Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Kecolongan


__ADS_3

Pram menatap wajah Anisa yang berjarak hanya satu jengkal lagi itu. Tadinya dia mendekat untuk menjangkau bibir Anisa yang merah merona.


Namun niat itu dia urungkan dan mundur dari wajah tersebut. Dia sadar kalau itu tidak baik bila di lakukan pada Anisa yang masih belum sah secara agama.


Pramana langsung beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Anisa di kamarnya. Dengan membawa perasaan yang tidak menentu jantungnya berdegup begitu kencang, hampir saja dia menyentuh Anisa dan untungnya dia segera tersadar.


"Huuh ... hampir saja! berpikir jernih lah Pram ... jangan mengikuti hawa nafsu mu, dia hanya istri di atas kertas doang. Lagian kau itu tidak punya perasaan apa-apa sama dia. Begitupun dia, jangan mengambil sesuatu yang dia anggap pencuri nantinya." Monolognya dalam hati.


Langkah Pramana yang lebar itu ... membawa dirinya dalam dalam beberapa detik saja sudah sampai di dalam kamarnya. Dia menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur yang sebelumnya hanya membuka baju doang t-sirt yang berwarna coklat dengan tangan tiga perempat, dia lempar ke atas sofa.


Pagi-pagi seperti biasa Anisa sudah menyiapkan susu jahe buat Pramana dan dia langsung mengantarkan ke kamarnya.


Setibanya di depan pintu, dia berdiri seraya menghela nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan tangannya menggapai handle, lalu dia putar sehingga terdengar suara klik! lantas dia mendorongnya hingga terbuka setengahnya saja.


Kedua menik mata Anisa langsung menemukan Pramana, yang tengah duduk di atas sofa sembari memangku laptopnya.


"Ini susu jahenya!" ucap Nisa sembari berlutut di dekat meja menyimpan gelas susu jahe milik Pramana.


Pramana melirik sekilas seraya bergumam. "Ya!"


Sejenak Anisa berdiri di sana. "Apakah semalam kamu yang memindahkan aku ke kamar?"


Pramana menoleh ke arah Anisa yang berdiri tidak jauh dari ujung sofa. "Emangnya kenapa? makanya kalau tidur itu jangan seperti orang pingsan, dibangunin nggak bangun. Dipindahkan juga nggak ngerasa! heran aku, nggak pakai obat aja tidurnya seperti itu. Gimana memakai obat? pantas sampai kecolongan segala! ups sorry?"


Sesaat Anisa terdiam sedikit tergores dengan perkataan Pramana barusan soal kalimat kecolongan. "Ya gimana lagi?sudah bawaan alam kali, tidur aku seperti itu!" akhirnya Anisa menjawab sembari menyatukan kedua tangannya yang menggantung di bawah.


"Makanya kalau tidur hati-hati. Bagaimana kalau kecolongan lagi?" suara Pramana dengan nada dingin sembari meraih gelas minumannya yang lalu ia sesap sedikit demi sedikit.

__ADS_1


"Ha? apa maksudnya! kecolongan gimana?" Anisa mengerutkan keningnya dia kurang mengerti dengan apa yang Pramana maksudkan.


"Ya ... kecolongan lagi, kan bisa saja. Habis tidur kamu itu seperti orang pingsan alias setengah mati." Tambahnya Pramana kembali.


"Oh gitu ... ha? terus siapa yang akan melakukan nya?" Anisa tersentak di saat dia tersadar akan yang dimaksud oleh Pramana. "Jangan-jangan kamu--"


"Jangan-jangan apanya? aku sih nggak mungkin! mana ada aku ada minat sama kamu, di antara kita itu tidak pernah ada perasaan! mana ada saya melakukannya," elaknya Pramana.


Yang langsung memotong perkataan Anisa dan wajahnya agak sedikit gugup, karena dia pun menyadari kalau semalam hampir saja dia melakukannya.


Anisa memajukan bibir bawahnya hingga beberapa cm ke depan. "Mungkinkah? kan aku nggak tahu kamu melakukan sesuatu atau tidak, dan ... kan aku tidur, jadi tidak tahu yang kamu lakukan di saat aku tidur--"


"Nisa ... kau pikir aku mau lakuin sama kamu ha? tidak," suara Pramana yang memekik tertahan. "Jelas tidak tergoda sama sekali, jelas?" akunya Pramana sembari menutup laptopnya, kemudian dia berdiri memasuki kamar mandi.


