Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Mengantar


__ADS_3

Bu Bella mengemas makan siang untuk seseorang ke dalam wadah yang terdapat beberapa menu.


"Nisa coba lihat ibu sedang mengemas bekal makanan untuk anak SD nya. Sini?" Renita melambaikan tangan kepada Anisa yang baru saja menapakkan kakinya di lantai dasar.


Benar saja sang ibu mertua sedang mengemas buat makan siang. "Itu buat siapa Bu?" tanya Anisa menatap penasaran.


"Ini buat makan siangnya Pram. Kebetulan ibu masak rendang ayam, masakan kesukaannya," jawabnya sang ibu mertua.


"Pram nya di kantor, Bu?" gumamnya lagi Anisa.


"Bukan Anisa, Pram sedang di sawah sedang membajak!" celetuknya Renita yang sedang duduk di dekat meja makan dan sedang menikmati buah yang baru saja dia kupas.


"Iih ... Kak Renita, kan aku nanya!" Anisa tersenyum simpul.


"Ya iyalah ... Anisa, kerjanya Pramana itu di kantor. Kalau kau di kantor nggak mungkin dia sedang membajak sawah." Sambarnya lagi Renita dengan mulut yang penuh dengan buah.


"Apa Anisa bersedia mengantarkannya? maksud Ibu ... antarkan sama Anisa ke kantornya bersama sopir." Ibu hajah Bella penuh harap sambil menatap ke arah mantu barunya tersebut.


"Em ... sekarang, Bu?" tanyanya Anisa.


"Bukan sekarang! tapi besok lusa tunggu makanannya bulukan dulu ingat ya tunggu bulukan dulu!" sambar nya Renita.


Anisa menoleh ke arah Renita sembari tersenyum lalu Anisa bilang kalau dia bersedia dan dia akan mengambil kerudungnya. Karena kalau mau ke kantor dia malu seandainya nggak pakai kerudung, beda dengan di rumah.


"Terima kasih ya Nisa?" Bu Bella merapikan barang yang akan dibawa Anisa.


"Mereka kan akan beda kamar ya, Bu? jadi gimana caranya kita harus buat mereka dekat biarpun tidak satu kamar ya, kan Bu!" ucapnya Nisa kepada Ibu mertuanya! setelah Anisa kembali ke kamarnya.


"Iya, Renita. Itu benar! kita harus berusaha untuk mendekatkan mereka bagaimanapun caranya! karena cinta itu nggak akan hadir tanpa ada kedekatan, tanpa ada pertemuan." Jawabnya sang ibu mertua sembari mendudukan bokongnya tidak jauh dari Renita.


"Kamu itu makan banyak, minum vitamin, ada buah-buahan juga yang kamu suka. Tetap aja kurus. Bikin malu suami, namun kayak nggak dikasih makan saja hi hi hi ... " ucap ibu mertua sambil melihat wanita yang sedang asik makan buah itu.


"Aduh Ibu ... ini kan dari sananya, tapi nanti juga akan bertambah kok berat badan ku tentunya karena perut aku membesar he he he ..." sahutnya sang menantu sambil nyengir.


"Iya bertambahnya. Karena perut membesar bukan karena tubuh mu yang melar atau banyak makan--"


"Tapi kan yang penting sehat lho nggak penyakitan!" tambah lagi Renita.

__ADS_1


"Iya sih itu benar. Yang penting sehat-sehat kamu nya! sehat cucu ku juga." Tambah Bu Hajah Bella.


Sedang asyik mengobrol, Anisa sudah kembali dengan penampilan yang rapi dan berkerudung pashmina berwarna hitam, walau sederhana tapi tetap cantik.


"Bu, Anisa sudah siap. Apa mau berangkat sekarang?" kata Anisa sembari menghampiri sang ibu mertua yang tengah mengobrol.


"Iya, sekarang saja, itu wadahnya! Ibu antar ke depan, Mang Pei sudah menunggu." Bu Hajah Bella beranjak dari duduknya lantas berjalan yang diikuti oleh Anisa yang menjinjing tempat makan siang buat Pramana.


"Siapa dia Bu?" selidiknya Anisa.


"Mang Pei, itu sopir kami," sahutnya sang ibu mertua sembari menoleh ke samping di mana mantunya berjalan.


"Mang, anterin Anisa ya ke kantornya Pramana. Dan tungguin dia sampai pulang lagi. Lagian dia belum makan," ucapnya Bu Bella kepada Bang Pei yang sudah berada di dalam mobil tepatnya di belakang kemudi.


"Ooh, siap Nyonya! Mamang siap antar dan akan mengantar ke manapun Neng Anisa pergi." balasnya Mang Pei.


