
Hampir saja mobil Pramana menabrak kendaraan lain, untungnya Pramana masih bisa mengendalikan mobilnya dan langsung rem mendadak.
Membuat orang-orang yang berada dalam mobil terutama Anisa dan Renita merasa shock, kaget bukan main.
"Astagfirullah ... ada apa ini?" Anisa merasa heran sambil menatap cemas ke arah depan.
Begitupun dengan Renita. "Kenapa sih sayang? kok bisa bikin orang jantungan, heran ... nggak tahu apa ini perempuan yang lagi hamil? kalau kamu kenapa-apa gimana?" Renita malah merepet seperti petasan saja.
"Ini, Pramana nih ... yang rem mendadak jangan salahkan aku!" jawabnya Andre sembari menunjuk sang adik.
Pramana mematung, terdiam dan merasa hampir merasa jantungnya mau copot.
Beberapa saat kemudian, barulah Pramana merasa tenang lalu menoleh kepada sang Abang. "Abang yang buat aku jadi kaget, hampir saja aku nabrak mobil orang. Kalau sampai tadi nabrak gimana? nanti abang yang salah, sembarangan bikin orang kaget orang aja!"
"Ha ha ha ... habis kamu bengong! makanya aku tepuk. Sudah aku aja yang nyetir! kalau mau bengong jangan nyetir atau duduk saja tuh di belakang, biar istriku duduk di depan." Andre pun langsung keluar dari mobil menghentikan posisinya Pramana.
Dan meminta istrinya untuk duduk di depan, serta membiarkan Permana duduk di belakang saja bersama Anisa.
Pada akhirnya mereka pun tukeran posisi duduknya, Andre bersama sang istri di depan dan ... Pramana bersama Anisa di belakang.
Lalu kemudian Andre melajukan mobil Pramana menuju sebuah bioskop.
Dan Setibanya di bioskop tersebut, mereka langsung pesan tiket dan juga membeli popcorn dan tidak lupa dengan minuman nya.
Di saat memasuki area lebih dalam dan memilih kursi untuk duduk. Mereka pun bertemu dengan Hendar yang bersama teman-temannya dan ada teman wanitanya juga.
Sejenak Hendar bertemu pandang dengan Anisa dan juga Pramana, dalam suasana yang agak remang namun jelas, kalau mereka sering mengenal. Meskipun mereka tidak saling sapa Hendar pun merasa sakit hati sama Pramana, atas kelakuan Pramana kemarin yang telah mengajarnya dan sampai sekarang pun masih terasa sakitnya di perut dan hidung yang masih diperban.
Pramana dan Hendar hanya saling pandang dengan tatapan yang sangat tajam, Anisa yang melihat keduanya langsung mendekat untuk menarik tangan Pramana. Karena bagaimanapun Anisa takut kalau Pramana mengajar Hendar kembali.
"Ayo kita pergi ... itu Abang sama Kak Renita sudah berada di depan sudah dapat tempat duduk." Ajaknya Anisa sembari menarik tangannya Pramana.
Pramana pun mengikuti langkahnya Anisa dengan wajah yang terus menoleh ke belakang memandangi ke arah Hendar.
__ADS_1
Begitupun dengan Hendar, dia terus mengunci pandangannya ke arah Pramana, sekarang dia merasa dendam pada pria yang kini menjadi suami Anisa tersebut.
Membuat teman-temannya pada heran, siapa dia? sehingga membuat Hendar seperti mempunyai dendam sendiri.
"Dunia ini sempit kali ya, ketemu lagi. Ketemu lagi! males aku!" gumamnya Anisa sangat pelan.
"Males apa males?" Timpal Pramana dengan nada jealous.
"Kamu ngomong apa sih? nggak ngerti aku!" kata Anisa sembari mendudukkan dirinya di kursi sebelah Renita.
"Bilang aja kalau mau ketemu dia, akan aku temukan!" sambungnya Pramana dengan nada yang semakin nggak mengenakan.
"Kalau aku mau ... nggak usah dibantu kok, aku bisa sendiri!" jawabnya Anisa sedikit ketus juga.
"Ooh ... jadi kamu mau? ya sudah sana, samperin sana ... bilang sama dia suruh tanggung jawab, jangan mau enaknya doang dong," ucapnya Pramana sembari menunjukkan di mana Hendar berada.
Mulut Anisa sudah menganga untuk menjawab perkataan dari Pramana! namun keburu terdengar suara Andre.
"Lho-lho, loh ... ada apa sih kok malah ribut? kita mau nonton nggak sih? kalau mau ribut nggak usah di sini, di kamar sana ... biar lebih asik kata Andre sembari berdiri dan menyuruh Pramana duduk.
Lalu keduanya terdiam, tidak lagi bersuara! hanya pandangannya yang lepas ke layar yang terpampang besar dimana memutar film horor, di kisahnya pasangan pengantin baru yang meninggal di sebuah rumah kosong yang banyak hantunya.