"Aish ... gitu aja marah!" kemudian Anisa pun berbalik berjalan meninggalkan kamar Pramana.


Waktu terus berputar, sehingga ketika jam makan siang. Anisa pun sudah sampai di kantornya Pramana, dia menjinjing wadah makanan yang berisi sup, balado ikan. Nasi dan lalapan juga sambal.


"Maaf, Bu ... bapak Pramana nya lagi keluar!" kata sekretarisnya kepada Anisa.


"Keluar maksudnya ... ke mana ya? meeting atau--"


"Tadi dia keluar dengan teman perempuannya, Nona Caroline Mungkin sebentar lagi pak Pramana kembali. karena sudah hampir satu jam keluarnya!" kata sekretarisnya kembali.


"Oh, ya sudah. Nggak apa-apa aku bisa tunggu kok." Anisa mengangguk lalu dia memasuki ruangan Pramana yang diikuti oleh sekretarisnya tersebut.


"Oke, Ibu ....silakan menunggu ya! saya keluar dulu!" pamit sekretaris sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerja Pramana.

__ADS_1


Tinggallah Anisa sendiri, mendudukkan dirinya di atas sofa. Setelah menyimpan wadah makan siang Pramana di atas meja, yang berada hadapan nya itu.


"Ada apa mereka keluar jam kerja pula, apa menemui Adisty?" dalam hati Anisa bertanya-tanya jadi ingat sama nama Adisty.


Anisa berdiri dan mendekati meja kerjanya Pramana, dan pandangan matanya setuju pada bingkai foto yang masih terpajang wajah Adisty dan Pramana.


"Kapan ya bingkai itu akan berganti fotonya? menjadi gambar wajah aku, ich ... ngarep banget. Siapa dirimu Nisa? istri juga hanya di atas kertas, nggak dianggap sama sekali." Gumamnya Anisa.


Lalu kemudian Anisa membawa langkahnya ke dekat jendela yang memperlihatkan pemandangan kota, di tengah terik siang siang bolong seperti ini terlihat hiruk pikuk keramaian sebuah kota. Gedung-gedung pencakar langit bertebaran di mana-mana.


Setelah menunggu sekitar 30 menitan, akhirnya Pramana datang dan langsung menatap ke arah Anisa yang tengah berdiri di dekat jendela tersebut.


Anisa menghampiri dimana Pramana berdiri. "Kamu dari mana? aku sudah menunggu 30 menit di sini, dan kata sekretaris mu. Kamu sudah lebih 1 jam perginya di saat aku datang!"


"Emangnya kenapa? apa urusan mu? aku mau pergi ke mana dan sama siapa, yang penting tidak merugikan mu bukan?" suara Pramana sembari yang mendudukan dirinya di kursi kebesarannya tersebut sambil membuka jas nya.


Anisa bengong mendengar jawaban dari Pramana barusan, lalu kemudian Anisa menghela nafas seraya berkata kembali. "Oh iya aku lupa ... aku bukan siapa-siapa yang tidak berhak mencampuri urusan mu, baiklah!" Anisa menggoyangkan kedua bahunya.


"Bagus, kalau sadar dan kamu tahu posisi mu di mana," ucap kembali Pramana sembari membuka wadah makan siangnya.


Lantas Anisa mendudukan dirinya di atas sofa, pandangan nya mengarah pada Pram. Dia sempat berpikir kalau Pramana pasti sudah makan di luar, jadi makan siang yang dia bawa tidak akan disentuh nya sama sekali. Tetapi ternyata Anisa salah menduga.


Pramana malah menyantap makan siangnya tersebut dengan sangat lahap, seperti orang yang memang belum makan siang saja.


Hening ....


Pram dengan lahap menikmati makannya, yang kebetulan perutnya lapar sekali. Tadi di luar Carolin mengajak makan di luar, tapi bagaimanapun Pramana ingat kalau Anisa pasti mengantarkan makan siangnya ke kantor ....

__ADS_1


...🌼--🌼...


Ayo ayo ayo mana dukungannya? biar aku tambah semangat untuk berkaryanya terima kasih 🙏 jangan lupa like comment subscribe bintangnya juga.


__ADS_2