Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Kapan buka puasa


__ADS_3

Saat ini Pram dan Anisa sudah berada di dalam kamar. Pram membuka kaos nya dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, sementara Anisa ke kamar mandi sebentar dan tidak lama kemudian dia kembali.


Anisa berjalan mendekati cermin rias lalu dia mengambil parfum dan body lotion yang ia aplikasikan pada kedua tangan dan kaki juga bagian leher. Menyemprotkan parfumnya ke bagian tubuh setelah itu barulah Dia berjalan menghampiri tempat tidur, di mana Pramana sudah berbaring terlentang.


"Ih jujur deh, aku geli sedari tadi ... kamu handukkan mulu pakaian celana pendek kek. Orang sudah disiapin juga!" Suara Anisa sambil berdiri di tepi tempat tidur menghadap ke arah Pramana yang sedang tidur terlentang tersebut.


Dengan kedua tangan yang ia lipat di bawah kepala, sehingga mengekspos bulu ketiaknya yang tidak terlalu lebat, Pramana menatap ke arah Anisa yang masih berdiri itu. "Emangnya kenapa ada larangannya, apa? lagian nanti juga di lepas lagi."


"Ih ... larangan sih nggak ada kali, cuman geli aja lihatnya ..." tambahnya Anisa kembali sembari menggeleng.


"Sudah ach, bobo sini." Pramana menepuk-nepuk kasur yang berada di sampingnya, agar Anisa berbaring di sampingnya dan dia merubah posisi tidurnya menjadi miring dan menghadap ke arah sana.


"Selimutnya pakai dulu ih, geli aku lihatnya. Jadi malu sendiri ..." Anisa menarik selimut agar Pramana memakainya.


"Ck. Kenapa sih Sayang mesti malu? aku kan punya kamu!" tangan Pramana menarik tangan Anisa yang sedang naik ke atas tempat tidur.


Sehingga brukg ... Tubuh Anisa langsung terbaring di samping Pram yang langsung memeluk nya.


Anisa pun menarik selimutnya agar dapat menutupi tubuh mereka berdua. Dia merasa geli sekali melihat Pram yang hanya handukkan saja.


"Sayang, kapan ya aku buka puasa? capek puasa terus, kepala aku udah pusing banget. Masih mending kepala atas saja, ini atas bawah he he he ..." gumamnya Pram sambil memeluk Anisa.


Anisa menggigit bahu Pramana yang merupakan sebuah gigitan kecil karena sayang. Kemudian berkata. "Emang kamu puasa? setiap hari juga makan!"


"Sayang ... bukan puasa itu, masa nggak ngerti sih ... males ah!" Pramana merubah posisinya menjadi terlentang kembali.


Bibir Anisa tertarik membentuk sebuah senyuman serta menatap ke arah Pramana yang tampak merajuk. Bikin Anisa merasa gemas pengen mencubit.


Kemudian Anisa menempelkan dagu di atas dada Pramana dengan wajah yang menghadap ke wajah pria itu. "Uuh ... Cuph, cuph ... harus sabar dong ... jangan suka merajuk begitu tidak baik."


"Habis nggak ngerti-ngerti sih!" Suara Pram dengan nada dingin, melirik dengan ujung mata.


Anisa menggerak-gerakkan jari jemarinya di atas dada Pramana menari-nari di sana. "Emangnya apa yang harus aku mengerti? Kan memang keadaannya begitu masa kamu nggak ngerti juga."


Bibir Pramana membentuk senyuman beserta tangannya memeluk kepala Anisa. "Aku ngerti kok Sayang ... cuman kadang nggak sabar aja, ingin segera merasakan gimana rasanya malam pertama! maksud aku bukan malam pertama sih!"


"Terima kasih atas perhatiannya." Anisa kembali mendongak menempelkan dagu di atas dada Pramana.


"Sayang, kenapa sih panggilannya belum berubah? di rubah dong ... biar lebih mesra yang lebih enak didengar!" ucapnya Pramana sembari membelai rambut Anisa yang panjang dan bergelombang terurai.


