
Suasana terasa hening, ketika mereka berdua mulai memejamkan manik matanya. Pram sesungguhnya ingin meminta haknya malam ini, namun tidak tega karena istrinya sedang masa berkabung.
Dan pada akhirnya ... Pramana tidak berani meminta pada Anisa selain memeluknya dengan sangat erat. Menahan gejolak yang sebisa mungkin ia lerai.
Setiap hari di rumah mengadakan tahlilan dan juga pihak keluarga membuat bingkisan sebagai sedekah pada yang sudah berkenan datang untuk mendoakan yang sudah tiada.
Dan ini hari ke tujuh setelah sang bunda berpulang. Anisa dan Aisyah sedang mengobrol di balkon setelah selesai tahlilan.
"Kak, aku kayanya harus pulang. Karena Pram terlalu jauh untuk ngantor. Tapi aku bingung, di sini ayah sendiri tidak ada yang menemani." Lirihnya Anisa sambil menoleh pada sang kakak.
"Kakak juga memikirkan itu, sementara Kakak juga tidak mungkin tinggal di sini. masih mending kamu Dek ... agak dekat suami mu ke tempat kerjanya. Sementara Akak lebih jauh dan juga anak-anak kan sekolah di sana." Timpalnya Aisyah yang juga merasa tidak mungkin bila harus tinggal di sana.
"Terus, gimana dong Kak?" Anisa merasa kasihan pada sang ayah yang tidak ada yang menemani.
"Tapi, ayah pasti akan menyuruh kita untuk pulang karena suami kita itu lebih penting. Ayah juga bisa menjaga dan mengurus diri." Tambahnya Aisyah sambil mengerutkan keningnya.
Anisa menggerakkan kepalanya naik turun sambil melepaskan pandangan ke langit yang hitam pekat seperti ya mau turun hujan.
"Seandainya ayah mau menginap di tempat akak atau Anisa boleh ... seandainya di sini sepi sendirian. Akak tidak masalah bila ayah mau bersama akak juga dan mas Azis pun begitu." Tambahnya Aisyah sembari memegangi pagar balkon.
"Aku juga tidak masalah bila ayah mau di tempat Pram, apalagi di sana bisa kumpul dengan sahabatnya. Ayah mertua ku." Balas Anisa juga.
"Yo, kita turun! sepertinya mereka mengobrol!" ajaknya Aisyah sambil beranjak dari duduknya.
"Iya, Kak!" Anisa mengikuti langkahnya sang kakak yang masuk ke dalam kamar untuk bisa keluar dan turun ke lantai dasar.
"Bila kamu di sini sendirian ... baik ya kamu di tempat ku saja biar ada temannya aku!" kata pak Lukman pada pak Joni.
__ADS_1
"Aku, tidak apa-apa di sini bersama kenangan! paling aku ke sana sekali-kali," pak Joni menganggukan kepalanya.
"Ayah juga bisa tinggal di tempat ku dan di sana ayah bisa melihat cucu ayah, tidak akan merasa sepi." Tambahnya Azis menawarkan agar sang ayah mertua.
"Terima kasih atas tawaran kamu Zis, tapi Ayah biar di sini saja dan kebetulan di sini akan kosong bila di tinggalkan. Kalian saja sesekali datang dan jenguk ayah di sini." Jelas nya pak Joni yang merasa berat bila harus meninggalkan tempat tersebut yang menyimpan sejuta kenangan bersama sang istri.
"Aku sih, terserah Ayah saja maunya dimana!" ucap Pram sambil merubah posisi duduknya.
"Pram benar. Kapan pun mas Joni mau datang ... pintu rumah kami akan selalu terbuka." Tambahnya bu Hajah Bella.
"Dan seandainya kamu ingin tinggal di tempat Mas juga luas kok di sana ada kamar kosong!" giliran sang kakak yang berkata demikian yang diarahkan kepada Pak Joni.
Yang mendapat anggukan dari sang istri, yaitu kakak ipar Pak Joni.
"Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas tawaran kalian semua, tapi untuk saat ini biarkan saya di sini saja menempati rumah ini, yang menyimpan banyak kenangan." kata Pak Joni sembari mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
Di saat mengobrol seperti itu ... Aisyah dan Anisa mendatangi tempat tersebut dan mengambil tempat duduknya masing-masing yaitu di samping suaminya.
"Justru itu yang sedang kami obrolkan sayang, dan Ayah katanya mau tinggal di sini saja! ya paling ... kalau mau ke tempat kita atau tempat Anisa sesekali!" timpalnya sang suami dari Aisyah yaitu Azis.
"Oh, jadi Ayah mau tinggal di sini saja? tapi kan di sini sendirian Yah ... nggak ada temennya," lirihnya Aisyah menatap lekat pada sang ayah.
"Kapan-kapan Ayah kan bisa main ke tempat Aisyah ataupun Anisa, lagian kalau Ayah tinggal di tempat sala satu di antara kalian ... gimana dengan kerjaan Ayah? jauh dong Apa bedanya dengan kerjaan suami kalian juga! kamu nggak usah khawatir sama ayah ayah bisa menjaga dan merawat diri," balasnya pak Joni sambil mengedarkan pandangan pada Aisyah dan Anisa.
Anisa menghembuskan nafas dari hidungnya. "Baiklah Ayah ... kalau maunya ayah seperti itu, kalau ada apa-apa telepon aja Anisa atau Pram."
"Aisyah juga Ayah!" sambarnya Aisyah dengan nada yang khawatir pada sang ayah.
__ADS_1
Karena malam pun semakin larut. Mereka pun menyudahi obrolannya untuk beristirahat sejenak, sebelum bersiap pulang ke tempatnya masing-masing.
Kini Pramana dan Anisa sudah berada di dalam kamarnya. Pramana baru saja keluar dari kamar mandi sementara sang istri sudah berbaring dibalik selimut tebalnya.
"Sayang?" panggil Pramana sembari berdiri di tepi tempat tidur.
"Hem ..." suara lirih Anisa dengan di bikin manja.
Pramana pun mengibaskan selimut di bagian tempatnya untuk berbaring, lalu dia naik dan membaringkan dirinya di samping Anisa.
Anisa menggerakkan tubuhnya dan memasukkan kepalanya di dalam pelukan sang suami. "Aku ngantuk banget."
"Sayang, sebenarnya ... aku inginkan sesuatu!" Pramana membelai rambutnya Anisa dengan sangat lembut.
Anisa membuka kelopak matanya kembali seraya berpikir, apa yang jadi maksudnya Pramana. Ia jadi kepikiran memang dalam seminggu ini mereka berdua tidak melakukan nya, hanya waktu itu saja ketika masih di hotel mereka bersenang-senang dan setelah pulang ke rumah ini dan berkabung. Keduanya tidak melakukan yang signifikan.
Anisa mendongak dan menempelkan dagunya di atas dada Pramana. "Ingin apa?"
"Masa sayang nggak ngerti sih aku ingin apa? kita melakukannya ketika di hotel saja! setelah kembali ke sini kita nggak pernah melakukan itu!" rajuk nya Pramana dengan suara kesal dan tampak sekali kalau dirinya mendambakan sesuatu.
Anisa menatap lekat serta menerbitkan senyumannya yang manis, dari bibirnya yang tipis dan merah merona. "Emangnya siapa yang larang?" malah bertanya.
"Eh, em ... nggak ada yang larang sih ... tapi aku nggak tega, sayang lagi masa berkabung dan jika aku memaksakan kehendak, nanti dikira pemaksaan lagi. He he he ..." Pram nyengir sambil dengan nakalnya meremas bokong wanitanya tersebut.
Hening ....
Suasana menjadi hening dan lampu berubah menjadi temaram. Pram menggerakkan kepalanya mendekati wajah Anisa, lalu mendaratkan kecupannya di benda tipis yang merah natural yang terasa manis bak madu dan bikin candu. Sehingga kembali lagi untuk menyentuhnya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Apa kabarnya reader ku semua semoga kabar baik ya, selalu dalam lindungan yang maha kuasa dilancarkan setiap urusan dan di sehatkan badan, dilimpahkan rejekinya. Aamiin