
Pram termenung dalam pelukan nya Adisty yang memeluknya erat. Pramana terdiam dan bengong, dia mengerti kalau Adisty merindukannya dan setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya kini bertemu lagi.
“Pram, aku kangen sama kamu dan aku meminta maaf karena sudah meninggalkan mu di hari pernikahan kita dan aku mohon maafkan aku?” suara Adis dengan nada yang bergetar dan mengeratkan pelukannya.
Pram masih juga mengatupkan bibirnya dan terdiam, tidak tau harus berkata apa untuk sementara waktu ini. Dadanya berdebar sangat kencang dan mengingat Anisa di rumah. Berdosa kah dia yang sudah membohongi istrinya itu.
“Aku kangen sama kamu Pram, kenapa kamu baru mau menemui ku Pram? Sebenci itu kah kamu sama aku Pram?” kata Adis yang kembali berkata, merangkul pundaknya Pram yang kini mencoba memudarkan rangkulan itu tanpa sama sekali membalas pelukan darinya.
Adis pun tampak heran pada Pram yang jangankan membalas pelukannya memberikan kecupan di pipi, yang ada malah seolah tidak mau di peluk. “Kamu tidak mau aku peluk?” Adis menatap nanar dan heran.
“Untuk melepas rindu ... kan sudah barusan,” Pram dengan nada dingin lalu duduk di kursi panjang yang ada di sana.
“Pram ... aku meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan ku?” Adis duduk di sampingnya Pram dan menyentuh tangan nya Pram dengan lembut.
Pram menyandarkan punggung nya di bahu kursi serta tatapan yang jauh dan kosong ke depan. “Aku sudah maafkan kamu. Sekalipun kamu tidak memintanya.”
“Pram. Kamu marah sama aku? aku cukup sadar diri kok karena aku yang salah. Sudah meninggalkan mu di saat itu, aku yang salah kok.” Adisty menunduk dalam.
“Tidak perlu bahas itu lagi ya,” ucapnya Pram dengan nada yang terasa berubah jauh berbeda dari dahulu, sekarang dia dingin dan seolah tidak ada lagi kehangatan.
“Pram, aku tahu aku salah dan aku siap bila kamu marah sama aku, tumpahkan kemarahan mu pada ku Pram. Tapi jangan cuek begitu padaku, aku mohon jangan diamkan aku lagi? sekarang aku ada di sini, kamu mau marah atau gimana? terserah deh asal jangan kau diamkan aku, aku tidak tahan Pram.” Adis merajuk dengan sikap Pram yang sekarang.
Pram menolehkan kepalanya pada Adisty yang berada di sampingnya dengan wajah yang sendu, di tatapanya sangat lekat. Dulu iya ia sangat mencintai nya tapi kini sudah mulai terkikis dengan waktu dan keegoan yang Adisty ciptakan sendiri.
“Aku minta maaf dan makasih kamu dulu sudah mengisi relung kalbu ku selama bertahun-tahun dan ... dengan mudahnya kamu menghilang. Bangunan istana cinta yang bertahun kita bina hancur seketika di asaat menuju puncaknya keindahan, aku gak tahu harus berkata apalagi nih.” Pram menggigit bibir bawahnya yang merah natural, rasanya dia sudah kehabisan kata-kata.
“Sayang. Kenapa kau bilang seperti itu? kau boleh marah sama aku, ayo marahi aku dan bila perlu pukul aku agar kau puas, dan kita akan kembali seperti dulu lagi. Kita bangun lagi istana cinta yang labih indah dari yang sebelumnya.” Adis menatap nanar ke arah Pram yang tampak dingin padanya itu.
__ADS_1
“Bicara itu memang mudah dan aku tidak bisa menjanjikan apa-apa lagi sama kamu Adis. Aku bisa menahan rasa kecewa dan memaafkan mu, tapi belum tentu orang tua ku yang merasa di permalukan oleh pernikahan kita yang berakhir pada waktunya.” Pram berkata dengan lirih dan menarik tangannya dari pengkuan Adis.
Adis menarik tangan Pram dan dia gerakan ke pipinya. “Ayo pukul aku Pram. Agar kamu puas dan aku mau berlutut di hadapan mu dan juga orang tua mu agar mereka pun memaafkan ku! dan dapat menerima ku seperti dulu pagi. Maafkan aku Pram? Maafkan aku.” Adis menangis.
Pram menarik kembali tangannya dari genggaman Adis yang menggerakan supaya ia memukulnya. “Aku tidak bisa menyakiti mu dan aku juga tidak bisa melanjutkan hubungan kita seperti dulu, hati ku bak ibarat kertas tisu yang sudah di remas dan di rapikan sedemikian rupa pun tidak mungkin akan kembali seperti semula. Begitulah hati ku.”
“Aku tau itu dan aku minta maaf, aku tidak mau kamu tinggalkan sayang ... dan aku ingin kita seperti dulu lagi.” Adisty menggeleng dan menggenggam tangan kanan nya Pramana. Air matanya pun jatuh ke tangan Pram.
“Sebaiknya jangan lagi berharap lagi, masih banyak pria yang lebih baik dan pantas untuk mu dalam hal materi pun mungkin aku tidak akan membuat mu cukup, makanya kamu pergi meninggalkan ku di hari pernikahan. Sebaiknya kamu lupakan saja diriku,” ujar Pram dengan suara yang bergetar dan menundukkan kepalanya.
“Jangan gitu sayang, jangan bilang begitu! aku tidak mau pisah sama kamu, nggak mau Pram ... tidak mau,” Adisty menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku minta sama kamu ... lupakan saja aku dan aku kembalikan jam tangan ini pada mu.” Pram mengeluarkan jam tangan yang waktu itu pemberian dari Adis dan kini dia kembalikan barang tersebut.
