Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Mereguk


__ADS_3

Pramana membiarkan ponselnya yang terus berdering. Karena dia pikir pasti itu panggilan dari Carolin yang waktu itu mengajak Pramana untuk nonton dan Pramana menolak. Bahkan dia bilang katanya mau main ke rumah.


Pramana merasa malas dan ngapain juga Caroline datang ke rumah? nanti malah bikin masalah lagi sama Anisa yang kini dia sudah tahu kalau Anisa adalah istrinya.


Setelah mereka ngobrol kanan kiri dari mulai keseharian dan juga kerjaan yang menjadi bahan obrolan. Kemudian mereka pun berpamitan untuk pulang dan mereka sepakat kalau suatu saat nanti akan mengadakan lagi kumpulan seperti ini, namun di rumahnya Deni atau di tempat yang lainnya.


Keempat pria tersebut pun berpamitan, namun Deni masih di situ karena memang dia bersama adiknya Dea, makanya yang empat pulang duluan dan Pramana pun mengantarnya sampai ke teras.


Tidak lupa. Mereka pun berpamitan kepada orang tuanya Pramana yang berada di ruang tengah yang sedang mengobrol dengan Azis.


Setelah mereka sudah sampai di teras dan mengenakan helmnya masing-masing, karena kebetulan mereka semuanya menggunakan motor.


"Nanti kalau resepsinya undang-undang kami ya? kita bikin heboh-heboh, kami ingin ikut serta dalam kebahagiaan kalian!" ucap telah Pram yang memakai jaket jeans pada Pramana sambil memakai helmnya.


"Insya Allah ....nanti diundang lah. Gampang!" sahutnya Pramana sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Jangan khawatir ... nanti ada resepsi kedua! gue yang akan ngingetin dia, biar kalian semua diundang!" tambahnya Deni sembari menepuk bahu teman-temannya.


"Istrimu cantik juga! gue mau dong cewek seperti itu atau istri mu saja buat aku lah!" celetuk salah seorang sambil menaiki motornya.


"Sebenarnya gue bisa lho ... memikat hatinya, cuman kagok aja, dianya lagi buntung ha ha ha ..." timpal teman yang mengenakan kaos panjang hitam.


Membuat Deni memukul helm yang berada di kepalanya. "Dasar kurang ajar, dasar bad boy lho."


Sementara Pramana hanya terpaku, ucapan-ucapan kedua temannya itu cukup mengganggu pikiran pria yang mengenakan kaos street abu itu hingga menampakkan lekuk tubuhnya yang tegap.


Lalu keempatnya temannya tersebut menaiki motor motornya masing-masing, kemudian melaju meninggalkan tempat tersebut sebelumnya mengucapkan salam kepada yang punya rumah.


"Wa'alaikum salam ...


warahmatullahi wabarakatuh ... hati-hati lho! jangan ngebut-ngebut! nanti terpeleset bro." Pekik Deni.


Kemudian Pramana dan Dani pun masuk kembali ke dalam rumah dan langsung ke kamar yang terletak di lantai atas.


Waktu terus bergulir hingga hari sudah menampakkan senjanya dan Dia pun berpamitan kepada Anisa dan mengajak Deni untuk pulang.


"Padahal aku masih kangen deh ... menginap saja di sini!" pintanya Anisa kepada Dea dengan penuh harap.

__ADS_1


"Lain kali saja deh, gue datang lagi besok kan ada kuliah. Minggu depan gue main lagi ke sini!" ucapnya Dia sambil memeluk Anisa.


"Bener ya ... kalau gitu minggu depan aja main-main ke sini lagi. Biar aku ada temennya," timpalnya Anisa sembari mengeratkan pelukannya kepada Dea.


"Hooh, di sini Anisa itu nggak ada temennya! soalnya dia belum begitu kenal dengan tetangga-tetangga di sini yang seusianya. Lagian kalau ke sini pun paling-paling deketin suaminya kan bahaya." Celetuknya Renata.


"Emangnya Kak Renita nggak ... nggak selalu datang ke sini ya?" tanya Aisyah pada Renita.


"Nggak, paling seminggu sekali ke sini nya kadang dua Minggu sekali nggak sering-sering," jawabnya Renita kepada Aisyah.


"Oh gitu ... kalau saja dekat sih, kita pasti sering-sering main ke sini. Tapi ya gimana lagi? kita kan jauh!" kata Aisyah sembari kembali merangkul bahunya Anisa.


"Emang Kak Aisyah mau pulang sekarang juga?" selidiknya Anisa kepada sang kakak.


"Iya lah, pulang sekarang nanti kemalaman! kasihan anak-anak mana pakai motor lagi kan!" Aisyah pun mengangguk karena mereka pun akan segera pulang.


"Ngah ... ku masih kangen lho ... kak, jangan dulu pulang lah, menginap saja di sini, Fika. Ferly menginap ya," Anisa membujuk kedua ponakannya agar menginap.