Sambil menonton. Mereka pun menikmati popcorn dan minumannya. Namun wajah Pramana sedikit ditekuk dan dia pun tidak ikut ngemil.
Dan ketika ada adegan yang menegangkan Renita dan Anisa ikut tegang dan ketakutan sehingga Nisa pun menyusupkan wajahnya di bahunya Pramana.
Pramana hanya menatap dingin ke arah Anisa yang akhirnya nyengir aja, lalu kembali duduk dengan tegak serta memegangi tempat popcorn yang sedang dia nikmati.
Namun ketika ada adegan yang bikin Anisa ketakutan lagi. Lagi-lagi Anisa menyembunyikan wajahnya ke arah samping dan bahkan dengan refleks Anisa malah menyusupkan wajahnya di dada Pramana.
Renita sih enak. Kalau ketakutan dia bisa langsung memeluk suaminya! sementara Anisa tidak berani memeluk Pramana, hanya menyembunyikan wajahnya saja di bahu atau di dada pria yang tampak dingin itu.
Anisa menoleh seraya berkata. "Sorry! habis filmnya menakutkan!"
__ADS_1
Pramana hanya menatap datar padahal dalam hati dia senyum-senyum sendiri, melihat reaksi Anisa. Kemudian tangannya bergerak mengambil tempat popcorn dan lalu pegangin.
Anisa hanya terdiam dan menatap tangan Pramana yang mengambil alih wadah popcorn yang tadi dia pegang. Dan sekarang Anisa hanya mengambil untuk memakan saja.
"Apa nggak suka dengan film horor?" tanya Pramana dengan pandangan mata lurus ke depan yaitu ke layar.
"Bukannya nggak suka, suka ... tapi kalau nonton sendiri ya gitu! takut, ini juga banyakkan takut aku." Jawabnya Anisa pelan sembari memandangi filmnya dan tangan mengambil popcorn yang berada di tangan Pramana, di masukan ke mulutnya.
Dan dikala lagi-lagi ada adegan yang semakin menakutkan, mengerikan. Menegangkan! beberapa orang ikut tegang dan menjerit, begitupun dengan Anisa yang kembali menyembunyikan wajahnya ke dada Pramana dan kali ini tangan tangan Pramana merangkul bahu Anisa.
Setelah Anisa terduduk kembali, Pramana menarik tangannya dari bahu Anisa dan keduanya tampak kikuk.
Selesai film. Biarpun satu babak, Anisa langsung minta pulang. Begitupun dengan Renita. Padahal andre masih betah! Pramana sih tergantung Anisa, sehingga ketika Anisa minta pulang dia pun langsung merespon dengan oke.
"Ayolah kita pulang!" balasnya Pramana sambil berdiri, begitupun dengan Anisa.
"Aduh sayang ... aku masih asik nih. Aku pengen nonton yang satu lagi satu babak lagi nih lagi seru tahu." Kata Andre kepada sang istri.
"Tapi aku pengen pulang! takut kalau nanti aku gak bisa tidur gimana? terus aku sakit, terus mengganggu kehamilan ku! mau tanggung jawab?" ucap Renita pada suaminya dengan nada kesal.
"Iya-iya ... kita pulang, huuh ... ribet deh bawa cewek, sudah berisik, penakut lagi." Gerutu Andre sembari menuntun tangan sang istri.
Sehingga tangan Renita satu lagi menepuk bahu suaminya. "Menggerutu saja, mulutnya kayak perempuan."
Pramana dan Anisa yang lebih dulu keluar dari dalam bioskop. Anisa berjalan tepat di depannya Pramana, sesekali tangan Pramana menyentuh punggungnya Anisa dan seolah menjaga Anisa dari yang lain karena mereka berjalan saling berhimpitan dengan orang-orang yang juga keluar dari bioskop tersebut.
Tiba-tiba setelah di tempat yang agak leluasa, Hendar menghadang jalannya Pramana dan Anisa.
"Ada apa ini?" tanya Pramana dengan tetapan yang sangat tajam kepada Hendar.
"Nanya, kamu bertanya-tanya! ha? kamu bertanya ada apa? apakah sudah lupa dengan kejadian kemarin malam? apa kau tidak melihat atau sudah buta tuh mata? hidung ku masih diperban tak bisa melihat kah?" Hendar menunjuk ke arah batang hidungnya yang memang masih diperban.
Pramana melihat dengan tatapan sinis dan dia merasa puas, bagaimanapun! apa yang Hendar lakukan terhadap Anisa lebih dari itu dan malunya bisa seumur hidup ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Apa kabar penari dariku semua? semoga di pagi hari ini kabar kalian sedang berada dalam lindungan Allah subhanahu Wa ta'ala dan semoga rezeki kalian di hari ini begitu melimpah Aamiin.