Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Pagar makan tanaman


__ADS_3

Sonia terus berjalan menelusuri koridor kantor sembari membawa wadah bekas makan Pramana, langkahnya semakin dipercepat yang entah kenapa hatinya terasa kesal banget, pengen marah. Ingin menjerit tapi entah apa yang harus dilakukan dan penyebabnya apa? dia tidak mengerti.


Yang jelas dia merasa kesal dan perasaan yang campur aduk. Kemudian sambil berjalan dia berapa kali menghela nafas dalam-dalam lalu dihembuskan dengan perlahan.


"Astagfirullah ....kenapa sih dengan perasaan ku begini amat? rasanya gondok banget. Tapi kenapa harus seperti itu, emangnya siapa dia dan siapa diri ku juga untuk dia? aneh banget kamu Anisa-Anisa!" gumamnya Anisa dengan begitu pelan.


Sesekali Anisa melempar senyumnya kepada orang-orang yang berpapasan dengannya, yang sudah tahu dengan kedatangan Anisa. Kalau datang pasti untuk mengantarkan makan siang buat bos mereka.


"Ditungguin dulu makannya, Neng?" tanya mang Pei sembari membukakan pintu Buat Anisa.


"Iya Mang. Makasih ya!" ucapnya Anisa sembari memasuki mobil tersebut.


Setelah memastikan majikannya sudah duduk dengan tenang! mang Pei langsung mengitari mobilnya.


Sesaat kemudian mobil pun langsung meluncur meninggalkan parkiran kantor tersebut.


"Kok aku jadi kangen nih, sama bunda dan ayah, kak Aisyah. Juga anak-anak! boleh nggak ya, aku ke sana menemui mereka barang sehari saja." Batin Anisa yang bermonolog sendiri mengingat keluarganya.


Tidak selang lama di jalan, kini Anisa sudah turun dari mobil sambil menjinjing wadah. "Assalamu'alaikum!" ucapnya Anisa sembari melintasi pintu utama.


"Wa'alaikum salam ... eh, Nisa udah pulang?" balesnya sang ibu mertua sembari menatap keadaan Anisa yang tengah berjalan memasuki rumah tersebut.


"Agak lama nih ... soalnya nungguin dulu dia makan!" jawabnya kembali Anisa yang langsung ngeloyor ke dapur.


"Anisa, kan belum makan, makanlah dulu! Ibu tadi sama Ayah sudah makan duluan!" sambung sang ibu mertua yang menyusul langkah Anisa ke ruang dapur.


"Oh ya, Bu ... gampang lah. Anisa nanti juga makan!" Anisa mencuci tangan lalu mengambil segelas air minum untuk ia teguk, tenggorokan yang begitu terasa kering dan setelah meminumnya dia mendapatkan kesegaran dari air yang sudah dia teguk itu.


"Alhamdulillah ... segar banget!" gumamnya setelah merasakan betapa nikmatnya air yang mengalir di tenggorokan.

__ADS_1


"Em ... Ibu. Bolehkah ... Anisa untuk main ke rumah Bunda? Nisa kangen sama mereka!" ungkap Anisa yang tampak ragu-ragu untuk mengatakan itu pada sang ibu mertua.


"Ya ampun ... Nisa kalau misalkan kangen sama keluarga di sana, bolehlah kamu datang mengunjungi mereka!" suara Pak Lukman dari arah belakang Bu hajah Bella.


Bu Hajah Bella mengangguk menyetujui perkataan dari suaminya, lalu berkata. "Iya Anisa ... boleh kok! namanya juga ingin berkunjung pada orang tua, tapi Ibu nggak ijinkan. Kalau Nisa sendirian ke sana, Ibu akan izinkan Anisa bila perginya sama Pramana untuk silaturahmi dengan keluarga yang di sana."


"Tapi, kan Pramana bekerja bu!" jawabnya Anisa mengingat kalau Pram selalu saja sibuk! kadang hari libur pun dia tidak ada di rumah.


"Dia sibuk kan hari-hari kerja, kalau hari-hari libur ya paksain lah untuk libur dan mengantar Anisa. Masa sibuk terus dalam 7 hari." ungkap Bu hajah Bella sembari melirik ke arah suaminya.


"Itu benar, nanti saja hari libur Anisa ke sananya! biar Pram yang mengantar." Tambah sang ayah mertua yaitu Pak Lukman.


"Nisa, perutmu sekarang lebih ketara. Semoga sehat-sehat ya, Apa kamu sudah periksakan ke dokter?" bu Bella mendekat dan menyentuh perut Anisa.


"Selama ini belum Bu." Balasnya Anisa sembari menunduk.


"Lho, kenapa? Iya-ya Ibu juga jadi lupa lupa mengajak mu untuk periksakan kehamilanmu itu, ck maafkan Ibu ya?" lirihnya Bu jajah Bella sembari mengusap-usap perut Anisa yang memang sekarang mulai lebih ketara.


