
Carolin burung-burung menghampiri Adisty yang luruh di pinggir jalan. "Adis, ayo bangun?" Carolin membantu Adisty untuk bangun dan dipapah nya ke dalam mobil.
Adisty yang tampak lemas mena basah kuyup kehujanan, dia duduk dalam mobilnya dengan pandangan yang kosong.
Dan Carolin pun langsung mengemudikan mobilnya tersebut, dengan kecepatan tinggi agar segera pulang dan meninggalkan tempat itu.
...-----...
Sementara di mobil Pramana, sekali melihat ke arah Anisa yang tanpa kedinginan. Di depan yang jualan bandrek mobil Pramana berhenti dan memesannya dua gelas saja.
"Sayang diminum dulu! biar nggak kedinginan, mana nggak ada jaket lagi!" ucapan mana sembari memberikan gelas tersebut kepada Anisa yang terasa hangat dan asapnya pun masih mengepul.
Anisa hanya mengambilnya tanpa berkata-kata. Dia malas untuk berbicara! dia merasa sangat kecewa dan berasa dibohongi.
"Sayang jangan marah lagi ya! aku tidak ada niat untuk kembali padanya, makanya aku mengesahkan pernikahan kita!" seru nya Pramana sembari menyeruput minuman jahenya.
Anisa tidak menjawab, tidak pun melirik ke arah Pramana. Dia tetap diam dan sesekali meneguk minumannya dan melepaskan kembali pandangannya ke luar jendela.
"Kamu juga pasti tahu kalau berumah tangga itu tidak semulus yang kita bayangkan, pasti banyak kerikil-kerikil tajam sekecil apapun itu serta banyak dugaan yang harus kita hadapi nantinya." Pramana menggenggam tangan Anisa yang kemudian Anisa tarik kembali selalu menggenggam lagi gelasnya.
"Sayang, kamu boleh marah sama aku. Aku mengakui kesalahan ku, tapi jangan diam seperti ini. Aku paling nggak bisa didiemin seperti ini!" Pramana terus berbicara sekalipun Anisa tidak meresponnya.
Hingga akhirnya Pramana mengemudikan kembali mobil tersebut melewati jalan arah pulang.
Mobil Pramana melesat begitu cepat, bak panah terlepas dari busurnya. Pramana ingin segera sampai rumah apalagi dengan keadaan tubuh mereka yang basah kuyup, tidak ingin lama-lama berada di jalanan.
Anisa memutar bola matanya menggerakkan ke arah Pramana yang tidak lagi berbicara, dia tampak fokus menyetir melihat ke arah depan yang dimana jalanan dalam keadaan licin. Di siram terus air hujan yang cukup deras belum juga reda.
Boro-boro terlihat bulan ataupun bintang yang terlihat bersinar di langit yang terbentang luas di atas sana, yang ada langit begitu kelam awan yang hitam pekat tak sedikitpun menampakan keindahannya.
Selang waktu kemudian. Mobil Pramana pun memasuki kediamannya, yang kebetulan pintu gerbang belum terkunci. hingga mobil mercy tersebut bisa nyelonong ke pekarangan rumah.
__ADS_1
Anisa lebih dulu untuk turun dari mobil dan langsung berjalan mendekati teras. Namun dia tidak serta merta melanjutkan langkahnya untuk memasuki pintu utama.
Dia berpikir kembali. Siapa tahu di dalam masih ada kedua mertuanya dan juga Renita bersama suaminya! dan Anisa tidak tahu harus menjawab apa? jika saja mereka bertanya tentang keadaan dirinya yang sangat menyadari kedua matanya begitu sebab! wajahnya pucat apalagi dengan tubuhnya yang sangat kuyup itu.
Kedua manik mata indah Anisa menoleh ke arah Pramana yang baru menginjakkan kakinya di teras mendekati ia dan berdiri di dekatnya.
"Kenapa, pintunya dikunci bukan?" gumamnya Pramana sembari menatap daun pintu yang tertutup rapat.
"Entah, aku nggak tahu dan belum mendorong nya!" akhirnya Anisa menjawab juga biarpun dengan nada dingin.
Membuat kedua sudut bibir Pramana tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman. Kemudian memegang tangan Anisa dan menuntunnya.
Tangan yang kanan Pramana, menyentuh handle pintu, dan mendorongnya yang langsung terbuka. "Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam ... kalian baru pulang?" suara seorang ibu dari dalam, yang tiada lain adalah suara Ibu hajah Bella.
"Iya, Bu Anisa masuk dulu ya!" balasnya Anisa sembari berjalan ingin mendahului Pramana! namun tangannya terkunci di genggaman Pramana sehingga dia tidak bisa melanjutkan langkahnya.
