
"Pram, sekarang Om ini adalah mertua mu dan Om titipkan Anisa padamu! atas segala kekurangan dan kelebihannya. Om titipkan dia ... tolong bimbing dia menjadi istri yang sholehah! yang terbaik yang berbakti kepada suami dan juga orang tuanya." Pak Joni menatap ke arah Pramana yang sedang menikmati makanannya dan menunduk.
"Oh, iya. Akan aku coba! karena aku pun bukan orang yang sempurna, aku juga banyak kekurangan dan kelebihan yang mungkin aku juga punya masa lalu yang kurang baik atau gimana." Pramana menggerakkan kedua bahunya.
"Tante juga minta maaf, karena secara tidak langsung menambahkan beban di pundak mu, tolong jaga Anisa dan bimbing dia!" tambahnya Ibu Farida pada Pramana dengan tutur bahasa yang sangat lirih dan lembut.
Kali ini Pramana hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Karena sudah selesai sarapannya Pramana langsung berpamitan untuk pergi ke kantor, Lagian malas juga jika harus banyak berbincang lagi. Mendingan dia pergi ke kantor saja.
Setidaknya di sana dia tidak harus bertemu dengan orang-orang rumah. Dan pikiran juga akan melupakan sejenak semua yang menjadi beban pikirannya! termasuk kepergian sang kekasih yang pergi di hari pernikahan. Sehingga menjadikan dirinya menikahi Anisa, sesungguhnya bikin dia sok dan terpukul.
Namun sebagai laki-laki, Pramana tidak ingin terlalu memperlihatkan keterpurukannya atau pun rasa sedihnya kepada orang lain! khususnya keluarga.
"Ibu, tante! aku pamit dulu? takutnya kena macet!" pamitnya Pramana sembari beranjak dari duduknya lalu mencium tangan Mereka bergantian.
"Oh, kalau begitu hati-hati ya Nak?" ucap sang Bunda sembari melirik ke arah Anisa.
"Nisa antarkan suami nya ke teras!" perintah sang ibu mertua membuat Anisa berhenti mengunyah sejenak.
Lalu Gadis itu pun beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Pramana yang melintasi pintu utama, setidaknya sampai teras saja.
"Kamu boleh menggunakan kamar ku sesuka hatimu, tapi jangan membuka lemariku atau menyentuh semua barang ku!" suara bulan Pramana terhadap Anisa.
Sejenak Anisa terdiam dia tidak bisa berkata-kata, lalu dia meraih tangan Pramana untuk diciumnya.
Pramana bengong dan menatap ke arah Anisa yang berdiri di hadapannya sambil mencium tangan. Setelah itu Sonia kembali menunduk dalam.
"Jangan berharap aku bersikap manis pada mu, kecuali di depan orang tua kita. Karena bagaimanapun pernikahan kita hanyalah untuk menutupi aib kedua belah pihak!" sambungnya Pramana nada dingin sembari melihat entah kemana.
Lalu kedua netra Pramana melihat ke arah dalam. Di mana keluarga serang melihat ke arah dirinya dan Anisa.
__ADS_1
"Kalau saya bersikap manis pada mu ... berarti itu di hadapan keluarga kita! dan jangan berharap lebih!" kata-kata yang terucap dari bibir Pramana secara tidak langsung seolah menoreklhkan luka di benaknya Anisa.
"Aku tahu itu!" ucap Anisa seraya menundukkan kepalanya dari pandangan Pramana.
Hampir saja kedua kaki Pramana melangkah, namun terdengar suara ibunda dari balik pintu.
"Pram ... menyentuh istri itu termasuk ibadah. Cium lah kening istri mu sebelum berangkat kerja, dan itu dapat diartikan, menghormati. Menghargai, dan meninggikan derajat wanita. Untuk itu ... cium kening sering-sering bisa membuat wanita merasa damai dan nyaman," tutur Bu haji Bella kepada putranya.
Degh.
Sekilas Pramana dan Anisa saling melempar pandangan. Lalu kemudian Anisa kembali menundukkan kepalanya sembari menggigit Bibir bawahnya.
"Aduh Ibu ... ngapain sih keluar? bukannya itu putra Inu itu tidak suka sama aku!" batinnya Anisa sembari menautkan kedua tangannya satu sama lain.
Cuph. Kecupan singkat dari bibir Pramana yang mendarat di kening Anisa.
Nyess ....
"Ingat ya? sikap manis ku hanya di depan orang tua saja! tidak di antara kita berdua, yang justru sebaliknya." Pramana seraya berbisik.
Lagi-lagi Anisa mendengar ucapan seperti itu, dengan yang nada yang sama di telinga Anisa, kemudian Pramana pergi meninggalkan Anisa dan sang Bunda yang masih berdiri di dalam teras.
