Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Mengambil hati


__ADS_3

"Ibu harap ....Nisa di sini betah ya?apapun yang terjadi, Bagaimana Anisa sudah menjadi mantu di sini. Memang kalian masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal, karena wajar kan kalian mengenalnya waktu kecil doang! setelah besar kalian tidak pernah bertemu pas ketemu eh di pelaminan," ujar Bu haji Bella sambil tersenyum.


"Iya, Bu ... insya Allah Nisa akan mendengarkan setiap perkataan Ibu sebagai pengganti ibunya Anisa." Anisa mengangguk sembari tersenyum ke arah sang ibu mertua.


"Ibu yakin sih ....yakin seyakin-yakinnya kalau suatu saat nanti Pramana akan menerima Anisa dengan tangan terbuka dan mencintai Anisa sebagaimana dia mencintai kasihnya itu. Sebagai seorang istri Anisa harus pandai mengambil hati suami dengan cara bakti padanya dan melayaninya dengan baik dengan tanda kutip, Hal lain." Ujar kembali Bu hajah Bella.


Kini Anisa berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan di luar, sebuah taman dan kolam renang.


"Anisa mengerti. Kalau seandainya Pramana tidak suka sama Anisa. Anisa paham karena dia pasti berpikir yang tidak-tidak tentang Nisa, yang dalam keadaan seperti ini!" gumamnya Anisa dengan suara yang lirih.


"Ibu tahu betul sifat putra Ibu, dia tidak akan seperti itu dan sesungguhnya dia itu baik. Bertanggung jawab dan perhatian. Nanti juga Nisa pasti jatuh cinta sama dia!" sang ibu mertua menunjukkan senyumnya yang manis kepada sang menantu.


"Adudududuh ... aku di sini saja dicuekin! gimana aku nggak ada di sini! gara-gara ada menantu baru aku nggak dipedulikan lagi hik-hik-hik, malahan aku ini sedang ngidam lho ... sebentar lagi akan memberikannya cucu!" suara Renita yang langsung nyelonong ke dalam kamar Anisa.


Membuat keduanya menoleh pada Renita yang mendatangi mereka berdua. Namun Anisa tidak mengambil hati dari perkataannya apalagi bu Hajah Bella yang sudah tahu gimana sikap sang mantu yang kadang ceplas-ceplos bicaranya.


"Ada apa Renita! suamimu mana?" tanya sang ibu mertua dengan lirih.


"Abang sudah berangkat kerja, Bu ... dan aku masih di sini belum mau pulang. Aku masih ingin mengenal adik iparku ini dan aku penasaran! gimana sih ceritanya sampai berbadan dua gini?" wanita menata penasaran ke arah Anisa.


Anisa menoleh pada sang ibu mertua begitupun beliau lalu mengangguk seolah ingin tahu juga cerita yang detailnya.

__ADS_1


"Kalau Anisa mau cerita! cerita lah kami berdua akan mendengarkan dan setidaknya perasaan yang membebani Anisa dapat berkurang. Tapi bila sebaliknya tidak ingin bercita juga nggak apa-apa!" ucap Bu hajah Bella dengan sangat lembut.


Lalu Anisa berjalan ke tempat tidur kalau dia mendudukan bokongnya di sana bersama ibu mertua dan renira. Sebelum mengeluarkan suaranya dia menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan sangat panjang.


Kemudian Anisa bercerita dari awal mula kenapa dia bisa berbadan dua. Dari awal sampai akhir dan detik ini, di sini Anisa ceritakan.


Sang ibu mertua dan mantunya, Renita. Begitu tampak antusias mendengarkan dan sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya juga berdecak kesal, mendengar kalau si pria yang sudah mengambil kesucian dari Anisa tidak mengakui sama sekali apalagi mau bertanggung jawab.


"Wiuhhh ... kurang ajar sekali. Kalau aku yang jadi Anisa ku bikin remuk kepalanya pakai mutu. Bila perlu ku potong itu burungnya biar nggak punya lagi tuh burung kecil nan jahat. Aku goreng kasih makan dia sekalian ... wih geramnya aku enak saja lempar batu sembunyi tangan. Ingin rasanya hancurkan kepalanya dia!" gamamnya Renita yang tampak geram dan kesal.


"Justru Ibu ngeri dengan omongan kamu Ren. Ibu nggak bisa membayangkan. Kalau Putra Ibu seperti itu! ya Allah ... segitunya ya laki-laki yang tidak mau tanggung jawab, mudah-mudahan putra Ibu tidak seperti itu dan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab yang sayang sama istri seperti dia menyayangi Ibu!" ujar nya dengan lirih dan panjang lebar.


