
"**J**angan perlakukan aku yang aneh-aneh, karena aku nanti bisa jatuh cinta sama kamu gimana? sementara kamu nggak pernah punya perasaan apapun terhadap aku, karena di hatimu telah ada seorang wanita yang lain dan itu bukan aku!" gumamnya Anisa dalam hati Seraya memandangi Pramana yang menghabiskan makannya.
Kemudian Pramana menyudahi makannya dan membereskan ke dalam kantong. Karena makanannya sudah tandas begitu pun bekas Anisa yang dia masukan ke dalam tong sampah.
Anisa pun menyodorkan segelas minum air putih kepada Pramana yang langsung Pramana ambil saya berkata makasih.
Lalu kemudian Anisa bersiap beranjak dari duduknya, Namun kedua tangan Pramana memegangnya kedua tangan Anisa.
Membuat Anisa merasa heran dan menarik tangannya seraya berkata. "Aku mau ke kamar mandi."
Mamun perkataan Anisa tidak diindahkan oleh Pramana, dia tetap saja memegangi kedua tangan Anisa seraya ditariknya agar Anisa kembali duduk di tempat semula.
"Em ... Lusa Aku mau keluar kota barang dua atau tiga hari!" ucapnya Pramana dengan lirih.
Degh.
"Jangan-jangan mau ketemu kekasihnya." Pikirnya Anisa.
"Mau apa? maksud aku ada urusan apa?" tanya Anisa dengan tatapan mengarah ke tangannya yang masih dipegang oleh Pramana.
"Urusan kerja lah, urusan apa lagi!" jawabnya Pramana.
"Ya ... kali aja mau mau menemui seseorang, kekasihnya mungkin!" jawabnya Anisa seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Emangnya kenapa kalau aku ketemu sama seorang wanita cemburu ya?" Pramana mengulum senyumnya.
"Ha? cemburu! mana ada aku cemburu geer banget." Anisa menggelengkan kepalanya padahal dalam hati emang merasa jealous.
"Masa sih istri aku nggak cemburu kalau seandainya suami mu yang tampan ini ketemuan sama wanita lain!" ucapnya Pramana sembari memainkan matanya berkedip-kedip genit.
"Iih ... mana ada. Bodo amat gak aku pikirin!" Anisa memutar kedua bola matanya jengah.
"Benarkah seperti itu?" selidik Pramana sembari menaikan alisnya.
"Ya, iya lah." Anisa menarik kedua tangannya dari genggaman Pramana.
Pramana mengisi duduknya ke dekat sofa dan bersandar di sana, begitupun dengan Anisa! apalagi kakinya terasa pegal sehingga kedua kakinya pun selonjoran.
"Selama ini kita selalu bertemu tiap hari dan bila keluar kota otomatis kita nggak akan ketemu! apalagi kamu akan tinggal sama orang tuamu!" Pramana menoleh ke arah Anisa dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Terus Emangnya kenapa? bukan nya aku pengganggu. Dan kamu kan pernah bilang sama aku! jangan pernah urusin kamu kan ... jadi kalau aku nggak ada ... mungkin itu lebih baik nggak ada yang mengganggu kamu!" ucapannya Anisa dengan lirih.
"Kok bilang gitu? itu kan dulu ... bukan sekarang! aku sering melarang kamu untuk mengurusi ku, disaat aku melarang kamu malah keras kepala, di saat aku happy kamu malah akan menghilang," Pramana tampak menghela nafas berat.
Begitupun Anisa, dia mengembuskan nafas yang lanjang. Apa sih maksudnya Pramana yang bicara seperti itu, apa artinya dia tidak ingin kalau dirinya pergi?
"Kamu kan bisa pulang ke tempat bunda!" ucap Anisa pelan sambil menunduk.
Kini tangan kanan Pramana menyentuh dagu Anisa dan sedikit menariknya agar wajah itu mengarah kepadanya.
Namun Anisa tidak berani membalas tatapan Pramana sehingga dia menundukkan pandangannya ke bawah.
"Emangnya aku boleh pulang ke tempat Bunda menemui mu di sana?" tanya Pramana dengan tatapan yang sangat lekat kepada wajah yang cukup dekat dengannya.
"Em, em ...boleh. Bukannya aku masih istri mu jadi nggak ada larangan kan kalau kamu menemui ku!" seru nya Anisa dengan tetap menundukkan pandangannya ke bawah biarpun wajahnya mengarah kepada Pramana.
Pandangan Pramana kini mengarah ke satu titik bagian wajah Anisa, dengan tanpa ragu. Pramana mengucap kembali bibir Anisa yang merah biarpun polos tanpa polesan sedikitpun.
