Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Makasih


__ADS_3

Selamat membaca.


"Aku ngantuk!" gumamnya Anisa yang berada dalam pelukan Pramana.


"Kalau ngantuk, ya tidur!" balasnya Pram sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Anisa.


"Gimana aku bisa tidur? kamu ganggu terus! udah jam berapa nih?" rajuk nya Anisa sambil menoleh pada pria yang selalu menempel pada dirinya itu.


"Kangen gimana--"


"Apanya yang kangen ... setiap hari ketemu, bagaimana sih?" Anisa menggosok kedua matanya yang terasa ngantuk berat.


"Iya-iya ... bobo lah dalam dalam pelukan sayang!" Pramana semakin menarik tubuhnya Anisa ke dalam pelukannya.


Baru saja mau pejam itu mata, Anisa sudah merasa ada yang jalan-jalan lagi di bagian tempat tertentu. Membuat Anisa kembali membuka matanya dan menoleh ke arah Pram yang sedang memasukan peng ke dalam mulutnya bak baby yang tengah minum asi.


"Ya ampun ... gimana aku bisa tidur ..." suara pelan Anisa dan menahan geli-geli gimana gitu.


Namun Pramana tidak perduli dengan gumaman nya Anisa, dia terus saja melakukan yang dia suka. Pada akhirnya tangan Anisa membelai rambutnya Pramana dengan lembut. Setelah Pramana merasa puas ... baru dia berhenti sendiri tanpa di pinta berhenti.


Pramana kaget melihat sudut manik matanya Anisa berlinangan air bening. "Kok menangis sayang kenapa?" seakan berbisik.


"Aku ngantuk, kan sudah di bilang aku ngantuk. Kok gak ngerti sih!" Anisa kembali merajuk sambil menaikan selimutnya.


Pramana tersenyum lebar. Lalu mengecup keningnya dengan durasi yang panjang kemudian berbisik. "Oke, sekarang bobo, aku akan membiarkan mu untuk istirahat dan aku juga sudah capek kok"


Anisa kembali berusaha untuk memejamkan kedua menik matanya dan kali ini ... dia berharap semoga dikatakan oleh Pramana benar dan membiarkan dirinya istirahat.


Keduanya sama-sama terlelap di bawah sinar lampu yang temaram. Tubuh keduanya sangat rapat dan tak satupun bisa lewat sekalipun nyamuk di antara keduanya.


Jarum jam semakin berputar, malam semakin beranjak pagi. Suara tahrim pun sudah mulai terdengar membangunkan Pramana. Dia membuka matanya yang terasa sepet banget.


Yang pertama dia lihat adalah wajah bidadari nya yang tampak sangat cantik natural, auranya pun begitu terpancar. Bibir Pramana tertarik ke samping dengan jari mengelus pipi nya Anisa yang tampak nyenyak sekali.


"Kasihan sekali istri ku ini, semalam susah tidur gara-gara aku yang nakal. Sampai-sampai menangis segala." Gumamnya Pramana dengan suara pelan, menatap ke arah Anisa yang tampak berantakan.


Cuph. Kecupan Pramana mendarat di kening dan pipi nya Anisa yang tidak bergeming sedikitpun.


Dengan perlahan, Pram mengibaskan selimutnya turun dari tempat tidur dan mengambil pakaiannya yang ada di ujung tempat tidur dengan rapi. Dia berjalan menuju kamar mandi setelah sebelumnya mengenakan celana bokser.


Saat ini Pram tidak pergi berjamaah, karena agak kesiangan. Sekitar 15 menit kemudian, Pram keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang dan handuk kecil di tangan yang dia pakai mengeringkan rambutnya.


"Ha ... seger ..." gumamnya Pramana sembari berjalan mendekati tempat tidur yang ada Anisa dan dia masih tampak lelap.


"Hem ... mentang-mentang tidak subuh'an masih lelap aja nih bidadari ku!" Pramana duduk di tepi tempat tidur lalu baring miring mendekati istrinya.


Punggung tangan Pram mengelus bahunya Anisa yang terbuka lalu naik ke pipi di usapnya dengan lembut. "Sayang, mau bangun gak? jam berapa nih. Suaminya belum di siapin pakaian nih!"


Anisa belum juga bergeming. Pram menyingkirkan anak rambut dari kening istrinya lalu di kecupnya dengan hangat nan mesra.

__ADS_1


"Hem ..." Anisa menggeliat tanpa membuka matanya sama sekali. Bibirnya mengulas senyuman lantas memeluk selimutnya dengan erat, tidur menyamping berhadapan dengan Pram.


Bibir Pram menyungging lalu tangan menyentuh punggung Anisa yang terasa lembut kulitnya.


"Sayang, jam berapa nih? suaminya belum di urusin nih ..." suara Pram berbisik.


"Em ... masih ngantuk nih, gara-gara semalam kamu tidak membiarkan ku tidur." Suara Anisa dengan parau khas bangun tidur, namun tetap terpejam.


Nyess ...


Dingin dan kenyal menempel di bibir Anisa yang langsung mata terbuka dan melotot.


"Mmm ..." Anisa kembali memejamkan matanya.


Pram mengusap bibirnya setelah mengusap bibir Anisa dengan lembut. Bangun sayang, siapkan pakaian ku dan aku belum salat nih."


"Ha, jam berapa nih?" Anisa menoleh pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul 05 pagi.


Anisa mengibaskan selimutnya dan langsung menutup kembali setelah sadar kalau tubuhnya setengah polos.