"Lihat saja kalau Andre berbuat macam-macam, nggak akan ragu-ragu aku untuk membuat dia menyesal." Timpalnya Renita dengan tampak geram.


"Aku nggak bisa ngebayangin nya Nisa ... kekasih Bukan, calon suami bukan! dasar buaya darat!" Renita menggelengkan kepalanya sembari merangkul bahu Anisa.


"Rasanya aku ingin marah, menjerit dan kadang aku ingin berbuat sesuatu yang justru akan merugikan diriku sendiri. Tapi Nisa masih ingat kalau Nisa punya orang tua, punya kakak! punya ponakan dan Nisa sayang mereka, justru kalau Nisa berbuat sesuatu yang tidak diinginkan! mereka akan bertambah merasa malu! bukan hanya kecewa," tambahnya Anisa sembari mengedarkan pandangan yang nanar ke arah ibu mertua dan kakak iparnya tersebut.


"Jangan, Nisa ... jangan berbuat yang macam-macam! sayangi keluarga mu dan sayangi anak itu. Dia tidak bersalah, ini sebuah kecelakaan kan ... biarlah laki-laki itu yang tanggung semua dosa Anisa! apalagi sekarang Anisa sudah menjadi bagian keluarga di sini janganlah berbuat yang aneh-aneh, ya? kami pun akan menyayangi Anisa menyayangi anak itu." Ungkap sang ibu mertua sembari memegangi tangan Anisa keduanya.


Kedua manik mata Anisa yang nanar menetap sang ibu mertua dan dia merasa bersyukur keluarga itu begitu welcome padanya. "Terima kasih ibu terima kasih juga ka Renita, sudah mau mendengarkan cerita Anisa. Dan sekarang kalian tahu kebenarannya gimana!"

__ADS_1


"Kalau menurut aku sih ... Pramana juga harus tahu kebenarannya kayak gimana, biar dia nggak salah paham kalau Anisa bukanlah wanita yang gimana-gimana gitu, maksudnya!" ucap Renita yang di tujukan pada sang ibu mertua.


"Ayah kira kalian itu di mana? saya nyari sana kemari eh rupanya di sini!" suara Pak Lukman yang berdiri di depan pintu yang terbuka secara tiba-tiba.


"Ibu di sini dari tadi juga!" sahutnya sang istri sembari mengusap sudut matanya yang tidak terasa menggenang buliran air bening yang ingin mengalir.


"Ada apa ini? kok kayak orang sedih. Apa kalian tidak menemukan makan sama seminggu? sehingga sedih begini?" tanya pak Lukman sembari menatap tiga wanita yang ada di hadapannya sembari membawa langkahnya masuk.


"Aduh Ayah ... bukan seminggu lagi, aku nggak dikasih makan sebulan! makanya lihat tuh aku kerempeng kayak gini!" Renita menunjukkan tubuhnya yang memang agak kurus tapi bukan karena kurang makan tapi memang tubuhnya seperti itu.


"Iih ... Renita, amit-amit kamu! itu kurus bukan karena kurang makan, tapi memang tubuh mu itu nggak pernah gemuk, biarpun dikasih makan seabrek juga dikasih vitamin, susu tetep aja tubuh kamu itu kecil!" protesnya sang ibu mertua kepada Renita.


"Aish ... ih, ibu aku cuma bercanda, Ayah juga yang bercanda duluan!" Renita menunjuk pada ayah mertuanya.


Anisa hanya menatap ketiganya bergantian, serta menunjukkan senyuman yang kecil di bibirnya.


"Nisa jangan aneh ya! di sini itu kalau lagi kumpul kayak beginilah. Omongan mantu ku ini jangan didengar dia suka ceplas-ceplos kayak anak kecil. Mohon dimaklumi ya? dan juga di sini suka bercanda!" ucapnya Pak Lukman kepada Anisa.


"Tidak apa-apa Ayah, justru rame kalau suka bercanda!" sahutnya Anisa sambil menunjukkan senyumnya yang getir.


Kemudian mereka berempat mengobrol kanan kiri, ke timur dan ke barat. Sehingga tidak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, yang menjadikan Bu hajah Bella beranjak dari duduknya ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Mohon dukungannya. Subscribe like komen dan lainnya. Makasih.


__ADS_2