
"Makan dulu Pram! gimana kerjanya hari ini lancar?" ucap sang ibunda kepada Pramana yang baru saja menapakkan kakinya di lantai dasar.
"Alhamdulillah," jawabnya Pramana sembari menarik kursi yang akan dia duduki.
"Syukurlah kalau semuanya lancar dan baik-baik saja."Tambahnya Pak Lukman.
Sementara Anisa mengambil piring buat Pramana. lalu menuangkan nasi, ayam gulai dan sup buntut.
Setelah mengambilkan untuk Pramana, barulah Nisa mengambil kan piring untuk dirinya sendiri, menuangkan nasi, sayur sambal dan telor. Menarik kursi sebelahnya Pramana, barulah menikmatinya makannya.
"Oh ya Pram, mulai malam ini Anisa tidurnya di kamar depan tidak tinggal satu kamar lagi, bagaimanapun pernikahan kalian belum sah dimata agama karena Anisa sedang berbadan dua. Nanti kalau Anisa sudah melahirkan barulah kalian mengesahkan pernikahan ini dengan ijab kabul kembali!" ujarnya Pak Lukman sambil menatap putranya yang mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Bu Hajah Bella, Andre dan juga Renita hanya menatap ke arah
Pak Lukman dengan tatapan sangat serius.
Pram pun mengangguk. Lalu berkata. "Iya lakukan saja yang terbaik!"
Lalu mereka menikmati makan malam nya dengan nikmat dan sesekali di hiasi dengan obrolan yang hangat.
Selesai makan malam. Pram langsung masuk ke dalam kamar nya kembali dengan alasan ingin istirahat lebih cepat.
Sementara Anisa bantu-bantu beres-beres. Kemudian mengobrol dengan keluarga pak lukman dan Anisa tampak akrab dengan keluarga tersebut.
...--------...
Sudah hampir sebulan Anisa tinggal bersama Pramana hidup bersama keluarga Lukman.
Aktifitas Anisa setiap pagi. Yang Anisa lakukan buat Pram adalah melembutkan susu jahe dan mengurus pakaian kotor Pram sampai bersih dan rapi. Tapi hanya sebatas atas tempat tidur saja. Kerena kalau untuk membereskan ke lemari dia tidak berani.
Siang pun ketika jam makan siang. Anisa ke kantor untuk mengantar makan siang nya Pram mana.
Biarpun Pram suka melarang dan lebih baik supir saja yang mengantar. Namun karena perintah sang ibu mertua dan dia pun ikhlas, Anisa pun tidak perduli dengan larangan yang Pram lapaskan.
"Sudah kubilang jangan repot-repot mengantarkan makanan untukku segala, kalau mau antar sama sopir saja!" ucapnya Pram tanpa melihat ke arah Anisa yang berdiri di hadapannya. Pram tetap sibuk dengan kerjaannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa aku nggak merasa repot kok. Lagian aku nggak ada kerjaan!" jawabnya Anisa sembari mengedarkan pandangannya kembali ke arah foto Pram bersama Adisty.
Yang tampak tertawa lebar dan menggambarkan kalau mereka sangat bahagia. Sudah genap sebulan pernikahan! pernikahannya dengan Pramana dan yang terpajang di meja kerja masih juga fotonya Adisty bukan foto pernikahan dengan dirinya.
"Ada apa lagi masih mau berdiri di situ, pulanglah?" ucapnya Pramana sembari melirik ke arah Anisa yang masih juga berdiri dan menghadapi foto dia bersama Adisty.
"Oh iya, tapi kata Ibu aku nggak boleh pulang dulu sebelum kamu makan, dan wadahnya harus aku bawa lagi!" jawabnya Anisa seraya sedikit terkaget-kaget mendengar suara Pramana.
"Ck. Kau itu begitu menurut ya sama ibu? padahal dia ibuku!" gumamnya Pramana sedikit berdecak.
"Emangnya kenapa? dia juga menjadi ibu ku, bukankah syurga itu berada di telapak kaki Ibu dan kita harus hormat kepada beliau!" sahutnya Anisa sembari menunduk.
Sejenak Permana menatap ke arah Anisa yang wajahnya lebih banyak menunduk ketimbang melihat ke arah dirinya! kemudian dia mengambil wadah makan siang yang dibawakan Anisa barusan.
Pramana langsung membukanya dan ketika Pramana mau makan.
"Apa tidak sebaiknya kamu cuci dulu tangan mu, tangan mu kan sangat kotor biarpun tidak terlihat. Lagian di sini Emangnya ... nggak ada ... nggak ada sanitizer ya?" ucapnya Anisa sembari celingukan.
