
Seusai sarapan Pram pun berpamitan untuk ke kantor. begitupun dengan Andre yang akan menginap beberapa hari di sana, makanya akan pergi bekerja pun pun dari sana.
Pram masuk ke dalam mobilnya tanpa ada yang mengantar. Sementara Andre itu di antar sang istrinya sampai teras.
"Pram. Mana istri mu? kok gak ngantar dan memberikan kecupan penyemangat pagi gitu, seperti Abang dong ... nih lihat di kasih pelukan dan kecupan penyemangat pagi." Andre menoleh pada sang adik yang sudah berada di dalam mobil.
Pramana hanya mesem dan sedikit menggeleng melihat sang Kakak berpelukan dengan istrinya. Lalu melajukan mobil nya.
Andre sama sang istri saling melempar senyuman, setelah kepergian Pramana. Lalu Andre berkata. "Ya sudah, aku pergi dulu dan baik-baik di sini.'' Kata Andre seraya mengecup kening sang istri.
"Hati-hati juga ya? dah sayang ..." lalu Renita masuk ke dalam rumah setelah mobil suaminya menghilang dari pandangan.
Saat ini Anisa sedang berada di dalam kamar, kepalanya sedikit pusing mungkin karena semalam gak bisa tidur. Pikirannya kacau dan mengambang, terus saja kepikiran soal yang semalam itu walau kadang-kadang bibirnya tersenyum sendiri.
"Nisa ... kau berada di dalam kamar Nak?" suara Ibu Bella dari balik pintu.
Anisa yang sedang berbaring pun menoleh ke arah pintu. "Iya Bu ... masuk saja, tidak dikunci kok."
Sang ibu mertua pun masuk ke dalam kamarnya Anisa dan mendapatkan Anisa sedang berbaring, berselimut ria. "Kamu belum sarapan kenapa? apa kurang sehat?" selidiknya sembari berjalan menghampiri sang mantu.
"Belum lapar, Bu ... lagian tadi sudah minum susu kok!" jawabnya Anisa sembari mendudukkan dirinya.
"Terus kenapa selimutan jam segini? nggak biasanya kayak gini, kalau kurang sehat periksakan ke dokter bilang sama Pram, biar diantar! terus sama ibu aja yuk? sama mang Pei!" ajak sang ibu mertua sembari menyentuh tangan Anisa.
"Tidak usah Bu ... Anisa itu nggak sakit, cuma mungkin karena semalam nggak bisa tidur, jadi kepala Nisa pusing!" akunya Anisa sembari menggeleng.
"Bilang sama Ibu, apa ada yang dipikirkan atau gimana?" Ibu Bella menatap dengan lekat pada sang mantu. "Apa Pram menyakitimu?"
"Aish ... Ibu kok ngomong gitu, mana ada, Pram nyakitin aku. Nggak ada, Bu ... aku cuman nggak bisa tidur aja! makanya aku pengen tiduran nggak papa kan, Bu ... kamar Pramana sudah aku bereskan dan juga sudah dicuci pakaiannya, sudah bersih."
"Nggak apa-apa, ya udah istirahat aja kalau emang semalam gak bisa tidur. Jangan banyak pikiran juga jalani aja semuanya seperti air mengalir, jangan khawatir kalau Anisa nanti lahiran ... Ibu dan keluarga pasti menyayangi baby itu." Lirihnya sang ibu mertua.
__ADS_1
Bibir Anisa tertarik membentuk sebuah senyuman lalu dia memeluk sang ibu mertua. "Makasih ya, Bu ... Ibu dan juga keluarga begitu baik sama Nisa, terima kasih."
Bu Hajah Bella pun membalas pelukan dari Anisa seraya mengusap punggung Gadis itu dengan lembut. "Sama-sama sayang, dari dulu juga Ibu sayang banget sama kamu. Apa lagi sekarang kamu sudah menjadi mantu ibu jadi jangan sungkan-sungkan. Kalau ada apa-apa bilang aja sama ibu!"
Tidak kuasa Nisa pun meneteskan air beningnya dari sudut mata dan mengalir ke pipi, dia bersyukur berasa di dalam keluarga yang baik yang penyayang dan menerima apa adanya.
Rasa rindunya kepada sang Bunda dapat terobati dengan kasih sayang dan perhatian dari sang ibu mertua.
"Cielah ... lagi peluk-pelukan ada apa kaya Teletubbies saja!" suara Renita dari dekat pintu membuat keduanya menoleh.
"Kak, Renita ..." gumamnya Anisa sembari mengusap wajahnya yang sedikit basah.
"Nita ... ini Nisa katanya semalam gak bisa tidur. Makanya sekarang terasa pusing kepalanya dan dia mau istirahat sementara dia tadi nggak ikut sarapan sama kita!" ucap sang ibu mertua dengan melihat kedua mantunya bergantian
"Hooh. Baiknya kamu sarapan dulu Nisa ... baru kamu tiduran. Lagian bikin mikirin apa sih? sampai semalaman gak bisa tidur banget gitu? pengen di kelonin ya!" ucapnya Nita yang ujung-ujungnya sedikit berbisik.
