Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Paking


__ADS_3

Setibanya di rumah, keduanya langsung beristirahat, apalagi besok siang akan terbang ke Surabaya. Namun sebelum istirahat, Anisa menyiapkan segala keperluan untuk pergi ke sana.


Paking beberapa potong pakaian Pram dan dirinya sendiri. "Apa lagi ya? beberapa potong kemeja Pram sudah ada, celana panjang ... kaos dan ... oo! iya ... hi hi hi, pakaian dalam nya belum!"


Anisa berdiri kembali mengambil paketan milik Pram dan juga punya dirinya yang hampir saja gak bawa.


"Prok! sudah selesai paking dan tinggal istirahat." Gumamnya Anisa sambil menepuk tangan.


Lanjut menarik koper nya ke sisi kamar. Lalu berbalik dan langsung terkesiap, kaget. Karena keningnya menubruk benda keras yang ternyata Pram sudah berdiri dengan mengenakan handuk sehabis mandi.


"Ach, bilang-bilang napa?" Anisa mengusap keningnya.


Sementara Pram hanya tertawa serta menatap lekat ke arah sang istri, lalu menangkap pinggangnya di tarik ke dalam dekapannya.


"Mau apa!" gumamnya Anisa mengarahkan pandangan pada Pram dengan tatapan yang sendu.


Tampa melepas rangkulannya. Pram menggeser dan mendekati nakas mengambil remote lampu yang ia gantikan dengan yang temaram.


"Karena di Bandung tadi kita tidak melakukan apa-apa, dari pada di tahan nanti membantu, mendingan kita melakukannya ke di sini aja! tidak apalah dengan suasana yang sama juga." Bisiknya Pramana tepat di dekat daun telinga Anisa.


Sembari menghembuskan nafas kecil yang terasa menyapu di area telinga Anisa sehingga menimbulkan rasa sensasi yang aneh.


Anisa hanya tersenyum tanpa mengeluarkan kata-kata, dan dia hanya pasrah apapun yang akan dilakukan oleh pria tersebut.


Wajah mereka yang begitu dekat. saling bersitatap dan seakan-akan menyelami perasaannya masing-masing. Hingga akhirnya bibir Pramana menyusuri area wajah Anisa, dari kening. Pipi, hidung. Kelopak mata dan berhenti benda tipis nan ranum milik anisa.


Pram ******* bibir Anisa dengan gerakan memutar. Menyesapnya penuh hasrat, lalu turun menyusuri area leher yang jenjang dan mulus. Di kecupnya inci demi inci.


Kedua tangan Anisa memenangi pinggang Pram kedua sisinya, yang kemudian naik merangkul pundaknya Pram dengan wajah yang mendongak, memberi jalan demi Pram bisa leluasa melancarkan aksinya di sana.


Tidak ada kata yang terucap yang keluar dari bibir keduanya hanya dengan nafas yang terdengar tidak peraturan saja yang menghiasi ruangan tersebut.

__ADS_1


Pramana mendorong bahwa wanita dengan berbaring di atas tempat tidur miliknya. Di susul olehnya yang kini mengungkung tubuh sang istri.


Anisa memalingkan wajahnya dari Pram, yang merasa tidak kuasa untuk melihat benda miliknya Pramana yang tepat di depan matanay. Terlihat meronta dari balik handuk meminta keluar dan di lepaskan.


"Sayang, ayo dong! sudah siap nih meluncur. Apakah pintu gerbangnya sudah di buka?" gumamnya Pramana sambil menatap sendu wajahnya sang istri di bawah sinar yang temaram tersebut.


Anisa menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. rasanya malu jika tidak memakai selimut atau sebagai penutupnya.


Namun sebelum meluncur ke tempat tujuan. Pram bermain-main dulu di buah segar dan menggoda, diremas dan dimainkan dengan lidahnya. Membuat sang empu meliuk-liuk geli.


Anisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi tidak lepas suara-suara aneh dari bibirnya. Namun Pram meminta kalau wanitanya tidak perlu sungkan dan lepaskan saja suaranya, lagian suaranya tidak akan terdengar keluar kok.


"Lepaskan saja sayang suaranya, Jagan sungkan dan takut terdengar orang luar. Aku lebih suka jika kamu keluarkan suara mu itu, yang terdengar merdu dan menambah aku semakin bergairah." Pram mengelus pipi Anisa dengan lembut.


