Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Naksir


__ADS_3

Aisyah, sang Bunda dan Anisa juga Vika dan Ferly berada di ruang tengah! Aisyah, Anisa dan sang ibunda mengobrol sementara yang sedang main catur yaitu para laki-laki berada di teras.


Tiba-tiba ada sebuah motor yang masuk ke halaman rumah dengan berisi dua orang penumpangnya, sebelumnya sih tidak di ketahui siapa? namun setelah membuka helmnya masing-masing ternyata mereka Deni dan Dea.


Anak-anak dari pamannya Anisa dan Aisyah, Anisa langsung melonjak naik menyambut kedatangan mereka berdua.


"Dea, Kak Dendi. Kok kalian sudah nyampe aja cepet amat?" sambutnya Nisa yang langsung keluar.


Membuat Pramana menoleh ke arah Annisa.


"Kan kangen! sama sepupu ku, jadi gerak cepat. Pas dengar kau ada di sini langsung terbang deh!" Dea langsung memeluk Anisa.


"Assalamu'alaikum ... semuanya?" Deni mengucap salam yang pertama dihampiri adalah Pak Joni dan Anisa kemudian Azis.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!" jawabnya yang berada di teras.


Sedangkan Bu Farida dan Aisyah keluarnya belakangan.


"Lho, kenapa lo ada Di sini?" Deni menatap heran ke arah Pramana, rupanya mereka saling kenal karena Pramana teman dekat semasa kuliah Deni.


"Lo juga ngapain ke sini?" Pramana balik bertanya sambil berdiri dan bersalaman dengan Deni.


"Gue sih jelas lah. Ke sini itu ke tempat paman gue! sepupu gue, lo siapa?" Deni kembali bertanya sambil membuka mulutnya.


"Lah kalian saling mengenal?" Pak Joni menatap heran ke arah Deni dan Pramana bergantian.


"Dia ini teman kuliah Deni, Om." Deni menunjuk ke arah Pramana yang menunjukan senyumnya.


"Oh ... kalian berteman! ternyata panjang ya silaturahmi kalian," tambahnya Pak Joni.


"Aku tidak menyangka kalau kita akan ketemu di sini. Setelah sekian lama tidak bertemu! sorry aku terima undangan pernikahan mu, tapi aku nggak sempat datang! soalnya kebetulan aku lagi sibuk." Kata Deni sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Iya, ku tunggu kok nggak ada datang! barangkali sudah lupa sama aku." Timpalnya Pramana sambil mendudukan dirinya di tempat semula.


"Pram ini mantunya Om! suami Anisa sekarang!" gumamnya pak Joni sembari terduduk di tempat semula lagi.


"Ha? Apa? dia mantu nya, Om." Deni melihat tidak percaya pada pak Joni kalau Pram itu yang menikahi Anisa.


"Nisa! beneran Pram itu suami kamu?" Dea menatap lekat ke arah Anisa setelah berpelukan dan melepas rindu.


Hampir pasang mata melihat ke arah Anisa.


Anisa melirik ke arah Pram, lalu mengangguk pelan seraya berkata. "He'eh. Benar."


Dea menggercapkan matanya. "Ya ampun kok bisa ya kalian berjodoh sih!"


"Apa? jadi yang kau nikahi itu Anisa? kalau tahu kalian yang menikah, ya gue paksain datanglah!" Deni menggeleng kan kepalanya.


"Sebenarnya mempelai Pram itu ... bukan Anisa. Cuman karna ada suatu keadaan yang menjadikan Anisa sebagai gantinya!" kata Aisyah menjelaskan.


Kemudian Dea masuk bersama Anisa dan yang lainnya sementara Deni mengobrol di teras bersama Pramana Pak Joni dan juga Azis.


"Aku tidak menyangka, kalau kamu ujung-ujungnya menikah sama Pramana! aku kenal dia ketika dia berteman dengan Kak Deni waktu masih kuliah itu lho," ucapnya Dea sambil memegangi kedua tangan Anisa.


"Mana aku tahu! aku datang ke sana untuk memenuhi undangan karena orang tuanya temannya Ayah sama bunda! ya kan Bun?" Anisa melirik ke arah sang Bunda yang langsung mengangguk.


"Kami itu ... maksudnya cuman kondangan doang ke sana! karena pernikahan itu berlangsungnya di rumah dia, jadi kami datang ke sana. Biasa untuk memenuhi undangan, tapi ternyata si mempelainya tidak datang dan katanya kabur keluar kota! jadinya pernikahan Pramana sama wanita itu gagal, lalu kami sepakat untuk menikahkannya dengan Anisa saja." Tambahnya Aisyah.


"Bun, Fika ngantuk mau bobo duluan ya?" suara Fika sambil memegangi bonekanya dengan sorot mata yang tinggal lima wat.


