
Pramana berdiri sambil membukakan pintu. "Kenapa? kakak suka sama aku? apakah suami mu kurang memberikan sesuatu padamu?" ucapnya Pramana sambil bercanda.
"Huuh. Bukan kurang lagi tapi banyak! siapa tahu aku bisa mendapatkan darimu he he he ... ah jangan bercanda. Ini istrimu ingin masuk ke dalam kamar, dia pasti pengen mandi dan berpakaian. Dia kan sudah halal bagimu masa kamu mau membiarkannya di luar suami macam apa kamu?" ucapnya Renita sembari melirik ke arah Anisa yang sedang menunduk melihat ke arah lantai.
Lalu Pramana mengalihkan pandangan ke arah Anisa. Gadis itu menundukkan pandangannya. "Masuklah?'' Pramana bukakan pintu lebih lebar lagi.
"Kak Aisyah mengantarkan sampai sini saja ya? nanti kita bertemu lagi berkumpul di bawah. Pram titip Anisa ya?" Aisyah memberikan pandangannya pada Pramana yang langsung mengangguk.
Sesungguhnya Aisyah dan Pramana itu hampir sama usianya sehingga Aisyah tidak terlalu canggung untuk bicara dengan Pramana apalagi Aisyah orangnya ramah dan mudah kenal dengan orang lain.
"Ya sudah, aku juga sampai sini saja mengantarnya. Nanti kalau terlalu dalam takutnya aku dikira cari tahu he he he ..." tambahnya Renita.
Kemudian Aisyah dan Renita meninggalkan tempat tersebut dan sebelumnya memastikan dulu kalau Anisa sudah memasuki kamar suaminya.
Kini Anisa sudah berada di dalam kamar dia berdiri sembari mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan tersebut, sebuah kamar pengantin yang dangat indah berhias berbunga-bunga dan juga angsa yang sangat cantik terbuat dari handuk putih.
Anisa tidak bergeming memandangi ke arah tempat tidur yang membuat pikirannya melayang dan teringat di mana dia terbangun dan pria bejat itu berada di sampingnya waktu itu. Dia menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan yang terasa begitu kering.
Bugh ....
Suara pintu ditutup! memecah keheningan dan membuyarkan lamunan Anisa sehingga dia menoleh ke arah sumber tersebut di mana Pramana menutup pintu itu yang sedikit kuat.
"Aku tidak menyangka kalau kita berdua akan dipertemukan di sebuah pelaminan dan pernikahan, yang seharusnya Bukan dirimu yang menjadi pengantinku!" suara Pramana sembari mendudukan dirinya di atas sofa.
Anisa mengatupkan bibirnya, terdiam belum tahu harus berkata apa.
"Dan aku sangat tidak menyangka kalau wanita se'alim kamu ternyata bisa juga kehilangan kehormatan sebelum waktunya, alangkah bodohnya dirimu menyerahkan kehormatan mu kepada laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab atau mungkin dirimu terlalu murahan menyerahkan mahkota mu, pada siapa saja!" ucap Pramana yang cukup nyelekit.
__ADS_1
Ucapan Pramana seolah-olah menghakimi hati Anisa yang kini menjadi istrinya, membuat Anisa semakin mematung di tempatnya. ucapan itu bagai pisau yang tajam mengguris hati dan perasaan Anisa.
Membuat kedua menikmatinya berkaca-kaca sebagai luapan betapa perih hatinya saat ini, menerima hinaan dari seorang pria yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
"A-aku ... memang sudah kehilangan kehormatanku, saat ini aku sudah berbadan dua. Tapi bukan berarti aku murahan dan memberikan diriku kepada siapa saja! itu tidak benar, Aku melakukannya tidak sadar di bawah pengaruh obat. Laki-laki bejat itu, jika sadar! nggak mungkin aku mau apalagi dia bukan siapa-siapa aku, pacar pun bukan," Anisa berusaha membela diri karena dia tidak terima kalau dibilang wanita murahan karena jangankan untuk memberikan tubuhnya, pacaran pun tidak pernah.
"Oh ya, begitukah?" Pramana menaikkan kedua alisnya.
"Terserah mau bilang apa, yang penting diriku dan keluarga sudah jujur agar keluarga ini tidak merasa bak membeli kucing dalam karung yang tidak tahu kebenarannya." Tambahnya Anisa.