Mobil Pramana sudah meluncur meninggalkan halaman lumah yang termasuk mewah bila di bandingkan dengan perumahan tetangga lainnya.
"Anisa ... yok kita masuk kembali? Pramana sudah pergi dan doa kan. Semoga kerjanya lancar rezekinya semakin berlimpah. Sebab sebaik-baik bantuan istri adalah doanya." Bu hajah Bella merangkul bahunya Anisa, lalu diajak masuk berkumpul kembali dengan yang lainnya.
"Ciie ... yang baru saja mendapat ciuman kening, gimana rasanya tenang? nyaman? apa lagi ya, pokoknya gitu deh, iya kan ..." godanya Renita kepada sang adik ipar sedikit 0elan dan menyenggol bahunya.
Wajah Anisa mendadak merah dan merasa malu, digoda kakak iparnya seperti itu. "Kakak Renita apaan sih ... nanti dengar orang, malu." suara Anisa nyaris tidak terdengar.
__ADS_1
"Ya ampun ... ngapain malu? pria itu kan sudah jadi suami Anisa, mau ngapain juga kan dah halal. Nanti juga akan terbiasa," sambungnya sang kakak ipar.
Anisa tidak mengeluarkan suaranya lagi. Dia terdiam sembari mengalihkan pandangan pada sang kakak, Aisyah.
"Dek, kita bisa bicara sebentar! Yo kita ke sebelah sana?" Aisyah menarik tangan Anisa ke suatu tempat yang agak sepi.
"Ada apa Kak? mau bicara apa!" Anisa menatap serius pada sang kakak sambil berjalan mengikuti langkahnya.
"Dek sesungguhnya pernikahan kalian itu kurang lah mutlak, karena kamu sedang mengandung oleh pria lain, Pramana menyentuh mu itu sama saja tidak boleh, karena haram. sebenarnya dia tidak boleh menyentuh mu sebelum anak itu lahir. Dan keluarga ini pun semuanya pasti paham yang salah satu ketentuannya," ujar Aisyah menatap sendu ke arah sang adik.
Tentunya Anisa merasa tercengang mendengar ucapan dari sang kakak. Dia hanya menggerak-gerakan kedua menik matanya menatap pada Aisyah.
"Jadi kakak harap, jagalah jarak kalian berdua! sebab takut kebablasan dan nanti jatuhnya zina lagi, jadi ujung-ujungnya bukan mencari yang halal melainkan yang haram juga. Nanti setelah anak itu lahir kalian harus melaksanakan ijab kabul kembali, jika ingin rumah tangga kalian di jalannya Allah dengan sempurna!" ungkapnya Aisyah pada sang adik.
"Aku jadi bingung, Kak ... terus kenapa aku harus menikah? bila kenyataannya seperti itu?" Anisa menjadi tambah bingung.
"Kata Aisyah itu benar, Dek. Kamu dan Pramana, bahkan satu kamar pun tidak boleh! karena kalian itu belum halal. Kecuali bila nanti anak yang dikandung sama Anisa sudah lahir dan Pramana mengucap ijab kabul kembali, barulah pernikahan kalian sah di mata agama." Tambahnya Azis yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua.
"Kak Aisyah percaya, kalau keluarga ini pun akan sangat mengerti tentang agama! jadi nanti Anisa ikuti aja peraturannya di rumah ini. Yang penting saat ini Anisa berstatus punya suami dulu, agar Anisa tidak dicap hamil di luar nikah. Dan untuk kedepannya kalian bisa menikah lagi," tambah kembali Aisyah sembari merangkul bahu Anisa.
"Kalau saja pria itu yang menghamili ... tentunya tidak harus menikah lagi atau ijab kabul lagi." Tambahnya Azis.
Anisa terdiam dan dia mengingat setiap ucapan dari Pramana, pantas Pramana berucap seperti itu karena dia tahu dan dia mengerti. Namun kenapa hati ini merasa sakit seolah merasa direndahkan jika itu memang lah benar.
"Intinya, Kak Aisyah percaya kalau di sini Anisa akan aman. Sekali lagi Anisa harus pandai menjaga diri, pandai juga menitipkan diri! sebentar lagi kami semua akan pulang." Aisyah memeluk Anisa sebentar.
"Kalau begitu, Anisa pulang saja ikut dengan kalian semua. Percuma Nisa tinggal di sini juga, kalau Pernikahan uang tidak di anggap ini!" ucap Anisa pada Aisah dan Azis.
"Em ... kalau gitu kita rundingkan lagi, agar kita mendapatkan kita harus memilah mana yang akan banyak manfaat ketimbang mudharatnya." Kata Aisyah sembari mengernyitkan keningnya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Tiada kata seindah Assalamu'alaikum ... reader ku semua semoga di saat ini kalau berada di dalam lindungan yang maha kuasa.