
"Tumben kamu kesiangan?" sapa sang ibu pada Pramana setelah dia duduk di meja makan.
"Iya, Bu, tadi setelah subuh aku tidur lagi. Semalam sulit tidur." Jawabnya sambil mengambil piring roti bakar dari Anisa.
"Hari ini Ibu sama ayah mau ke Bogor. Dan besok baru pulang, jadi kalian pergi ke tempatnya mas Joni, kami sudah di sini lagi." Sang ibu menatap ke arah Pramana dan Anisa bergantian.
"Jadi Ibu sama Ayah mau menginap di sana?" selidiknya Anisa pada ibu mertua.
"Hooh. Kami mau nginep di sana tapi cuma semalam kok besok pagi kami dan kalian bisa pergi." Jawabnya sang ibu mertua sembari sarapan.
"Ooh." Anisa mengangguk.
"Oh ya, Nisa. Katanya Bibi nggak bisa ke sini pagi ini kemungkinan sore baru kembali jadi Nisa bisa kan memasak atau beli saja ya jangan masak sendiri, capek." Tambah sang ibu mertua kembali.
"Kalau soal masak sih, Ibu jangan khawatir, Nisa bisa kok. Ibu sudah ajarin. Nisa, kan!" Anisa mengangguk dan dia nggak ada masalah juga bila harus mengurus rumah.
"Kalau ada apa-apa di rumah, telepon saja Pramana dan mang Pei siap siaga di rumah ini." Timpal pak Lukman.
"Iya Ayah! Nisa bisa jaga diri kok dan insya Allah bisa mengurus semuanya di sini." Anisa menunjukan senyumnya yang manis.
"Oh ya Bu, Ayah. Aku pergi dulu, sudah agak siang nih!" Pramana berdiri dan meraih tangan kedua orang tuanya untuk dia cium bergantian.
"Ya sudah, hati-hati ya? jangan ngebut-ngebut di jalan, santai saja yang penting selamat!" pesan sang ibu kepada putranya sembari mengusap kepala putranya tersebut.
"Iya Bu Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Pramana langsung membawa langkahnya ke luar.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh. hati-hati?" kata sang ibu mengiringi kepergian sang anak.
"Nisa ... apa Nisa mempunyai uang?" tanya sang ibu mertua.
"Ada, lagian Pram sudah TF lagi untuk minggu ini." Jawabnya Anisa.
"Ooh, syukurlah. Kalau Pram tidak lupa mentransfer uang buat Nisa." Ibu mertua merasa bahagia kalau putra nya ternyata selalu memberikan nafkah pada istrinya.
__ADS_1
"Pergunakan uang nya dengan keperluan Anisa. Tidak perlu Anisa simpan terus kalau Anisa butuh yang digunakan uangnya," kata Pak Lukman kepada Anisa.
"Tapi Anisa belum butuh apa-apa Ayah, lagian kan apa sih yang Anisa butuhkan? semuanya ada kok di sini dan Anisa suka dengan yang tersedia di rumah ini." jawabnya Anisa kepada sang ayah mertua.
"Jadi uang itu selama ini belum pernah Anisa pakai?" lirih sang ibu mertua.
"Belum ibu. Lagian waktu itu Kak Aisyah memberikan Nisa uang buat jajan!" suara Anisa yang mengarah kepada sang ibu mertua.
"Oh ... kalau gitu gimana Anisa saja, yang penting Pram selalu memberikan Anisa nafkah. Itu saja yang ibu harapkan!" ucapnya Ibu hajah Bella.
"Iya Ibu, selama ini Anisa nggak pernah kok memintanya dari Pram, dia sendiri yang selalu memberikannya." Tambahnya Anisa.
"Baguslah, kalau bagaimanapun itu memang tanggung jawabnya Permana terhadap Anisa." Kata sang ibu mertua.
Setelah sarapan dan mengobrol panjang lebar, akhirnya bu Bella dan suami bersiap-siap untuk pergi ke Bogor untuk menemui keluarganya.
Dan mereka pun mewanti-wanti agar Anisa baik-baik di rumah dan jangan terlalu capek, tidak perlu masak lah mendingan beli saja.
Anisa mengantarkan mereka berdua sampai ke teras Lalu setelah mobilnya tiada, Anisa pun kembali masuk dan menutupi pintu utama. Dia sendiri naik ke lantai atas untuk bersantai sejenak di kamarnya.