"Kak Nita ngomong apa sih? gak mikirin apa-apa, memang nggak bisa tidur aja, Kak ..." sahutnya Anisa sembari mesem.
"Ya kali aja minta di kelonin, orang punya suami nggak pernah dingelonin, seperti aku dong tiap malam dikelonin. Tidur ada temannya ngapa-ngapain di temenin juga, ups iya lupa he he he." Renita nyengir sembari mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, tidak jauh dari Anisa dan sang ibu mertua.
"Iih ... Ibu kenapa sih! tuh kak Nita ngomongnya kayak gitu, kan ... aku nggak ngomong apa-apa!" Anisa tersipu malu.
"Ya udah ... sekarang istirahat aja dulu, nanti tambah pusing kepalanya, ayo Nita kita keluar aja biarkan Anisa istirahat!" Ibu Bella beranjak dari tempat tersebut sembari mengajak Renita untuk turut keluar dan membiarkan Anisa istirahat sejenak.
"Aku mau di sini saja lah, mau tiduran juga sama Anisa." Timpalnya Renita sambil menepuk-nepuk tempat tidur Anisa yang sangat empuk.
"Ya sudah kalau gitu. Ibu keluar dulu ya?" Ibu Bella membawa langkahnya keluar dari kamar Anisa, meninggalkan Anisa dan Renita berdua di sana.
Setelah Ibu Bella tidak ada di kamar tersebut, Renita menoleh kepada Anisa yang bersiap untuk membaringkan dirinya.
"Ayo bilang sama aku, mikirin apa semalam? sampai nggak bisa tidur segala. Apa ada sesuatu sama Pramana?" tanya Renita yang jiwa kepo nya sedang meronta-ronta.
__ADS_1
"Iih kak Renita kenapa sih ... nggak mikirin apa-apa aslinya lho ..." Anisa menggelengkan kepalanya sembari menempelkan kepalanya di atas bantal.
Begitupun dengan Renita dia turut membaringkan dirinya di samping Anisa sembari mengusap-masak perutnya dengan tidur terlentang.
"Ya ... kali aja ada sesuatu! karena aku merasa ada sesuatu yang bikin jiwa kepo ku meronta-ronta nih ... pengen tahu. Biasanya tanda-tanda seperti itu pada orang yang sedang jatuh cinta, apalagi cinta pertama tuh, kalau kita masih labil he he he ...."
"Kak Renita bisa aja, sudah ach aku ngantuk pengen tidur dulu kak!" gumamnya Anisa seraya memejamkan kedua matanya.
Renita hanya memandangi wanita yang berada di sampingnya tersebut! suasana terasa hening dan hanya terdengar sayup-sayup suara kendaraan dari arah jalan raya.
"Oh ya, Nisa ... kamu pernah pacaran nggak?" tanya Renita Seraya menolehkan kepalanya kepada Anisa.
"Em ... belum sih, Kak!" jawabnya Anisa tanpa membuka kedua kelopak matanya.
"Aah yang bener! belum pernah pacaran berarti nggak ngerasain gimana pacaran dong?" tanya kembali Renita.
"Begitulah!" sahutnya lagi dengan masih di posisi yang sama.
"Hem ... waktu insiden itu kan Kamu nggak nyadar nih ya! jadi nggak ngerasain dong, nggak tahu gimana nikmatnya. Nggak tahu rasa sakitnya atau ... berarti kamu juga belum ngerasain walaupun sekedar ciuman?" tanya Renita kembali.
Dan sontak Anisa membuka kelopak matanya melihat ke arah Renita. Dia teringat akan kejadian semalam dan itu mungkin ciuman yang pertama di saat dia sadar, karena ketika dengan Hendar. Anisa gak sadar atau merasakan. Apa yang dilakukan oleh Hendar dia nggak tahu apa-apa.
"Aku tanya tadi ... berarti kamu belum pernah ngerasain gimana gitu, namanya ketemu bibir. Sementara kamu kan nggak tahu waktu kamu diapain atau gimana sebab dalam insiden itu kan nggak tahu apa-apa!" sambungnya Renita.
Anisa mengangguk. "Begitulah Kak."
"Begitu apanya? yang ku tanyain udah ngerasain atau belum?" dasar Renita kepo maksimal, sebelum dijawab masih aja ditanyain.
"Em-em ... be--" jawabnya Anisa ragu-ragu.
"Jawabnya belum aja susahnya minta ampun, atau mungkin--"
__ADS_1
"Mungkin apanya, Kak? jangan aneh-aneh deh Kak. Sudah ah aku mau tidur dulu! ngantuk banget," ucapnya Anisa sembari menutupi wajahnya dengan selimut dengan bibir yang mengembang ....
Bersambung.