Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Melepas rindu


__ADS_3

Merasa diperhatikan Anisa menoleh pada Pramana, lalu langsung berteriak. "Eeh ... awas di depan ada orang."


Pramana kaget dan langsung ngerem mendadak. Dia pun terkesiap karena sekilas melihat ada orang yang mau melintas! sementara dia meleng ke samping melihat seorang bidadari yang berada di sampingnya.


"Astaghfirullah," gumamnya Pramana.


Orang yang hampir saja tertabrak terdengar menggerutu dan memandangi mobil yang bisa aja menabraknya.


"Maaf, Mas. Maaf ... nggak sengaja, maaf banget! mungkin suamiku lagi melamun, maaf ya Mas?" Anisa berapa kali meminta maaf pada pria tersebut sambil menyatukan kedua tangan.


"Bawa mobil itu hati-hati dong ... emangnya di jalan nenek moyang lo apa? sembarangan aja! dah tahu ini penyeberang masih aja meleng! kalau mau bebas? bikin jalan sendiri bukan jalan umum!" pria tersebut marah-marah.


"Iya sekali lagi, kami minta maaf ya Mas? ini bener-bener nggak di sengaja, Mas gak kenapa-napa kan?" Anisa menimbulkan kepalanya kepala jendela.


"Untung saja tidak kenapa-napa, kalau sampai saya kenapa-napa saya tuntut kalian ke polisi. Dia pikir ini jalan sendiri apa? bikin jalan sendiri biar leluasa, biar bebas." Kata pria itu dengan nada masih marah.


Pramana membuka pintu mobilnya, lalu dia turun dan menghampiri pria tersebut.


"Istri saya kan sudah minta maaf, dan ... saya memang nggak sengaja. Lagian jalan juga nggak ngebut kok mas! saya cuman kebetulan lagi meleng aja. Mas mau berobat atau mungkin nanti merasa sakit apa gitu!" suara Pramana dengan begitu rendah sembari mengeluarkan beberapa lembar uang warna merah pada pria tersebut.


Pria itu yang barusan marah-marah, mendadak senyum-senyum melihat lembaran uang di tangan Pramana yang di sodorkan kepadanya! sedangkan dia sendiri nggak kenapa-napa, cuman kaget doang.


"Wah ... makasih Pak. Makasih, sering-sering aja kayak gini!" orang itu langsung mengambil uang tersebut dari tangan Pramana, memasukkannya ke dalam saku lalu dia mengucapkan banyak terima kasih Pramana.


Lantas pria tersebut gagas pergi meninggalkan tempat di mana Pramana berdiri.


Kepala Pramana menggeleng sembari tersenyum. "Dasar orang itu, ada-ada aja marah-marah orang gak kenapa-napa kok dikasih uang aja nyengir!"


Pramana kembali masuki mobilnya dan duduk di belakang kemudi seperti semula.


"Kau juga kenapa menggerutu tuh? apa bedanya sama dia!" ucapnya Anisa sembari menatap ke arah Pramana yang sedang memasang bell safety di tubuhnya.


"Ha? aku nggak menggerutu. Aku cuman ngomong sendiri aja siapa juga yang menggerutu!" Pramana langsung memutar kembali kemudinya dan melaju dengan kecepatan sedang.


"Tadi kamu lihat apa sih? sampai-sampai ada yang lewat nggak kelihatan!" tanya Nisa sembari meneguk air mineral yang ada di mobil.


"Nggak kok, gak melihat apa-apa! ya ... mungkin kebetulan aja pas aku menunduk dia lewat sehingga nggak kelihatan!" akunya Pramana. Tidak mengakui kalau waktu itu dia mencuri-curi dipandang kepada Anisa.

__ADS_1


"Oh ya! menunduk atau menunduk? tapi aku merasa ada yang sedang memperhatikanku tadi!" ucap kembali Anisa namun tanpa melihat ke arah Pramana, dia sengaja mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Lha, Siapa juga yang melihat dirimu? wieeh ... ge'er bu ... anget! siapa juga yang melihat dirimu, dirimu merasa cantik gitu? sehingga aku pantas ku perhatikan," elaknya Pramana dengan tetap memfokus kan pandangan ke depan.


"Entah! aku juga nggak tahu, yang jelas sih aku nggak merasa cantik ... tapi namanya wanita ya relatif lah. Lagian cantik dan tidak itu tergantung pandangan! biarpun sejelek apapun ... kalau kata prianya cantik? ya cantik, biar secantik apapun kalau kata prianya jelek, ya jelek. Cantik itukan relatif," ujarnya Anisa.


