Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Akad


__ADS_3

Kini Anisa, Pram dan keluarga lainnya sudah berada di salon dan masing-masing ditangani make up nya agar kelihatan lebih cantik, untuk menghadapi acara akad nanti.


Anisa tampak lebih sangat cantik setelah di make up. Dan dia sudah siap. Dia sudah tampak rapi dan siap untuk berangkat ke KUA.


"Masya Allah cantik sekali kamu Nisa, rasanya auramu lebih cantik sekarang di bandung kan waktu pernikahan pertama itu!" ucap Aisyah sambil menatap lekat ke arah Anisa yang tersipu malu.


"Tentu saja lebih cantik sekarang dan auranya keluar! karena sekarang Anisa lebih menikmati dan dia ... lebih siap ketimbang waktu itu yang sesungguhnya orang lain pun pasti seperti itu, shock dan gak siap. Bagaimana tidak? yang seharusnya menjadi undangan menjadi mempelai wanitanya, kan siapa yang tidak shock." Timpalnya Bu Bella.


"Hooh, bener Bu ... Dulu kan Anisa terpaksa. Kalau sekarang kan cinta dan sayang. Tentunya ... " timpalnya Renita.


Senyum Pram dan Anisa tampak merekah, menggambarkan kebahagiaan.


"Keikhlasannya lebih tampak. semoga menempuh hidup baru ya dek ... Rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah." Aisyah memeluk sang adik penuh haru biarpun akadnya belum.


"Makasih Kak. Doa kan aku ya? Karena berumah tangga itu sesungguhnya menjemput segala masalah yang akan hadir dalam ruang lingkup itu." Balas Anisa sambil merangkul sang kakak.


Semuanya sudah tampak siap nan cantik. Dengan balutan kebaya nya masing-masing.


"Kapan nih nikahnya? kok kita masih di sini sih? iih lama!" kata Firly sambil mondar mandir di dalam salon.


"Gimana, kita mau pulang dulu pa langsung ke KUA? soalnya masih pukul 12.00 lagian kan ayah bajunya masih di mobil." Bu Bella menatap ke arah Pram yang sibuk dengan ponselnya.


Sejenak Pram terdiam sambil menatap layar ponselnya tersebut. Dan detik kemudian menoleh pada ibundanya. "Ayo kita pulang dulu." Pram berjalan menuju mobil.


Bu Bella langsung menyusul. "Pram. Jangan sampai Adisty datang dan mengacaukan semuanya."


Pram sejenak mengatupkan bibirnya sejenak. Lalu melihat ke arah belakang dan kemudian berkata. "Nggak bakalan, Bu ..."


Anisa sampai ke mobil Pram yang masih berdiri dan mengobrol dengan ibundanya.


Lalu Anisa duluan masuk ke dalam mobil Pram. Di susul oleh Renita yang duduk di belakang. Kemudian Bu Bella langsung masuk dan Pram pun duduk di belakang kemudi.

__ADS_1


Perlahan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Menuju kediamannya untuk menjemput sang ayah. Renita, Bu Bella dan Renita mengobrol.


Selang beberapa waktu. Akhirnya tiba juga depan kediaman Pramana. Mereka pun turun untuk istirahat sebentar sembari menikmati minuman dan kue.


Tidak lama kemudian. Mereka memasuki mobilnya kembali, namun kali Anisa duduk di mobilnya sang ayah. Tentunya bersama Aisyah, sang kakak.


Karena jaraknya yang lumayan dekat. Menjadikan mereka dalam sekejap pun sudah tiba di KUA.


Dan langsung di sambut dengan pihak di sana dan langsung ke sebuah ruangan yang akan di jadikan tempat akad.


Dengan jantung yang berdebar dan perasaan yang was-was itu ada dalam hati Pram, khawatir kalau Adis tahu dan menyusul mereka dan mengacaukan acara yang sakral itu. Dalam hati Pram sangat berharap kalau semuanya berjalan lancar. Adis biar besok atau lusa dia temui dan menjelaskan semuanya.


begitupun dengan perasaan kedua orang tua Pram yang merasa khawatir juga dengan sesuatu yang busa saja tidak terduga terjadi menjadi penghalang kekisruhan dalam pernikahan ini.


"Semoga saja Adis tidak tahu soal ini dan datang yang akan menghancurkan acara ini, Ibu jadi khawatir." Gumamnya bu Bella dengan suara pelan.


"Iya, Bu ... berdoa saja semoga itu tidak terjadi." Timpalnya sang suami. "Adis tidak akan tahu kalau Pram tidak bilang sama dia atau temannya."


"Kata Pram sih ... gak bakalan Adis datang! begitu yang di katakan oleh Pram sama Ibu." Tambahnya Bu Bella.


Pram dan Anisa sudah duduk berdampingan. Berhadapan dengan penghulu dan pak Joni selaku walinya Anisa.


"Saya terima nikah dan kawinnya Anisa bin Joni dengan. Maskawin perhiasan satu set dan uang senilai Rp 222220. Di bayar tunai." Dengan suara lantang dan juga satu tarikan nafas saja, Pram mengucap ijab kabul.


