
Sejenak mereka terdiam, sesaat kemudian Pramana bersiap menyalakan mesin mobilnya. Namun netra matanya melihat ke arah luar pantas mendapati seorang laki-laki yang sedang berjalan mungkin sedang menghampiri kendaraannya.
Pramana gegas keluar dan menghampiri laki-laki tersebut yang tiada lain Dan tiada bukan adalah Hendar, Hendar tampak membungkuk sepertinya Dia mau muntah.
Dan memang Hendar sedang dilanda rasa mual, rasa mual yang tak entah apa sebabnya! periksa ke dokter pun dia tidak sakit apapun, heran tapi nyata, tidak masuk angin dan tidak berpenyakit apapun tetapi rasa mual selalu menyerang Hendar.
Bugh ....
Bugh ....
"Ngekkkkkk!" suara Hendar.
Pramana langsung menyerang daerah perut Hendar dengan dua tonjokan sembari berkata. "Makan nih bogem gue, yang tidak seimbang dengan apa yang telah kau lakukan terhadap Anisa."
Hendar yang benar-benar sangat terkesiap dengan serangan 0ramana, tidak tahu harus penyebabnya. Menahan rasa sakit pun sudah kewalahan boro-boro melawan.
Dengan cepat Pramana menyerang kembali dan kali ini tonjokan hangat mengenai batang hidungnya Hendar sehingga langsung keluar darah yang mengucur dari hidung yang pria yang memakai kemeja putih tersebut.
"Dan itu juga untuk perbuatan mu yang sudah menanam benih di rahimnya Anisa, sungguh kau jahat tidak bertanggung jawab. Kau biarkan Anisa begitu saja, membiarkan dia hamil dan kau sendiri tidak mengakuinya asar bia-dab kau!" suara Pramana dengan nada tinggi dan menatap tajam ke arah tubuh Hendar yang tersungkur.
Anisa yang mulanya merasa heran kenapa Pramana turun tanpa bicara terlebih dahulu, lalu mengedarkan pandangannya menatap pergerakan Pramana yang mendekati seorang pria yaitu Hendar, semakin membuat Anisa terkaget-kaget ketika melihat Pramana langsung menghajar pria itu.
"Ya Allah ... ngapain dia menghajar Hendar, yang ada nanti dia kena pasal! aku nggak mau!" Anisa langsung turun dari mobil dan setengah berlari menghampiri Pramana.
"Pram, jangan! sudah jangan pukul dia lagi, nanti kamu kena pasal dan aku nggak mau!" Anisa memegangi tangan Pramana yang hampir saja dia menyerang Hendar kembali.
"Nisa, Nisa. Dia itu laki-laki yang sudah membuat kamu seperti ini, dia harus merasakan apa yang kamu rasakan! seharusnya kamu itu polisikan dia. Biar tahu rasa dan kapok, orang seperti bukannya dibiarkan!" Pramana malah sedikit membentak ke arah Anisa.
Bikin Anisa sedikit menciut dengan bentakan Pramana.
"Dan kamu Hendar, saya tidak pernah menyangka ya. Kalau kamu orangnya yang sudah membuat Anisa seperti ini, kau yang sudah membuatnya hamil. Dan kau tidak mau mengakuinya apalagi bertanggung, brengsek ... kau kurang ajar!" suara Pramana menggebu-gebu, serta kembali mau mengajar Hendar.
Namun tangannya keburu ditarik oleh Anisa. "Sudah kita pulang saja, cepetan? aku takut kamu yang nanti bermasalah."
Sementara Hendar hanya bengong sambil merasakan rasa sakit di bagian perut dan bagian hidungnya yang malah berdarah.
Di tempat itu sudah banyak orang-orang berkumpul bahkan ada yang merekam dengan ponselnya.
__ADS_1
Setelah mendengar perkataan dari Anisa barusan, Pramana mengedarkan pandangannya ke arah orang-orang yang merongrong dan ada berapa orang yang merekam.
"Jangan ada yang merekam! jangan juga coba-coba untuk menyebarkannya, karena kalian ... siapapun akan berurusan dengan ku, hapus semuanya!" pinta Pramana yang ditujukan kepada orang-orang yang sedang merekam jadian tersebut.
Seketika orang-orang yang tengah mengacungkan gawainya yang tentunya sedang dipakai buat merekam kejadian tersebut. Langsung menurunkan dan menghapus video atau gambar yang telah mereka ambil.
"Kalau ada satu saja yang menyebarkannya atau tidak menghapusnya sekarang juga siap-siap saja, karena saya tidak akan ragu-ragu sekali untuk menuntut kalian. Ke pihak yang berwajib." Pramana kembali bernada tinggi.
Mereka hanya berbisik dengan satu sama lain. Sembari memasukkan ponselnya masing-masing ke dalam saku.
Setelah itu Pramana pun berjalan bersama Anisa menghampiri mobilnya, setelah keduanya berada di dalam mobil. Lalu Pramana menyalakan mesin memutar kemudi teratur..
Kemudian memundurkan nya sedikit lalu maju dan meninggalkan tempat tersebut, tidak peduli dengan Hendar yang meringis dan mengeluarkan darah segar dari hidungnya.
"Kamu tidak tega kan? melihat dia babak belur, kalau saja kamu nggak turun. Dia akan ku buat lebih dari itu!" ucap Pramana sembari memutar kemudinya.
"Kamu jangan gila, jangan cari masalah! nanti kalau kamu dituntut gimana? atas tuduhan penyerangan yang direncanakan," balasnya Anisa dengan nada cemas.
"Kenapa kamu takut? tuntut dia balik: dengan apa yang sudah dia lakukan sama kamu!" tegasnya Pramana sembari fokus pandangannya ke depan.