"Ibu lupa, namanya lupa gimana Yah? Bagaimana kalau sekarang saja kita ke klinik yok biar Anisa juga dikasih vitamin. Emangnya nggak ada keluhan atau nggak bau dengan apa gitu?" Bu Hajah Bella menatap Intens ke arah Anisa yang kini sudah duduk menghadap meja makan.


"Alhamdulillah, Bu ... nggak ada keluhan apapun! nggak mau ach lain kali saja, lagian aku gak gimana-gimana kok! baik-baik saja kok, paling pusing dan mual sedikit dan itu rasanya nggak terlalu gimana-gimana!" jawabnya Anisa karena memang selama ini dia tidak terlalu merasa repot dia merasa baik-baik saja.


"Tapi setidaknya kalau diperiksa ... nanti Nisa dikasih vitamin agar ibu dan janinnya kuat, memang sih Anisa nggak punya keluhan apapun tapi apa salahnya untuk jaga-jaga. Makanya mau ya? sekarang sama ibu periksa kehamilan atau mau yang sama Pram?" bujuk sang ibu mertua.


"Tidak-tidak, Bu ... lain kali saja. Lagi pula gimana nanti kalau dokter bertanya kehamilannya sudah sekian bulan tapi nikahnya--" Anisa tidak melanjutkan lagi perkataannya itu.


"Bilang saja menikahnya pun udah 3 bulan atau 2 bulan pun tidak akan jadi masalah, karena perhitungan dokter kan menghitung dari terakhir datang bulan!" kata sang ibu mertua.


"Berarti itu kan berbohong! yang penting Anisa sehat-sehat saja dan janin yang ada di kandungan Nisa pun baik-baik juga, Anisa pasti akan bilang sama ibu kalau seandainya Anisa merasa ada yang aneh!" Anisa nggak mau bila harus memeriksakan kandungan nya, karena takutnya banyak pertanyaan nanti dari dokter.

__ADS_1


"Ya sudah ... kalau pemikiran Anisa seperti itu, tapi jangan lupa kalau ada apa-apa bilang langsung sama ibu juga Pramana. Bagaimana dia tetap suami mu!" seru nya sang ayah mertua.


"Iya Ayah," Anisa mengangguk lalu dia mengambil piring untuk dia makan siang! kebetulan cacing di perutnya sudah berdemo sebab merasa lapar.


Bu hajah Bella dan suaminya berjalan meninggalkan Anisa yang sedang makan. Dia duduk santai sambil menonton televisi di ruang keluarga.


Waktu terus bergulir hingga hari pun sudah mulai sore.


Saat ini Pramana baru saja pulang dan dia memasuki kamar, berjalan sambil membuka kancing-kancing di kemeja cream nya.


Melihat tumpukan pakaian yang memang rapi tapi di atas tempat tidur. "Ini kebiasaan! kalau nyimpan baju di atas tempat tidur, kan ada lemari! siapa sih yang mengurus ini? kebiasaan banget."


Setelah menyimpan tas kerjanya, Pram memutar badan. Gegas mengayunkan langkah lebarnya yang lantas keluar dari kamar tersebut dan menuruni anak tangga.


"Siapa sih? yang suka kebiasaan kalau menyimpan pakaian itu di atas tempat tidur? kan ada lemarinya." Suara Pramana sembari menapakkan kakinya di lantai dasar.


Anisa yang sedang motong sayuran langsung menghampiri. "Aku yang menyimpan nya di sana, karena setiap hari pun aku yang menyimpan di sana, kan aku nggak berani membuka lemarinya dan kuncinya pun aku nggak tahu!" Anisa menggelengkan kepala.


"Kenapa tidak bibi ataupun Ibu? biasanya seperti itu," ucap Pramana dengan nada dingin serta matanya menatap kedua menik mata Anisa sesaat sebelum Anisa mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Pram, setiap hari yang mengurus pakaian mu adalah Anisa dan Ibu tidak tahu kalau Anisa hanya menyimpannya di tempat tidur, karena Ibu pernah bilang dan menyuruh dia agar menata dan merapikannya langsung di lemari." Belanya sang Bunda terhadap menantu nya itu.


"Kan sudah kubilang. Nggak usah mengurusi aku, kenapa keras kepala sekali!" pekiknya Pramana yang bertahan kepada Anisa agar suaranya tidak didengar oleh sang Bunda.


"Ibu yang menyuruh ku. Lagian bukankah itu juga kewajiban ku!" Anisa dengan suara yang sangat pelan juga dan nyaris tak terdengar.


Detik kemudian, Pramana menaiki kembali satu persatu anak tangga. Tanpa berkata apa-apa lagi terhadap Anisa yang memandangi punggungnya ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Akankah hati Pramana luluh dan mencintai Anisa?


__ADS_2