Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Mau nekat


__ADS_3

"Sebaiknya ... kamu mandi dulu sana!" Anisa sedikit mendorong dada Pram yang memeluk dirinya sangat erat dan seolah tidak ingin melepaskannya barang sedikitpun.


Tangan Pram semakin mengerat dan menempelkan dagu nya di pucuk kepala Anisa. "Mandiin!"


Bibir Anisa tertarik ke samping membentuk senyuman yang merekah. "Iiy, mandiin!" Anisa bergidik.


"Begitu sih? geli itu karena belum terbiasa, nanti juga kalau sudah terbiasa gak akan geli. Kalau kita sudah itu-tuh, aku akan memaksamu untuk mandi bareng!" bisiknya Pram sambil mengecup pucuk kepala wanitanya dengan lembut nan mesra.


"Mandi sana ... mau pergi nggak sih?" Anisa mendongak pada Pram.


"Iya sayang iya ... aku mau mandi nih ... siapkan saja baju ku!" Pram memudarkan pelukannya, memposisikan diri berdiri dan melepas semua yang melekat di tubuhnya.


Lantas Anisa berjalan mendekati lemari pakaian, mengambil baju buat Pram dan Anisa bingung mengambil pakaian yang mana.


Namun pada akhirnya Anisa mengambil kaos panjang agar tampak cessual atau santai. Serta celana panjang dari bahan berwarna hitam. Paketan pakaian dalamnya.


Anisa simpan di atas tempat tidur dan dia sendiri mengambil kerudung yang senada dengan pakaian yang kini ia kenakan.


Wanita cantik itu kini duduk di depan cermin sambil mengaplikasikan body lotion di kulit tangan dan kaki, tidak lupa menyemprotkan parfum ke pakaiannya.


Setelah menghabiskan waktu sekitar 15 menit di kamar mandi. Pramana pun muncul dengan mengenakan handuk di pinggang, berjalan menghampiri Anisa yang masih mengenakan kerudung.


Tubuh Anisa bangkit lalu mengambilkan pakaian Pramana yang di atas tempat tidur, membantu memakaikannya.


Bibir Pramana tersenyum melihat ke arah Anisa yang selalu peka dengan keperluan suaminya, sementara dirinya sendiri mungkin belum terlalu mengerti. Ataupun peka dengan perasaan ataupun keinginan Anisa.


"Makasih ya sayang, kau selalu perhatian padaku sampai setel Itu pun kamu perhatikan," ucap Pramana sembari menyingsingkan dengan kaosnya.


"Rasanya tidak perlu kamu berterima kasih pada ku, karena ... bukankah kewajiban ku untuk melayani mu dengan baik!" balasnya Anisa sembari mengulas kan senyuman di bibirnya.


Setelah siap. Mereka pun bersiap pergi dan sebelumnya berpamitan dulu pada kedua orang tua nya Pram.

__ADS_1


"Aku mau pergi dulu, Bu ... Yah ..." nyebrang kepada kedua orang tuanya.


"Oh iya, hati-hati ya? jangan ngebut-ngebut!" pesan sang ibu pada putranya.


"Iya, Bu." Pramana mengangguk lalu keduanya berlalu setelah mencium tangan kedua orang tuanya tersebut.


"Sebentar lagi magrib, kenapa nggak nunggu salat dulu?" Anisa menoleh ke arah Pramana yang bersiap untuk menyalakan mesin mobilnya.


"Iya ... kan belum! masih ada waktu 10 menit lagi ke magrib, nanti aja di jalan berhenti di masjid!" jawabnya Pramana sambil melirik sekilas.


...-------------...


"Kamu kenapa sih murung begitu. Emangnya nggak senang ya? nggak bahagia! sudah ketemu dengan Pramana?" Caroline menatap penuh selidik ke arah Adisty.


"Apa yang membuat aku senang dia sudah menikah sama wanita lain, apa itu yang harus membuat aku senang?" Adisty memeluk gulingnya dengan tatapan yang sendu hatinya memang merasa sedih.


Bagaimana tidak sedih? sang kekasih sekarang sudah berpindah hati. Padahal dia sangat berharap kalong Pramana kembali padanya, kembali menjalin kasih bahkan lebih serius hingga ke jenjang pernikahan.


"Jadi kau juga menyalahkan ku?" Adisty menatap sendu pada Carolin.


"Gimana aku tidak menyalahkan mu? memang begitu adanya, kan? tapi kadang gue berpikir ya? kalau seandainya ... gue waktu itu ada di sana mungkin juga gue kali yang jadi penggantinya ha ha ha ..." Caroline tertawa garing, sebenarnya memang begitu sih yang diharapkan. Orang sampai detik ini Carolin masih berharap kok sama Pram.


"Jangan bilang ... kamu emang ngarep atau naksir sama dia? gara-gara gue sama dia nggak barengan lagi." Adisti menatap curiga kepada sahabatnya tersebut, siapa tahu Carolin memang suka sama Pramana.


Sejenak Caroline terdiam seraya berpikir dan mengakui kalau yang dibilang sama Adisty adalah benar. Caroline memang suka sama Pramana! tapi sayang, dia itu lebih memilih istrinya.