"Kenapa kamu nggak punya bukti, bukannya kehamilan itu sudah cukup--"
"Cukup gimana? kepolisian itu pasti meminta bukti-bukti yang lebih detail bukan cuman kehamilan doang!" Timpal Anisa memotong perkataan dari Pramana.
Pramana melirik sekilas. "Iya juga sih, kalau kamu nggak ada bukti sama sekali. Kecuali nanti anak itu sudah lahir dan Minta tes DNA, itu yang akan jadi bukti. Lagian kenapa sih kamu nggak punya bukti segala? satu mungkin."
"Gimana caranya? kan sudah tahu aku nggak sadar, lagian sebelumnya mana ada sih aku pikiran yang gitu-gitu! aneh jadi orang," akhirnya Anisa berkata ketus.
"Iya-iya, iya ...." gumamnya Pramana.
Setelah itu mereka pun diam-diaman nggak ada lagi yang mengeluarkan suaranya sedikitpun. Keduanya memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Dan Anisa pun sebenarnya merasa khawatir, takut Hendar malah tidak terima dengan penyerangan Pramana dan melaporkan pria yang berstatus suaminya itu ke polisi.
"Aku belum puas menghajar Hendar, apa yang aku berikan tidak seberapa dengan apa yang dilakukan terhadap Anisa, jelas sekali dia laki-laki yang tidak punya hati, tidak bertanggung jawab. Kurang ajar! apa dia nggak punya ibu apa!" gerutunya Pramana dalam hati sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya yang harus berpacu dengan kendaraan lain.
Di saat melamun Anisa menemukan yang jualan martabak bulan seperti yang dipinta oleh Renita, sehingga Dia menepuk paha Pramana agar dia menghentikan mobilnya sebentar.
__ADS_1
"Ada apa?" Pramana menoleh sembari memelankan mobilnya dan kedua netra nya pun melihat bahwa di depan ada yang jualan martabak bulan. Padahal tadi waktu berangkat nggak kelihatan.
Anisa pun bergegas turun dari mobil Pramana untuk membeli martabak bulan tersebut, karena dia merasa nggak enak juga kalau nggak beli apalagi Renita juga setengah hamil, takutnya nanti Dede bayinya kenapa-napa.
Mulanya Pramana membiarkan Anisa berjalan sendiri menghampiri penjual martabak bulan tersebut, namun lama-lama dia pun berniat turun. Apalagi di sana banyak laki-laki yang tengah nongkrong.
"Cuith-cuit ... Coba lihat kawan ... ada bidadari turun dari langit dan Baru kali ini aku melihatnya dia berada di sini, kira-kira siapa namanya ya? kita taruhan Siapa yang lebih dulu mendapatkan namanya!" kata salah satu pemuda yang tengah nongkrong kepada teman-temannya.
Dan suara itu terdengar jelas oleh Anisa, membuat dia merasa was-was dan takut mana jalan sendiri lagi. Pramana berada di mobil.
"Boleh, siapa takut? cuma nama doang gampang," jawab temannya. Kemudian sapah satunya pemuda tersebut dari duduknya dan menghampiri Anisa.
"Neng, kenalan dong! siapa namanya? kok Abang baru lihat ya, Neng berada di sini? dan kebetulan sekali ya! wajahnya cantik seperti bulan persis manisnya kayak martabak bulan he he he ..." goda pemuda tersebut.
Sementara Anisa menggeser dan mundur beberapa langkah, dia khawatir kalau pemuda itu akan kurang ajar padanya. Dan Anisa hanya mengulas senyuman manisnya saja.
"Aduh ... tuh kan ... beneran, senyumannya aja manis, semanis martabak manis. Bikin perut kenyang tanpa harus makan dulu, karena memandang saja sudah bikin perutku penuh." Kata pemuda yang barusan mengajak kenalan dengan ekspresi wajah yang nakal.
Detik kemudian pemuda lainnya pun malah mendekat. "Siapa namanya, Neng? dan tinggalnya di mana? nanti Abang datanglah ke rumah, sekalian membawa seserahan buat melamar. Eneng yang cantiknya seperti bulan dan indahnya Seperti bintang."
"Terima kasih ya bang? ini uangnya!" Anisa buru-buru mengambil kantong yang berisi martabak bulan Dan dia segera membalikkan badannya hendak kembali ke mobil. Tetapi pemuda-pemuda itu malah menghadang.
"Permisi, aku mau pulang!" suara Anisa sembari menundukkan kepalanya.
"Aduh ... suaranya begitu lembut, syahdu ... bikin adem ... nih hati. Oh bidadari ku maukah bertahta di hatiku? maukah kau menjadi istriku?" goda pemuda yang pertama kali terdengar suaranya itu.
"Hai-hai, hi ... jangan coba-coba mengganggu istri orang, gak melihat apa dia sedang hamil? berarti dia punya suami, sembarangan!" tiba-tiba suara itu terdengar dari erah samping. Yang membuat Anisa pun merasa lega seiring dengan dia menoleh ke arah Pramana yang mungkin menjemputnya untuk pulang.
Beberapa pemuda itu melongo dan menatap dengan Intens ke arah Anisa yang memang terlihat sedang berbadan dua, membuat mereka menjadi malu sendiri.
"Sorry, Bang sorry. Sorry kami tidak tahu!" ucap Mereka bergantian pada Pramana sembari menyatukan kedua tangannya di dada, seakan memohon maaf karena telah mengganggu Anisa.
Pramana tidak menjawab, melainkan memegangi pergelangan Anisa bagian atas, dituntunnya menuju mobil, hingga Anisa naik ke dalam mobil tersebut ....
...🌼---🌼...
Mohon selalu dukungannya ya makasih.
__ADS_1