Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Buka mata


__ADS_3

Anisa ingin melihat ke arah yang ribut tersebut. Namun dia merasa ngeri, sehingga melanjutkan kembali langkah nya, kini Anisa sudah sampai di ruangan Pramana.


"Assalamu'alaikum ..." Anisa mengucap salam serta mengetuk pintu yang terbuka setengahnya.


"Wa'alaikum salam!" Pramana mengangkat wajahnya melihat kedatangan Anisa yang masih berdiri di depan pintu.


Lantas Anisa mengayunkan langkahnya masuk dan menyimpan makan siangnya Pramana di meja kerjanya.


"Ngapain sih repot-repot mengantarkan makan siang segala? apalagi di rumah nggak ada siapa-siapa!" ucapnya Pramana dengan nada dingin.


"Tidak apa-apa, tadi aku masak. Sayang kan ... bila nggak ada yang makan!" sahutnya Anisa.


"Kasih Mang Pei dan kasih ke tetangga!" timpalnya Pramana.


"Kalau kamu nggak mau makan, baru aku akan kasihkan orang!" balasnya Anisa. "Lagian mang Pei sudah makan kok, sebelum berangkat ke sini!"


"Sekarang intinya. Kamu mau makan nggak? kalau nggak mau ... aku mau langsung bawa pulang dan kasihkan sama orang!" Anisa menatap sekilas wajah Pramana.


Pramana menatap bungkusan wadah tersebut, namun tak ayal dia pun menyentuh dan membuka nya.


Bibir Anisa tersenyum lalu dia berjalan ke arah sofa dan mendudukan dirinya di sana.


Menu makan siang kali ini, ialah nasi, timun. Sambal. Ayam kecap, telur balado dan perkedel kentang berbentuk hati. "Ini, kamu beli di mana?" Pramana menatap ke arah Anisa yang duduk santai di atas sofa.


"Iya, tadi kan aku dah bilang! aku masak, bukannya beli kalau bisa masak. Ngapain Aku beli," jawabnya Anisa sembari merubah posisi duduknya menjadi miring dan siku tangan menumpu kepalanya.


"Rasanya aku nggak yakin, rasanya gimana gitu. Biasanya kalau tidak ibi yang masak, ya bibi." Pramana menatap curiga.


Anisa memanyunkan bibirnya, mendengar Pramana yang meragukan rasa dari masakannya. "Tapi kata mang Pei rasanya enak kok, tidak adak yang aneh."


"Tapi kan itu mulut mang Pei bukan mulut ku!" akunya Pramana sambil memotong perkedel dengan sendok lalu ia cicipi.


"Ya ... kalau kamu nggak mau, ya sudah jangan bicara saja, aku mau bawa lagi aja!" Anisa berdiri dan menghampiri Pramana.

__ADS_1


"Sebentar-sebentar! aku belum cicipi. Sabar?" Pramana memasukan potongan perkedel di sendok ke mulutnya.


"Hem, lumayan enak." Batinnya Pramana. Lalu dia mencicipi ayam kecapnya yang lumayan juga rasanya, telor balado nya ... "Enak juga bumbunya pas."


Sehingga Pramana malah berkelanjutan makannya itu semua. Membuat Anisa yang berdiri lalu duduk di hadapan Pramana sambil mengulum senyuman.


"Kenapa senyum-senyum? ngasih racun ya?" Pramana dengan nada curiga.


"Kau ini, main curiga saja. Kalau niat ngasih racun kamu! kenapa baru sekarang! lakukan saja dari kemarin-kemarin, lagian buat apa aku meracuni mu? gajebo banget deh." Anisa menggeleng.


"Hem ... siapa tahu aja! kan bisa saja. Kamu meracuni ku!" gumamnya Pramana sambil menikmati makannya.


"Kalau kamu diberi racun ... yang ada aku menjadi janda. Dan aku tidak mau, karena menikah bagiku cukup satu kali." gumamnya Anisa dengan suara sangat pelan.


"Apa? kamu ngomong apa barusan?" tanyanya Pramana karena perkataan Anisa nyaris tidak dapat didengar.


"Oh nggak. Aku nggak bilang apa-apa kok!" Anisa menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Pram. Aku membawakan makanan kesukaan mu lho ..." lagi-lagi suara itu terdengar dan memasuki ruangan tersebut.


Hening ....


Rupanya lagi-lagi Carolin datang di saat Anisa berada di sana juga dan sejenak mereka saling pandang tanpa berucap kata.