Anisa terkesiap, membuat kedua menik matanya melotot dengan sangat sempurna. Lagi-lagi Pramana tanpa permisi menyentuh bagian tubuhnya dengan sangat lembut.
Tangan Pramana bergerak dari dagu menelusuri leher ke tengkuk dan mengunci di sana, Pramana menyapunya dengan penuh gelora menye-sap benda tipis itu.
Desiran darah yang panas merambat ke sekujur tubuh. Sehingga terasa panas dingin.
Anisa merasa was-was kalau di saat itu sang bunda masuk, mau di kemana kan ini muka saking malunya.
Pramana dengan nakalnya menye-sap lembut setiap inci benda tipis itu dengan segenap perasaan. Namun detik kemudian Pramana segera menyudahinya, karena tangan Anisa mendorong dadanya.
Rupanya Anisa merasa pengap kehabisan oksigen! sehingga Pramana melepaskannya dan membiarkan Anisa menghirup udara sebanyak-banyaknya dari sekitar.
Bibir Pramana menyungging tampak sepuas dengan apa yang didapatkan hari ini. Tangannya pun tak ayal mengusap bibir Anisa yang lembab.
Dada wanita cantik itu terlihat naik turun sangat berdebar-debar, lalu dia menatap ke arah Pramana yang tersenyum penuh kemenangan. "Kalau bunda lihat gimana?"
"Bunda nggak akan lihat! dia masih di taman menikmati makan!" jawabnya Permana sangat percaya diri sembari kembali mendekatkan wajahnya pada Anisa.
"Ehem!" suara deheman itu datang dari arah pintu seiring dengan terbukanya daun pintu tersebut dan Bunda Farida memasuki ruang inap Anisa.
Membuat keduanya terkesiap setengah melonjak dan Anisa menjauh dari Pramana duduknya menggeser ke atas sofa. Sementara Pramana berusaha tenang sembari duduk di bawah.
__ADS_1
Bunda Farida sebenarnya sudah lama berada di balik pintu, ketika dia mau masuk! dia sempat melihat Pramana dan Anisa sedang anu! jadinya Bunda berjalan mundur kembali dan menutup pintu dengan sangat perlahan.
Bibir senyum-senyum sendiri. Dan setelah beberapa saat menunggu ... barulah dia melanjutkan niatnya untuk masuk.
"Kalian sudah makannya?" tanya bunda Farida seolah dia tidak mengetahui apapun.
"Oh sudah Bun!" jawabnya Anisa.
"Bunda barusan sekalian salat zuhur dulu." Bunda Farida mendudukkan dirinya di sampingnya Anisa yang tampak sedikit gugup.
"Oh, ya sudah kamu juga kan belum salat zuhur salat dulu gih? bukannya mau balik ke kantor!" Anisa mengarahkan pembicaraannya kepada Pramana.
"Oke!" Pramana pun beranjak dari duduknya setelah merapikan setelan nya yang tampak kusut. "Kalau gitu aku berangkat dulu ya, sekalian ke kantor!"
Anisa mengangguk pelan "Hati-hati!"
"Bunda, aku mau berangkat dulu titip Anisa--"
"Titip. Emangnya aku anak kecil apa dititipin?" Anisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Begitupun Bunda Farida dia tertawa lebar. "Tentunya Bunda akan menjaganya! lagian kamu sudah mendapatkannya jadi pergilah bekerja sana! yang semangat."
Pramana mengerutkan keningnya. "Maksud bunda?
"Em ... maksud Bunda kan ... makan siang udah! jadi tinggal semangat melanjutkan pekerjaannya, begitu!" bunda Farida meralat omongan yang tadi.
"Oh!" Pramana hanya sedikit mengangguk namun dia kepikiran dengan omongan sang ibu mertua tadi. Apa mungkin beliau melihat apa yang dia lakukan kepada Anisa?
Lantas kemudian Pramana pun berjalan mendekati pintu. Kemudian menghilang dari pandangan Anisa dan Bunda Farida.
"Oh ya Nisa ... kata Kak Aisyah. Nanti sore Kak Aisyah mau ke sini dan juga minta maaf katanya belum bisa jenguk Anisa karena maklumlah dia ... dia kan repot." Kata bunda Farida.
"Iya nggak apa-apa, Bunda aku juga ngerti kok. Lagian aku nggak kenapa-napa aku udah nggak baikan." Anisa tersenyum.
Anisa beranjak dari duduknya dia ingin buang air kecil yang sudah dari tadi ketika masih ada Pramana di sana, dan dia pun berjalan tergopoh-gopoh membuka pintu kamar mandi meninggal Bundanya sendirian ....
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya makasih
__ADS_1