Pramana tidak menjawab. Dia menepikan mobilnya, setelah tiba dia depan salah satu supermarket.


Lalu Anisa pun turun lebih dulu dan Pramana menyusulnya dari belakang. "Ck. Beli apa sih buat oleh-oleh? aku nggak ngerti!" Anisa sambil celingukan melihat etalase buah.


Sementara Pramana yang mendorong troli, langsung mengambil berapa bungkus buah apel dan jeruk juga buah pir dan tidak ketinggalan buah anggur.


Melihat Pramana yang mengambil buah-buahan. lalu bibinya bergumam. "Ya sudah, aku nggak perlu ngambil apa-apa lagi."


Lalu kini Anisa yang membawa belanjaan ke kasir untuk membayarnya. Dan dia berniat membayar dengan uangnya sendiri sehingga dia mengeluarkan dompet dari tasnya. Tetapi Pramana lebih dulu membayar itu semua.


"Makasih ya?" ucapnya Anisa kepada Pramana yang langsung mengambil kantong plastik tersebut.


Anisa yang memandangi pria itu yang berjalan lebih dulu menjinjing kresek buah-buahan. Dengan kedua sudut bibir yang tertarik membentuk sebuah senyuman, Anisa berjalan menyusul Pramana yang kini sudah sampai di mobil dan memasukkan belanjanya ke bagasi.


Pramana melajukan mobilnya semakin lebih dipercepat, agar segera tiba di kediaman Pak Joni dan Anisa yang mengarahkan ke mana dia harus berjalan.


Setelah melewati beberapa waktu perjalanan, pada akhirnya tiba juga di pekarangan rumah pak Joni yang tampak sepi karena memang penghuninya juga cuman berdua sekarang, yaitu Pak Joni bersama istri.


"Kok sepi?" tanya Pram sambil menengok ke arah bangunan yang di depannya itu.


"Em, mungkin bunda ada di dalam. Karena bunda gak pernah ke mana-mana kok, ayah sih pasti bekerja jam segini." Anisa membuka pintu mobilnya lalu turun dan membawa langkahnya mendekati teras.


Pramana pun turun dan sebelum mengikuti langkahnya Anisa, ia mengambil buah-buahan di bagasi lebih dulu. Barulah memasuki teras, berdiri di dekat Anisa.


"Assalamu'alaikum ... bunda! Nisa datang," suara Anisa sambil mengintip dari jendela.


"Sudah bilang belum? kalau kita mau ke sini?" selidiknya Pramana sambil menatap daun pintu yang terbuat dari kayu jati berukir indah.


"Belum, aku gak bilang kalau mau datang!" Anisa menggelengkan kepalanya.


"Pantas!" Gumamnya Pramana.

__ADS_1


Anisa lalu memencet bell yang ada di samping pintu!


Ningnong ....


Ningnong ....


Ningnong ....


"Hem, mungkin bunda lagi keluar." Kata Pramana sambil melihat ke arah samping.


Beberapa saat kemudian, terdengar derap langkah yang mendekati pintu. Dan pintu pun terbuka.


Blak ....


Tampak yang membuka pintu seorang wanita yang berkerudung hitam menutupi dada. Langsung mengedarkan pandangannya pada Anisa dengan tatapan yang meneliti.


"Assalamu'alaikum ... Bunda, ini Anisa!" langsung mendekati sang bunda dengan tatapan nanar dan bahagia bisa bertemu lagi dengan ibunda nya.


Bu Farida mengulas senyumnya yang getir, Lalau merentangkan kedua tangan agar Anisa datang untuk memeluknya.


"Wa'alaikum salam ... Nisa ... Bunda kangen sama kamu!" Bu Farida bergumam.


Kini mereka saling peluk dan penuh haru. Pelukan yang penuh rasa rindu setelah sebulan lebih terpisah.


"Kok, Nisa gak bilang mau mau datang? kalau bilang bunda pasti menyiapkan segalanya buat Nisa." Kata sang bunda setelah memudarkan rangkulannya.


"Nisa sengaja gak bilang dulu, karena Nisa mau mau bikin surprise sama bunda dan keluarga ini. Nisa kangen Bunda!" Anisa kembali memeluk bundanya.


Pramana masih mematung melihat ke arah Anisa dan ibundanya yang masih berpelukan dan saling melepas rindu.


Kemudian bu Farida menoleh pada mantunya yang tampan dan menjinjing kantong kresek, sehingga dia memudarkan pelukan pada putrinya itu.


Kepala Pramana mengangguk hormat pada Bu Farida ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment subscribe agar mendapat notifikasinya terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2