Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Tampan sih


__ADS_3

Karena perjalan Bandung hanya sejari saja. Saat ini pun Anisa dan Pram sudah berada di mobil dalam perjalanan ke kota asal.


Anisa memandangi suaminya yang sedang menyetir. Di dalam hatinya bergejolak dan bertanya-tanya. Apakah sepulang dari Bandung Pramana akan menemui Adisty? mantan kekasihnya yang katanya sekarang sedang di rumah sakit, dalam perawatan dokter karena mengalami depresi ringan.


Dan Anisa sudah mendapatkan beritanya langsung dari Deni, Deni sendiri yang sudah menemukan Adisty yang sedang mencoba untuk bunuh diri, lantas membawanya ke rumah sakit.


Tatkala ujung matanya Pramana menangkap sang istrinya yang lekat menatap dirinya, Ia pun langsung bertanya. "Ada apa sayang?"


"Nggak, nggak ada apa-apa cuman pengen memandangi nya saja!" Anisa mengulum senyumnya yang manis.


"Hem ... baru sadar ya, aku kan ganteng, tampan. Maco dan bersahaja ha ha ha ..." Pram menyentuh pipinya Anisa sekilas.


"Tampan sih ..." Anisa mengangguk sambil melepas pandangannya keluar jendela, di mana hari sudah bertambah gelap.


"Kita berhenti dulu ya, cari makan! kasihan istriku sepertinya sudah lapar nih, sudah pada demo tuh cacing-cacing di dalam perut. Ha ha ha ..." Pramana masih sempat-sempet nya menyentuh perutnya Anisa yang memang terdengar suara yang menandakan lapar.


Anisa memang marasa lapar, tapi dia tidak berani untuk meminta Pramana berhenti dan mencari rumah makan. Biar saja dia paka sendiri.


kepala bisa menoleh pada sang suami saya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "kamu juga nggak lapar?"


"Lapar, makanya pengen mencari restoran dulu. Kalau bisa sih yang dekat mushola!" balasnya Pram.


Anisa hanya mengeluhkan kepalanya sembari menikmati alunan musik kesukaannya yang Pramana sedang putar.


Lalu mereka terdiam dan memiliki masing-masing, begitupun dengan Pramana dia menjadi ingat pada Adisty yang berada rumah sakit.


Sampai segitunya dia ingin mencoba bunuh diri segala, hanya gara-gara dirinya. Terkadang terbesit dalam pikirannya Pram ingin menjenguk! tapi bila dipikir lagi. Dia harus pandai menjaga perasaan Anisa dan juga buat apa dia datang ke sana? jika hanya untuk menambah Adisty tidak bisa mop one pada dirinya.


Sehingga Pram, memutuskan untuk tidak menemuinya sama sekali. Pram pun meminta Deni agar tidak memberikan kabar tentang dia lagi, Deni pun harus bisa menjaga perasaan anisa sebagai sepupu nya. Walaupun dirinya tidak akan tergoda lagi sama Adisty.


Dan entah apa maksudnya Deni yang memberi tahu dirinya tentang Adisty. Tapi biar lah yang penting dirinya teguh dalam mengambil keputusan yang ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Anisa.


Mobil pun berhenti di depan restoran dan di sampingnya ada mushola. Pram bergegas turun duluan dan membukakan pintu buat sang istri yang matanya melihat ke arah sekitar.

__ADS_1


"Kita mau ngapain dulu, Yank?" Selidiknya Anisa sambil turun dari mobilnya.


"Maunya gimana? mau makan dulu atau ... gimana?" Pramana malah tanya balik sambil menguncikan pintu dengan remote nya.


"Terserah saja baiknya gimana." Anisa ngikut saja pada Pram.


"Oke," Pram membawa Anisa ke mushola terlebih dahulu.


Selepas itu, barulah mereka mendatangi restoran dan memilih duduk di pojokan yang berada dekat jendela. Pram memanggil pelayan dan memesan makanan yang cepat saji.


"Saya pesan kentang sama steak daging. Satu porsi sup buntut dan banyakan kentang nya juga."Pram juga melirik pada sang istri yang masih melihat daftar menu.


"Aku juga sama dia pesannya, cuma ... kentangnya dikit saja. minumnya es jeruk dan air putih." Anisa memberikan daftar menu pada si mbak yang mencatat pesanan costumernya.


