Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Pucat


__ADS_3

Melihat Anisa mematung dan memegangi pinggangnya Pramana merasa heran.


"Kau kenapa?" lalu dia berdiri dan menghampiri Anisa yang sedang memejamkan mata dengan wajah sedikit pucat, dengan refleks tangan sebelah Pramana menyentuh bahunya Anisa lalu diajak duduk di kursi yang ada di sana.


"Kamu kenapa, sakit apa? apa kau sering begini? ngomong dong ... agar aku mengerti!" Pramana menatap cemas sembari duduk di sampingnya wanita tersebut.


Beberapa kali Anisa membuang nafasnya dari mulut. "Huuh ... huuh ... huuh ..."


"Periksakan ke klinik ya?" tawarnya Pramana sembari menatap pekat pada wajah Anisa, rasanya tidak tega juga. Apalagi di rumah itu hanya ada dirinya sementara kedua orang tuanya tidak berada di tempat.


"Nggak usah. Nggak apa-apa kok. Aku cuman keram doang, nanti juga baikan." Jawabnya Anisa sembari menggeleng! dia tidak mau diajak ke klinik.


"Apa kau sering seperti ini?" tanya kembali ke Pramana.


Lagi-lagi Anisa menggelengkan kepalanya seraya berkata. "Tidak. Ini baru pertama kali kayaknya."


"Makanya aku antar ya?" Pramana gegas menutup laptopnya.


Namun Anisa kekeh menolak dan alasan dia akan baik-baik saja, sekarang pun memang sakitnya sudah mulai menghilang.


"Yakin? kau tidak kenapa-napa." Tanya Pramana.


"Aku yakin! ini juga sudah agak baikan kok," jawabnya Anisa sembari menggigit bibir bawahnya.


Sejenak mereka saling bertukar pandangan dengan tatapan yang mendalam, lalu Anisa menundukkan wajahnya mengalihkan pandangan dari tatapan Pramana! seiring jantung yang berdegup sangat kencang dan tubuhnya berasa kena setrum.


"Aku bersikap baik sama kamu ... karena aku tidak ingin dicap sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab! bukan karena aku cinta sama kamu!" ucapnya Pramana sembari mendudukan dirinya di tempat semula.


Mendengar ucapan dari Pramana barusan membuat Anisa merasa kesal, karena selalu saja bilang seperti itu. "Sebenarnya aku nggak perlu dikasihani kok! aku baik-baik aja!"


Kemudian Anisa beranjak dari duduknya, mengayunkan langkahnya untuk kembali ke kamar.


Pramana hanya menatap punggung Anisa tanpa berkata apapun. "Wanita yang hamil muda seperti dia ... seharusnya penuh dengan perhatian suaminya! tentunya suami yang membuat dia hamil, ach ..."


"Tega bener laki-laki yang membuat mu mengandung, padahal kamu cantik. Baik dan juga pandai, kok ada sih laki-laki yang tega membuat mu seperti itu! suka maupun tidak suka ya ... tanggung jawab lah, masa mau hamilin anak orang tapi nggak mau ngakuin!" monolog Pramana kembali.


Anisa menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, duduk dan menarik bantal yang kini ia peluk.

__ADS_1


"Kenapa sih Pram selalu saja bilang seperti itu, karena dia ingin menjadi seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan dia perhatian bukan karena cinta, Iya aku tahu! kalau dia itu nggak cinta sama aku. Aku juga sama ... gak cinta sama dia! tapi kok lama-lama aku jadi sayang sama dia, ih ... sayang sama dia. Dia aja nggak mikirin aku."


Anisa membaringkan tubuhnya sambil memeluk guling. Dan dalam pikirannya terbayang lagi, kejadian-kejadian di hari ini. Sehingga membuat bibirnya senyum-senyum sendiri.


Keesokan harinya. Pram dan Anisa sudah siap untuk pergi ke tempat orang tua Anisa.


Sambil menunggu kedatangan Ibu Hajah Bella dan suami dari Bogor, santai dulu di tempat yang berbeda. Anisa di taman dan Pramana di balkon.


Hingga masanya, datanglah Pak Lukman sama sang istri menjadikan Anisa beranjak dari duduknya yang tengah menikmati indahnya bunga-bunga yang bermekaran menyambut kedatangan sang ibu dan ayah mertua.


"Assalamu'alaikum, Nisa kok sudah siap nak? Pram nya mana ucap sang ibu mertua sembari memeluk Anisa.


"Wa'alaikum salam, Pram nya masih di atas, Bu." Jawabnya Anisa sambil mencium punggung tangan sang ayah mertua.


Setelah beberapa saat kemudian Pramana pun turun dengan membawa kunci mobil yang sedang digenggam, untuk beberapa saat dia berbincang dengan orang tuanya dan selanjutnya dia melirik ke arah Anisa dengan sebelah matanya.


"Mau jadi gak perginya?" suara bariton itu memecahkan lamunan Anisa yang yang sedang anteng melamun.


"Em ... jadi. Aku dah siap kok!" Anisa beranjak dari duduknya sambil meraih tas nya yang di samping dia.


"Bu, Ayah. Aku pergi dulu ya?" pamitnya Pram pada kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu ... Nisa pergi dulu ya! mohon doa nya." Anisa meraih tangan sang ibu mertua dan ayah mertua bergantian.


"Hati-hati ya?" