
Selepas mengerjakan salat isya, Pramana menoleh ke arah tempat tidur namun kosong dan dia merasa heran. Kemana Anisa? padahal rasanya tidak mendengar suara pintu yang terbuka tadi.
Dan di saat memutar tubuhnya, kedua netra Pramana mendapati Anisa berbaring di atas sofa berbalut selimut. Setelah menyimpan sarung yang sudah ia lipat dan peci di atas nakas. Pramana pun menghampiri ke dekat sofa di mana istrinya berbaring memeluk selimutnya dengan sangat erat! dia tampak kedinginan sekali.
"Sayang, kok bobo di sini sih? itu tempat tidur kan luas, ngapain Di sini?" Pramana berjongkok di dekat kepalanya Anisa yang terlihat memejamkan mata.
Namun Anisa bergeming tidak merespon perkataan dari Pramana. Lalu Pramana mengecup keningnya Anisa dengan sangat lembut dan penuh kehangatan, Pramana pikir mungkin Anisa sudah tidur sehingga dia tidak bergerak dan tidak menyahut.
Sebenarnya Anisa masih terjaga, dia belum tidur seperti yang di lihat Pramana. Namun dia malas untuk merespon perkataan dari Pramana dan dia juga malas untuk tidur di atas tempat tidur bersama dengan pria tersebut, Anisa masih marah dan kesal perkara Pramana menemui Adisty yang maunya Anisa Pramana terbuka!
"Sayang ... belum tidur kan? kau mendengarkan aku kan ... masa mau di sini sih? nanti aku kedinginan di sana gimana? gak ada yang bisa ku peluk! biarpun ada guling ... aku bosan, nggak ada hangat-hangatnya. Sayang dengar aku kan?" dengan suara lembut dan membelai pucuk kepala Anisa.
"Ya, terserah. Masa bodo. Emangnya aku pikirin! mau peluk guling yang dingin kek, aku nggak perduli. Makanya jangan bohongin aku!" jawabnya Anisa dalam hati dengan tetap tidak bergerak sama sekali.
Karena Anisa tetap terdiam tidak merespon apapun, lagi-lagi Pramana mengecup keningnya dengan durasi yang lama. Lalu turun pada kedua pipi. Lantas berakhir mendarat di benda tipis miliknya Anisa yang sontak membuat Anisa terbelalak membuka matanya melotot dengan sangat sempurna.
Sementara Pramana terpejam menikmati benda yang kenyal-kenyal geli, dan menghangatkan.
Dengan beberapa saat, bibir Pramana menempel di bibirnya Anisa sambil bergerak mengeksplor setiap incinya, memberikan sensasi yang menghangatkan menjalar ke seluruh tubuh, dan Anisa tetap berpura-pura tidur kembali memejamkan kedua menik matinya, apalagi di saat Pramana menghentikan aksinya.
Padahal tubuhnya sangat bergetar dan hanya bisa berusaha untuk menyembunyikannya dari Pramana. "Aduh, jangan sampai tahu nih Pramana. kalau tubuhku bergetar begini, aku harus bisa mengendalikan tubuhku ini." Batinnya Anisa sambil terus terpejam.
Pramana tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari wajah Anisa, ekspresi wajahnya yang mulai ketara. Kalau dia pura-pura tidur, membuat bibir Pramana menyinggung ke samping dan tangannya Pramana perlahan menarik selimut Anisa dan menurunkannya.
Anisa ingin sekali memegang erat selimut yang dia pakai, agar tidak sampai Pram tarik. Tetapi kalau seandainya dia genggam erat ... nanti Pramana tahu kalau dia pura-pura tidur.
__ADS_1
"Nisa Sayang aku tahu kamu pura-pura tidur Sebenarnya kamu belum tidur kan Ayolah bangun kalau tidak aku paksa nih! Apa perlu aku melakukannya di sini?" ancamnya Pramana sembari menyeringai.
Dengan refleks, Anisa terbangun mendengar ancaman dari Pramana barusan. Ia langsung mendudukkan dirinya. "Apa maksud mu melakukan di sini?"
Pramana semakin tersenyum lebar melihat Anisa terbangun dengan cepat setelah diancam. "Nah kan, nggak tidur kan? cuman pura-pura doang kan? Ayolah kita bobo di sana aja, temani aku. Emangnya nggak kedinginan apa? aku aja sangat kedinginan biarpun sudah minum susu jahe, dan aku perlu kehangatan dari mu!"
Anisa menggoyangkan kedua bahunya bergidik geli mendengar perkataannya Pramana barusan. "Apaan sih? iiiyyyy ..."
