Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Berat


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Anisa dirawat di rumah sakit, dan Pramana biarpun ngantor, dia tetap memprioritaskan Anisa. Sehingga pagi sore dan malam dia datang ke tempat tersebut menemani Anisa.


Kalau Pramana gak ada, Anisa di rumah sakit ditungguin sama ibundanya yang dari mula masih setia menemaninya, kadang-kadang ibu mertua pun berada di sana.


Seperti saat ini pagi-pagi sebelum berangkat kerja, Pramana mampir dulu ke rumah sakit.


"Assalamu'alaikum. Bunda?" suara Pramana yang memasuki ruangan tersebut.


"Wa'alaikum salam ... Pram mau ke kantor ya?" balasnya sang ibu mertua yaitu Ibu Farida.


Pram datang bersama sang ibu, yang ikut dirinya sekalian ke rumah sakit.


"Gimana kondisi kamu Nak?" ibu bela langsung menghampiri Anisa yang tengah duduk bersandar dan dia tampak lebih segar ketimbang sebelumnya.


"Alhamdulillah ... sepertinya hari ini sudah lebih baik kok, ingin segera pulang!" jawabnya Anisa sambil mencium punggung tangan sang ibu mertua.


"Kalau soal pulang itu gampang, bagaimana nanti saja kata dokter gimana!" ucapnya sang ibu mertua.


"Kamu baru boleh pulang hari esok, untuk hari ini istirahat dulu lagi di sini." Ungkap nya Pramana sambil mendudukkan dirinya di hadapan Anisa.


"Emangnya kamu sudah ngomong sama dokter?" tanya Anisa sembari menurut rekeningnya.


"Sudah dong, makanya aku bilang seperti itu. Kamu baru baik bisa pulang besok, bukan hari ini." tambahnya Pramana.


"Aku sudah gak betah di sini, pengen pulang aku mau kabur aja--"


"Eeh ... jangan macam-macam! kalau kamu sayang sama diri sendiri ikuti perintah!" Pramana menunjukkan jarinya ke arah Anisa.


"Ya. Iya lah Pram ... mana ada dan nggak mungkin Anisa kabur! dia cuma bercanda!" kata sang ibu mertua. Bu Farida.


"Hem ... awas kalau kamu kabur." lagi-lagi Pramana menunjuk ke arah Anisa.


"Oh ya Jeung, kalau Anisa akan ki bawa pulang biar istirahat ditempat saya saja." Kata ibu Farida menatap ke arah bu Hajah Bella.

__ADS_1


Pramana menatap lekat ke arah Ibu Farida dia merasa nggak rela kalau Anisa pulang dari rumah sakit langsung dibawa oleh orang tuanya. Emangnya kenapa di rumahnya?


"Kan di tempat saya juga nggak mungkin disuruh bekerja Jeung ... yang tentunya akan kami perhatikan juga." Kata ibu Bella rasanya dia juga tidak memberi izin kalau wanita dibawa sama orang tuanya.


"Tapi ... biarkan kami yang merawatnya lebih ... hidup intens sampai dia benar-benar sehat atau pulih." Sambungnya Bu Farida.


Pramana menatap ke arah Annisa seraya berkata dalam hati. "Ngomong dong ... bilang nggak mau ikut ke tempat orang tuamu. Bilang kalau kamu inngin bersama ku!"


Sementara Anisa menunduk dalam. Hatinya pun merasa berat jika harus ninggalin keluarga Pak Lukman ataupun Pramana. Tapi kemauan orang tuanya emang masuk akal juga. Mereka ingin merawat Nisa sampai lebih sehat, setelah itu baru memikirkan gimana nanti.


"Kami juga memikirkan gimana nasibnya rumah tangga Anisa dan Pramana nantinya, dan kami ingin Pramana mengucap ijab kabul kembali sesuai rencana kita di awal kan?" ujarnya Bu Bella yang di arahkan kepada Bu Farida, Anisa dan Pramana sendiri.


Mendengar perkataan itu, Anisa mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Pramana yang malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Saya dan suami sudah sepakat kalau Pramana akan menikahi lagi Anisa setelah masa nifas Anisa lewat. Agar sah dimata agama kan memang rencana kita pun di awal seperti itu, tapi memang nggak apa-apa sekarang Anisa kalian mau bawa pulang tapi status Anisa tetap masih menjadi mantu kami, Dan sebenarnya kami berhak menentukan Anisa tinggal di mana, jika kami mau." lanjut Bu Hajah Bella.