Kemudian kedua manik wanita itu menoleh ke arah Praman


ita ketemu lagi di sini, kau itu sepupu atau baby sitter," suara Caroline yang menatap tajam kepada


Anisa mendengar ucapan Carolin dengan nada yang kurang menyenangkan. "Emangnya kenapa kalau aku sepupu plus baby sitter, apakah aku merugikan mu atau kau merasa terganggu? atau memang mungkin kamu tidak suka saya berada di sini?" ucap Anisa dengan tatapan yang begitu tajam ke arah Caroline.


Anisa merasa kalau Caroline itu bukan sekedar menganggap Pramana teman, tapi dia punya perasaan yang lain terhadap Pramana yang notabenenya adalah suami dirinya.


"Hei, lancang banget tuh mulut tidak sesuai dengan penampilan yang berkerudung, sopan dan anggun." Caroline memutari Di mana tempat berdirinya Anisa.

__ADS_1


"Maaf ... di mana-mana yang jual itu sudah pasti ada yang beli, begitu kan?" ucap Anisa begitu tenang.


"Pram, siapa sih sebenarnya wanita ini? apa dia tidak tahu siapa aku!" Caroline mengalihkan pandangannya ke arah Pramana.


"Ehem. Dia tahu kamu itu sahabatnya Adisty!" jawabnya Pramana.


"Iya sih ... aku temannya Adisty kekasih Pramana, tetapi ... tidak lama lagi aku akan menggantikan Adisti sebagai kasihnya--"


"Ohok-ohok, ohok-ohok." mendengar perkataan dari Caroline membuat Pramana terbatuk-batuk.


Yang dengan cepat Anisa memberikan Pramana minum. "Kebiasaan, hati-hati dong makannya! sampai tersedak segala!"


"Ohok-ohok."


Anisa tidak terkejut mendengar itu. Karena dia sudah menduga dari awal kalau sesungguhnya Caroline ingin menikam kekasih temannya sendiri.


"Em ... atas dasar apa kau bilang seperti itu? bukankah dia itu kekasih sahabat mu? berarti kamu pagar makan tanaman dong dan apa kau tahu mereka sudah putus atau tidak? kok Anda yakin sekali kalau anda bisa menggantikan posisi Adisty di hatinya?" ucap Anisa sembari memutar bola matanya.


"Emangnya gue pikirin apa! dia memang sahabat gue, tapi ternyata dia tega ninggalin Pramana di saat pernikahan. Berarti dia sudah nggak cinta dong sama Pram!" balasnya Carolin dengan kedua tangan melipat di dada menunjukkan kalau dia wanita yang cukup angkuh.


"Oh ya? sangat percaya diri juga ya Anda tapi sahabat macam apa dirimu itu? siapa tahu kekasihnya pergi karena menyimpan sebuah alasan yang belum Anda dengar," tambahnya Anisa.


"Sudah-sudah, kalian ngomongin apa sih? lagian Caroline denger ya? aku akan selalu mencintainya sampai kapanpun jangan berharap yang bukan-bukan! karena kita hanya sebagai teman tidak lebih!" jelasnya Pramana yang ditujukan kepada Caroline.


"Tapi Pram ... Adisty itu sudah pergi dan dia tidak peduli sama kamu, apa namanya kalau bukan dia tidak cinta lagi, dia nggak mungkin kembali lagi sama kamu!" Caroline dengan kata-kata yang menggebu juga tangan yang bergerak-gerak.


"Cukup Caroline, tidak perlu menjelekan dia! karena aku tahu siapa kasihku itu. Kalau kamu ke sini hanya untuk membuat keributan, tolong pergilah? saya pusing mendengarnya," Pramana menunjuk ke arah pintu dan menyuruh Caroline untuk pergi.


"Pram, buka Mata kamu itu, kalau Adisty sangat mencintai kamu, dan menghargai kamu! tidak mungkin dia pergi apalagi saat pernikahan yang akan terjadi, sadar itu Pram. Buka matamu lebar-lebar kalau wanita bukan cuma dia saja. Termasuk aku yang sesungguhnya dari dulu mencintai kamu Pram, cuman kamu saja yang nggak peka!" Carolin menaikkan kedua bahunya dan secara tidak langsung dia mengungkapkan isi hatinya ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment dan subscribe ya dan terima kasih

__ADS_1


__ADS_2