Kata Anisa namun tidak direspon oleh Pramana.


"Kok kamu jadi marah sih sama aku. Aku ini bertamu! bukannya tamu itu harus dihargai dan dihormati oleh yang punya rumah!" Carolin dengan nada suara yang tinggi.


"Emangnya ada apa kamu ke sini? kalau bukan masalah kerjaan, ngapain datang ke kantor segala. Bukannya kantor tempat bekerja? itu kan kata kamu juga!" jelasnya Pramana yang terlihat menampakan taringnya.


Anisa pun tampak gemetaran melihat Pram yang mengeluarkan ekspresi wajah marah.


"Aku mau pulang dulu ya? kasihan mang Pei sudah nunggu dari tadi dan ... baiknya kalian bicara baik-baik deh." Lirihnya Anisa sambil menatap ke arah Pramana, tangannya pun mengusap dada pria yang tampak marah itu.


Sudah jelas Pram lagi bed mood, ada keinginan yang belum juga terpenuhi, di tambah dengan sesuatu yang dia anggap mengganggu sehingga di menjadi tampak marah.


Pramana menatap Anisa yang coba menenangkannya. Lalu dia membingkai wajah Anisa dengan kedua tangannya denhan tatapan yang sangat lekat. "Baiklah bilang sama mang Pei hati-hati bawa mobilnya, tunggu aku pulang ya!" Cuph tanpa ragu Pramana mengecup bibir Anisa di hadapannya Carolin.


Sehingga Carolin tampak serba salah dan membuang mukanya ke lain arah, di dalam hatinya semakin berkobar api kecemburuan! kesal, marah karena tidak bisa memiliki Pramana. Lepas dari Adisty ada Anisa dan kini Adisty pun kembali, kemungkinan minta balikan lagi sama Pramana.

__ADS_1


Jelas Carolin semakin berada di belakang untuk berharap bisa mendapatkan Pramana.


Karena merasa belum terbiasa wajah Anisa tampak merah, dia malu sekali dengan perbuatan Pramana yang tidak memandang situasi.


"Ya sudah, aku pulang dulu Assalamu'alaikum!" Anisa meninggalkan Pramana dan Carolin di sana. Anisa pun mengangguk hormat kepada Carolin yang tampak sangat dingin terhadap dirinya.


"Wa'alaikum salam ... hati-hati sayang." Kemudian Pramana berjalan mendekati kursi kebesarannya dan menjatuhkan bokongnya di sana.


"Aku ke sini karena sebuah pekerjaan, aku diutus bosku untuk mengajak kamu ketemuan besok hari, dalam kerjasama kita." Kata Carolin kepada Pramana.


Kata-kata Carolin masih sempat terdengar oleh Anisa yang baru saja melintasi pintu! rasanya sedikit lega ternyata Carolin datang karena sebuah pekerjaan.


"Kan bisa lewat email, lewat chat. Tidak perlu kamu datang seperti ini!" Rupanya Pramana masih kesal dengan kedatangan Carolin yang di rasa mengganggu dirinya dan Anisa.


"Kau masih marah padaku gara-gara aku datang tanpa permisi, ada dendam apa sih? memangnya nggak ada tempat lain gitu? selain kantor untuk bermesraan sama istri. Emang di rumah nggak bisa gitu? makanya di kantor! kantor tempat bekerja woy?" cerocos nya Carolin sambari menggerak-gerakan tangannya.


"Ini kantor ku dan aku berhak melakukan apa saja dengan istri ku. Dan kamu mengganggu kesenangan orang." Timpalnya Pramana yang tidak mau kalah.


Sejenak Pramana terdiam menatap ke arah Carolin kemudian dia berkata. "Aku tidak menggantung dia, aku hanya belum siap saja untuk ketemu dia, lagian dia pasti mengerti kenapa aku seperti ini kan dia sendiri mulai. Dia yang ninggalin aku di hari pernikahan! terus ketika dia datang aku harus langsung menyambut dia dengan sangat gembira gitu? setelah dia buat aku kecewa dan sakit hati."


