Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Menunggu


__ADS_3

Pas menoleh ke sumber suara, tubuhnya Anisa oleng. Dan hampir saja terjatuh kalau sampai Pramana tidak dengan cepat menangkap tubuhnya.


"Ach!" Anisa langsung menangkup mulutnya supaya tidak lebih kencang, takut kedengaran orang lain dan menjadi panik.


Anisa terkesiap dan matanya pun setengah melotot melihat ke arah Pramana yang kini tengah menggendongnya.


Dalam berapa waktu posisinya mereka tidak berubah dengan tetapan yang saling mengunci. Tubuh Anisa masih dalam pangkuan Pramana.


Perlahan tangan Anisa merangkul pundaknya Pramana serta meminta untuk diturunkan. "Turunkan aku?" lirihnya.


Namun Pramana tidak segera menurunkan tubuh Anisa, dia tetap bengong menatap wajah Anisa yang begitu dekat dengannya.


Hingga pada akhirnya tangan Anisa yang satu lagi menepuk bahu Pramana. "Turunkan aku?kamu sedang mikirin apa sih! awas yang mesum-mesum ya?"


Membuat Pramana tersadar kemudian dia menurunkan tubuh Anisa. Sembari tersenyum, dia berkata. "Emangnya kalau iya kenapa? wajar dong ... Sudah sama-sama dewasa ini!"


"Iih ... apaan sih? awas ya kalau macam-macam, tidur di luar sana." Kata Anisa sambil berjalan mendekati cermin.


"Oo! No ... mendingan saya pulang. Daripada tidur di luar." Timpal Pramana sambil mendekati Anisa.


"Makanya, jangan macam-macam--"


"Macam-macam yang seperti apa coba, beritahu aku?" Pramana malah semakin mendekati dan Dengan beraninya memeluk Anisa dari belakang. Dengan sedikit membungkuk Pramana menempelkan dagunya di atas bahu sebelah kanan Anisa.


Perlakuan Pramana seperti itu, bikin Anisa spot jantung perasaannya dag-dig-dug tak menentu. Dari cermin terlihat kedua matanya Pramana terpejam sembari menghirup baunya aroma parfum dari Anisa. Dengan kedua tangan melingkar di perut Anisa.


"Jangan perlakukan aku seperti ini, aku takut kau tidak bisa mengendalikan diri." Gumamnya dalam hati Anisa, dengan tubuhnya yang gemetaran.


Sesekali hidung Pramana bergerak maju semakin menghirup wanginya rambut Anisa dengan mata terus terpejam.


"Nisa ... Pram ... Makan dulu!" suara itu membuyarkan lamunan keduanya.


Pram membuka kedua netra nya yang terpejam, menikmati aroma dari Anisa dan betapa hangatnya memeluk Anisa dari belakang.


Sorot mata mereka bertemu di pantulan cermin, pelukan Pram pun memudar. Lalu melihat ke arah pintu. Namun sebelum berjalan mendekati pintu ... Dengan beraninya Pram mencium singkat pipi Anisa.


Tubuh Anisa sontak mematung, dengan mata yang terbelalak. "Mmm!"

__ADS_1


"Iya Bun ... sebentar!" Pramana berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


Tampak Ibu Farida berdiri di depan pintu tersebut. "Ayo kita makan dulu? nanti keburu dingin lho ... makanannya!" ajak sang mertua sambil menatap ke arah Pramana dan juga ke arah dalam kamar! di mana Anisa tampak berdiri di dekat cermin riasnya.


"Oke, kebetulan saya lapar nih!" jawabnya Pramana sembari melirik Anisa yang masih berdiri mematung di tempat.


"Nisa, ayo kita makan?" suara sang bunda pada Anisa.


Perlahan Anisa menoleh serasa tersenyum. "Iya. Aku nanti nyusul."


Kemudian sang Bunda lebih dulu berjalan disusul oleh Pramana. Dan Nisa belakangan menyusul setelah keduanya tidak berada di sana sambil mengusap pipinya yang masih terasa hangatnya bibir Pramana.


Mereka sedang menikmati makan malamnya. Pramana tampak sangat lahap dan menikmati setiap kali suapan yang masuk ke dalam mulutnya.


Anisa mesem-mesem melihat Pramana yang begitu lahap. Begitupun dengan sang ibunda yang saling melempar pandangan dengan Pak Joni yaitu suaminya.


"Ayo tambah lagi makannya? masih banyak kok kata Pak Joni pada Pramana yang sedang menghabiskan dua piring makannya.


"Sudah cukup, Yah ... aku udah kekenyangan sekali, gak biasanya ya! aku makan sebanyak ini, Oh ya. Yah, Bun ... aku minta izin mau mengajak Anisa jalan! berbelanja setelah ini." Pramana menyudahi makannya dengan segelas air putih yang dia teguk sampai tandas.


