Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Sudah tiada


__ADS_3

Anisa setengah berlari melintasi pintu utama, di susul oleh Pram yang pada akhirnya lebih duluan sampai pada tempat yang di tuju.


Dimana Bu Farida tampak tidak sadarkan di antara suaminya, Aisyah. Azis dan kedua buah hati Aisyah yang menangis histeris.


"Ibu?" Anisa melipir di antara Aisyah dan kedua buah hati nya.


Tangan Anisa menggoyang bahu sang bunda yang tergeletak di bawah. "Ibu kenapa? Yah, Akak?"


Pertanyaan Anisa tidak ada yang menjawab, semua orang yang ada di sana terlihat panik.


Pak Joni tampak kebingungan dan bergeming menatap sang istri yang tidak sadarkan diri.


Azis dan Pram berinisiatif mengangkat tubuh bu Farida ke atas sofa.


"Kak Aisyah, ibu kenapa?" Anisa kembali bertanya pada sang kakak, ia panik dan terheran-heran karena baru saja ia keluar. Sang bunda baik-baik saja.


Kemudian Anisa beranjak mencari minyak angin.


"Bu!" gumamnya pak Joni tatkala melihat istrinya membuka mata dan mengedarkan mata pada yang ada di sana.


Entah apa yang menjadi gumaman Bu Farida yang setelah itu kembali menutup mata dan bagian tubuhnya, seperti tangan yang tadi Pram simpan di atas perut. Melemas lalu terjatuh menggantung.


Pramana juga Azis menyentuh depan hidungnya Ibu Farida kemudian bergumam. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!"


Degh.


Aisyah kaget mencoba memegang tangan sang ibunda yang memang sudah hilang detak nadinya. Aisyah langsung menjerit. "Ibu ...."


Anisa yang baru saja menapakkan kedua kakinya di lantai dasar setelah mengambil minyak angin! mendengar suara jeritan sang kakak dan juga gumaman yang lain yang berseru innalillahi wa inna ilaihi rojiun, dengan refleks kedua lutut Anisa bergetar. Melemas bukannya berjalan untuk menghampiri. Melainkan tubuhnya luruh ke lantai dan dadanya begitu sesak di dada.


Pramana yang melihat istrinya terduduk dengan lemah di lantai, langsung melompat menghampiri dan mengangkat tubuhnya.


"Yank, ibu kenapa?" dengan suara yang sedikit parau seakan tercekat di tenggorokan menahan tangis yang sudah tidak sabar membludak.


"Ibu sudah tidak ada sayang!" jawabnya Permana sambil berjalan membawa tubuh Anisa ke salah satu sofa.


"A-apa. Ibu meninggal?"

__ADS_1


"Yang sabar sayang? yang ikhlas ... sungguh kita tiada daya dan upaya! hakikatnya setiap manusia itu hidup dan matinya tergantung kehendak yang maha kuasa." Pramana coba menenangkan istrinya dan memeluk sangat erat.


Pandangan Anisa lepas ke arah sang ibu yang tengah dipeluk oleh Aisyah sambil menangis tersedu. Anisa pun ingin memeluk sang ibu dan menangis di sana.


Tetapi untuk sementara waktu Pramana tahan dan dibiarkan Anisa menangis di dadanya.


"Menangislah di dadaku, dalam pelukan ku! tapi jangan menangis di dekat ibu," liriknya Pramana pada sang istri.


Sesaat kemudian Azis pun menenangkan istrinya, dijauhkan dari sang ibunda yang sekarang mau dipindahkan ke tempat yang lebih leluasa oleh Pak Joni yang berusaha kuat dan tegar, sang kakak juga sopir.


Dea yang berusaha menenangkan kedua buah hati ayahnya Aisyah dan sedikit menjauh. Sementara Deni memanggil dokter untuk menghilangkan rasa penasaran apakah Bu Farida benar-benar sudah meninggal ataukah dia hanya pingsan? atau mungkin juga harus dibawa ke rumah sakit.


Sedangkan ibundanya Dea dan Deni menyiapkan bantal dan selimut di bawanya ke Para tetangga dekat pun berdatangan, dan ingin memastikan kondisinya Ibu Farida termasuk pak ustadz.


Tidak alama kemudian. Dokter pun datang dan langsung memeriksa Bu Farida, setelah bolak-balik pemeriksaan dan hasilnya tetap sama! kalau Bu Farida sudah meninggal dunia berpulang pada yang Maha kuasa.


"Ibu Farida sudah tidak ada, dia sudah berpulang dengan tenang!" kata dokter sembari mengedarkan pandangannya ke semua orang yang berada di sana.


Tangis histeris kembali terdengar dari Aisyah dan juga Anisa. Pak Joni hanya menunduk sedih menangis pun tanpa suara.


Pramana kembali memeluk sang istri seraya berkata. "Kita boleh bersedih dan menangisi yang sudah meninggal, tapi tidak boleh berlebihan. Sebab itu sama saja dengan kita tidak menerima takdir dari Allah subhanahu wa ta'ala."


Mendengar itu Anisa menjadi lebih tenang dan menangisnya pun tidak lagi histeris ataupun meratapi, Anisa menghela nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosi serta berusaha untuk tegar dan sabar.