"Emangnya kenapa. Aku panggil kamu biasa aja, nggak lancang juga ya kadang merasa kaku sih." Anisa mengusap perut Pram yang sixpack bak roti sobek.


"Aku mau kamu manggil aku sayang atau apa gitu yang lebih mesra, aku dan kamu hidup bersama sudah berbulan-bulan, apalagi sekarang nggak ada lagi jarak di antara kita berdua!" Lirihnya Pramana sembari mengecup kening Anisa.

__ADS_1


"Em ... Panggilan apa ya? Aku jadi bingung!" Anisa mengerutkan keningnya.


"Ach." Pram merubah posisi tidurnya menjadi di atas Anisa dan seterusnya mencumbu wanitanya dengan penuh semangat.


Sehingga obrolan pun berakhir. Dengan sesuatu yang lebih intim.


Waktu terus berputar, malam semakin larut menambah keseruan bagi kedua orang yang sedang berpetualang, walaupun tidak sampai ke puncaknya. Sebab terhalang kabut tebal sehingga aktifitas pendakian pun dilarang.


Pagi-pagi buta Anisa sudah bangun terlebih dahulu, belahan membuka kedua matanya sembari menggeliat nikmat. Bibirnya tersenyum melihat ke arah pria yang berada di sampingnya tersebut tampak masih lelap.


Beberapa kali Anisa menusukkan jarinya pada pipi Permana yang sedikit berbulu halus seraya mengelusnya dengan lembut. "Yank ... bangun, bentar lagi subuh!"


Namun pria itu tetap bergeming tidak merespon suara Anisa yang parah dan tangannya yang terus mengelus pipi.


"Hei suami orang ... bangun? sebentar lagi subuh! nggak mau ah sekarang-sekarang ini kamu sering kesiangan dan gak ikutan subuh bareng!" gumamnya kembali Anisa dengan suara yang serak-serak basah khas bangun tidur.


"Eeh, kok suami orang sih? ya suami aku lah!" Anisa semakin mengembangkan bibirnya.


Jari jemari Anisa bergerak menyentuh hidungnya Pramana yang tampak merah merona, ekspresi wajah yang terus tersenyum Anisa memainkan jarinya di sana.


Tetapi Anisa tampak kaget ketika Pramana bangun dan langsung menjauhkan jarinya dari bagian wajah Pramana.


Kedua sudut bibir Permana tertarik ke samping, kedua matanya memicing melihat bidadari yang berada di depan matanya dia tampak cantik natural.


"Pagi juga ... bangun, sudah Tarhim tuh sekarang kamu sering kesiangan! ih jadinya nggak subuh berjamaah." Kata Anisa sambil duduk miring bersandar ke bantal.


"Nggak ah nggak sering juga, cuman kadang-kadang! Itupun bila semalam nya nggak, nggak itu ... Kurang tidur baru lah kesiangan." Pramana mendapatkan wajahnya ke wajah Anisa yang langsung memundurkan kepalanya.


"Bangun? mandi dulu sana? Nanti kesiangan," Anisa mendorong Dada Pramana agar menjauh dari wajahnya.


Pramana melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan sekitar 30 menit lagi pada waktu subuh. "Sebentar aja sayang biar aku sarapan--"


"Ha, sarapan? baru buka mata pengen sarapan? Nggak salah?" Anisa mengerutkan keningnya ketika Pramana minta sarapan yang baru saja membuka mata.


"Bukan itu sayang ... ih nggak ngerti deh!" Pramana menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya sampai tidak terlihat kepala pun.


"Ini apaan sih ... lepas! bersih-bersih sana ih, nanti kesiangan!" mulanya terdengar suara dari Anisa, namun lama-lama terasa hening dan sepi. Yang ada hanya pergerakan dari dalam selimut saja.


Kini Pramana, Anisa dan juga orang tuanya tengah menikmati sarapan. Anisa mengambil air minum untuk sang suami.