"Nggak usah pura-pura bergidik begitu, kita sama-sama sudah dewasa dan tahu kalau itu sangat mengenakan!" Pramana mesem. Menggenggam tangan Anisa yang mulai memeluk selimut, lalu dia duduk di sampingnya.
"Apanya yang mengenakkan, makan? aneh sekali." Lagi-lagi Anisa bergidik dan menggeser posisi tubuhnya sedikit ke sisi sofa dengan sambil memeluk selimut.
Begitupun dengan Pramana, dia menggeser tubuhnya dan mengikuti gerakan dari Anisa.
"Nggak mau ... kalau kamu di sini, aku juga mau di sini aja! sini bobo dengan ku? aku peluk!" Pramana merangkul bahu Anisa diajak berbaring dalam pelukannya.
Tentu saja Anisa menolak. "Aish ... sudah kubilang aku nggak mau! pergi sana! biar aku sendiri di sini," Anisa semakin menunjukkan rasa kesalnya kepada Pram dengan mendorong dada perempuan agar menjauh dari dirinya.
Namun Pramana tetap kekeh berada di sana, Lagi-lagi memeluk Anisa ke dalam pelukannya. "Kamu mau marah, ya marah saja. Tetapi aku nggak mau jauh dari mu, sudah tahu suaminya terkena hujan, kedinginan ... malah mau ditinggalin," gumamnya Pramana sembari memeluk Anisa sangat erat.
Anisa berusaha untuk keluar dari pelukan Pramana, biarpun merasa nyaman di situ. Namun bagaimana pun Anisa merasa gengsi, apalagi teringat tadi Pramana dipeluk oleh Adisty. Bikin dia merasa kesel dan marah lagi, suaminya ini dipeluk-peluk wanita lain sekalipun kekasihnya.
Biarpun Anisa yang meronta-ronta ingin keluar dari pelukan Pramana, pria itu tidak peduli. Dia tetap saja mengunci bahu dan punggung nya Anisa.
"Kalau bisa ... silakan keluar aja dari pelukan ku ini, ha ha ha ... ngaku saja kau sebenarnya istriku ini ingin dimanja dan ingin berada dalam pelukan ku dan ... jujur saja kalau istri ku ini cemburu karena suaminya dipeluk sama wanita lain!" Pramana dengan lirih dan dibarengi dengan tertawa kecil.
__ADS_1
Degh.
"Cielah ... kok dia bisa membaca pikiran ku sih? kok dia bisa tahu yang kurasakan ini, dia tahu dari mana?" Anisa mulai tenang dan mendongak menatap wajah Pramana, ia merasa heran. Kok Pram bisa tahu apa yang dia rasakan dan yang ada dalam pikirannya itu.
Pramana pun menatap wajah cantiknya sang istri jari-jarinya bergerak menyingkirkan rambut istrinya yang sedikit menutup wajahnya. "Sudahlah jangan marah lagi, aku bersumpah pada dirimu ... hanya ada kamu di hatiku saat ini, tidak ada yang lain ataupun yang dulu!"
Cuph. Pramana mengecup keningnya Anisa dengan lembut, lalu berkata dengan sangat pelan. "Aku sangat mencintai kamu dan aku membutuhkan kamu! jangan marah lagi ya!"
Anisa tidak menjawab sepatah kata pun, dia sendiri bingung antara marah dan sayang. Antara kesal dan cemburu. Di ujung hati yang paling dalam ... dia merasa kecewa karena sudah dibohongi.
Tapi dengan kata-kata yang terus berulang kali dari Pramana, kalau dia tidak ada niat untuk kembali pada mantannya! dan ingin melanjutkan pernikahan dengannya, rasanya tak ada salahnya juga dia memaafkan serta mengesampingkan ego.
Wajah Anisa masih betah mendongak dan menatap wajah Pramana yang tampan, manis. Sedikit lesum pipinya. Bersahaja dan juga berwibawa, tak Ayal kalau dia banyak disukai kaum hawa termasuk mantan kekasihnya itu.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu? detak kan bibir mu dan bicaralah sayang ... katakan padaku! kalau kau pun sangat mencintai ku, dan tidak ingin jauh dariku!" kemari Pramana menyentuh bibir Anisa serta mendekatkan wajahnya dengan suara sangat pelan.
Anisa tidak mampu berkata-kata, hanya tatapan matanya yang berubah menjadi nanar, kemudian dia menempelkan pipinya di dada Pramana. Mencari kenyamanan di sana. Tangan Pramana pun kini membelai rambut Anisa dengan sangat lembut.
Hening ...
Hanya perasaan hati saja yang saling bergemuruh bagaikan deburan ombak di lautan luas, yang beriringan saling mengejar satu sama lainnya ....
...🌼---🌼...
Bersambung.
__ADS_1