"Gimana saksi, sah??"


"Sah ..." Di jawab oleh para saksi dengan serempak.


"Silakan mempelai wanita mencium tangan sang mempelai pria, dan mempelai pria cium kening istri mu!"


Nisa pun mencium tangan Pram sebagai simbol penuh hormat dan cinta Pram juga mengecup kening Anisa penuh kasih dan menyimbolkan sebuah janji uang tak terucap dan rasa saling percaya.

__ADS_1


Semula yang merasa ikutan tegang, sebelum Pram mengucap ijab kabul. Kini merasa lega, merasa tenang karena sekarang mereka berdua sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Dan semuanya mendoakan, semoga keduanya saling menyayangi! membina rumah tangga yang bahagia, saling percaya dan saling menyayangi juga saling menghormati satu sama lainya. Doa yang terbaik menyertai kebahagiaan mereka berdua saat ini.


"Alhamdulillah ya, Yah ... semuanya lancar tak ada halangan apapun. Ibu merasa bahagia sekali akhirnya Pram dan Nisa sah menjadi suami istri yang seutuhnya," ucap Ibu Bella kepada suaminya. Pak Lukman.


"Bener Bu, Alhamdulillah itu yang kita harapkan dan semoga ... Pram bisa mengambil sikap! sekarang sudah menjadi suami Anisa yang sesungguhnya! jadi tidak lagi berharap dengan bekasnya, Adisty." Pak Lukman mengangguk-anggukkan kepalanya.


Andre mendekat kepada kedua orang tuanya, lalu bertanya dengan nada suara yang sangat pelan. "Emangnya benar Adisty datang ke rumah?"


Ibu Bella dan suaminya menoleh ke arah Andre. "Kamu tahu dari mana?" Pak Lukman balik bertanya.


"Aku tahu dari bibi, dan aku hanya bertanya sama ibu dan ayah. Istri ke pun tidak tahu kali," jawabnya Andre sembari menatap ke arah keduanya dengan tatapan menyelidik.


"Itu benar, dia pernah datang ke rumah. Ayah sudah bilang kalau Pram sudah menikah tapi sepertinya dia belum yakin dan kayaknya memang Pram juga belum ketemu dia sama sekali, pas dia datang pun kebetulan Pram nggak ada di rumah." Ujarnya Pak Lukman sembari menoleh kanan ke kiri.


"Saya harap sih, Pram tidak tergoda lagi sama Adis. Bagaimanapun ... apalagi sekarang Pram sudah menjadi suami yang sah buat Anisa dan pernikahan ini bukan paksaan dari siapapun kan? tapi memang kesadaran dari dia sendiri!" kata Andre dengan nada serius dengan pandangan yang mengarah pada kedua orang tuanya.


"Ibu rasa tidak ada paksaan sama sekali dari pihak luar dan dia memang menginginkannya, kalau dibiarkan ... tanpa disahkan lagi! justru Ibu merasa khawatir, nanti jatuhnya zina! takutnya mereka melakukan sesuatu yang tidak-tidak karena ibu melihat ... mereka semakin dekat dan diam-diam Pram sering menyelinap ke kamar Anisa!" Tambahnya sang Bunda.


Pak Lukman dan juga Andre mengarahkan pandangannya pada Bu Bella sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tetapi bagaimanapun Pram sudah tahu caranya bertanggung jawab, jadi dia tidak akan pernah keluar dari tanggung jawabnya! kalau seandainya dia melakukan sesuatu pun!" ujarnya Andre yang begitu yakin pada sang adik yang sangat bertanggung jawab atas setiap yang dia lakukan.


"Andre benar, Pram nggak akan pernah melepaskan tanggung jawabnya, sebagai laki-laki maupun sebagai suami nya Anisa saat ini." Pak Lukman membenarkan perkataan dari Andre putra sulungnya.


"Loh-loh, loh-loh. Loh ... kok kalian malah ngobrol di sini sih? itu mempelai mau pulang, kok malah rapat di sini! ada apa sih? Aku nggak diajak-ajak lagi." Kata Renita yang baru saja menghampiri mereka bertiga.


"Biasa, gak penting kok ... kami hanya mengobrolkan bahwa kami ikut bahagia dengan kebahagiaan Pramana dan Anisa saat ini. Semoga rumah tangganya langgeng, saling menyayangi apalagi sekarang pernikahan mereka tanpa paksaan siapapun! alias kesadaran dirinya sendiri." Kata Andre kepada sang istri.


"Oh, itu benar. Nah itu pasti ... Pernikahan mereka yang sekarang ikhlas sendiri dan ingin menikah lagi mereka kan dah ngebet ha ha ha ... intinya mereka sudah saling menyayangi bukan seperti dulu tiba-tiba menikah Iya kan Bu?" Renita menoleh pada sang ibu mertua yang langsung menanggapinya dengan anggukan ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Yang sudah membaca ... biasakan tinggalkan jejaknya ya? untuk mendukung dan memberi semangat buat author menulis lagi, terima kasih.


__ADS_2