"Ya ... tidak apalah sayang, dia ujan-ujanan juga. Mungkin mereka sedang menaikkan sesuatu agar lebih asik gitu nanti bermainnya!" timpalnya Andre yang duduk di samping istrinya, Renita.
Renita mendelik melotot kepada suaminya tersebut. "Permainan ... apa lu kata?"
"Ya permainan apa lagi, kalau bukan permainan di ranjang! kan setelah capek-capek hujan-hujanan ... kedinginan! bisa menaikkan daya--"
"Daya listrik ya, Bang? ha ha ha ..." Pramana langsung menimpali perkataan sang Abang. "kamu belum sekolah ya Kak Anita juga Abang!"
Pramana langsung membawa langkahnya sembari menuntun tangan Anisa! meninggalkan ruangan tersebut di mana keluarganya masih berkumpul padahal waktu sudah menunjukkan pukul 21.50 malam.
"Permainan ... apa sih yang kamu maksud, Anisa kan masih masa nifas nggak ada permainan-permainan!" Renita melirik ke arah suaminya.
"Oh iya, ya. Tapi kan masih banyak cara untuk memuaskannya! kalau kalian diam-diaman mah ... mana tahan, he he he ..." jawabnya Andre sembari melihat ke arah tangga di mana Pramana dan Nisa berjalan menaikinya.
__ADS_1
"Huam ... Ayah ngantuk ah mau tidur kalian terus nggak tidur besok kan mau ngantor!" ucap sang ayah sembari menutup mulutnya yang terus-terusan menguap.
"Iya nih, aku juga sudah ngantuk! apalagi di saat-saat seperti ini nih ... di luar sedang keadaan hujan, enaknya pelukan guling." Anda langsung merespon perkataan dari ayahnya sembari berdiri.
"Peluk guling, peluk guling! aku mau dikemanakan? ditaruh di bawah tempat tidur?" ketusnya Renita sembari memegangi tangan suaminya.
"Iya ... maksud aku guling yang ini, guling yang hidup." Anda merawat perkataannya sembari mencolek dagu sang istri.
Sang Ibu hanya tersenyum lebar. Kemudian dia pun beranjak menyusul suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam tempat peraduannya.
Anisa yang lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi dan berapa saat menghabiskan waktu di sana, membersihkan dirinya dengan kucuran air hangat yang langsung dari shower.
Anisa keluar dari kamar mandi dengan sudah menggunakan piyama yang bermotif bunga-bunga. Menolehkan kepalanya kepada Pramana yang sudah bertelanjang dada! memegangi pakaiannya yang basah dan sekali bersin.
Melihat Anisa sudah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, dan Pramana langsung masuk ke sana dengan sedikit menggigil.
Selepas mengeringkan rambutnya, lalu ia ikat untuk sementara waktu sebelum tidur. Anisa mengaplikasikan terlebih dahulu body lotion dan minyak wangi alias parfum ke tubuhnya.
Lantas Anisa beranjak dari kursi depan cermin, berjalan mendekati lemari untuk menyiapkan semua keperluan Pramana! biarpun dia marah. Kesal tapi tetap ingat kewajibannya.
Anisa menyimpan semua pakaian Pramana dengan paketannya di atas tempat tidur. Buru-buru Anisa keluar dari kamar tersebut, turun untuk membuatkan susu jahe! apalagi sepertinya Pramana saat ini sangat kedinginan.
Di bawah, sudah tampak sepi dan lampu pun sudah dimatikan. Anisa langsung mendatangi dapur dan membuatkan susu jahe untuk sang suami.
Sekitar 5 menit kemudian Anisa pun membawa sebuah gelas yang beralaskan nampan, di bawanya ke lantai atas yaitu ke kamar ia dan Pramana.
"Aku mau tidur di kamar sebelah ah, malas tidur bareng sama Pramana!" gumamnya Anisa dalam hati sambil berjalan dan menyimpan gelas tersebut di atas.
"Tapi kalau dia menyusul gimana? dan apa gunanya? sekalipun aku kunci dari dalam! dia pasti punya kunci serepnya, kalau tidak ... dia menggedor pintu. Kedengaran sama yang lain, ketahuan dong. Aku dan dia sedang ada masalah, ck!" Anisa belum menolak sendiri sembari berdiri di depan pintu yang tadinya dia mau keluar ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Hai-hai, hi ... apa kabar raeder ku semuanya. Semoga kabar baik ya di malam ini. Makasih masih mau membaca Arya recehan ku ini 🙏