
"Sudahlah, jangan dibuat risau. Serahkan saja kepada yang maha kuasa insya Allah ....dia akan berikan yang terbaik untuk Anisa!" kata-kata yang menenangkan terucap dari bibir suaminya membuat Aisyah mengangguk pelan saja.
Kicauan burung yang begitu merdu dari peliharaan Pak Joni menyambut pagi yang begitu indah. Embun pun menggenang di daun-daun.
Anisa dan Aisyah sedang beberes rumah seperti menyapu, mengepel dan merapikan semua yang berantakan! sementara sang ibu menyiapkan sarapannya di dapur.
"Nisa, ini biar saja Kakak yang bereskan. Kamu bantuin bunda saja menyiapkan sarapan." Titahnya sang kakak kepada Anisa.
"Tidak apa-apa, Kak Aisyah sendiri yang membereskannya?'' pertanyaan Anisa kepada Aisyah! dan wanita berkerudung itu langsung mengangguk.
Kemudian Anisa pun berlalu membawa langkahnya ke dapur, untuk membantu sang Bunda menyimpan sarapan.
"Bunda sudah selesai belum? biar Nisa saja yang kerjakan!" Anisa mengambil alih pekerjaan sang bunda.
"Kebetulan, Bunda mau memikirkan kopi buat ayah dan juga Mas mu." Bu Farida langsung membuat kopi buat sang suami dan mantunya.
"Iya, kak Aisyah masih beberes rumah." Balasnya Anisa sambil sibuk mengaduk masakan.
Kemudian mereka sarapan bersama. Mereka menikmati sarapannya dan sesekali mengobrol, sementara Anisa justru malah banyak melamun.
“Nisa ... makan? jangan melamun, Dek ... gak baik sambil makan melamun.” Suaranya Aisyah dengan lirih.
“Nggak kok Kak ...” Anisa menundukkan wajahnya.
Kemudian sarapan pun sudah selesai, seperti pak Joni dan Azis berpindah tempat sebelum pak Joni berangkat bekerja.
“Ayah belum berangkat bekerja?” selidik sang mantu.
“Sebentar lagi ayah akan berangkat.” Jawabnya pak Joni sambil mengajak bermain kedua cucunya itu.
“Nisa ... Kakak minta jangan banyak melamun ya? hadapi hidup ini dengan semangat, jangan kehilangan keceriaan ach, adik Kakak harus semangat apapun yang terjadi. Anggap ini sebuh ujian dan ... lagian ini bukan Anisa sengaja. Tapi suatu kecelakaan,” Aisyah mengusap bahunya sang adik yang tampak murung.
“Kak Aisyah benar, Nak ... ini bukanlah yang di sengaja bukan? Bunda akan menyayangi anak itu sebagai cucu bunda kok.” Tambahnya ibu Farida.
__ADS_1
Anisa menatap keduanya dengan tatapan nanar. “Nisa minta maaf sama Bunda ... sama Kak Aisyah, Nisa sudah membuat kalian malu dan tercoreng muka kalian dengan kehamilan ini. Tapi demi Allah ini bukan Anisa sengaja. Tapi ini sebuah—“
“Sudah lah Nisa ... jangan di bahas lagi ya, Kakak percaya kok kalo sesungguhnya ini sebuah insiden.” Aisyah memeluk sang adik yang akhirnya menangis dalam pelukannya.
“Gimana kalau nanti perut ku semakin besar Kak? dan orang-orang pada tahu. Kasihan Bunda dan ayah, beliau pasti akan menanggung malu Kak.” Suara Anisa kembali yang merasa ketakutan tentang kehamilannya yang tidak akan lama lagi akan ketara.
Aisyah hanya terdiam dan menahan tangisnya, sedih melihat adik perempuannya bernasib malang seperti demikian. Yang terdengar hanya isak tangis dari Anisa.
“Menangislah ... bila itu bisa membuat mu merasa lega. Kakak akan mendoakan semoga akan ada pria yang mau menikahi mu secepatnya. Dan Kakak akan bicarakan ini pada ayah dan bunda.” Ujarnya Aisyah sambil membelai rambutnya Anisa.
Bu Farida datang kembali setelah mengantar suaminya yang berangkat kerja sampai ke teras.
Aisyah Menoleh pada sang bunda yang baru saja mendudukan bokongnya di dekat mereka berdua. “Bunda ... apa tidak sebaiknya ayah mencarikan pemuda yang mau menikahi Anisa! Ya ... sebelum perut Anisa membesar.”