"Berarti kamu tidak bisa memaafkan Adisty?" Carolin dengan tatapan tajam penuh selidik.


"Aku pasti memaafkan dia, tapi untuk saat ini aku masih bingung jadi biarlah, oke! masih banyak pekerjaanku kan besok pertemuan jam berapa? kabari aku!" lalu Pramana menarik nafas dalam-dalam, tangannya menarik beberapa berkas dari laci yang ada di hadapannya.


"Emangnya kamu tega membalas kekecewaan kepada Adisty. Dia sangat kecewa. Kamu tahu kalau beberapa hari yang lalu kami datang ke rumah mu dan tentunya mendapat kabar! kamu sudah menikah, kamu tahu nggak dia sangat terpuruk? frustasi mendengar itu, apakah sampai sekarang belum juga kamu temui dia. Tak terbayang perasaannya gimana? kalau dia tahu kau sudah menikah itu benar, bahkan sampai detik ini kamu masih bermesraan dengan istri mu itu. Dimana perasaan kamu? kemana cinta kamu yang dulu sama dia yang begitu besar itu?" Carolin menatap semakin intens.


"Sudahlah, tidak perlu bahas itu lagi. Aku nggak ada waktu lagi, silakan kamu keluar dan kerjakanlah tugas mu dengan baik!" Titah Pramana pada Carolin agar dia keluar dari ruangannya.


Dengan berat hati, lalu Carolin membalikan tubuhnya membawa kedua kakinya berjalan. Menuju pintu meninggalkan ruangan Pramana.

__ADS_1


Pramana bergeming sesaat melihat ke arah pintu yang baru saja Carolin lewati. Dia pun teringat dengan janjinya kepada Adisty, suatu saat nanti akan menemuinya tapi memang tidak menjadikan kapan-kapannya sih.


"Huuh ... ya mungkin ... aku jahat sudah mengkhianati mu Adis. Tapi ini semua terlanjur aku lakukan dan itu gara-gara dirimu juga." Gumamnya Pramana, lalu dia memulai kembali pekerjaannya.


Setelah mendengar perkataan Carolin kalau dia datang untuk masalah pekerjaan, Anisa langsung membawa langkahnya meninggalkan tempat tersebut dan kini dia sudah berada dalam mobil.


Duduk sedikit termenung dan memandang kosong keluar jendela, dimana hari terasa terik. Panas menyengat bumi dan kendaraan pun begitu banyak hilir mudik, hiruk pikuknya kota sangat terasa. Dan itu dirasakan di sebuah jalanan bukan di pusat perbelanjaan, perkotaan ataupun perkantoran.


Anisa melamun begitu anteng sehingga mang Pei mengajak ngobrol pun tidak kedengaran dan dia abaikan begitu saja, yang terdengar di telinga Anisa hanyalah suara mesin mobil dari kanan kiri depan belakang.


Saking antengnya melamun, sehingga sadar-sadar sudah berada di halaman rumah.


"Neng sudah sampai rumah nih," suara mang Pei yang sudah berdiri di dekat pintu dan membukakan nya untuk Anisa.


Anisa pun turun dari mobil itu lalu tersenyum. "Makasih ya Mang!"


"Sedari tadi Mamang bicara tidak satu pun Neng jawab, mungkin Neng terlalu melamun sehingga suara Mamang tidak terdengar." Ungkap mang Pei.


"Ha, ya ampun ... Maaf, Mang ... Nisa gak dengar kali. Maaf ya?" Anisa menyatukan kedua tangannya di depan dada. Sebagai permintaan maaf nya pada mang Pei.


"Tidak apa Neng, lagian gak penting juga." Kata mang Pei.


Kemudian Anisa masuk ke dalam rumah sambil menjinjing tempat makan dan di dalam bertemu dengan ibu mertua yang langsung menyapa.


"Baru pulang ya Nisa ..." sapa ibu mertua sambil menatap ke arah Anisa.


"Iya, Bu ..." Anisa mencuci wadah yang dia bawanya.


Kemudian Bu Bella pun berjalan entah kemana, sementara Anisa masih berada di dapur ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


__ADS_2