Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Mendapat jodoh


__ADS_3

Hari sudah malam. Pram baru selesai meeting dan mendapati Anisa tertidur di sofa.


"Sayang, bangun? kita pulang ke hotel!" Pram menggoyang bahunya Anisa.


"Hem ngantuk. Aku capek sedari tadi duduk mulu, penat tau ..." gumamnya Anisa tanpa membuka matanya sama sekali.


Pram menerbitkan senyumnya. Kemudian bersiap membungkukkan tubuhnya mengangkat tubuh Anisa yang tetap memejamkan manik matanya. Tapi tangannya dengan refleks merangkul leher Pram yang menggendongnya.


"Em ... aku bisa jalan sendiri kok Yank turunin aja!" pintanya Anisa dengan suara parau dan matanya tetap tertutup manja.


Namun Pramana tidak mengindahkan permintaan sang istri, dia hanya tersenyum dan membawa sang istri berjalan di koridor kantor.


Orang-orang yang berpapasan dengan Pramana yang dikenal maupun tidak dikenal, mengarahkan perhatiannya kepada pria tersebut yang menggendong istrinya.


Pram memasukan Anisa ke dalam mobil rentalnya+ada sopirnya juga yang siap mengantar kemanapun ia pergi.


"Antarkan saya ke hotel Pak!" pintanya Pram kepada sang sopir.


Yang langsung menanggapi dengan anggukan, kemudian dia pun menyalakan mobilnya lantas derik kemudian meluncur meninggalkan area kantor.


Pramana menoleh pada sang istri yang masih juga tetap terpejam dan sekarang kepalanya menyender di bahu Pramana.


"Manja amat nih istri ku, baru aja perjalanan sehari dah lelah kayak gitu, sayang-sayang!" gumamnya Pramana sambil tersenyum.


"Bukan manja yank ... tapi emang ngantuk, mata ku sangat sulit dibuka sepet banget! jangan-jangan kamu ngasih aku obat ya? agar aku tidur terus?" celetuknya Anisa tanpa membuka matanya dan tangannya merangkul pinggang Pramana.


"Ha ha ha ... enak aja! ngapain aku kasih kamu obat? lagian nggak akan enak kalau aku apa-apain juga, kaya pohon pisang. Nggak seru." Pramana tertawa lebar hingga suaranya bergema di dalam mobil tersebut.


Plak.


Anisa menepuk paha nya Pram. "Apaan sih!" sembari membuka matanya yang terasa sepet sekali itu.


Setibanya di kamar hotel. Mereka langsung membersihkan diri dan setelah itu makan malam ambil jalan-jalan.


Selama beberapa hari di Surabaya. Pram dan Anisa menikmati suasana kota itu di sela-sela kesibukannya Pram.


Seperti di saat ini Anisa sedang berburu oleh-oleh buat keluarga di rumah. "Yank, ini bagus ya buat oleh-oleh?" suami yang sedang melihat-lihat pernak-pernik nya souvenir.


Pramana menoleh dan mengamati apa yang dipegang oleh Anisa kemudian dia mengaku setuju. "Bagus tapi buat siapa?"


"Ya buat orang rumah." Anisa mengambil beberapa souvenir yang kemudian ia kumpulkan untuk nantinya dibayar.

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang di inginkan dan puas berjalan-jalan. adanya pun kembali ke hotel.


Saat ini Pram sedang membuka laptopnya dan menyibukkan dirinya dengan layar benda tersebut.


"Yang, besok pulang bukan?" Anisa turun dari tempat tidurnya.


"Hem, kenapa? urusan ku selesai. Berarti pulang, apa mau lama di sini? kan kita mau ke Bali bukan?" jawabnya Pramana yang di akhiri dengan pertanyaan.


"Emangnya jadi mau ke Bali?" Anisa malah balik bertanya sambil menatap lekat ke arah suaminya.


"Sayang mau pergi nggak? kalau sayang mau? ya pergi ... kalau gak mau ya gak usah pergi dan aku mau bekerja." Pramana mengarahkan pandangan pada sang istri.


"Terus aku nanya kamu niat nggak sih ajak aku ke Bali?" Anisa menajamkan pandangannya ke arah Pramana.


"Aku niat, sayang ... tapi tergantung sayang mau apa tidak!" tambahnya Pram.


"Mau. Mau banget." Anisa mesem lalu berjalan mengambil pakaian dari lemari yang dia bawa ke kamar mandi.


Pramana kembali meneruskan aktifitasnya dengan layar laptop.


"Ini harus selesai secepatnya agar aku nanti pergi ke Bali bisa leluasa dan tidak memikirkan pekerjaan lagi." Gumamnya Pramana sambil menatap layar dengan tangan sibuk di pana keyboard.


Sontak Pram menoleh dengan mata terbelalak melihat penampilan sang istri yang super duper seksi. Sehingga setengah sadari menutup laptop nya dan beranjak dari sofa menghampiri sang istri yang berdiri di dekat tempat tidur.


Anisa sengaja menggoda suaminya dan merasa pengen aja. Dimanja dan memanjakan. Bibir Anisa tersenyum melihat langkah suaminya yang menghampiri.


"Sayang. Apa-apaan ini?" Pram menatap intens ke arah sang istri yang mengenakan lingerie berwarna merah marun.


"Em ... Yank gak suka? kalau begitu aku ganti dulu." Anisa hendak memutar tubuhnya pura-pura mau ganti.


"Eh, jangan sayang!" Pram dengan cepat meraih tangan sang istri di tarik ke dalam pelukannya hingga membentur dadanya.


