
"Kamu kenapa Nisa?" Aisyah tampak begitu cemas melihat sang adik yang meringis.
"Hooh, kenapa sakit apa?" timpal sang Bunda tak kalah cemas dengan Aisyah.
Sejenak Anisa terdiam dan merasakan sakitnya, yang mulai kembali menghilang.
"Eh ... tidak kenapa-napa kok, Bun. Kak biasa aja suka keram dikit." jawabnya sambil sedikit nyengir.
"Kamu ini ... dikira kenapa-napa bikin cemas seorang saja!" kata Aisyah sembari yang menjepit hidungnya Anisa.
"Iya nih, Tante ... orang kita udah cemas takut Tante kenapa-napa ya Fika?" ucapnya Ferly pada sang adik.
"Hooh!" Fika mengangguk pelan sambil menatap tantenya.
Kemudian mereka pun bubar, karena sebentar lagi akan melaksanakan salat magrib tentunya.
Saat ini Anisa sudah mengenakan mukenanya. Pramana masuk kamar tersebut dengan niat mau mengambil air wudhu dari kamar mandi Anisa.
"Kamu mau ke masjid?" tanya Anisa kepada Pram.
"Ya iyalah ... ke masjid! mas Azis dan ayah juga ke masjid, masa aku di rumah aja!" jawabnya sedikit datar.
Anisa tidak berkata lagi. Sementara Pram melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Pram keluar dari selesai ambil wudhu nya, dan sesaat melihat ke arah Anisa yang sudah mengenakan mukenanya.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Anisa.
"Siapa juga yang lihat-lihat? geer amat jadi orang!" jawabnya Pram dengan sedikit ketus.
"Heleh, nggak mungkin orang nanya, Kalau dianya nggak lihat-lihat." Anisa menggeleng sambil mesem.
"Emangnya aku melihat apapun pakai mata siapa?" tanya Pram.
"Em ... ya ... mata sendiri dong!" jawabnya Anisa kembali.
"Ya sudah, aku mau melihat apa terserah aku dong, nggak merugikan orang juga!" jawabnya sambil berlalu melintasi pintu.
"Rggghhh ... dasar!" Anisa geram.
Kemudian Pram berjalan menuju masjid yang berada di samping rumah tersebut, bersama Pak Joni dan Azis yang kebetulan baru saja datang.
__ADS_1
Mereka bertiga melaksanakan salat berjamaah Maghrib bersama-sama dengan yang lainnya.
Selesai melaksanakan magrib, para wanita yang di rumah menyiapkan untuk makan malam. Ditambah dengan Fika dan Ferly yang membantu namun riweh.
"Kak, Bun boleh nggak ya? kalau Anisa tinggal di sini saja. Lagian Bunda nggak ada temennya ya? di sini," lirihnya Anisa sembari menata piring di meja.
"Bukan soal boleh gak boleh! tapi kan Anisa bagaimanapun sudah menikah, punya suami. Dimana suami di situlah istri berada!" timpalnya sang Bunda.
"Tapi, kan Bun ... aku dan Pram belum sah menjadi suami istri, terus gimana!" tambahnya Anisa.
Bu Farida dan Aisyah saling bertukar pandangan mencoba mencerna maksud dari Anisa.
"Ehem. Anisa dan Pram memang belum sah di mata agama, tapi kan di mata hukum Aisyah adalah istrinya Pram, yang sewajarnya Anisa juga berbakti sama dia. Ngomong-ngomong apa Pram suka ngasih nafkah sama Anisa?" Aisyah menatap lekat pada sang adik.
"Uang, suka ... tiap minggu dia transfer uang ke rekening Anisa, buat membeli keperluan Anisa atau pegangan! karena kalau untuk keperluan dapur dan lainnya ibu yang pegang. Jadi uang Anisa paling buat beli yang Nisa mau aja, dan sekiranya yang di rumah nggak ada!" jawabnya Anisa.
"Itu Anisa pinta atau disuruh sama orang tuanya?" selidiknya lagi Aisyah.
"Setau Anisa ... sih tidak! itu memang kesadaran dia sendiri, semingguan sekali transfer sekalipun tidak Anisa pakai. Karena buat apa? toh keperluan sudah ada! aku tinggal pakai aja, seperti sabun shampo. Semuanya sudah tersedia," sahutnya Anisa kembali.
"Oh kakak kira, Anisa yang minta atau orang tuanya yang nyuruh gitu!" Aisyah mengangguk.
"Ngomong-ngomong Anisa sayang gak sih sama dia!" kini Aisyah bertanya lebih dalam lagi.
"Sayang, entahlah Kak ... biasa aja kok, lagian apalagi kalau sedang bicara yang cukup pedas tuh ... bikin aku sebel pengen nangis atau pengen kabur!" jawabnya lagi Anisa.
"Fika, Ferly apakah sudah lapar? mau makan duluan atau mau barengan!" suara sang Bunda kepada kedua cucunya.