"Aku mau menginap, kalau Dede bayinya sudah keluar!" jawabnya Fika sembari menatap ke arah perutnya Anisa.


"Benar, sekalian kita ajak bermain bayinya ya Dek?" tambahnya Ferly menimpali perkataan dari sang adik.


Dengan berat hati, Anisa lalu berkata. "Baiklah, kalau begitu ... hati-hati ya!" Anisa pun mengantar mereka ke lantai bawah beriringan dengan keluarnya Pramana dan Deni dari kamarnya! menjadikan mereka ramai-ramai menuruni anak tangga.


Sepulangnya mereka dari kediaman tersebut, Anisa kembali ke kamarnya dan dia merasa kepalanya pusing dan beratnya sedikit mual. Tubuhnya pun terasa panas dingin.


Namun berusaha bisa nahan karena dia tidak ingin terlihat manja! sehingga setelah selesai makan malam Anisa pun menyetrika pakaian tentunya milik dia dan Pramana.


Renita dan Andre pun sesudah makan malam berpamitan pulang ke rumahnya, sehingga di rumah itu kembali seperti semula sunyi, sepi bagai tak ada penghuni.


Sesekali Anisa pinggangnya yang terasa panas, kepala pun terasa sangat pusing dan juga mual-mual.


"Ya Allah ... kuatkan aku!" gumamnya Anisa sambil memejamkan kedua manik matanya yang indah itu.


Tidak lama kemudian, Anisa membuka matanya. "Aku harus kuat!" lalu dia menyelesaikan semua kerjaannya! hingga dia bereskan pakaian Pramana ke dalam lemarinya.


Kemudian Anisa menyempatkan untuk membuat susu jahe biar menjadi teman Pramana yang sedang sibuk dengan laptopnya.

__ADS_1


Anisa menyimpan gelas tersebut di atas nakas di mana Pramana duduk di atas tempat tidur, tampak asik dan sibuk dengan layar laptop yang sedang dipangkunya.


"Ini susunya jahenya," ucap Anisa sambil muter tubuhnya kembali.


Geph.


Tangan Anisa ditangkap Pramana dan sedikit ditarik, agar dia duduk di hadapannya Pramana.


Anisa pun menuruti sembari menyanggul rambutnya yang tiba-tiba terurai.


"Besok mau jam berapa periksakan kehamilannya? soalnya kalau pagi aku nggak bisa, mendingan sore saja ya! pulang dari kantor aku antar kamu," ucapnya Pramana sembari menatap kedua manik matanya Anisa.


"Iya ... kalau kamu bisa ngantar aku jam segitu, ya ... nggak apa-apa! sore aja," jawabnya Anisa.


"Eeh, kamu kenapa? kok berkeringat dingin begitu, apa kecapean?" Pramana menatap cemas pada Anisa.


"Oh .. nggak, aku nggak kenapa-napa kok! mungkin gerah aja kepanasan!" elaknya Anisa sambil menggelengkan kepalanya.


Jari Pramana menyentuh pelipis Anisa yang keluar keringat tersebut dan mengusapnya dengan lembut. Dan pandangan mata mereka pun bertemu saling bersitatap dengan sangat lekat.


Tangan Pramana bergerak menyentuh leher samping yang menemukan ujung jemarinya ke pipi Anisa, dia mulai membelai dengan lembut.


Dengan perlahan namun pasti, wajah Pramana mendekat serta tujuan untuk mendarat di bibirnya Anisa yang tampak ranum dan menggemaskan.


"Ka-kamu mau apa?" gumamnya Anisa ketika wajah Pramana tinggal satu jengkal lagi.


Anisa ingin mengelak dan bergerak menjauh namun entah kenapa dirinya malah mematung tidak bergerak sama sekali. Seolah menyilakan niat Pramana untuk melakukan apa yang dia mau.


Walaupun hati dan pikirannya menolak! namun tubuhnya malah merespon. Sehingga menikmati sentuhan yang telah Pramana berikan.


"Mmmmh ..." suara yang keluar dari mulutnya Pramana.


Tubuh Anisa membatu, jari-jemarinya meremas ujung baju dan seprei. Nafasnya sedikit memburu. Di saat bibir Pramana menyapu lembut dan menyesap penuh gairah.


Lagi-lagi Pramana mengambil sesuatu dari Anisa, menikmati nya dengan lembut. Mereguk manisnya yang bikin candu Dan tiada obat. Tidak peduli lagi dengan status hubungan mereka yang masih mengambang! tapi walaupun begitu Pramana masih bisa ngekar nafsunya yang lain, sehingga yang dilakukan hanya sebatas itu saja tanpa berani lebih kurang ajar lagi ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Like nya dong ... makasih sebelumnya.


__ADS_2