Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Kenangan


__ADS_3

"Emangnya si Pram sedang membakar apa? kok main api segala?" tanya sang ibu mertua sambil melirik ke arah Anisa.


"Sepertinya Pram sedang membakar kenangan-kenangan nya bersama sang kekasih, Bu ..." Jawabnya Nisa sembari merindukan dirinya di kursi meja makan.


"Oh ... Baguslah. Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Sudah sewajarnya Pram melupakan masa lalunya itu." Ujar Bu Bella sambil menuangkan air ke dalam beberapa gelas.


Anisa mengatupkan bibirnya, terdiam tidak berkata-kata lagi, entah apa yang sedang dipikirkan saat ini? yang jelas tangannya mengambil dua piring untuk Pram dan juga dirinya.


"Nisa jangan khawatir, Pramana itu seorang yang bertanggung jawab, dia tidak akan lari dari tanggung jawabnya sebagai suami." Tiba-tiba Ibu Bella bisa bicara seperti itu.


"Kenapa Ibu bilang seperti itu? aku nggak memikirkan apapun kok." Anisa merasa heran dengan ucapan Ibu mertuanya seolah dia sendiri memikirkan sesuatu yang lain.


"Nggak ... Ibu cuman khawatir aja, Anisa berpikir yang macam-macam tentang Pramana bersama kekasihnya itu!" ralatnya Bu Bella.


Pramana yang berada di belakang rumah, sedang membakar semua kenangan nya bersama Adisty, seperti foto, baju. Topi pemberian dari Adisty. Semua dia bakar hingga tak tersisa.


Sorot matanya setuju ke arah api yang membakar membakar semua kenangan yang pernah ada, walaupun dalam hatinya dan dalam memorinya masih terbayang, masih lekat di ingatan. Bertahun-tahun bukanlah waktu yang sedikit untuk menjalin sebuah hubungan yang penuh kasih dan sayang.


Harus hancur karena keegoan salah satu pihak. Sehingga kisah asmara yang telah lama dibina harus terpisah begitu saja. Ikatan janji yang pernah terucap memudar tak dapat digenggam! puing-puing yang terbangun bertahun-tahun dibina harus hancur dalam satu hari.


Pram. Melamun begitu anteng memandangi kobaran api yang memusnahkan kenangan-kenangan nya dengan Adisty. Seorang wanita yang pernah sangat dia cintai.


"Lama banget sih, kan belum makan juga," suara itu tiba-tiba terdengar dari belakang Pram.


Pramana menoleh ke arah belakang, di mana Anisa tengah berdiri sambil memegangi piring dan gelas.


"Kan belum habis semuanya, nanti tersisa malah banyak sampahnya." Jawabnya Pram dengan suara pelan.


"Ya sudah, kalau gitu makan dulu. Ini kebawa kan!" Anisa berjalan mendekati Pramana kemudian duduk di sampingnya memegang piring yang berisi makan malam buat sang suami.


"Kamu udah makan belum?" tanya Pramana sembari melirik ke arah Anisa.


"Belum!" jawabnya Anisa seraya menggelengkan kepalanya.


Kemudian Pramana mengambil sendok yang berada di atas piring, lalu dia menyendok kan makan lalu kemudian di arahkan ke mulu Anisa. 'Suami yang baik ... adalah mendahulukan istrinya dan menomor dua kan dirinya sendiri."


"Emangnya kenapa?" Anisa merasa penasaran.


"Istri itu menjadi tuan putri di antara keluarganya, dia rela memilih masuk ke dalam kehidupan seorang laki-laki bahkan keluarganya yang lain, dan meninggalkan posisi dirinya dari seorang putri di rumah sendiri. Jadi sudah sewajarnya seorang suami mendahulukan kebahagiaan istrinya." Jawabnya Pram.


Setelah menyuapi sekitar dua sendok ke mulutnya Anisa, kini giliran Anisa menyuapi Pramana yang akhirnya mereka makan satu piring berdua dan itu menjadi pemandangan yang indah bagi orang-orang yang sedang berada di dalam dapur.

__ADS_1


"Wikwiwh ... So sweet nya." Andre tersenyum dan bersiul melihat ke arah luar, di mana Anisa dan Pramana sedang makan sepiring berdua saling menyuapi juga.


"Jadi iri deh rasa ingin jadi pengantin lagi ha ha ha ..." Renita tertawa.


"Sebagai orang tua ... kami ikut bahagia dengan kebahagiaan anak-anak kami, Pram dan Anisa. Semoga rumah tangga nya langgeng dan terus saling menyayangi satu sama lain," ucapnya Bu Bella sambil melirik ke arah suami yang mengangguk.langsung


"Ya sudah, kita mau pulang ah sudah makan kok, yo Sayang? udah kenyang ini. SMP, selesai makan pulang?" ajak Andre kepada istrinya.


"Ayo sayang. Kita SMP saja, selesai makan pulang ya? nanti di rumah langsung tidur dengan nyenyak, kerena kita sudah kenyang." Timpal nya Renita sambil menyambar tas nya.


Ibu Bella dan Pak Lukman saling melepas senyuman melihat putra dan mantunya disebut. "Ya sudah ... hati-hati ya!


"Iya, Bu ... kamu pasti hati-hati dan jangan kawatir." Andre mengangguk.


"Padahal menginap saja biar besok pagi kalian baru pulang." Tambahnya Bu Bella


"Nggak ah, biar kami pulang saja! kalau menginap di sini nanti tergoda dan pengen ikutan sama pengantin baru he he he ...' Andre menggeleng.