"Oh iya bobo duluan gih! kak Ferly mana apa dah bobo?" sang bunda mengusap dan mencium pucuk kepala Fika.


"Kak Ferly dah bobo duluan! ya udah Fika juga bobo duluan ya Bun!" anak itu langsung berlari dan menaiki anak tangga.

__ADS_1


"Jangan lari-lari! nanti jatuh," pekiknya Bu Farida yang melihat sang cucu berlari.


"Beruntunglah kamu menikah sama dia. Dia itu orangnya baik, tanggung jawab pula, dia itu ... perhatian!" Dea mengusap-usap tangan Anisa.


"Baik apanya! mulutnya itu lho ... kadang pedas melebihi mulutnya perempuan!" seru nya Anisa sambil menumpukkan sikunya ke bahu sofa menyangga kepala dia.


"Oh ya! gitu ya? tapi dulu nggak kayak gitu deh, dia kan salah satu pria idaman. Sudah tampan, sopan! pintar dan agamanya pun bagus. Aku aja sempat naksir kok sama dia!" Dea tersipu malu sendiri.


"Ha? kau naksir dia? nggak salah!" Anisa terlihat shock mendengar Dea naksir sama Pramana.


"Shuuut ... Jangan keras-keras malu, sempat naksir bukan naksir sekarang bukan! sempat naksir dulu! dulu banget. Ketika Kak Deni sama dia dekat, dia termasuk laki-laki yang setia! banyak yang bilang seperti itu karena hubungan nya pun sama ceweknya sudah bertahun-tahun!" Dea terlihat panik sambil menempelkan jemarinya di bibir agar suara Anisa tidak terlalu keras takut kedengaran ke luar.


"Tuh ... kan, Nisa. Dea aja pernah naksir sama Pram. Masa Nisa nggak naksir sih ... sama Pram? tiap hari ketemu satu rumah!" tambahnya Aisyah menggoda adiknya.


"Bohong banget kalau Anisa itu nggak suka sama dia, nggak naksir sama dia. Paling dia nggak mau ngakuin aja!" ucap Dea pada Aisyah.


Ibu Farida Hanya mesem-mesem mendengar obrolan dari ketiga wanita muda tersebut.


"Dengar ya Dea ... dia itu sangat mencintai kekasihnya. Sampai saat ini dia masih mencari kabar kekasihnya kok! walaupun belum diketahui di mana dan kayaknya dia juga akan kembali suatu saat nanti dan aku nggak tahu waktunya kapan!" sambungnya Anisa sambil memainkan sebelah bahunya.


"Biar aja wanita itu Kembali, salah siapa coba? kurang apa coba laki-laki menyediakan pernikahan dan pada saatnya. Dia pergi meninggalkan hari H, terus kalau sekarang dia kembali, sementara prianya sudah menikahi wanita lain! ya jangan salahkan orang lain ... salahkan aja dia sendiri! iya gak Kak Aisyah?"


"Benar banget deh ... itu kesalahan dia sendiri, ngapain juga ninggalin hari pernikahan yang sudah di sepakati bersama, dia pergi bikin orang cemas dan membuat gagal pernikahan yang sudah di rencanakan. Persiapan lahir batin yang sebelumnya, harus gagal total. Kasihan juga kakinya!" balas Aisyah.


"Hooh bener itu. Kalau menurut aku sih ambil hatinya, tanamkan cinta di jiwanya! miliki dia seutuhnya. Emang mau nyari makan lagi sih?" Dea seolah memberi dukungan kepada sepupunya Anisa.


"Dea benar, Nisa ... Anisa harus berusaha untuk membuat dia jatuh cinta! tidak mudah mendapatkan laki-laki yang tanggung jawab dan sayang keluarga! karena menurut Kak Aisyah, Pramana tipe pria yang sangat sayang sama keluarganya. Menghormati orang tuanya!"


"Iih, kalian itu ngomong apa sih? boro-boro mikirin cinta, mikirin kehamilan ku saja pusing!" Anisa menggelengkan kepala sembari mengulum senyumnya.


"Ngapain dipikirin? Nisa sekarang tinggal jalani saja, bagaimanapun itu titipan yang harus kita jaga. Karena percuma kita meratapi dan membenci, anak itu tidak bersalah ... biarlah dosa yang menanggung itu dia yang sudah membuat mu seperti ini!" akhirnya Bu Farida mengeluarkan suaranya juga.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam dan Pak Joni sudah beberapa kali menguap sehingga akhirnya dia beranjak dari duduknya, begitupun dengan Azis dia pun pamit untuk istirahat duluan dan di teras tinggallah Pramana dan Deni ....


__ADS_2