"Biarkan saja, Bu ... biar mereka nunggu yang lain dulu, biarkan dia main aja!" timpalnya Aisyah aku pada sang bunda.
"Bukankah itu termasuk kdrt Kak? kdrt dalam hal lisan." Anisa menatap pada sang kakak.
"Bisa masuk juga, cuman ... kadang-kadang perkataan itu termasuk bercanda atau gimana? atau memang sengaja menyakiti dan itu dalam keadaan marah atau tidak. Lagian itu ada pahala Buat Anisa asal Anisa nya sabar, dapat mengerti serta memaklumi kalau itu sifatnya." Ungkap Aisah.
"Mungkin aku belum paham dengan sifatnya. Tapi yang aku tahu sikapnya kepada wanita lain seperti temen-temennya! biasa-biasa aja--"
"Emangnya pada Anisa nggak biasa gitu? garang segarang singa?" Aisyah memotong perkataan Anisa.
"Ya ... nggak gitu juga sih, Kak ... cuman kadang, mungkin dia pikir kalau Anisa ini murahan! sehingga Anisa sekarang berbadan 2 Dan intinya hamil oleh laki-laki yang tidak mau bertanggung," jawab Anisa pada sang kakak.
"Oh, kalau gitu ... cerita dong Anisa langsung sama dia! kejadiannya gimana, biar dia nggak salah paham dan menduga Anisa yang bukan-bukan! gimana dia akan tahu? gimana dia akan mengerti. Kalau misalnya Anisa nggak menceritakan semuanya." Aisyah mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Malas ach, dia juga sering ngomong. Kenalin dong sama orang yang menghamili kamu itu, biar aku hajar! katanya gitu, males ngomongnya," jawabnya Anisa kembali.
"Berarti ... bagaimanapun dia care sama Anisa, peduli. Sehingga dia pengen tahu orang yang sudah nyakitin Anisa." Tambahnya Anisa.
"Tapi, kan seharusnya nggak ngomong gitu dong ... Kak! suka nyelekit gitu ngomongnya." Kenang Anisa.
"Ya, sudah ... yang sabar aja!karakter orang itu kan berbeda-beda! nggak bisa disamakan apalagi di bandingkan sama Mas Azis! nggak mungkin he he he ..." serunya Aisyah.
Di tengah asik mengobrol, yang dari masjid pun sudah pulang. Lalu kemudian mereka pun langsung bersiap untuk makan malam.
"Gimana makan malamnya! dah siap belum? kami mau makan malam nih ... Setelah itu kami mau main catur bareng! kayaknya asik bermain catur sama-sama!" ucapnya Pak Joni langsung melihat ke arah meja makan.
"Iya, Opa. Kita sudah laper nih ... sudah seharian kita nggak dikasih makan!" kata Ferly dengan ekspresi wajah yang kelaparan sambil memegangi perutnya.
"Ha ha ha ....masa seharian kalian gak dikasih makan? Emangnya ibumu nggak masak apa!" kata Pak Joni kepada cucunya.
"Ferly bikin malu Bunda deh ..." ucap Aisyah sembari mengambilkan makan untuk anak-anaknya lebih dulu, lalu kemudian untuk Azis.
Pramana yang sudah duduk di antara mereka, menunggu Anisa untuk mengambilkan makan untuknya.
"Nisa, Pram nggak dikasih tahu dan tempe? enak lho ... tahu bacem sama tempe mendoan!" kata sang Bunda kepada Anisa yang sedang mengambilkan sayur sama ayam goreng buat Pramana.
"Dia nggak suka tahu sama tempe, Bunda ..." jawabnya Anisa sembari melirik ke arah keduanya bergantian.
"Oh ... nggak suka! kirain Bunda suka, makanya Bunda Bikin yang banyak!" sambungnya Ibu Farida.
Pramana hanya menggeleng sambil mengambil piring dari tangan Anisa.
"Sayang sekali, kalau kamu nggak suka tahu sama tempe! padahal buatan bunda enak lho ..." ucap Azis kepada Pramana.
"Entah kenapa, Mas emang sudah dari kecil kurang suka aja sama tahu dan tempe! bukan nggak suka sih cuman kurang suka saja!" akhirnya Pramana menjawab.
"Makanya dicoba dulu! siapa tahu nanti suka, karena tanpa perkenalan nggak akan mengenal dan nggak akan tahu gimana enak atau tidak." Tambahnya Azis yang di tujukan pada Pram.
"Gampang lah, Mas ... nanti-nanti saja!" kemudian Pramana membaca doa sebelum dia menyuapkan makanan ke mulutnya.
Semuanya menikmati makan malam dengan sangat lahap sambil mengobrol kanan dan kiri ....
...🌼---🌼...
Tidak lupa dan tidak bosan author mengingatkan, like comment dan subscribe nya ya juga bintangnya terima kasih.
__ADS_1