Kebetulan kedua menikmatinya melihat ada sanitizer di atas lemari buku di ujung sana. Sehingga dia dengan cepat menghampirinya dengan mengambil sanitizer lalu dia bawa ke hadapan Pramana.
Pramana pun menurutinya, sebenarnya ... dia bisa ke toilet karena di ruangan itu juga ada kamar mandi. Namun dia lagi mager saja untuk beranjak dari duduknya.
"Makasih?" gumamnya Pramana kemudian dia melanjutkan niatnya untuk makan.
Sedangkan Anisa dia mendudukan dirinya di atas sofa. menunggu Pramana yang sedang makan sambil membuka buku yang ada di sana.
Tiba-tiba Pramana tersedak dan terbatuk-batuk, melihat itu Anisa dengan gegas berdiri mengambilkan dan membuka botol air mineral yang dia berikan kepada Pramana pun langsung mengambil dan meneguk air tersebut.
"Hati-hati dong makannya! jangan terburu-buru juga, jadinya tersedak gitu!" ucapan Anisa dengan sangat lirih menatap cemas pada Pramana.
Pramana pun kembali meneruskan makannya.
"Pram, aku bawakan makan siang nih untuk mu! dan dijamin pasti kau suka deh!" tiba-tiba suara itu muncul di ruangan Pramana, seorang wanita yang memakai pakaian formal berwarna hitam coklat, dengan rambut disanggul tubuhnya tinggi, parasnya lumayan cantik.
Dengan tangan yang menjinjing kantong yang berisi makanan, dia menjadi mematung ketika melihat Pramana sedang bersama Anisa.
__ADS_1
Anisa sangat heran dengan kedatangan wanita itu dan dalam hati bertanya-tanya siapakah dia? kok sepertinya akrab banget dengan panggilannya pun tampak mereka begitu dekat.
Anisa melirik ke arah Pramana yang kebetulan sedang melihat ke arah dirinya. Sejenak pandangan mereka pun bertemu lalu detik kemudian Anisa mengalihkan pandangan ke arah wanita itu kembali, yang masih berdiri di depan pintu yang tiga langkah lebih dalam.
"Ehem. Aku sedang makan siang, lagi pula setiap makan siang! aku di bawakan dari rumah! jadi tidak perlu kamu repot-repot membawakannya untuk ku atau lain kali saja lah!" ucapnya Pramana yang di arahkan kepada wanita tersebut.
"Ya ... mubazir dong ... makanan ku," balas wanita tersebut dengan ekspresi wajah yang sedih.
"Biar makanan mu tidak mubazir, kasihkan aja sama orang lain biar dimakan! kalau aku sih nggak mungkin ini juga belum habis," kata Pramana sembari menunjuk ke arah makanannya yang memang masih tersisa belum dihabiskan.
"Hem ... dia siapa?" wanita itu mendekat dan menunjuk ke arah Anisa.
"Dia ..." Pramana melirik ke arah Anisa yang sedang menutup botol minum bekas dirinya.
"Emangnya wanita itu nggak ada di pernikahan kemarin apa? sehingga dia menanyakan siapa aku?" batinnya Anisa seraya menyimpan botol minum bekas Pramana di depannya pria yang nampak kebingungan untuk menjawab siapa dirinya.
"Aku sepupunya dan sebentar lagi aku mau pulang!" Anisa akhirnya mengeluarkan suaranya dan mengakui kalau dirinya hanya sepupu Pramana bukan istri.
Pramana terdiam mendengar perkataan dari Anisa, apalagi mengakui kalau Anisa sebagai istrinya Dia hanya diam saja.
Dengan diamnya Pramana membuat Anisa merasa kesal, ternyata untuk mengakui dirinya sebagai istri saja Pramana enggan atau sulit.
Dada Anisa terasa sakit, gondok banget! namun apalah daya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian tangannya menarik wadah yang kebetulan Pramana sudah selesai makannya, selanjutnya Anisa bergegas untuk pamitan.
"Aku pulang dulu, Assalamualaikum?" Anisa melirik ke arah wanita tersebut tanpa melirik ke arah Pramana, kemudian dia membawa langkahnya keluar dari ruangan kerja Pramana.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh." Jawabnya Pramana sembari kembali meneguk minumnya.
Sementara wanita itu hanya terdiam dan melihat langkahnya Anisa yang melintasi pintu ruangan tersebut. Lalu menoleh ke arah Pramana. "Jadi setiap siang dia datang ke sini. Untuk mengantarkan makanan gitu?"
Pramana menggerakkan kursi yang dia duduki lalu menyandarkan punggungnya seraya mengangguk. "Iya kira-kira seperti itu."
Wanita itu hanya mengembangkan kedua pipinya seraya menarik kursi yang ada di depan Pramana lantas duduk di sana ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan subscribe juga. Makasih.