Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Merindukan mu


__ADS_3

Kepala Pramana membungkuk dan mengarah, mendekat ke wajah Anisa. Namun sudut mata Anisa melihat kedatangan sang Bunda sehingga dia buru-buru menepuk tangan Pramana seraya berkata. "Ada bunda."


Pramana langsung menjauhkan kepalanya dan otomatis tangannya pun melepaskan kedua pinggang Anisa dan berbalik pada sang ibu mertua. "Bunda dari mana?"


"Bunda habis dari beli bubur dan ini buat Anisa dan ... satu lagi buat kamu, ayo dimakan sama-sama mumpung masih anget," kata Bunda Farida Seraya menyimpan beberapa kotak bubur di meja.


"Oh ... makasih ya Bunda?" Pramana mengangguk lalu berjalan menghampiri meja, duduk di sofa dengan tangan mengambil sebuah kotak bubur.


Melihat Pramana sudah duduk di atas sofa, Anisa pun mendekati sang bunda dan duduk di dekatnya. Ketiganya sama-sama menikmati sarapan bubur yang Bunda Farida bawakan.


Selesai sarapan Pramana pun langsung menemui dokter untuk mengurus semua kepulangan Anisa.


"Assalamu'alaikum ... kalian sudah siap!" tanya ibu Bella yang baru saja datang bersama suaminya dan langsung menghampiri besan dan mantunya.


"Wa'alaikum salam ... Sudah, kami tinggal pulang saja cuman ayahnya Anisa belum datang katanya masih di jalan!" jawabnya Bunda Farida.


"Oh ... Begitu. Emangnya yakin kalian nggak ke rumah dulu? Anisa mau langsung pulang aja ke tempat Bunda?" Tanya sang ibu mertua kepada Anisa yang tampak terdiam.


"Iya, Bu ... Anisa langsung saja ke tempat Bunda! mohon doanya ya? Bu biar Anisa cepat sembuh dan Anisa akan segera kembali!" Anisa memeluk ibu mertuanya yang kasih sayang dan perhatiannya dia rasakan.


"Tentu kita semua mendoakan semoga kesehatan Nisa cepat pulih dan segala bisa kembali ke rumah kita. Iya kan Bu?" suara pak Lukman sembari menoleh pada sang istri yang sedang memeluk Anisa.


"Iya tentu ... itu, dan sebenarnya ... kamu tidak ingin, Nisa pulang ke tempat keluarganya, karena kami pun insya Allah bisa menjaga dan mengurus Anisa. Apalagi Pramana pasti kehilangan Anisa!" tambahnya Ibu Bella.


"Kalau saja Pramana tak ingin kehilangan aku, kenapa nggak bilang dia? diam-diam saja! dan dia juga malah mengizinkan aku ikut bunda!" batinnya Anisa tanpa diungkapkan dengan kata-kata.


Tidak lama kemudian Pak Joni pun datang. "Assalamu'alaikum, kalian sudah lama di sini!" suara Pak Joni sembari melirik ke arah besannya.


"Kami baru datang setengah jam yang lalu!" jawabnya Pak Lukman kepada Pak Joni.

__ADS_1


"Gimana, apakah sudah siap?" selidiknya Pak Joni yang diarahkan kepada sang istri dan Anisa.


"Soal siap ya siap, Yah ... cuman nggak tahu Pramana masih mengurus administrasinya kali soalnya dia belum kembali dari tadi," jawabnya sang istri.


"Oh ... berarti tunggu aja lah," kata Pak Joni sambil mendudukan dirinya di sofa dekat Pak Lukman.


"Sebenarnya sih saya pribadi dan istri, Anis tetap saja bersama kami. Karena bagaimanapun suaminya kan ada dan kami juga pasti akan menjaga Anisa! tapi kalau memang mau kalian begitu! ya tidak apa-apa. Dan mungkin sesekali kami akan berkunjung ke sana!" ujar Pak Lukman dengan nada serius, kalau dia nggak terlalu mengijinkan kalau Anisa dibawa Pak Joni pulang.


"Iya sih ... saya pribadi juga memang nggak masalah dimanapun Anisa tinggal, yang penting dia sehat tapi bagaimanapun mungkin ibunya pengen lebih menjaga Anisa sampai dia sehat benar-benar dan setelah itu silakan Anisa di bawah lagi, apalagi ... kalau Pramana mau ngulang ijab kabul dengan Anisa!" Balasnya Pak Joni sembari menganggukan kepalanya.


"Atau, Yah ... gimana kalau nanti ijab kabul yang kedua diadakannya di rumah kita saja--" bunda Farida menggantungkan perkataan sambil menatap suaminya.


"Nggak bisa, Bu ...!" Pak Joni langsung memotong perkataan sang istri.


"Nggak bisa gimana, Yah? kok nggak bisa?" Bunda Farida mengurutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud sang suami.