Kini Anisa sudah berada duduk dalam mobil dan sebelumnya menyimpan dulu wadah makanan buat Pramana. "Nisa pergi dulu ya, Bu. Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam hati-hati ya? mang Pei titip Anisa ya! jangan ngebut di jalannya, yang pelan aja yang penting selamat!" pesan Bu Bella sembari melambaikan tangannya ke arah Anisa.


Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, menuju sebuah kantor yang menjadi tempat kerjanya Pramana.


"Jauh sih nggak Neng, paling sekitar 25 menitan!" jawabnya mang Pei sembari tetap fokus menyetir.


"Oh nggak begitu jauh juga ya!" sambungnya Anisa sembari melihat-lihat keluar jendela, di mana jalanan termasuk ramai dengan roda-roda besi lainnya.


"Nggak terlalu jauh dan sebentar lagi juga sampai," Tambahnya mang Pei sembari membelokan mobilnya memasuki sebuah parkiran yang bagian staff. Di depannya sebuah gedung pencakar langit.


"Apakah di sini kantornya?" Anisa mengedarkan pandangan ke arah gedung tersebut.


"Iya, Neng. Ini kantornya!" mang Pei langsung keluar dan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu Buat Anisa.


"Terima kasih Mang! Oya Mang, apakah setiap hari pak Pram di anterin makan siang?" tanya Anisa sambil turun membawa wadah makanan buat Pramana.


"Iya Neng tiap hari, dianterin makanan, tapi kadang nggak juga sih. Kalau seandainya den Pram nya ke luar kota, he he he ..." jawabnya mang Pei.


"Di Mamang bisa aja! ya iyalah ... kalau dia ke luar kota. Emang siapa yang mau makan!" Anisa mengulum senyumnya.

__ADS_1


Namun sebelum melanjutkan langkahnya, Anisa kembali melihat ke arah samping di mana mag Pei berdiri di dekat mobilnya. "Emang kantornya lantai berapa, Mang?"


"Oh iya, kantornya lantai 10 Neng tanyain saja cp Pramegah." jawabnya Mamang Pei sembari menunjuk ke arah seorang security yang langsung menghampiri.


"Masuknya sama pak security ini biar nggak ada yang ganggu! Neng itu terlalu manis nanti banyak semut yang yang mengerumuni." Kata Mang Pei sambil menunjuk ke pak security dengan ibu jarinya.


"Emang ini siapa Mang?" tanya pas security. Melihat ke arah Anisa dan mang Pei bergantian.


"Iih pak security tidak tahu ya? ini teh istrinya den Pram. Yang masih hangat-hangatnya!" jawabnya mang Pei.


"Oh ini istrinya bapak, ya ... nggak tahu lah! saya kan kemarin nggak sempet datang. Istri saya sedang lahiran!" sambungnya pak security.


"Terus gimana lahirannya lancar? Semoga lancar atuh ya!" ucap mang Pei kepada security.


"Alhamdulillah! makanya saya bisa masuk kerja hari ini. Ya sudah saya akan mengantar Ibu dulu!" pak security mengangguk dan berpamitan. Lantas mengajak Anisa untuk memasuki gedung tersebut.


"Mang, aku pergi dulu ya tungguin?" Anisa menatap mang Pei lalu mengikuti langkahnya pak security yang berjalan melipir di antara kendaraan-kendaraan yang berjejer di sana.


Anisa terus membawa langkahnya mengikuti langkah pak security, yang akan membawanya ke salah satu ruangan Pramana.


Para staf dan karyawan yang kemarin datang dan mengenali Anisa sebagai istri Pramana, mengangguk hormat begitu pun Anisa mengulas senyum ramahnya kepada mereka semua! sampai akhirnya pak security menunjukkan sebuah ruangan. yaitu ruangannya Pramana.


"Oh makasih ya pak? Terima kasih sudah diantarkan!" lirihnya Anisa kepada orang tersebut, kemudian dia mengetuk pintu ruangannya Permana.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamu'alaikum?" Anisa mengucap salam sembari mengetuk pintu, sebenarnya dia bisa langsung mendorong handle pintu tersebut, namun tidak dilakukan karena masih merasa risih.


"Bapak Pramana nya sedang keluar ada meeting, tapi sekitar 5 menit lagi juga pasti kembali!" kata seorang wanita yang duduk di meja sekretaris. "Dan Ibu silakan saja masuk!"


Wanita tersebut langsung berdiri dan membukakan pintu ruangan itu, menyilakan Anisa untuk masuk ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like comment dan subscribe-nya ya makasih.


__ADS_2