“Ayah sudah berangkat bekerja barusan. Nanti saja kita bicarakan lagi.” Jawabnya sang bunda.
Azis yang mendengar obrolan ketiga wanita tersebut ikut nimbrung juga. “Kata Aisyah itu benar, Bu ... setidaknya Anisa bersuami di saat kehamilannya membesar, tapi kita pun harus jujur pada pria yang akan menikahinya. Kalau Anisa itu tengah mengandung.”
Suami dari Aisyah itu membenarkan saran dari sang istri, kalau Anisa harus segera di nikahkan.
“Em ... anak-anak mana Mas?” selidik Aisyah menanyakan anak-anak nya yang tidak kelihatan di dalam rumah tersebut.
“Mereka bermain di taman.” Jawabnya Azis sambil menunjuk ke arah taman yang berada di belakang rumah itu.
“Em ... apakah Anisa ada teman pria yang sekiranya sudi menikahi Nisa?” Aisyah menatap adiknya yang kini sudah tidak lagi menangis.
Anisa menggeleng karena dia merasa tidak ada teman pria yang bisa menolong kesusahannya.
“Anisa tidak punya kawan dekat ya? biar Mas lamar kan buat Anisa.” Tanya Azis sambil melirik ke arah Anisa sekilas.
Lagi-lagi Anisa menggeleng. Karena memang tidak ada, ada pun seseorang yang dia taksir dan mungkin dia pun naksir, dia sedang melanjutkan kuliah nya di luar Negeri.
“Mungkin, Mas ada teman yang sedang mencari calon istri?” tanya Aisyah pada suaminya itu.
__ADS_1
“Tidak ada Dek ... kalau ada sih ... pasti Mas akan rekomendasikan.” Azis menggeleng.
“Kita tunggu saja keputusan ayah nanti kalau sudah pulang.” Timpal sang ibunda sambil menatap sendu pada Anisa.
Anisa berpikir orang-orang tengah mencari pria yang siap menutupi aib nya yang tengah hamil. Agar tidak terlalu membludak omongan orang nantinya atas kehamilan dia.
Kemudian mereka pun bubar. Bu Farida bermain dengan kedua cucunya dan Aisyah mencuci pakaian. Sementara Anisa mencari kesibukan dengan cara menyetrika.
Sedangkan Azis ikut membantu menggantung cucian, dia di rumah pun memang suka mengerjakan pekerjaan rumah sama-sama.
Sejenak, Anisa terdiam sembari mengusap perutnya yang masih rata dan sebentar lagi akan ketara tanpa suami. Kedua manik matanya terpejam dan membayangkan bila nanti dia akan menjadi gunjingan dan cemoohan orang banyak, bahkan bukan Cuma dia yang merasa malu. Tapi juga kedua orang tuanya, keluarganya.
Seandainya dia mampu kebal dengan omongan orang, gimana dengan orang tuanya yang tidak akan pernah siap menerimanya.
Lalu kemudian Anisa tersadar dari lamunannya setelah ingat akan kerjaannya yang dia biarkan begitu saja.
“Nisa, lama kak Aisyah tidak main ke mal yang biasa kita belanja. Antar kak Aisyah yok?” ajak Aisyah pada sang adik yang sedang menyetrika tersebut.
“Sebentar Kak. Masih ada dua lagi nih tanggung.” Jawabnya Anisa sambil menunjuk ke arah dua baju yang belum dia setrika.
“Hem ... selesaikan saja dulu,” sambungnya Aisyah.
Selesai menyetrika, Anisa bersiap untuk pergi dan dia menggunakan setelan panjang dan kerudungnya. Anisa masih buka tutup soal kerudung dan paling kalau keluar rumah saja.
“Anak-anak ikut Kak?” selidiknya Anisa sambil celingukan.
“Nggak, kita berdua saja. Lagian mereka tidak mau ikut karena asik bermain sama oma nya dan juga anak tetangga,” sahutnya Aisyah sambil merapikan kerudungnya.
“Mas Azis mau ikut?” selidiknya lagi Anisa.
“Dia ikutlah ... kan yang mau bonceng kita.” Jawabnya lagi Aisyah.
Kemudian mereka bertiga pun berpamitan pada bu Farida dan juga anak-anak dari Azis dan Aisyah yang hanya meminta oleh-oleh saja pada kedua orang tuanya tersebut ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya like komen. subscribe. Bintang lima dan lainnya, terima kasih