"Aish ... dasar mudah tergoda!" ucapnya Renita sambil sedikit mencubit pinggangnya sang suami.


Renita dan Andre pun berpamitan kepada kedua orang tuanya, namun dia tidak pamitan kepada Pram juga Anisa, takut terganggu katanya.


Mereka berdua berjalan menuju pintu utama. Melintasi teras mendekati mobilnya yang terparkir cantik di pojokan halaman.


"Aku sudah kenyang, Bu ... nggak tahu Anisa!" Pramana menoleh pada sang istri yang membawa piring kosong dan langsung di bawanya ke dalam wastafel.


"Nisa sudah kenyang juga, Bu ..." jawabnya Anisa sembari mencuci piring bekas semua orang yang sudah terkumpul di wastafel.


"Neng, biar Bibi aja yang nyuci piring. Barusan bibi mengerjakan yang lain dulu, itu biar aja Bibi yang nyuci semuanya!" pinta bibi kepada Anisa agar tidak mencuci perabotan yang ada di dalam wastafel tersebut.


Anisa tersenyum dan diarahkan kepada bibi. "Tidak apa-apa bi ... biar aku selesaikan semua dan bibi lanjutin aja kerjaan yang lain, tuh meja belum diberesin. Soal mencuci piring biar aku aja."


"Em ... Tidak apa-apa Neng mencuci sendiri?" bibi menatap datar ke arah Anisa.


"Tidak apa-apa, Bi ..." Anisa menggeleng.


Pram berdiri di dekat pagar tangga memandangu ke arah Anisa yang sedang mencuci piring.


Lalu pandangan Pram mengalih pada sang bunda. "Abang dan kak Renita kemana, apa sudah pulang?"


"Sudah, baru saja. Mereka tidak berpamitan pada mu, karena takut mengganggu katanya." Bu Bella menoleh pada arah luar.

__ADS_1


"Ooh, kenapa gak menginap saja," tambahnya Pram.


"Nggak, mereka memilih pulang saja," sahutnya Bu Bella sambil ngeloyor ke ruang tengah dimana suaminya ada di sana.


Anisa selesai mencuci piring lalu membersihkan tangan dan melap nya. Berjalan mendekati Pram yang mengulurkan tangannya.


Melihat Pram mengulurkan tangan. Langsung saja Anisa memberikan tangnya itu pada Pram.


"Sudah mencucinya" gumamnya Pram.


"Sudah!" Jawa ya Anisa.


Pram menuntun tangannya Anisa naik ke lantai atas. Anisa sendiri tampak menunjukan wajah yang malu-malu, keduanya berjalan menuju kamarnya Pram yang kini mutlak menjadi kamar bersama.


Anisa berdiri di dekat tempat tidur. Sementara Pramana membuka kaosnya dan bersiap berbaring. Menoleh pada Anisa yang masih berdiri dan tampak ragu-ragu untuk mendekati tempat tidur.


"Aduh, jantung ku kok berdebar begini sih? Padahal ini bukan yang pertama tidur bersama dia. Tapi kok saranya berbeda dan menakutkan, dia kan garang!" Batinnya Anisa sambil menatap kosong ke arah lantai.


Anisa terkesiap dan hampir saja memekik ketika tubuhnya di gendong ala bridal style oleh Pram dan melayang di udara lalu di baringkan di atas tempat tidur.


Dengan refleks Anisa menutup mulut nya agar tidak terdengar suaranya keluar ruangan. Manik matanya melihat ke arah Pram yang berada di atas tubuhnya dengan tatapan yang tampak aneh.


"Ja-jangan Pram. A-aku ... lagi masa nifas, jangan-jangan macam-macam!" suara Anisa terbata-bata serta tatapan yang sendu.


Tangan Pram membelai kening dan menyingkirkan anak rambutnya, lalu turun mengelus pipi. Suasana begitu hening tiada terdengar suara apapun kecuali suara deru nafas dan detiknya jarum jam dinding yang memecah keheningan.


Anisa benar-benar dibuat spot jantung, dia was-was. Cemas, dan takut kalau Pram menuntut lebih pada dirinya.


"Tidak perlu cemas begitu, aku nggak akan minta lebih kok ... aku hanya akan minta yang wajar-wajarnya aja." Suara Pramana dengan lirih serta tatapan yang tidak pernah beralih dari wajah Anisa.


Tapi bagaimanapun Anisa tetap merasa cemas mana belum berpengalaman lagi. Perkataan dari sang kakaknya pun, Aisyah yang tidak secara detail dan sedikit membuat Anisa kebingungan harus gimana?


Apalagi semakin kesini, Pramana semakin berani untuk menyentuhnya! apa yang dia suka tidak mau dilarang. Apalagi saat Pram traveling di pegunungan yang tinggi dan menikmati indahnya suasana.


Pramana itu ternyata keras kepala, dia tidak mau dilarang! apapun yang dia mau harus tercapai. Tetapi dia punya batasan sendiri dia juga mengerti dan memahami keberadaan Anisa. Dan pada akhirnya Anisa pun mulai menikmati dan membiasakan diri memberikan apa yang Pram sukai dari dirinya.


Malam pun semakin larut. Dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.40 dan mereka berdua sama sekali belum tidur. Walaupun mata ini terasa ngantuk, namun Anisa nggak bisa memejamkan nya.


Selalu terganggu dengan aktivitasnya Pramana yang tidak membiarkan barang sedikitpun dia memejamkan mata ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Terus dukung aku ya ... makasih atas like dan komen nya.


__ADS_2