"Gue rasa sih ... manusiawi ya? kalau gue suka sama dia. Dia pria tampan dan mapan! penyayang dan bertanggung jawab jadi wajarlah ... kalau gue suka sama dia. Pada kenyataannya dia nggak suka sama gue, jangankan suka sama gue, sama lo aja yang jelas-jelas dia cintai. Mengkhianati.


"Begini kali ya? sakitnya dikhianati ataupun ditinggalkan! rasanya dada ini begitu sesak dan nyeri di ulu hati, orang yang sangat kita cintai malah memilih orang lain ketimbang aku yang mencintainya!" Adisty suaranya begitu lirih dengan tatapan kosong dan sedih.


Helaan nafas dari Carolin begitu nampak dari hidungnya, dia mengatupkan bibirnya! terdiam tidak berucap kata. Hanya melirik sekilas ke arah Adisty seraya mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Cer, sebesar itukah kesalahan gue? yang telah meninggalkan nya di hari pernikahan? sehingga dia menikahi wanita lain, oke gue ngerti karena itu untuk menutupi malu. Tapi bukankah sewajarnya? kalau dia meninggalkan wanita itu demi kembali padaku, orang yang sangat dia cintai?" Adisty menatap nanar pada Carolin yang justru tidak tahu harus berkata apa.


"Gue sayang sama dia, dan gue nggak mau kehilangan dia! gue ninggalin dia hanya demi karier, bukan karena mencintai orang lain!" sambungnya Adisty sembari mengarahkan pandangan ke arah foto Pramana yang terpajang di atas nakas.


"Huuh ... kalau soal besar ataupun kecil kesalahan mu itu ya kembali lagi sama diri sendiri seandainya kita berada di posisi itu ... bukannya gue membela dia sih ... gue juga marah, nggak terima dia nikah sama orang lain. Ninggalin kamu. Tapi gimana lagi? gue pun bingung untuk menjelaskannya!" ucap Carolin sembari menggoyangkan kedua bahunya dia dia kebingungan untuk menejelaskan.


Adisty mengusap wajahnya yang basah, karena dia tak kuasa menahan air mata. Luapan dari rasa sakit yang bergelayut mesra di dalam hatinya.


"Tapi aku penasaran juga, wanitanya seperti apa sih? sehingga Pramana ingin mempertahankan pernikahannya dengan dia?" suara parau Adisty yang merasa penasaran. Seperti apa wanita yang kini Permana cintai.


"Em ... kalau nggak salah kalau nggak salah nih ya gue pernah lihat dia di kantornya dia lumayan cantik cuman dia berkerudung--"


"Apa? kamu pernah melihat istri pram di kantornya? emangnya kamu ... ngapain ke kantornya?" Adisty menjadi curiga, jangan-jangan Carolin sering main ke kantor Pramana.


"I-iya, eh ... aku ke sana, ka-karena kan ada kerjasama dengan perusahaan. Makanya gue sering datang ke sana!" akunya Carolin dengan suara yang sedikit gugup karena memang pada kenyataannya bukan cuman karena keperluan kerja, tapi memang dia sengaja.


"Ooh, kalau berkerudung sih ... memang iya dia ingin aku berkerudung juga!" kenangnya Adisty. Kalau Pramana ingin istrinya memakai kerudung setidaknya bila keluar rumah. Sehingga setahu dia ... Pramana banyak menyediakan baju untuknya, seperti gamis. Dress beserta kerudungnya.


"Berarti pakaian yang disediakan untuk ku setelah menikah ... dia yang pakai, apakah tubuhnya seukuran dengan ku?" gumamnya Adisty yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


"Sepertinya sih iya, seukuran denganmu." Carolin mengangguk dan mengingat-ingat sosok Anisa yang memang tubuhnya tidak jauh dari ukuran Adista.


"Rasanya ... aku ingin ketemu dia, bagaimana kalau kita datangi rumah Pramana. Aku ingin bertemu dengan istrinya itu, aku ingin bilang kalau Pramana sangat mencintai ku dan tolong lepaskan dia untuk ku! mereka menikah bukan didasari karena cinta, tapi atas dasar untuk menutupi kegagalan. Iya kan? berarti mereka tidak saling mencintai!" Adisty beranggapan seperti itu.


"Lah, kau mau nekat untuk bertemu istrinya dan mengatakan semua?" Carolin menatap penasaran.


Adisty mengangguk. "Benar, aku yakin Pramana menemui ku tanpa setahu dia, dan aku ... harus bisa memiliki Pramana lagi! bagaimanapun caranya. Apalagi pernikahan mereka hanya di atas kertas!"


Carolin menatap kosong ke arah Adisty, dia pun menjadi mempunyai ambisi. Kalau Adisty bisa memiliki Pramana kembali, kenapa dirinya tidak! bersaing secara sehat dan mengambil hatinya Pram bila perlu menikung dari belakang ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Dan kalau ada typo langsung kasih tahu tag di barisan paragrafnya. Makasih


__ADS_2