Adis menatap jam tangan itu itu yang pernah ia hadiahkan pada Pram sebagai kado anniversary hubungan meraka berdua. Adis menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Air matanya semakin berjatuhan kembalinya barang itu sebagai tanda penolakan. “Apa benar kamu sudah menikah seperti yang ku dengar itu?”
Pram menoleh pada Adis, lalu dia mengalihkan pandangan nya ke lain arah. Dia tidak kuasa lama-lama menatap matanya Adisty yang berderai dengan air mata, bibirnya mengatup rapat.
Lalu dia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Adis menangis sejadi-jadinya, biarpun Pram belum menjawab, tapi itu pasti benar, menginat sikap nya Pram sendiri yang dingin dan cuek padanya.
Secara logika, kalau Pram memang masih cinta dan sayang, biarpun merasa kecewa. Pram pasti akan menyambut kepulangan adisty dengan antusias.
Bukan dengan dingin begini, Sudah beberapa minggu Adis kembali dan Pram berusaha menghindar untuk bertemu dengan alasan belum siap atau apalah. Dan itu sudah cukup menandakan kalau Pram bukan yang dulu lagi, dia benar-benar kecewa pada Adisty. Itu yang membuat Adis tangisi sejadi-jadinya ini.
“Sudah Sore, sebaiknya kamu pulang. Kamu tidak bawa mobil kan?” Pram celingukan mencari mobil Adis yang tidak nampak di sana.
Tangis Adisty semakin menjadi dan dia meminjam bahu Pram untuk menangis. Dan menyembunyikan wajahnya di sana. Hatinya terasa sakit dan dada nya pun terasa sesak, orang yang sangat dia cinta dan ia kembali itu hanya untuk Pram. Dan kini pria itu sudah tidak perduli padanya serta kemungkinan besar mempunyai istri. Setelah gagalnya pernikahan mereka berdua.
__ADS_1
Pram terdiam dan kebingungan harus gimana? bahkan untuk menyentuh dan menenangkan nya saja dia ragu, merasa berdosa dari Anisa. Wanita yang kini bertahta dalam hati nya tersebut,
“Aku, aku kembali untuk kamu Pram ... tapi kamu malah menikah dengan wanita lain. Kamu tega Pram ... kamu jahat, hik-hik-hiks." Adis memukul-mukul dadanya Pram sambil menangis, air matanya yang berjatuhan begitu deras.
Tak ayal Pram pun menahan tangisnya, dia pun tak kuasa manahan melihat Adisty menangis, namun dia tetap berusaha untuk tidak memperlihatkan dirinya yang menangis.
“Sebaiknya ... ku antar kamu pulang dan berhentilah menangis. Percuma kau menangis terus dan tidak akan pernah bisa merubah segalanya," ucap Pramana dengan nada datar.
Sejenak Adis mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata. Lalu menoleh pada Pram yang berwajah sendu. “Baiklah ... antar aku pulang ya? aku tidak bawa mobil.”
Pram hanya mengangguk dan berdiri bersiap untuk pulang. Adis pun beranjak sambil mengeringkan air matanya yang sudah mulai mengering dengan lembaran tisu. Lalu mereka berjalan mendekati mobil Pram berada.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan Pram melajukan mobilnya untuk mengantarkan Adis untuk pulang. Di sepanjang perjalanan tidak ada yang mengeluarkan kata. Keduanya memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pikiran Pram saat ini sudah berada di rumah teringat pada Anisa yang pasti menunggu kepulangannya yang biasanya jam segini sudah berada di rumah kecuali lembur.
Hari semakin senja yang tempak merah dan beberapa detik lagi pun pasti maghrib, mobil Pram sudah berada di depan rumahnya Adis. “Sudah sampai turun lah.” Pram bergumam tampa turun untuk membukakan pintu seperti biasanya yang sering dia lakukan pada Adisty. Dia hanya terdiam melihat ke depan.
“Apa kau tidak mau membukakan pintunya untuk ku?” gumamnya Adis tanpa menoleh.
Sesaat Pram terdiam lalu dia turun dan mengitari mobilnya untuk sekedar membukakan pintu untuk Adisty.
Bibir Adis tersenyum lalu turun dan berdiri di samping mobil Pram. “Pram ... makasih ya sudah mengantar ku! dan satu lagi, aku yakin ... kalau kamu masih sayang sama aku, kembali lah pada ku Pram, aku yakin kamu menikah dengan wanita itu bukan karena cinta tapi karena untuk menutupi pernikahan kita yang gagal kan? jujur sama aku dan lepaskan dia. Menikahlah dengan ku! aku tidak akan berbuat lagi seperti yang sudah-sudah. Aku akan berusaha lebih baik lagi dan aku janji padamu.”
Pram bersandar pada mobilnya sambil memeluk dadanya, menatap ke arah Adis yang berdiri sekitar satu meter dari dirinya. “Awalnya mungkin pernikahan itu hanya untuk menutupi rasa malu daripada gagal menikah dengan mu. Tapi sekarang aku mencintainya, jadi jangan lagi berharap padaku! aku sudah menjadi suami orang.”
Degh.
Hati Adis kembali mencelos, merasa sedih mendengar perkataan dari Pram yang mengguris hati. Adis tidak lagi berkata-kata. Dia berjalan memasuki kediamannya dengan membawa hati yang hancur, dan entah harapan itu masih ada atau tidak ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mana jejaknya nih, apa masih ada yang menunggu kehadiran Anisa dan Pram?