Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Sayang dia


__ADS_3

"Terus langkah selanjutnya mau gimana Nisa?" tanya Dea yang melirik ke arah sepupunya, Anisa


"Selanjutnya gimana maksud mu?" Anisa balik bertanya sembari menyimpan guling di dekat bantal dengan rapi.


"Iya ... selanjutnya hubungan mu dengan Pramana, bukannya mau ijab dan khabul kembali?" sambungnya Dea.


Sejenak Anisa terdiam, bibirnya mengatup rapat dengan pandangan mata yang menerawang. "Rencananya sih seperti itu! kemauan orang tua memang begitu, tapi entahlah maunya Pramana gimana?sementara aku nggak bisa dan nggak tahu apa-apa." Anisa menaikkan kedua bahunya.


"Iya juga sih ... wanita kan cuman bisa ngikutin! tapi kamu cinta kan sama Pramana? tunjukkan dong kalau kamu cinta sama dia dan cari tahu gimana perasaannya padamu! apa nggak ngerasa selama ini gimana-gimana?" Dea semakin menyelidik, gimana perasaan Anisa kepada Pramana.


Sesaat Anisa menatap ke arah Dea. "Kalau boleh jujur ... aku sayang sama dia! tapi aku kurang tahu gimana perasaannya padaku!"


"Loh kok ... nggak tahu sih? seharusnya kamu ngerasain dong gimana gerak-gerik dia, perhatian dia, pedulinya dia. Kan harusnya kamu merasakan itu!" sambungnya Dea dengan tatapan yang lebih lekat kepada sepupu dan + persahabatannya itu.


"Gimana aku tahu, orang dia gak pernah ngomong apa-apa sama aku. Kamu ada-ada aja deh!" Anisa menarik bibirnya dan tersenyum. Kemudian dia berdiri berjalan mendekati jendela untuk menutupnya karena hari sudah mulai gelap.


Dea pun ikut turun dari tempat tidur dan menyusul Anisa. "Kamu gimana sih Non ... biarpun dia nggak bilang secara lisan ... setidaknya kan ada gerak-geriknya gimana gitu?" Dea semakin menyelidik seolah-olah ingin tahu gimana perasaan Anisa dan Pramana yang sebenarnya.


Anisa mengulum senyumnya seraya menggeleng. "Aku tidak tahu."


"Ah, kamu bukannya nggak tahu! cuman ... kamu gak mau ngaku aja, ya kan? gak mungkin lah cowok sedingin-dinginnya pun pastilah ada mencairnya--"


"Kamu pikir es batu mencair? aduh Dea kamu ada-ada aja deh! kamu dengar suara magrib kan, ambil air wudhu dulu di sana." Anisa mendorong bahunya Dea agar mengambil air wudhu segera.


"Ih ... aku kan pengen tahu perasaan Pramana itu gimana sama kamu, pelit deh kamu cerita kek!" Dea mengerucutkan bibirnya.


"Tadi ... waktu di rumah sakit sebelum pulang, dia sempat memeluk ku dan dia bilang, dia akan merindukan ku! itu saja," ucapnya Anisa dengan ekspresi malu-malu.


"Awh-awh ... So sweet nya ... nanti dia akan merindukan mu, apa sekarang dia ada hubungi kamu gitu? nanyain kaar atau gimana?" Dea mengedip-ngedipkan kedua matanya sok manis.


"Ih ... nanya kabar gimana? orang baru tadi ketemu kan sebelum ke sini, kamu ini pertanyaan yang tidak masuk akal!" Anisa sembari mendorong bahu Dea agar segera mengambil air wudhu.

__ADS_1


...____...


Sudah tiga hari ini Anisa berada di rumahnya sang Bunda dan tiap hari juga bunda Farida memperhatikannya khususnya dalam hal pengobatan herbal, karena dia ingin kesehatan yang ada di dalam tubuhnya Anisa segera pulih.


Dalam berapa hari ini rasa sepi, sunyi. Menyiksa hati dan perasaan Anisa juga tidak sekalipun ada kabar dari Pramana! sementara dia nggak mungkin juga menanyakan kabar Pramana sedangkan Anisa tidak tahu nomor Pram sama sekali.


Hanya tahunya dari sang ibu mertua yang mengatakan kalau Pramana belum pulang dan kabarnya baik-baik saja di luar kota, itu saja yang bisa Anisa dengar! seperti hari ini sang ibu mertua berkunjung dan menemui Anisa. Tentunya bersama sang suami yaitu Pak Lukman.


"Assalamu'alaikum ...?" ucap salam dari Bu Bella yang masih berada di teras.


"Wa'alaikum salam ... silakan masuk? apa kabar ... Jeung!" sambut Ibu Farida dari dalam.


"Alhamdulillah baik, Masya Allah tabarakallah ... gimana kabar sebaliknya?" Ibu Bella memeluk Bunda Farida sangat erat.


"Joni belum pulang?" tanya Pak Lukman yang ditujukan kepada Ibu Farida.