Wajah keduanya yang begitu dekat saling masih tetap. Lalu kemudian Pramana mendaratkan ciumannya di kening pipi hidung dan bibir ranum sang istri. Selanjutnya pasti tahu kan ... Apa yang mereka lakukan?


...----------------...


Setelah kesehatan Adisty pulih. Deni pun sering mendatanginya diajak dinner. Jalan-jalan dan juga mengobrol hingga pada akhirnya Deni pun mengutarakan isi hatinya kalau dia suka dan sayang sama Adisty dan juga memberanikan diri untuk melamar gadis itu.


"Tapi bukannya aku menolak Den ada sebuah alasan yang sulit aku ungkapkan dengan kata-kata!" Adisti menunduk begitu dalam.


"Kenapa? sebaiknya kamu cerita aja nggak usah sungkan-sungkan sama aku, agar aku bisa memahami apapun itu!" ucapnya Deni dengan tampak serius.

__ADS_1


"Aku rasa ... seandainya aku cerita! kamu pasti akan mengurungkan niatmu dan kamu tidak akan pernah bisa menerima apa yang aku ceritakan dan ... itu memang kenyataannya. Aku tidak ingin membuatmu kecewa," lirihnya Adisty kembali.


Perkataan dari Adisty semakin membuat Deni marasa penasaran. "Kamu tidak perlu membuat aku penasaran dan aku akan menerima apapun keputusannya, apapun kenyataannya aku akan bisa menerima itu!" Deni meyakinkan diri.


"Apa kamu yakin bisa menerimanya? sementara aku sendiri pun ragu," ucapnya Adisty kembali.


"Apa kau sangat mencintai Pram. Aku tahu itu makanya kemarin kamu sempat pengen bunuh diri karena kamu merasa cinta kamu sama dia adalah segalanya! sedangkan Pram bukanlah jodohmu dan sudah bahagia dengan sepupu ku." Ujarnya Deni sembari meneguk minumnya.


"Kalau soal itu ... aku sudah mulai bisa berdamai dengan perasaan ku sendiri. Aku sadar bahwa Pram bukanlah jodoh ku dan semuanya adalah kesalahan ku. Ya anggap saja memang intinya bukanlah jodoh." Adisti menatap kosong ke arah depan dan tangannya memutar bibir gelas yang ada di hadapannya itu.


"Terus apa yang jadi alasannya? sehingga kau sulit untuk bercerita, sementara aku butuh jawaban agar aku segera membuat keputusan dan ... Aku tidak ingin memperpanjang waktu agar kita segera menikah, membina rumah tangga yang bahagia. Aku janji akan membahagiakan mu dengan semampunya aku." Deni menatap wajah cantiknya Adisty yang entah melepas pandangan ke mana.


Lalu kemudian Adisty pun bercerita apa yang sudah menimpa pada dirinya, bahwa dia sudahlah tidak gadis lagi. Dan dia langsung mengatakan kalau yang melakukan itu bukanlah Pramana melainkan yang lain.


Mendengar cerita tersebut Deni terbengong-bengong. Yang mulanya Dia mengira kalau yang sudah merenggut kesucian Adisty adalah Pramana, tapi ternyata ... bukanlah Pram.


Melihat Deni terdiam mematung, membuat Adisty merasa Deni pasti mengurungkan niatnya dan tidak menerima kenyataan. Kalau dirinya sudah tidak gadis lagi.


Deni menghela nafas dalam-dalam dan dia akan membuat keputusan yang cukup besar untuk dirinya dan demi masa depannya. "Adanya dirimu. Aku siap menerima! aku tetap akan menikahi mu dan kita akan membina rumah tangga yang bahagia Pram dan Anisa!"


Sungguh penjelasan dari Deni di luar ekspektasinya Adisty Dia sangat terkejut dan juga bahagia ternyata ada juga pria yang mau menerima dia apa adanya.


"Kamu serius?" Adisty bertanya dan ingin meyakinkan dirinya. Apa benar Deni serius atau cuman bercanda?


Dan detik kemudian Deni mengganggu seraya menyentuh kedua tangan Adisty. "Maukah kamu menjadi istriku? menjadi ibu dari anak-anakku? lupakan masa lalu dan kita jelang masa depan yang penuh bahagia!"


Adisty yang terus menatap ke arah wajah Deni yang tulus, dengan bibir yang terus mengulas senyuman pun mengangguk! mengiyakan lamaran dari Deni.


Deni pun kegirangan dia bahagia karena lamarannya sudah diterima Adisty dan dia sudah membuat keputusan juga kalau dalam waktu dekat ini dia akan datang dan melamar Adisty pada keluarganya.


...------...


Kabar bahwa Deni dan Adisty mau menikah. Sudah sampai ke telinganya Pramana dan Anisa dan mereka pun ikut sangat bahagia, pada akhirnya Adisti maupun Deni mendapatkan jodohnya masing-masing.


Tetapi Pramana dan Anisa tidak bisa menghadiri pernikahan mereka berdua, karena bertepatan dengan adanya mereka di Bali tengah berbulan madu yang sesungguhnya ....


...🌼---🌼...


Alhamdulillah kisah Anisa dan Pramana aku tamatkan dulu sampai di sini. Dan aku ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada reader ku semua yang sudah mengikuti dari awal sampai akhir.


Sebenarnya masih pengen untuk melanjutkan, tapi untuk saat ini aku pengen fokus dulu ke dua novel yang berjudul "Kau Jandakan Aku Demi Janda" dan "Sugar Daddy & Sukma" insya Allah jika ada umur yang panjang dan Ada kesempatan aku sambung lagi kisah Pramana dan Anisa kelanjutannya.

__ADS_1


__ADS_2