Setelah mencuci dan menjemurnya, kemudian barulah Anisa kembali meneruskan niatnya untuk menuju kamar. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur terlentang dengan pikiran yang melayang entah kemana.
Sesekali tangannya mengusap perut yang terkadang dia merasa benci, kadang marasa sayang dengan janin yang ada dalam kandungnya itu.
Benci karena yang menanam itu bukan siapa-siapa dan hadirnya bukan atas dasar cinta, namun ada rasa sayang karena bagaimanapun janin itu adalah darah dagingnya sendiri.
"Terkadang aku merasa benci, aku benci sama orang yang telah menanam benih di rahim ku ini, sehingga terkadang aku merasa tidak sanggup untuk melihat anak ini. Tapi bagaimanapun dia adalah darah daging ku juga, dan titipan dari yang seharusnya aku rawat." Lirihnya Anisa sambil mengusap perutnya.
Kemudian wanita itu beranjak, dia mulai memikirkan mau memasak apa? buat nanti makan siang. Lalu dia mendapatkan ide kalau dia akan memasak yang simpel saja namun sekiranya disukai oleh Pramana.
...----------------...
Di sebuah ruangan terdapat kumpulan orang-orang yang telah meeting dan rapat itu dipimpin oleh Pramana dan ada satu orang yang baru, pindahan dari cabang lain. Sengaja Pramana rekrut ke sana karena ada seorang staf yang tengah sakit sehingga harus di gantikan sementara.
__ADS_1
Pria itu bernama Hendar. Namun di tengah-tengah meeting dia berapa kali terlihat ingin muntah dan berapa kali juga dia masuk ke toilet.
"Sialan. Ini sangat mengganggu ku! Aku tidak mengerti Sebenarnya aku sakit apa mual dan mual kayak orang buntung saja!" ngomelnya pria tersebut sembari mengeluarkan isi perutnya yang kadang bukan apa-apa cuman air kuning yang terasa pahit.
"Sebaiknya anda pulang saja kalau anda merasa kurang vit." Pramana menyuruh Hendar untuk pulang atau keluar dari ruangan meeting. setelah Hendar keluar dari toilet.
"Sorry, Pak sorry banget? tapi kalau dibilang kurang fit, Saya cukup fit tapi entah kenapa saya selalu mual dan tidak jelas Apa yang saya keluhkan," ucapnya Hendar yang merasa bersalah karena bagaimanapun meeting tersebut terganggu.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kau istirahat saja biar kamu fit dulu," ucap Pramana lalu menutup meeting nya.
Orang-orang yang berada di meja itu pun, pada beranjak sambil membereskan berkas nya masing-masing.
Pramana berjalan menuju ruangannya dan sesekali melihat ke arah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 12.00 siang.
pria tampan itu yang kini mengenakan kemeja coklat muda dan setelan coklat tua, memasuki ruangannya, kemudian dia duduk lantas menyebukan dirinya dengan layar laptop dan berapa berkas yang menumpuk di atas mejanya.
Dari arah luar nampak seorang wanita cantik berkerudung pashmina hitam serta setelan celana dengan warna senada, tengah berjalan menjinjing tempat makanan. Siapa lagi kalau bukan Anisa yang datang ke kantor tersebut Untuk mengantarkan makan siang buat Pramana.
Seiring dengan langkah Hendar yang berniat keluar dari gedung tersebut. Namun perutnya kembali terasa mual dan ingin muntah, sehingga Hendar berlari mencari toilet sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
"Ya Allah kenapa sih, itu orang lari-lari segala? untung saja nggak menabrak aku," gumamnya Anisa sembari mengusap dadanya. Kalau saja dia nggak belok sudah pasti ketabrak orang yang lari tersebut.
"Anda tidak apa-apa, Bu?" sapa seorang karyawan di sana yang melihat kejadian itu.
"Oh, tidak! aku tidak apa-apa!" sahutnya Anisa sembari menunjukkan senyum ramahnya.
"Syukur lah, Bu ... apa perlu saya antarkan ke ruang bapak?" tawar orang tersebut kembali.
"Makasih banyak ya! tapi nggak usah merepotkan, aku bisa sendiri kok!" tolaknya Anisa.
Lalu kemudian Anisa pun melanjutkan langkahnya, berjalan dengan teratur menuju ruangan Pramana.
Namun langkah Anisa terhenti karena terdengar ribut-ribut dari arah belakang ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Tidak lupa aku mohon like comment subscribe dan lainnya Makasih