Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Malu


__ADS_3

Tubuh Anisa melayang dalam gendongan Pram. Dengan tangan melingkar di pundak suaminya Anisa menatap wajah pria yang menjadi suaminya tersebut.


"Kenapa menatap ku begitu? baru sadarnya kalau aku ini tampan." Pram mengulum senyumnya.


"Ge'er." Anisa mesem lalu mengalihkan pandangan nya ke lain arah.


Pramana menurunkan Anisa di dudukannya di sebuah sofa. Manik mata Anisa yang indah tertuju pada tempat tidur yang tampak seperti semula ia dan Pram datang.


Bertabur kelopak bunga yang merah dan sepasang angsa putih berputar ping. Senyum Anisa melebar.


Pram yang sudah membuka jasnya melihat Anisa yang senyum-senyum sendiri. "Kenapa?"


"Ah enggak perasaan tadi pagi-pagi tempat tidur kita tidak seperti sekarang!" Anisa keheranan.


"Iya ... kan di tata lagi ... biar kita lebih betah, apalagi sayang sudah salat kan?" Pramana menaik turunkan alisnya.


Anisa tidak menjawab dan dia hanya tersipu malu saja.


"Bisa dong perasaannya Aku minta malam ini," Pramana berbisik.


Dan Anisa menggigit bibir bawahnya, malu untuk menjawab! apalagi secara sadar ini kali pertamanya mau bermalam pertama dengan Pram.


“Oke, sekarang biar ku pijit dulu kakinya ya ...” Pram duduk di samping Anisa agak jauh dan mengangkat kedua kakinya Anisa ke dalam pangkuannya. Lalu di mengangkat gaun dan juga leujing nya hingga mengekspos betisnya yang mulus. Lantas di pijatnya dengan lembut.


Mulanya Anisa merasa merasa geli, namun lama-lama enak juga. dengan bibir yang terus mengembang, Anisa pun menetap wajah Pram yang tampak serius memijat kakinya.


“Gimana, lebih enakan bukan?” tanya Pram sambil menoleh pada Anisa yang yang langsung menunduk.


“Em ... sudah, cukup. Aku mau mandi dulu ya? atau kamu dulu sana mandi nanti aku belakangan.” Anisa menarik


kakinya dibiarkan menjuntai ke bawah.


“Baiklah ... aku akan mandi dulu sebelum kita ... melakukan ibadah sunah kita.” Pram mesem sambil membuka kemeja dan yang lainnya di hadapan Anisa.

__ADS_1


Anisa hanya tersenyum manis sambil berjongkok mengambil pakaian bekasnya Pram yang ngeloyor pergi ke kamar mandi.


Kini Anisa melepas kerudungnya beserta semua aksesorisnya yang berada di kepala. Namun ketika mau membuka gaun, dia merasa agak kesulitan. Hingga harus menunggu Pram keluar dari kamar mandi.


Pram yang berdiri di bawah kucuran air shower. Tidak lupa mencuci bersih benda pusakanya yang sebentar lagi akan dia pakai ritual yang sudah lama ia nantikan.


“Sebentar lagi kau akan ku pakai untuk menjali ritual yang di sunah kan. Semoga kau kuat dan tidak mogok di tengah jalan agar berjalan mulus. Seperti yang ku harapkan dan ... jangan mengecewakan kedua belah pihak. Karena aku yakin ... Anisa pun sebenarnya ini kali pertama menikmati itu yang sesungguh nya.” Gumamnya Pram sambil mengusap tubuhnya dari busa body whose.


Anisa mengambil pakaian tidur dari dalam coper dan kali ini dia mengambil gaun bukan piyama yang sengaja ia siapkan dari rumah dan gaun itu Pram yang membeli khusus untuknya. Tapi Anisa pun pada akhirnya mengambil piyama juga karena belum salat isya, rasanya malu kalau mengenakan gaun tugas. Anisa menoleh ke arah pintu dimana Pram keluar dengan handuk yang melilit di pinggang sepuluh senti dari jalur pusat. Mengekspos tubuh yang maco dan perut yang sixpack, siapa yang memandang pasti dengan refleks traveling ke mana-mana.


Sesaat Anisa melihat tubuh Pram dengan tatapan intens. Lalu detik kemudian ... Anisa menundukkan pandangannya.


Begitupun dengan Pram yang menatap Anisa sangat meneliti yang masih menggunakan gaun. Rambut sih sudah di sanggul kecil tampa penutup.


“Aku sudah siapkan semua di atas sofa. Aku mau mandi dulu.” Anisa ngeloyor membawa langkah kakinya melintasi Pram yang masih berdiri tidak jauh dari pintu.


“Mau ku temenin gak? mandinya.” Pram senyum-senyum sendiri.


“Nggak ach, oya ... bisa minta tolong gak?” Anisa menghentikan langkahnya dekat daun pintu kamar mandi tersebut.


“Em ... tolong bukakan resleting gaun ku, aku kesulitan nih. Tapi jangan sampai menyentuh ku karena nanti wudu mu batal.” Pinta Anisa sambil berdiri.


