
Mobil yang membawa rombongan pengantin pun sudah tiba di kediaman nya Pram yang sudah tampak para tetangga dan keluarga jauh yang memnag di undang, makanan pun sudah tersedia di dalam sehingga mereka semua langsung menikmati hidangannya.
Namun tidak bagi Pram yang langsung masuk kamar dengan alasan capek dan
Anisa pun mengikutinya. Pram membuka peci nya yang lalu ia simpan di atas nakas. Melirik ke arah anisa yang mematung di dekat pintu yang sudah tertutup.
“Kenapa melamun di situ?” tanya Pram sambil duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
“Aku bingung kenapa aku ke sini ya? semua pakaian ku kan di kamar sebelah. Nggak ada yang bisa aku lakukan di sini.” Anisa berniat membalikan badannya dan tangannya menyentuh handle pintu.
“Eeh, mau kemana? Sini duduk dengan ku napa?” Pram menepuk sofa yang ada di sampingnya menyuruh Anisa untuk duduk di sana.
Sejenak, Anisa mengatupkan bibirnya terdiam dan menatap kosong pada Pram yang menaik turunkan alisnya. Lalu dia membawa langkahnya mendekati Pram yang menunggu kedatangannya di sofa.” Ada apa? amu ku ambilkan makan?”
“Nggak, nanti saja lah.” Pram menarik pinggang Anisa agar lebih mendekat padanya.
“Ngapain kita di sini? bukannya berkumpul dengan yang lainnya, mereka berkumpul kan karena kita berdua dan kita malah di sini!” kata Anisa sambil menyingkirkan tangan Pram dari pinggangnya, namun bukannya terlepas malah semakin kuat dan manarik lagi hingga merapat.
“Biar saja, sebentar kok, Nanti kita akan turun juga dan mereka pun pasti mengerti sama kita berdua yang sedang menjadi pengantin baru ini.” Pram mendekatkan hidungnya pada pipi nya Anisa yang bau wangi.
“Yo ach, kita turun? kan gak enak sama orang-orang di bawah.” Anisa memegangi tangannya Pram dan mengajaknya untuk turun.
“Iya, nanti sayang ... bentar lagi kenapa sih ... gak betah amat berduaan di sini. kita sudah sah lho sayang,” Pram memeluk Anisa dengan erat dan mencium pipinya.
“Masalah nya ... gak enak sama yang lain ngerti gak sih?” Anisa berusaha melepaskan diri dari Pram yang sekarang lebih berani.
“Iya-iya. Tapi beri kecupan dulu di pipi dan aku baru mau beranjak dari sini.” Pram menunjuk pipinya yang minta di kecup oleh yang istri. “Mencium suami itu ibadah Lho ... jangan di kaitkan dengan syahwat aja.”
Anisa menatap sejenak, lalu dia mendekatkan wajahnya pada wajah Pram. Lalu Anisa pun mengecupnya dengan singkat lalu menjauhkan kembali wajahnya.
“Nggak mau ach. Barusan singkat benar dan maunya yang lama nan mesra gitu. Ulang ach?” Pram lagi-lagi menyodorkan pipi nya pada Anisa yang tampak malu-malu.
“Iih ... gitu aja susahnya minta ampun,” gerutu nya Anisa sambil kembali mendekat.
“Kamu yang susah amat, di suruh cium saja sulit apalagi di suruh yang lain.” Pram menggeleng.
“Muach. Yang lain apan? Emangnya mau menyuruh ku apaan?” tanya Anisa setelah mengulang kecupannya di pipi nya Pram.
“Em ... gimana ya rasanya malam pertama?” Pram mesem sambil berdiri.
Anisa menarik tangannya Pram agar berjalan keluar dari kamarnya Pram. “Malam pertama apanya? Orang kita sering tidur bareng kok.”
__ADS_1
Langkahnya Pram terhenti sesaat. “Itu kan tidak ngapa-ngapain sayang ... gak berani—“
“Nggak berani apaan? enak saja bilang nggak ngapa-ngapain,” timpalnya Anisa sambil mengerucutkan bibirnya.