Begitupun dengan Aisyah, dia mengangkat wajahnya seraya mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata. Beberapa kali iya menghirup udara yang sebanyak-banyaknya, lalu ia hembuskan dengan sangat teratur dan Aisyah mulai bangkit. Dia sadar bahwa semua yang hidup akan mengalami mati.


Kemudian ibu Farida diurus dengan semestinya, rumah itu menjadi sangat banyak orang! tetangga dekat, keluarga dan yang jauh pun berdatangan termasuk keluarga Pak Lukman yang sudah kembali dan berbaur di sana.


Sesuatu yang sungguh menghentak. Seakan menggantikan detak jantung yang dirasakan oleh Anisa dan Aisyah sebagai putrinya dari Ibu Farida, yang tidak sedikitpun merasakan tanda-tanda akan kepulangan beliau dan meninggalkan mereka semua.


Walaupun dalam keadaan malam, Bu Farida langsung dikebumikan, atas kesepakatan keluarga dan juga warga.


Suasana semakin mencengkram di saat detik-detik jenazah di masukan ke rumah tempat terakhir.


Bacaan ayat-ayat suci dan doa terus bergema mengiringi yang kini pembaringan Ibu Farida menjadi tanah yang merah, bertaburkan bunga-bunga serta doa-doa yang terbaik! yang terus keluar dari mulut orang-orang yang mengantarkannya ke liang lahat.


Di bawah sinar rembulan yang malu-malu untuk menampakkan dirinya menjadi saksi NU Farida di kebumikan.

__ADS_1


Menjadikan semalaman tidak ada yang tidur karena langsung mengadakan tahlilan pengajian, yang menjadikan rumah itu begitu riuh dan ramai dengan suara alunan ayat suci Alquran yang terdengar merdu. Mengirim doa-doa yang ditujukan untuk almarhumah.


Ibu Farida pergi dengan tenang setelah selesai resepsi pernikahan dari Putri bungsunya Anisa. Tidak ada kata terakhir ataupun wasiat kepada suami ataupun anak-anak! beliau berlalu begitu saja.


Rencana Pramana dan Anisa yang hendak pulang di pagi itu, terpaksa ditunda karena berduka. Setidaknya satu minggu ke depan.


Pada malam harinya lagi. Setelah mengikuti acara pengajian selesai, yang dilaksanakan setelah bakda Magrib Anisa berdiam diri di kamar. Dia memilih sendiri mengenang sang bunda yang kini tinggal kenangan.


Pramana baru saja masuk. Setelah dia mengobrol dengan yang lain di lantai bawah, dan Anisa memilih sendirian saja di kamar sambil memandangi foto ibundanya. Di barengi dengan mengalirnya air mata yang terus tidak tertahan.


Sejenak Pramana berdiri di depan pintu menatap sang istri. Lalu Pram tidak lupa menutup pintu yang kemudian menghampiri sang istri yang berada duduk di atas tempat tidur sambil melamun.


"Sayang, bukannya belum makan ya? makan dulu lah nanti kamu sakit." Pramana membuka obrolan sembari duduk di samping sang istri setelah merangkak naik ke atas tempat tidur.


Anisa menoleh seraya berkata dengan suara parau nya. "Makan malam, aku sudah makan roti tadi."


"Beneran sudah makan? aku tadi tidak melihatnya!" Pram lebih mendekat dan membelai pucuk sang istri penuh lembur.


"Beneran aku udah makan tadi, kalau nggak percaya! tuh lihat tong sampah! ada bekasnya," Anisa dengan lembut menunjuk ke arah tong sampah.


"Ya sudah, kalau sudah makan. Aku cuman khawatir kalau kamu belum makan! soalnya tadi ketika kita makan bersama kamu tidak makan!" kepala Anisa ditariknya ke dalam dada Pramana.


"Aku tidak menyangka sama sekali kalau ibu akan pergi secepat itu. Tanpa ada kata terakhir yang dia diberikan kepadaku hik-hik-hiks!"


Pramana membelai rambut Anisa yang berada di dadanya. "Itulah rahasia Allah sayang, dan kita sendiri pun tidak pernah tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini!"


"Kalau saja ibu sakit lebih dulu, mungkin lebih jelas dan aku sebagai putrinya akan merawatnya terlebih dahulu, tapi Ibu pergi begitu saja!" tambahnya Anisa dengan suara yang sangat parau dan pelan.


"Mungkin Ibu tidak ingin merepotkan anak-anaknya, untuk mengurus kalau seandainya dia sakit dan dengan cara itu dia tidak merepotkan siapa pun, dia pergi dengan begitu tenang dan semoga Allah tempatkan di sisinya!" timpalnya Pramana sembari mengeratkan pelukannya.


"Aku belum sempat membahagiakan ibu, yang ada aku bikin malu beliau dengan kejadian kemarin!" air mata Anisa semakin berjatuhan begitu deras dalam dada bidang Pram.


"Tidak usah diingat lagi Sayang! sekarang kamu sudah menjadi istriku dan kirimkan saya doa-doa yang terbaik untuk ibu!" ucap Pramana dengan lirih dan sembari terus membelai rambut Anisa dengan sangat lembut. Tidak ayal kecupan mesra pun mendarat di pucuk kepala Anisa ....


.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya makasih banyak

__ADS_1


__ADS_2