"Baik, silakan menunggu sebentar ya!" mbak itu mengundur diri untuk mengambilkan pesanan.


"Sayang. tadi di Bandung ... kita tidak melakukan apa-apa ya? tidak melakukan sesuatu yang signifikan. Padahal kita sudah sewa hotel, tapi tidak kita gunakan dengan baik." Ungkap Pram sambil menoleh pada sang istri yang merapikan kerudungnya.


"Nggak juga sih ... cuma merasa sayang saja, kamar nya tidak kita gunakan barang sebentar." Tambahnya Pram sambil mesem.


Tidak menunggu lama, pesanan pun datang dan lantas keduanya menikmati makannya dengan nikmat dan lahap.


Setelah menyudahi makannya. Mereka pun langsung cabut dari tempat tersebut, kembali meneruskan perjalanannya menuju pulang.


Pram menggandeng tangan Anisa dengan mesra. Membukakan pintu buatnya. Lalu Pramana bergegas berjalan mengitari mobilnya menuju pintu belakang kemudi.


Brugh.


Keduanya memasang bel safety terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalannya yang masih sekitar setengah perjalanan.


Anisa duduk bersandar ke belakang, pasang matanya berasa ngantuk sekali. Mungkin kekenyangan menjadi naik dan menjadi ngantuk berat.


"Sayang?" panggilnya Pram dengan lirih, namun setelah beberapa saat pun tidak ada respon dari sang istri.

__ADS_1


Kemudian Pramana melirik sekilas dan ternyata istrinya sedang tidur, membuat Pramana mementingkan bibirnya.


"Hem ... tidur bukannya nemenin suaminya." Tangan Pram bergerak mengarah pada kepala Anisa yang lalu ia usapnya dengan lembut.


Setelah beberapa puluk kolo meter. Pramana menepikan mobilnya dan berniat untuk beristirahat sebentar. Netra matanya berasa lelah dan menolah pada sang istri yang tampak pulas.


Pram menatapnya dan mendekati sang istri sambil mengembangkan bibirnya. "Hem ... pasti sedang bermimpi sehingga bibir nya tersenyum-senyum begitu."


Wajah Pram semakin mendekat dan mencium keningnya Anisa. Dasar si junior tidak pandang tempat dan situasi. Main on saja. "Ach sial, ngapain sih bangun? sudah tidur saja. Ini bukan situasi yang aman dan nyaman. Ngerti napa! ini perjalanan, mana mau dia di ajak begituan di sini! ach ada-ada saja."


Kemudian Pramana memutuskan untuk melanjutkan kembali menyetirnya agar segera sampai ke tempat tujuan. Dan nanti mau paa saja bebas.


Setelah mobil kembali merayap. Anisa bergerak dan menoleh kanan dan kiri. Lalu mengarahkan pandangannya pada Pram yang masih menyetir.


"Masih di mana ini, Yank?" suara parau nya Anisa bertanya sambil mengarahkan wajahnya pada sang suami.


"Masih di perjalanan sayang, mungkin tinggal seperempatnya dari satu km yang kita tempuh ini." Jawabnya pram sambil melirik sekilas. Lalu kembali mengalihkan pandanganya ke arah depan.


"Ooh, maaf ya! aku ketiduran. Huam ..." Anisa menutup mulutnya yang menguap. Ngantuk banget.


"Nggak pa-pa sayang, aku ngerti kok. Cuma nanti saja, pas di rumah aku akan meminta sesuatu padamu, he he he ... di pijat juga." Pram senyum-senyum sendiri.


"Hem ... boleh, nanti aku lihat kok." Anisa mengangguk pelan.


Mobil Pram semakin melesat pergi begitu cepat. Bak anak panah yang terlepas dari busurnya. Saking cepatnya.


Anisa berpegangan pada tangan Pram bagian atas. Merasa ngeri atas kecepatan yang mobil yang Pram kendarai.


"Jangan terlalu cepat, aku ngeri. Takut." Gumamnya Anisa tampak pucat, ketakutan di kala mobil Pram yang dengan kecepatan sangat tinggi melesat membelah jalanan, di antara beberapa mobil yang berlalu lalang ....


.


Jangan lupa gunakan jempolnya untuk meninggalkan jejak. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2