“Emangnya aku ngapain kamu coba? nggak kan?” Pram nyengir.
“Ngak tau ach.” Anisa berniat melanjutkan langkahnya.
“Paling peluk doang dan cium-cium gitu dan ... pegang-pegang dikit—“
Anisa mendelik kan matanya dengan sempurna pada Pram. “Pegang apaan? jangan-jangan kamu?”
“Nggak-nggak, nggak pernah macam-macam kok ... sumpah, mana berani aku berbuat begitu.” Pram meralat ucapannya dan kini dia yang menggandeng pinggangnya Anisa menapaki anak tangga satu persatu.
“Nah ... tu kan baru muncul dari atas, bis ngapain tuh ... jangan-jangan sudah tidak tahan ya?” Renita nyeleneh melihat Pram dan Anisa turun sambil bergandengan.
“Sekarang mau ngapain juga bebas, gak akan ada yang mengganggu juga.” Tambahnya Andre.
“Bener. Iya nih ... ini juga sudah pengen—“
“Pengen apa?” Lagi-lagi Anisa melotot pada Pram dan memotong perkataan dari Pram.
“Pengen makan sayang, apaan sih, galak amat. Aku mau makan!” kata Pram sambil mesem dan menghampiri meja makan yang di sulam menjadi meja prasmanan.
Pram yang sudah mulai makan menoleh pada Aisyah sambil tersenyum. Begitupun Anisa yang mengangguk pelan, di maj makan hanya ada Andre. Azis Pram jug Anisa. Aisyah dan Renita sebab yanga lain berada di ruangan lain.
“Tidak apa nunggu sebentar dan akan menimbulkan rasa penasaran yang lebih-lebih dan nantinya akan lebih berasa kangennya.” Tambahnya Azis sambil meneguk minumnya.
“Oya jangan grasak-grusuk, santai aja nanti juga gak bakalan kemana kan ya Mas? ha ha ha ...” Andre melihat ke arah Azis.
“Iya dong Mas ... Andre harus sabar dulu sampai waktunya nanti.” Jawabnya Azis pada Andre.
“Kalau yang belum sih gak akan begitu gimana-gimana. Tapi nanti bila sudah sekali saja ngerasain. Waduh ... gak akan kuat deh nahan seminggu saja. Serasa mati berdiri, kalau bisa ku tanam saja di tanah saking kerasa dan tegak berdiri nya, ha ha ha ...” Andre tertawa lepas di ikuti oleh Azis.
Pram menggeleng lalu berkata. “Sampai segitunya Bang? Gimana yang istrinya tengah hamil seperti kak Renita?” menoleh pada Renita yang nyengir.
“Lah, ya gas terus lah ... yang penting tidak grasak-grusuk aja. Yang santai dan alon-alon yang penting tersalurkan dan saling menikmati satu sama lain, iya kan Mas Azis?” Andre melirik ke arah Azis yang mengangguk.
“Ooh, bisa ya?” Pram mengerutkan keningnya.
“Bisa lah, orang banyak cara nya kok.” Timpalnya Renita yang sedang memakan buah.
__ADS_1
“Tapi sebagai istri ... banyak cara kok untuk memuaskan hasratnya suami. Ketika sang istri sedang tidak bisa melayaninya dengan sempurna, misalnya ketika sedang datang bulan dan juga sedang nifas. Buat suasana sebahagia mungkin, agar suami merasa puas dan terpenuhi keinginan nya. jangan biarkan dia menahan sesuatu dan akhirnya dia berpaling sama wanita lain kan? sebisa mungkin kita layani dengan baik.” Ungkapnya Aisyah sambil menggerakan tangannya.
“Bener, Kak Aisyah laki-laki itu dikit aja merasa di cuek kan langsung aja berpaling dan matanya jelalatan. Kadang pingin aku congkel saja deh bola matanya agar Cuma lihat kita saja.” Timpalnya Renita sambil menggambarkan rasa geramnya pada suami jika seperti itu.