Anisa pun langsung menoleh pada sang ayah dan Bundanya bergantian.


"Saya sih tidak masalah ... mau di mana-mana juga, tapi kalau menurut kamu Jon begitu nggak apa-apa juga, ijab khabul di rumah saya. Nanti resepnya di sana nggak apa-apa! di mana saja yang penting lancar dan selamat! Itu saja yang saya harapkan, apalagi mereka berdua bahagia. Kami pun akan ikut bahagia." Ungkapnya Pak Lukman dengan nada tenang dia sih tidak ada masalah mau di manapun diadakannya ijab kabul maupun resepsi.


"Saya juga sama seperti suami saya, tidak masalah mau di manapun mau di tempat saya oke. Di tempat kalian juga boleh ... yang penting putra-putri kita bahagia itu saja!" tambahnya Bu Bella sembari melihat pada Pak Joni dan Bunda Farida.


Sejenak bunda Farida terdiam untuk beberapa saat, kemudian dia berkata. "Ya baiklah ... gimana saja baiknya kalau memang itu yang terbaik ya ... saya juga setuju lah!" Bunda Farida menganggukan kepalanya seraya melihat ke arah pintu yang terbuka dan Pramana pun masuk dengan membawa beberapa kertas.


"Kalian sudah berkumpul sedang meeting apa nih?" tanya Pramana sambil mendudukan dirinya diantara Pak Joni dan Pak Lukman.


"Kami sedang membicarakan mu ... gimana nanti ijab dan kabul mau di mana? dan sepertinya akan diadakan di rumah kita seperti kemarin dan resepsinya mau di rumah jeung Farida! tapi kalau kamu mau mengadakan resepsi di rumah kita juga nggak apa-apa jadi double. Oh iya setelah resepsi di rumah pak Joni, jeung Farida. Nanti kan Anisa dibawa pulang ya ke rumah kita? kita akan adakan pesta mulung mantu kan, Yah?" ucapnya Bu Bella sembari melirik sang suami.


"Iya itu betul, kemarin kan kita nggak ada acara mulung mantu dan sekarang apa salahnya? kita syukuran mulung mantu dan mengundang teman-teman yang kemarin nggak sempat ke undang." Balasnya sang suami sembari mengangguk kan kepalanya pelan tanda mengiyakan perkataan dari sang istri.

__ADS_1


"Oh iya. Gimana Pram sudah selesai? dan Anisa bisa pulang sekarang?" tanya Pak Joni mengalihkan pandangan kepada Pramana.


"Sudah, Yah. Semua sudah selesai dan Anisa bisa pulang hari ini juga." Sahutnya Pramana sembari melitik Anisa yang kebetulan sedang melihat ke arah dirinya.


Setelah itu mereka pun bersiap untuk keluar dari ruangan yang berapa hari ini Anisa tempati.


Pak Joni lebih dulu membawa tas barangnya Anisa, di susul oleh sang istri. Pak Lukman dan Bu Bella.


Sebentara Anisa masih berada di dalam mengenakan jaketnya, tas kecil miliknya yang berisi ponsel dan dompet dijinjing oleh Pramana.


"Apa kamu nggak akan ke kantor pagi ini?" tanya Anisa dengan melirikan sudut matanya ke arah Pramana yang berdiri dekat jauh pintu.


"Setelah ini aku ke kantor. Oh iya, nanti sore aku mau berangkat ke luar kota jadi aku nggak bisa menyusul mu hari ini ke tempat Bunda dan juga nggak bisa mengantarmu ke sana."


"Oh nggak apa-apa kok! nggak perlu diantar, lagian kamu harus ngantor juga! ini aja dah kesiangan," ucapnya Anisa sembari mengayunkan kakinya.


Pintu yang mulanya terbuka entah kenapa Pramana tutup dengan rapat menatap ke arah Anisa dengan sangat lekat.


Anisa sempat merasa heran kenapa pintunya ditutup orang mereka berdua mau keluar kok.


Kedua kaki Pramana melangkah mendekati di mana Anisa berdiri dan dengan tiba-tiba pria itu memeluk tubuh Anisa, sesuatu yang tidak pernah Anisa juga sebelumnya.


"Aku akan merindukan mu, perhatian dan keras kepalamu itu," kata-kata itu yang keluar dari mulut Pramana barusan, entah sadar atau tidak. Membuat tubuh Anisa semakin mematung.


"Sepulang dari luar kota! aku akan main ke tempat mu!" Pramana kembali berucap sementara Anisa tetap saja mematung tak tahu harus berkata apa. Yang jelas dia pun akan merindukan Pramana di sana.


Lama kelamaan tangan Anisa pun perlahan bergerak dan membalas pelukan Pramana, memeluk erat punggung pria yang beberapa bulan ini pernah mengucapkan janji suci dan menjadikannya seorang Istri ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen juga dukungan lainnya. Makasih


__ADS_2