Pramana beranjak kembali dari duduknya. "Oke, kalau pengen mandi di sana kamar mandinya dan bila membutuhkan pakaian. Di lemari ada banyak pakaian wanita, pakai saja. Siapa tahu cocok dengan ukuran tubuhmu, bila tidak! buang saja!"
Anisa terdiam sembari mengedarkan pandangan ke arah-arah yang Pramana tunjukkan. Khususnya letaknya kamar mandi dan lemari.
"Terima kasih?" gumamnya Anisa pada orang yang sudah tidak ada di tempat.
Anisa mendatangi kamar mandi. Lantas kedua manik matanya mendapatkan handuk kimono yang menggantung di depan pintu, dengan tidak membuang waktu. Anisa pun segera membersihkan dirinya di bawah air shower.
Setelah sekitar 15 menit di dalam kamar mandi, Anisa pun keluar dan membawa langkahnya berjalan mendekati lemari yang tadi Pramana tunjukkan.
Kebetulan lemarinya tidak dikunci, di dalamnya terdapat ada banyak pakaian wanita lengkap dengan pakaian dalamnya! bahkan mukena pun ada di sana.
Lantas Anisa pun mengambil setelan pakaian dan juga pakaian dalam, sepertinya pas dengan ukuran tubuhnya. Tidak lupa mengambil mukenanya juga! kemudian Anisa menututup pintu lemari. Ketika mau membuka pintu satunya lagi ternyata dikunci.
"Mungkin ini tempat pakaiannya Pramana!" gumamnya Anisa.
Kini Anisa sudah berpakaian lengkap. Dan kebetulan pakaian yang diambil itu sangat pas di tubuh Anisa! mungkin karena ukuran tubuhnya sama dengan calon istrinya Pramana sebelumnya aja.
__ADS_1
"Sepertinya ukuran tubuh dia dan aku sama! sehingga pakaian yang disediakan Pramana bisa pas di tubuhku." Monolognya Anisa kembali.
Anisa sudah mengerjakan salat Maghrib. Dan dia pun sudah merapikan mukenanya kembali lalu dia simpan di atas nakas dekat lipatan sarung dengan peci yang ada di sana.
Anisa melihat dirinya di cermin sembari mangikat rambutnya yang barusan tergerai. Tiba-tiba Pramana masuk ke dalam kamarnya.
Sejenak kedua netral mata Pramana memperhatikan ke arah Anisa, sebenarnya dia ingin bertanya apakah pakaian yang ada di lemari cukup untuk Anisa. Namun niat bertanya itu dia urung, karena buat apa bertanya?toh sudah kelihatan kalau pakaian yang dipakai oleh Anisa memang pas di tubuhnya.
Akhirnya Pramana hanya berdiam diri kemudian berjalan mendekati lemari serta mengambil kaos t-shirt berwarna cream tua lalu dia pakai setelah membuka kemejanya.
Tidak lupa menggantungkan kemejanya di dekat kemari. Detik kemudian dia pun keluar kembali tidak sepatah kata pun yang diucapkan kepada Anisa.
Anisa hanya menatap punggung pria itu yang kini sudah melintasi pintu. "Huuh ..." mengembuskan nafas melalui mulut.
Lalu Anisa pun berniat menyusul Pramana keluar dari kamar tersebut, untuk berkumpul dengan keluarga lainnya.
Kini semuanya sudah berkumpul, duduk lesehan untuk makan malam bersama. Semuanya menunjukan wajah-wajah yang bahagia! masing-masing memperlihatkan senyuman yang lebar tak ayal menghiasi wajah kedua keluarga tersebut.
"Anisa, ambilkan makan buat Pramana ya?" titahnya sang ibu mertua sembari menyodorkan piring kepada Anisa.
Sesaat Anisa kebingungan, dia tidak tahu makanan kesukaannya Permana dan tadi siang pun dia tidak melihat Pramana makan begitupun dirinya.
"Hooh. Tadi siang pun kalian berdua belum makan lho. Jangan sampai kalian di malam pertama ini sakit, pasti malam pertama nggak asik dong!" goda Renita sembari menggoda iparnya ....
...🌼---🌼...
Mohon dukungan nya ya makasih.
__ADS_1