“Busyet, gimana gue bisa melihat istri? bila mataku di congkel. Aneh-aneh saja nih istri orang.” Andre merangkul bahunya sang istri.
“Iya juga sih ... gimana caranya melihat diriku, bila ku congkel mata mu?” Renita sambil memanyunkan bibirnya.
“Dasar punya istri Somplak.” Andre menggeleng.
Azis dan Aisyah ikut tersenyum pada Andre dan Renita yang pada berdebat dan pada akhirnya aromantis kembali.
Pram dan Anisa menyudahi makannya dan menemui keluarganya yang lain di rungan lain. Gabung dengan mereka sebentar lalu mereka masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan salat ashar.
Pram di kamarnya dan Anisa juga di kamarnya, masing-masing. Sebab barang-barangnya Anisa belum di pindahin, setelah Anisa mengganti pakaian kebaya nya bekas akad tadi, lalu membuka kan pintu kamar.
Aisyah dan ibundanya pun datang ke kamarnya Anisa, ikut salat di sana dan memberi wejangan agar Anisa panut pada suaminya. Lebih-lebih sekarang mereka lebih dari sebelumnya.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri yang sebenarnya. Jadi Anisa harus panut pada suami, apapun yang dikatakannya ... selagi itu baik turuti, kecuali sudah melanggar dari jalur agama, boleh Anisa tidak menuruti ataupun menentang!" ujar Aisyah pada sang adik dengan lembut.
Anisa menganggukan kepalanya, lalu dia membuang nafasnya melalui mulut, dengan sedikit ragu dia bertanya mencari solusi kepada sang kakak. "Akak, aku kan ... lagi nifas. Berarti eh ... tidak. Tidak boleh melakukan hubungan, terus gimana cara menolaknya jika dia kekeh. Misalnya ini kan?"
Aisyah tersenyum pada pada sang adik lalu menoleh pada sang ibu. "Kan banyak cara untuk menyenangkan hatinya. Turuti aja yang dia mau selagi itu di batas kewajaran. Tidak apa-apa kok!"
"Iich, jangan di ketawain, malu. Dan ... aku belum tahu rasanya gimana, biarpun aku pernah begituan!" Anisa menunduk.
"Bunda tau, Nisa belum itu, kan waktu itu tidak sadar. Nanti kalau melakukannya Nisa harus sadar agar tau gimana-gimana nya--"
Ngah ... bunda kok malah mengejek ku sih ... tambah malu ich," Anisa memotong perkataan ibundanya lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Kemudian Anisa memeluk sang bunda. "Sesungguhnya Nisa takut."
"Takut kenapa?" tanya Aisyah dengan rasa penasarannya.
"Nisa takut kalau kekasihnya Pram nanti balik lagi, dan ingin menjalani hubungan dengan Pram kembali." Jawabnya Anisa tampak mendadak gundah gulana.
"Bagi orang yang pergi dan memungkinkan untuk kembali, pasti satu saat akan kembali. Cuman ... tergantung dengan Pram nya, mau kembali atau menyudahi! karena bagaimanapun itu cuman masa lalu yang sudah sewajarnya dilupakan. Kalau Pram belum siap menyudahi, dia nggak mungkin membuka lembaran baru di pernikahan dengan Anisa sekarang, lepaskan saja! tidak perlu menikahi Anisa yang kedua kalinya." Ujar Aisyah.
"Yang intinya ... Pram siap untuk bertanggung jawab sebagai suami Anisa dan siap menyudahi atau melupakan masa lalu. Dia pasti sudah pikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan untuk menikahi Anisa lagi!" tutur sang Bunda dengan lirih.
Anisa terdiam dan mencerna semua ujaran dari sang kakak dan sang Bunda ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like dan komen nya ya, agar aku tambah semangat Terima kasih banyak reader ku🙏