"Belum, Mas ... Sebentar lagi juga pulang kok, ayo masuk?" ajak Ibu Farida sambil berjalan dan di dekat pintu di bagian dalam Anisa berdiri, menyambut kedua mertuanya dengan penuh hormat.


"Alhamdulillah, tabarakallah kami semua sehat. Gimana Anisa sendiri lebih sehat kah? Ibu kangen sama Anisa. Belum satu minggu pun rasanya sepi. kangen juga dengan masakannya!" Bu Hajah Bella langsung memeluk sang mantu.


"Di sini juga Anisa nggak mau diem, padahal sudah saya larang biar banyak istirahat! masak lah, nyuci lah ada aja yang dia kerjain. Makanya saya bilang! ya sudahlah kalau kamu seperti itu nggak bisa saya urus, boleh kembali ke sana lah ha ha ha ..." ujar sang Bunda Farida menceritakan tentang Anisa pada besannya.


"Oh gitu, ya udah ... kalau gitu ikut aja yuk nggak usah satu minggu yuk? biar lebih dekat juga cek-up ke rumah sakit, lagian di sana juga apa sih kerjaan beratnya? nggak ada, paling masak dan mencuci pakaian sendiri dan punya Pramana itu aja kan? lagian di sana kan ada bibi. Yah ikut aja ya?" bu Hajah Bella penuh harap kalau sang mantu bisa ikut bersamanya pulang.


"Aku mau banget ke sana pulang, tapi aku pengen dijemput sama Pramana, Bu ..." ucapnya Anisa dalam hati namun di bibir hanya tersenyum saja.


Kemudian mereka duduk di ruang tengah dan Anisa ngeloyor ke dapur untuk mengambilkan minuman buat kedua mertuanya.


"Anisa mau ke mana? duduk saja sini, kalau ibu dan ayah mau minum bisa ngambil sendiri jangan repot-repot!" bu Hajah Bella menarik tangan Anisa agar tidak repot-repot ke dapur dan duduk saja bersamanya.


"Nisa tau nggak, ibumu ini sangat merindukan mu setiap hari ada saja yang diomongin! merengek pengen ke sini makanya setiap hari tuha kali nelpon kamu kan?" ucapnya Pak Lukman yang diarahkan kepada Anisa.

__ADS_1


Bibir Anisa tersenyum dan melihat ke arah ibu mertuanya yang juga tersenyum simple.


"Namanya juga kangen Ayah ... kehilangan, yang biasanya ada setiap hari. Eeh ... Berapa hari ini nggak ada, kan Ibu nggak ada temen ngobrol juga! orang Renita tidak tinggal sama kita kan?" Timpalnya sang istri pada Pak Lukman.


Bunda Farida yang sedari tadi hanya banyak tersenyum melihat dan mendengar obrolan kedua besannya dan Putri kesayangannya.


"Makanya Ayah pasti bahagia sekali kalau Anisa segera pulang, biar telinga Ayah ini nggak panas mendengar kan Ibu yang katanya ingin ketemu Nisa, ingin ketemu Nisa ... aduh pusing kepala ayah nih!" Pak Lukman menggeleng. Sembari tersenyum menunjukkan gigi putihnya yang bersih berbaris rapi.


"Ya ampun ... Ibu ... segitunya deh! Anisa kan bukan anak kecil!" Anisa merangkul Bahu sang ibu mertua.


"Aduh-aduh Bunda jadi iri deh, sekarang Anisa punya ibu baru sampai-sampai Bundanya dicuekin sedih!" serunya Ibu Farida seraya tertawa.


"Bunda ... sama aja kok, aku sayang sama Bunda!" Anisa merangkul keduanya.


Terdengar suara mobil yang memasuki halaman yaitu mobil Pak Joni yang tampak celingukan karena melihat ada mobil Pak Lukman di sana, dia bergegas masuk dan langsung tersenyum lebar ke arah besannya tersebut.


"Wah ... ternyata ada Mas Lukman dan Mbak Bella kapan datang? udah lama belum?" Pak Joni langsung merangkul bahu Pak Lukman yang langsung berdiri dengan kedatangan Pak Joni.


"Baru saja datang, adalah setengah jam yang lalu. Baru pulang?" Pak Lukman menepuk-nepuk pundak Pak Joni, kemudian mereka pun duduk bersama.


"Lho kok, nggak ada minuman ataupun makanan di meja. tamunya kok dibiarin saja kata!" Pak Joni melirik pada sang istri dan meja yang kosong.


"Ya ampun ... lupa, bentar ya? bentar," bunda Farida langsung berdiri.


"Aduh jangan ... nggak usah, nggak usah repot-repot nanti juga kami ngambil sendiri, udah biar saya ngambil sendiri nggak usah ngerepotin! nggak enak kayak tu agung saja," Bu Hajah Bella pun langsung berdiri, akhirnya ke dapur bareng-bareng dengan Ibu Farida dan disusul oleh Anisa juga.


Sementara di ruang tengah Pak Joni saja dan Pak Lukman berdua mengobrol ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa dukungannya ya, makasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2