"Saya juga setuju seperti itu ... tapi kan sekarang kondisi Anisa seperti gini, lemah ... kami ingin menjaga dia sampai dia benar-benar sehat, nanti kalau sudah sehat silakan jemput dia kembali ke rumah Kak Bella! karena Pramana masih punya hak apalagi rencananya seperti itu kami tidak keberatan!" ucap Bu Farida.


Yang terucap malah kata-kata. "Iya tidak apa-apa, kalau Anisa mau di sana sampai pulih."


Pagi-lagi Anisa menoleh ke arah Pramana yang malah membiarkan dirinya pergi bersama orang tuanya. "Apa kamu memang tidak menginginkan ku di rumah mu lagi!" batinnya Anisa dengan perasaan yang sulit diartikan.


Di sisi lain, Anisa ingin ikut bersama orang tuanya tinggal di sana, apalagi dalam kondisi seperti ini dia masih lemah dan di sisi lain dia tidak mau jauh dari pria yang sudah berapa kali menyentuh bibirnya itu, dan statusnya pun sebagai suami di mata negara.


"Oke, takut kesiangan. Aku berangkat dulu! nanti sore aku balik lagi ke sini, Ibu mau tunggu aku jemput maksudnya pulang sama aku nanti atau mau ayah yang jemput?" Pramana menatap ke arah sang ibunda.


"Kalau Ibu ... katanya ayah mau ke sini kan, nanti pulang sama Ayah saja mungkin kamu mau menemani Anisa di sini, nanti malam kasihan Ibu Farida mungkin dia yang istirahat sebentar!" ucap sang ibunda sembari melirik ke arah Ibu Farida yang memang berapa hari ini terus ada bersama Anisa.


Dari malam pertama saat Anisa masuk rumah sakit, memang semuanya menunggui dan malam Kedua Pramana bersama orang tuanya dan menunggui Anisa.


"Aah nggak apa-apa, orang Pramana tiap malam juga ada kok, nemenin Anisa di sini." Kata Bu Farida sambil tersenyum.


Kemudian Pramana beranjak dari duduknya meninggalkan ruangan tersebut, di mana Di sana ada Anisa ibunda dan juga ibu mertua.

__ADS_1


Anisa turun dari tempat tidurnya dengan niat mau ke toilet, mau di bantu sama ibunda dan ibu mertua. Namun Anisa menolak dengan alasan dia pun sudah mampu sendiri.


"Hati-hati Nisa ... hati-hati?" pesan ibu mertua menatap langkahnya Anisa yang menuju kamar mandi.


"Iya, hati-hati, begitulah kalau habis melahirkan juga lho ..." tambahnya ibu Farida.


Anisa baru saja melintasi pintu dan mengangguk pelan. Tubuhnya sejenak terdiam merasakan keram di perut. Dan Anisa mengambil pembalut yang sudah tersedia di sana.


...------------...


Setibanya di kantor, Pramana langsung memulai aktifitasnya dengan segudang kesibukan. Malah hari ini dia akan mengadakan pertemuan di sebuah Mall.


"Oke, sebentar lagi saya akan pergi ke lokasi. Tolong siapkan semuanya!" pinta Pramana pada asistennya tersebut dengan perkataan yang penuh wibawa.


"Baik, Pak. Akan saya siapkan semuanya." Jawabnya orang yang jadi lawan bicaranya Pramana.


Beberapa saat kemudian. Pramana pun berangkat dengan mengendarai mobilnya yang kebetulan sedang menggunakan supir, sehingga dia bisa sambil menggunakan laptop nya.


Sejenak dalam pikirannya terbayang Anisa dan mengingat kalau Anisa tidak di rumahnya ... berarti kalau dia sedang berada di rumah, tidak akan lagi melihat wanita itu apalagi di layani seperti biasa! menyediakan susu jahe dan mengurus semua keperluannya.


Memang sih hanya sementara di tempat orang tuanya. Tapi rasanya berat juga bila tidak melihat dia dan akan berasa lama.


"Den, sudah sampai." Mang Pei sembari menoleh ke arah belakang, dimana Pramana nampak melamun.


Pramana yang melamun sambil melihat ke arah jendela monohok mendengar suara mang Pei dari depan. "Ha! sudah sampai?"


"Iya, Den ... sudah sampai." Kata mang Pei sembari melihat ke arah luar.


Lalu kemudian, Pramana pun turun. Brugh ... pintu tertutup. Berjalan tergopoh-gopoh memasuki gedung Mall sambil.sesekali melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya dan menenteng tas yang berisi laptop dan juga berkas ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya agar authornya semangat nya lebih-lebih nih, makasih.

__ADS_1


__ADS_2