Pram hanya tersenyum melihat Anisa yang tampak malu dan kebingungan mencari pakaiannya yang lalu Pram berikan.


"Makasih, katanya belum salat. Salat dulu sana." Anisa menutup semua tubuhnya dengan selimut sembari mengenakan pakaiannya di dalam sana.


Dengan isengnya, Pram menarik selimut Anisa yang langsung memekik.


"Jangan!" pekik Anisa sambil menarik kembali ujung selimut yang Pram tarik.


"Sana? katanya belum itu, aku akan siapkan dulu pakaian mu. Emangnya kemarin di siapkan siapa? kan kadang sendiri juga." Anisa turun dan mendekati lemari mengambil pakaian buat Pram.


Sementara Pram Hanya tersenyum sendiri, lalu beranjak ke kamar mandi kembali sambil mengulum senyumnya.


Anisa menyimpan pakaian Pram di atas tempat tidur yang dia bereskan terlebih dahulu. Sarung peci dan Koko. Lalu dia membuka semua gorden.


Pram sudah kembali dan mengenakan sarungnya bersiap untuk mengerjakan 2 rakaat.


Anisa gegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun semua keperluan mandi masih ada di kamar sebelah. Membuat anisa kembali dan keluar dari kamar Pram untuk mengambil semua perlengkapan mandinya.


Dan sekalian aja mandi di sana. Jadi kembali ke kamarnya Pram dia sudah mandi.


Anisa kembali ke kamar Pram dengan mengenakan handuk di kepala menutupi rambutnya yang basah dengan membawa perlengkapan mandi yang dia simpan ke kamar mandi. Lalu duduk di depan cermin.


Kini Pram sudah tampak rapi dengan kemeja panjangnya namun tangannya di lipat ke dekat siku. Melihat ke arah Anisa yang sedang mengaplikasikan body lotion di tangan dan kaki. Lalu membuka handuk yang menutupi kepalanya.


Pramana berjalan mendekati Anisa dan mengambil hairdryer dari laci yang kemudian mencolokkan ke aliran listrik dan ... mengeringkan rambutnya Anisa.


Anisa menatap cermin yang dimana di sana ada pantulan Pram yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Hari ini aku masuk kerja, nanti siang mau nganterin makan siang gak? kalau nggak ... aku yang akan pulang." Kata Pram.

__ADS_1


"Pulang, kan jauh. Dari pada pulang mendingan makan di kantor saja sih. Pulang itu kan menyita waktu." Anisa mengerutkan keningnya.


"Terus gimana, aku lebih suka masakan rumah ketimbang masakan luar," Pram membungkuk dan meletakkan kedua tangannya di pinggir kursi yang Anisa duduki. Dagunya menempel di pucuk kepala Anisa.


"Ya ... udah, nanti aku masak dan mengantarnya ke sana." Balas Anisa sambil membalas tatapan Pram.


"Makasih sayang." Cuph Pram mencium kepalanya Anisa lalu tersenyum dan lalu menjauh dari Anisa mengambil laptop nya.


Kemudian Anisa setelah merapikan rambutnya dan mengikat seperti buntut kuda, beranjak dari duduknya berniat untuk membuatkan susu jahe untuk Pramana.


Anisa turun dari lantai atas menuju dapur yang sudah ada bibi dan ibu mertua di sana.


"Pengantin baru, baru turun nih." Bu Bella mesem melihat Anisa yang langsung bikinkan susu jahe buat suaminya.


Anisa tersipu malu dan menunduk. "Iya Bu ... Nisa kesiangan."


"Pram juga gak ke masjid sepertinya." Tambahnya Bu Bella.


"Em, Pram ... dia ... nggak juga, tapi dia bangun duluan kok. Sebelum aku dia dah bangun." Jawabnya Anisa mengingat Pram.


"Ooh, pantas gak ada turun." Bu Bella menganggukan kepalanya sambil membiarkan sarapan.


"Eeh, Nisa naik dulu ya Bu ... nanti Nisa kembali untuk


membuat sarapan Pram dan ... Nisa belum nanya mau di bikin sarapan apa!" Anisa berjalan membawa segelas susu buat Pram.


Langkah Anisa yang teratur menaiki anak tangga untuk mencapai kamarnya bersama Pram.


Cklek.


Handle pintu diputar dan di dorong ke dalam, Pram masih tampak duduk di atas sofa dengan memangku laptopnya melihat ke arah Anisa yang datang membawakan susu jahe.


"Ini susunya!" Anisa memberikan cangkir yang dia bawa.


Tangan Pram menyimpan laptop di meja sebelum mengambil cangkir. "Masih panas sayang." Lalu ia simpan di meja samping laptop. Susu jahe nya tampak masih mengepul.


"Ya dah simpan aja dulu," Anisa menatap gelas tersebut yang kini berada di meja.


"Padahal, sekarang aku dah punya susu yang pabrikan, yang asli dan tidak perlu di seduh dulu." Pram mesem sambil mendongak pada Anisa.


Anisa tidak mengerti. "Maksud?"


"Iya itu," Pram menunjuk sesuatu milik Anisa dengan dagunya.


Membuat Anisa menyilangkan tangan di dada. "Dasar mesum!" sembari mengerucutkan mulutnya lalu berbalik mau kembali ke dapur.


Geph ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like dan pokonya tinggalkan jejak deh agar aku tambah semangat. Makasih


__ADS_2