Dengan tatapan sendu dan suara nafas memburu. Anisa mengangguk lalu membuka mulutnya, namun dengan cepat di bungkam dengan mulutnya Pram yang menjelajah, mengeksplor seluruh mulutnya Anisa.


"Ohh ..." Gumamnya Anisa tatkala Pram melepaskan mulutnya dan Anisa pun menghirup oksigen yang kehabisan begitu saja.


Suara Anisa terlepas terdengar begitu merdu di telinganya Pram semakin dia semakin bergejolak membakar seluruh tubuh dan naik ke kepala. Akan sangat menyiksa bila tidak tersalurkan pada tempatnya.


Membuat Pramana tidak membuang-buang waktu lagi. Dia segera melancarkan aksinya dengan sangat bergairah.


Kedua tangan Anisa menempel di punggungnya Pram dengan kuat seakan tidak ingin terlepaskan. Dengan ikhlas dan pasrah. Anisa melayani suaminya dan juga ikut menikmatinya.


Bibir Pram kembali menyentuh bibir Anisa penuh gairah dan menikmatinya dengan perasaan bahagia dibarengin dengan sentuhan nakalnya di bagian-bagian lain yang semakin memanasnya permainan yang sedang Pram lakukan.


"Emmmm ... Cuph," gumaman Pram di sela-sela ciuman panasnya.


"Hem, ach ...." lagi-lagi Anisa menggigit bibir bawahnya demi tidak terlalu berisik.


Suara dari Anisa terdengar merdu bagai bulu perindu. Terdengar manja dan membuat Pram sangat menyukainya. Pergulatan semakin sengit. Dan ingin mengalahkan lawan mainnya yang sama-sama kuat.

__ADS_1


"Euh ..." lenguhan panjang lepas dari mulutnya Pram seiring dengan menyudahi aktivitasnya. Dan pada akhirnya tubuh Pram tumbang di atas dada wanitanya.


"Oh ... makasih sayang! cuph ..." kecupan dengan durasi yang lama mendarat di keningnya Anisa yang dengan refleks memejamkan kedua matanya.


Seraya menganggukkan kepala Anisa menyembunyikan wajahnya di dada Pramana. Selimut pun dia tarik lebih ke atas dan menutupi tubuh keduanya yang sama-sama polos.


Tidak membutuhkan waktu yang lama. masakan tumpul menyerang keduanya Sehingga dalam hitungan detik pun mereka tertidur pulas. Saling memeluk dengan sangat erat.


Keesokan hari nya. Pram dan Anisa sudah berada di bandara yang berada di kota tersebut. Dengan tujuan Surabaya dengan masih urusan kerjaan. Dan sekalian honeymoon di Ciputra Golf,Club & Hotel Surabaya.


Sebelum bulan depan honeymoon ke Bali. Anisa memegangi tangan Pram dengan kuat-kuat. Merasa ngeri di saat melihat ke bawah dari ketinggian, setelah Pesawat yang mereka tumpangi tak-of melayang di udara. Mambawa penumpangnya dengan tujuan Surabaya.


"Tenang sayang, ada aku kok!" Pram menyentuh tangannya Anisa dengan mesra.


"Takut, dan ini kali pertama aku naik pesawat. Huuh ..." Anisa membuang nafasnya seraya mengontrol dirinya yang tampak gugup dan panik.


Bibir Pram tersenyum. Menatap sang istri yang tampak cemas. Keringat dingin pun menghiasi di keningnya. "Banyak berdoa semoga kita semua selamat sampai tujuan."


Anisa menelan Saliva nya beberapa mengangguk pelan dan juga memejamkan kedua manik matanya.


Setelah pesawat landing dengan sangat sempurna.


Dengan menggunakan arahan dari pramugara dan juga pramugari. Pram dan Anisa langsung turun dari pesawat tersebut memasuki sebuah terminal dan juga untuk mengambil tas koper juga laporan data lainnya.


Tangan Pram tidak pernah lepas dari tangan Anisa yang dia genggam terus menerus. Seakan tidak ingin terlepas sedikitpun.


Di sore hari, Pram langsung beraktifitas di perusahaannya. Dan Anisa tidak jauh dari Pram, dia takut kejadian yang di Bandung terjadi lagi, sehingga Anisa rela duduk di sebuah ruangan yang sekiranya masih dapat di lihat oleh Pram ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komen yang menambah aku tambah lagi dalam berkarya.

__ADS_1


__ADS_2