"Mau belanja ke mana?" tanya sang ibu mertua, yang mengarahkan pandangannya ke arah Pramana sembari mengunyah.


"Oh gitu, ya sudah nggak apa-apa tapi jangan terlalu malam pulangnya nggak baik angin malam! apalagi Anisa kan belum pulih benar ..." sambungnya sang ibu mertua kembali.


"Baik, Bun ... gak kan lama-lama kok paling jam 10.00 juga pulang," Pramana melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.


Kemudian Anisa pun menyudahi makannya dan sebelum bersiap-siap pergi, dia pun mencuci bekas makan mereka. Pramana sudah lebih dulu naik ke kamarnya.


Setelah mengeringkan tangan, Anisa pun langsung naik ke lantai atasnya yaitu ke kamarnya mau siap-siap! katanya Pramana mau mengajak ia belanja entah mau belanja apa? mungkin keperluan dapur.


Anisa berdiri di depan pintu setelah daun pintu tersebut terbuka dan lihatlah Pramana yang tampak sudah siap, dan berdiri depan cermin mengenakan topi Dior berwarna hitam.


"Kenapa terdiam di sana? terpesona ya melihat suami mu yang ganteng ini?" goda Pramana ketika melihat Anisa hanya berdiri di depan pintu.


"Enggak, biasa aja, geer banget bilang dirinya ganteng--"


"Eeh. Jangan salah, menunggu di puji nggak dipuji-puji juga. Mending memuji diri sendiri saja," timpalnya Pramana sembari tersenyum lebar.

__ADS_1


Anisa berjalan mendekati lemari mau mengambil pakaiannya, dia kebingungan mau memakai yang mana? karena yang ada itu-itu aja! nggak ada yang baru.


"Kenapa, kaya orang kebingungan, gak punya baju? terus ini yang menggantung apaan?" Pramana menghampiri dan menyentuh baju-baju yang menggantung miliknya Anisa.


"Emangnya siapa yang bilang nggak punya baju? emang semuanya baju kok! cuman aku bingung aja pakai yang mana!" elaknya Anisa.


Kemudian dia mengambil setelan celana panjang yang lebar dan kaos panjang, tidak ketinggalan kerudung pashmina dengan warna senada.


"Ini hoodie nya, biar gak kedinginan. Kecuali mau aku peluk, jadi gak usah pakai Hoodie." Pram mengambilkan Hoodie untuk Anisa pakai malam ini.


Anisa menatap hoodie tersebut lalu dia mengambilnya seraya berkata. "Iya nanti ku pakai, kemudian dia menyimpannya di atas tempat tidur! sementara dia membawa pakaian yang tadi ke dalam kamar mandi.


Kedua netra Pramana melihat ke arah Anisa yang berjalan ke arah kamar mandi dengan tangan menutup pintu lemari yang masih terbuka.


Tidak lama kemudian ... Anisa keluar dan sudah mengganti kostumnya! tinggal memakai kerudungnya saja.


Pramana menoleh ke arah jarum jam. "Haduh ... dandannya cewek emang lama ya? padahal nggak pakai make up atau lipstik! cuman ganti baju doang!"


Nisa yang duduk di depan kaca rias menoleh mengusapkan bedak di pipinya. "Namanya juga wanita, ya begitu dia bilang lama! nggak pakai apa-apa itu, apalagi kalau semuanya di pakai! mungkin akan di bilang menunggu seharian!"


"Mungkin, karena menunggu itu memang sesuatu yang sangat menyebalkan!" tambahnya Pramana sembari mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


"Termasuk menunggu kekasih mu itu ya?" Tiba-tiba Anisa berkata seperti itu, secara mendadak saja terbesit tentang kekasih Pramana yang menghilang.


Keduanya tiba-tiba terdiam, Pramana terdiam karena merasa diingatkan kalau Adisty sekarang sudah pulang dan Anisa sesaat tertegun. Kenapa Dia mengingat hal itu yang otomatis membuat dadanya terasa sesak, sakit dan entah karena kenapa?


Suasana menjadi hening, Pramana bengong dengan tatapan kosong ke arah Anisa. Anisa pun yang di depan cermin terdiam begitu saja,


Lalu beberapa saat kemudian. Anisa menoleh pada Pramana yang kini memainkan ponselnya. "Mau jadi gak pergi nya?"


"Ha? jadi dong ... Ayo lah. Kita pergi sekarang?" Pram beranjak dari duduknya.


Anisa buru-buru memakai kerudungnya. Lalu meraih Hoodie nya, menyusul Pram yang sudah berdiri di pintu melihat ke arah dirinya.


Kemudian mereka berdua berjalan menuruni anak tangga, beriringan lalu berpamitan pada Bu Farida dan pak Joni ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Lagi mode ingin banyak like nih ... biar tambah semangat. Makasih


__ADS_2