
Untuk beberapa saat Anisa terus terbatuk-batuk, hingga berakhirlah setelah meminum air putih beberapa teguk.
"Hati-hati dong ... makannya, sampai keselek begitu!" gumamnya Pramana sembari menyodorkan tisu kepada Anisa untuk mengusap wajahnya yang basah dan terlihat pucat paseh.
"Aku juga sudah hati-hati, cuman kebetulan saja kali sampai-sampai keselek begini, ohok." Akunya Anisa sambil mengusapkan beberapa lembar tisu ke wajahnya.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Pramana tiba juga di kediamannya! yang tampak sepi, sunyi dan hanya terlihat tukang kebun + sopir yaitu Mang Pei, dia sedang menyiram tanaman termasuk sayuran yang ada di sana.
"Kok terlihat sepi ya apa Ibu dan Ayah nggak ada suara Anisa sembari melepas pandangan ke arah bangunan tersebut.
"Biarpun ada, kan tidak mungkin dia teriak-teriak atau jingkrak-jingkrak! namanya juga sudah orang tua paling duduk santai, mengobrol atau mungkin lagi mengaji." Jawabnya Pramana sambil menurunkan kedua kakinya menapaki lantai.
Anisa yang sudah lebih dulu keluar dari mobil keamanan dan menginjakkan kakinya di teras kemudian mengucapkan salam sembari mengarahkan tangannya ke handle pintu.
"Assalamu'alaikum ... Ibu, Ayah Nisa pulang!" Anisa mendorong pintunya lalu dia masuk menapakkan kakinya kembali di rumah sang mertua.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," jawabnya dari belakang yaitu suaranya Pramana sembari menyusul langkahnya Anisa.
"Wa'alaikum salam. Eeh Nisa udah pulang! Ibu kira mau nginep lagi di sana, sepinya di sini tanpa Anisa!" sambutnya Ibu Bella dari arah belakang.
"He he he ... Ibu bisa aja, emangnya Nisa ada di sini bikin ramai ya?" Anisa memeluk sejenak sang ibu mertua sambil mencium pipi kanan dan kiri.
"Ya ... bukan begitu juga, Ibu nggak ada temen ngobrol dan nggak ada yang bantuin masak!" jawabnya sang ibu mertua sembari tersenyum lembut.
"Ayah mana, Bu? tidak kelihatan!" tanya Pramana setelah mencium tangan sang ibu.
"Ayah ada di belakang sedang memberitakan ikan sekalian mau ngambil mau digoreng katanya jawabnya sang ibu.
"Ikan mas, kan. Bu?" selidikan Anisa sembari berjalan bersama sang ibu mertua.
__ADS_1
"Hooh, Anisa suka ikan mas?" tanya balik ibu Bella.
"Suka, Nisa sangat suka sama ikan! nanti Nisa yang masak ya, Bu?" lalu dia pamit untuk pengganti pakaian dan kebetulan sebentar lagi magrib.
"Oh boleh, mau dimasak apa Nisa sukanya?" lirihnya sang ibu mertua sembari menghentikan langkahnya.
"Aku sih ... diapain aja suka jawabnya Anisa sembari mendekati anak tangga.
"Aku mau dibakar ach, sudah lama gak makan bakar ikan!" suara Pramana yang berdiri dekat dispenser.
Lalu kemudian obrolan pun berakhir, dengan masuknya ke dalam kamar masing-masing. Untuk menyambut datangnya Maghrib dan laki-laki bersiap pergi ke mushola yang tidak jauh dari rumah tersebut.
Setelah melaksanakan salat magrib. Anisa langsung turun ke dapur menemui bibi dan sang ibu mertua yang sudah berada di sana! sedang mengurus ikan mas yang besar-besar, dan Anisa mau menggoreng untuk dijadikan balado ikan
"Nisa, sisakan satu ya? jangan digoreng semuanya, katanya Pramana mau membakar dan biarkan aja dia bakar sendiri." Pesan sang ibu mertua.
"Oh iya, Bu!" Anisa pun mengangguk pelan sambil memasukkan ikan ke dalam minyak panas dengan sangat hati-hati, sehingga mengeluarkan suara jerojosssss ....
"Sini Bu ... bikin bumbunya Nisa saja, Ibu duduk-duduk saja! lagian kan yang masak ada Nisa sama bibi. Jadi ibu santai aja." Nisa pun langsung mengambil alih pekerjaan sang ibu mertua.