Pram memicingkan Netra nya menatap pinggang Anisa sambil menggerakan tangannya untuk membuka resleting gaun pengantinnya Anisa. “Sebentar ya ... sabar!” gumamnya Pram sambil menggerakkan tangannya dengan sangat hati-hati.


“Sudah sayang.” Pram langsung menjauhkan tangannya dari punggung Anisa dan Anisa pun gegas memasuki kamar mandi.


Sekitar tiga puluh menit kemudian. Pram menyandarkan dirinya di bahu tepat tidur dan sepasang angsa putih pun sudah dia pindahkan ke tempat lain. Menunggu Anisa yang baru saja selesai salat dan kembali ke kamar mandi entah mau apa?


Sesaat Anisa gugup sendiri di kamar mandi dengan penampilan nya yang mengenakan gaun lingerie yang setipis tisu berwarna krem, sungguh menerawang dalamnya gimana. “Aduh, kalau bukan karena untuk menyenangkan suami ... malas aku pakai ini, tipis banget sama saja dengan tidak pakai kali ya!”


Anisa mondar mandir berjalan di dalam kamar mandi. Mau keluar tapi malu dan dadanya terlalu dag-dig-dug yang belum bisa dia kontrol. Belum apa-apa sudah berkeringat dingin dan lututnya pun berasa bergetar. “Ya ampun ... kenapa aku menjadi gugup begini sih? kan bukan kali pertama aku bersama dia. Huuh ...” Anisa membuang nafas melalui mulutnya.


Lalu dengan bismillah ... Anisa menyentuh handle pintu lalu menariknya. Tapi dia Cuma berani menimbulkan kepalanya celingukan, melepas pandangan ke arah tempat tidur yang tampak Pram sedang menunggu nya sambil memegangi setangkai bunga.

__ADS_1


Tok ....


Tok ....


Pram pun langsung menoleh pada sumber suara, dan langsung tersenyum pada Anisa yang hanya menimbulkan kepalanya saja dari bali pintu. “Kenapa sayang ... lama ih, ngapain saja sih? jangan bilang gak jadi ya?” Pram jadi gusar kalau saja tidak jadi malam ini.


“Eh ... aku Cuma minta kamu untuk berbalik jangan melihat ku dulu, sebab aku malu dan lampu pun ubah menjadi temaram.” Pintanya Anisa.


“Apa sih sayang ... ayolah keluar? Apa perlu aku jemput hem?” balasnya Pram yang tidak serta merta menuruti permintaan sang istri.


“Jangan-jangan. Aku gak mau, pokonya kamu berbalik dan gantikan lampunya ... dan aku mau keluar nih. Kalau gak mau ... terpaksa kau diam di sini, bila perlu tidur di sini.” Anisa mengancam.


“Kok begitu sih sayang ...” Pram menatap wajah istri nya itu dengan penasaran.


“Ya sudah aku tidak mau keluar dari sini—“


“Iya-iya ... keluarlah, aku mau berbalik dan mengantikan lampunya. Keluar lah? masa mau tidur di sana sih.” Pram langsung memotong perkataan dari Anisa.


Anisa langsung mengembangkan bibirnya, serta membuka pintu lebih lebar. Setelah melihat Pram mengantikan pencahayaan kamar tersebut, dan dia sendiri pun sudah berbalik memunggungi arah pintu dimana Anisa berada di sana.


“Makasih sayang. Jangan berbalik dulu sebelum aku yang meminta nya ya?” Anisa keluar dari kamar mandi dengan sedikit cepat, berjalan sehingga dengan hitungan detik sudah berada di dekat tempat tidur.


“Ada-ada saja istri ku ini, kaya baru saja bermalam dengan ku. Padahal setiap hari juga ku peluk! Malu-malu segala, aneh nih.” Gumamnya Pram yang terdengar oleh Anisa.


Anisa tersenyum mengembang saja di belakangnya Pram, lalu naik mendekati Pram yang duduk memunggungi dirinya.


“Oh sayang ... kenapa menggerutu sih?” ucap Anisa seraya memeluk tubuh Pram yang sedang tidak mengenakan kaos itu dan tangan Anisa mengusap perut suaminya yang sixpack itu.


Pram sedikit kaget dan juga senang memegangi kedua tangannya Anisa yang melingkar di perutnya. “Hem ... istri ku pasti sedang memakai gaun yang ku beli kemarin kan? makanya malu-malu.”


Anisa menempelkan bibirnya di punggung sebelah kanan Pram. “Kok tahu sih?”


“Tau dong ... karena tidak mungkin kalau masih memakai piyama yang tadi tapi malu-malu begitu.” Tambahnya Pram sambil menarik tangannya Anisa di ciumnya berkali-kali dan menghirup wangi parfumnya.

__ADS_1


Pram membalikan tubuhnya, di bawah sinar yang temaram. Terlihat Anisa tersipu malu karena mengenakan lingerie yang seperti Pram bilang.


Mata Pram terbelalak melihat sang istri yang tampak sangat seksi itu. Tidak berkedip ....


__ADS_2