"Kan nanti kita harus fitting gaun pengantin. Biar nanti jelas kalau ada yang kurang lebihnya!" kata sang ibu kepada Pramana yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Oh iya, Bu ... nanti dari sini berangkat aja ke sana, biar aku nyusul aja dari kantor!" Jawabnya Pramana pada sang ibu.

__ADS_1


"Jadi kamu mau dari kantor langsung ke butik?" tanya sang ibu.


"Hooh, Bu ... Biar Pram nanti nyusul aja dari kantor langsung!" jelasnya Anisa.


"Iya menurut Ayah juga lebih baik begitu, dari kantor saja langsung ke butik. Jadi nggak harus balik lagi ke sini, sayang kan waktu!" timpalnya Pak Lukman setelah meneguk minumnya.


"Sayang. Aku pergi dulu ya sampai nanti ketemu di butik!" Pramana berdiri dan mencium kening Anisa setelah dia menyudahi sarapannya.


"Iya hati-hati!" Anisa mengangguk sembari memejamkan matanya disaat bibir Pramana menempel di kening.


Kemudian Anisa pun beranjak dari duduknya, merapikan jas Pramana lalu keduanya berjalan menuju ke teras.


"Berarti hari ini nggak ada makanan siang melayang ke kantor ya?" tanya Pramana sambil melirik dan menghentikan langkahnya di teras.


"Hem ... nggak ada lah ... kan aku langsung ke butik. Nanti aja makan dimana atau kamu makan di restoran!" Anisa menatap ke arah Pramana.


"Em ... Ck, gimana kalau nanti kita makan siang tapi berdua aja! jangan bilang-bilang sama yang lain, nanti kak Renita minta ikut. Kak Renita juga fitting kan hari ini--"


"Iya, tapi kok belum datang ya," jawabnya Anisa sambil melihat ke arah jalan.


"Mungkin sebentar lagi, diantar sama abang sekalian kerja. Oh iya terus punya Bunda sama Kak Aisyah gimana?" Selidiknya Pramana sembari merangkul pinggang Anisa.


"Mereka akan datang agak siangan katanya," balas Anisa kembali.


"Pokoknya nanti siang kita akan makan berdua saja. Tidak boleh ada yang mengganggu, siapapun!" Pram menggerakan jarinya di udara memberi tanda tidak boleh.


"Tapi Yank ... masa sih kita mau makan siang berdua saja, sedangkan mereka gimana? rasanya nggak enak kita ninggalin mereka. Kalau mau ... makan malam aja. Kalau nanti siang mendingan kita makan sama-sama, gimana? Gak enak soalnya kalau kita pergi berdua aja." Lirihnya Anisa yang merasa gak enak hati pada keluarga yang lain.


Pramana memasang kedua telinganya lalu berkata. "Panggil apa barusan?"


"Panggil apa ... maksudnya?" Anisa tidak mengerti dengan yang dimaksud oleh Pram.


"Barusan sayang panggil aku dengan sebutan apa?" Pramana sambil menatap lekat.


"Oh ... Yank, salah ya?" Anisa takut salah, khawatir kalau Pram tidak mau dipanggil itu.


"Oh enggak, malah aku suka! Baiklah kalau mau seperti itu. Kita nanti makan siang sama-sama sepulang dari butik tapi ya!" Akhirnya Pramana setuju kalau nanti siang makan sama-sama aja bersama keluarga.


"Tapi makannya di mana Bukan di rumah kan?" Selidiknya Anisa sambil nyengir.


"Bukan, tapi di luar rumah noh ... halaman luas kita makan bersama di sana," Pram menunjuk ke arah halaman ha ha ha ... "Enggak lah sayang, kita makan di restoran! ya sudah ... aku pergi dulu ya!" Muach ... Kecupan hangat nan mesra mendarat di kening, pipi Anisa.


Pramana menghampiri mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang. Setelah dia mengenakan bel safety. Anisa yang berdiri di teras melepas dengan senyuman ....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2