"Nah ... ini, nih ... momen yang paling saya suka, kalau punya anak perempuan itu kayak gini. Membantu, memperhatikan coba dari dulu saya punya anak perempuan ya?" ucapnya Ibu Bella sambil tersenyum simpul.
"Biarpun gak punya anak perempuan, kan masih punya menantu perempuan. Jadi gak usah khawatir, buktinya sekarang biarpun gak punya anak perempuan. Punya menantu perempuan dua!" kata bibi sembari menolehkan kepalanya pada sang majikan.
"Hooh, Masya Allah Ibu hampir lupa, Nisa ... gimana kabar orang tuamu? dasar dah pikun ya. Hingga lupa mau nanyain kabar saja bisa lupa!" kata sang ibu mertua yang menanyakan kabar orang tuanya Anisa, yang sekaligus sahabatnya juga.
"Alhamdulillah ... kabar mereka baik, dan ... bunda juga Ayah titip salam juga buat ibu dan ayah di sini." Jawabnya Anisa sembari melirik ke arah sang ibu mertua.
"Wa'alaikum salam ... alhamdulillah kalau begitu." Sambungnya Bu Bella.
__ADS_1
Kemudian Pramana datang dari mushola dan langsung mengeksekusi ikan yang mau dia bakar. "Mana ikan yang buat aku bakar?" tanyanya Pram sambil celingukan.
"Itu masih di ember, Den. Belum dibersihin!" jawabnya Bibi sambil menunjuk ke salah satu emberyang ada di pojokan.
"Tidak apa-ap, biar aku bersihkan sendiri." Jawabnya Pramana sembari membuka sarungnya dan peci lalu ia simpan di meja makan.
Pandangan Anisa mengarah pada sarung dan peci yang terletak di meja makan, yang hampir saja diambil sama ibu mertua. Mungkin dia mau merapikannya.
Namun Anisa segera mengambilnya lebih dulu, lalu dia melipat dan merapikan dan dia pindahkan ke atas kursi. Kurang enak dipandang bila tergeletak di meja makan.
"Pram memang kadang seperti itu, Nisa. Menyimpan barang seenak kepalanya aja, pas dia lupa baru riweh! nanyain, Bu barang ku di mana? barangku tadi di simpan di sini, kok nggak ada. Gitu tuh dia!" Ibu Bella sembari menunjuk dengan dagunya ke arah Pram dan melihat Anisa bergantian.
"Apa sih, Bu ... gitu aja yang diomongin! itu tandanya kehadiran ibu itu sangat berarti. Bermanfaat, jadi ketika ibu tidak ada pasti akan aku cari. Karena gak ada orang yang mengerjakan sesuatu untuk ku. He he he ...."
"Hem ... di cari karena ada sebabnya ya?" timpal sang ibu.
"Iya lah, Bu ... Karena orang itu dikenang dengan kebaikannya! dibenci karena keburukannya dan kita mau memilih yang mana! dikenang karena kebaikan kita? atau diingat karena keburukannya?" tambahnya Pram sambil mencuci ikannya.
"Iya tentunya diingat dengan kebaikan dong, Nak ... kalau dengan keburukan, berarti itu aib." Jawabnya Bu Bella.
Kemudian Pramana membawa alat bakarnya ke belakang dapur, dan dia akan membakar ikan tersebut di ruangan terbuka.
Sementara Anisa sedang fokus memasak balado ikan mas yang wanginya sungguh menggugah selera ditambah lagi dengan kemangi yang seabreg. Makin-makin bertambah saja bikin perut keriukan dan lapar.
Kini apa yang Anisa masak sudah tertata di meja makan dan tinggal menunggu yang bakar saja yang belum matang.
Anisa mengambil sarung dan peci nya Pram untuk dia simpan ke kamar nya, langkah Anisa yang teratur menuju kamarnya Pram untuk sekedar menyimpan barangnya di atas nakas.
Namun ketika mau keluar, ponsel Pram berbunyi, dengan rasa penasaran. "Siapa?" Anisa menghampiri meja dan mengambil ponsel yang tergeletak tersebut, melihat siapa yang memanggil ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Tidak lupa aku mohon dukungannya ya reader ku semua ... makasih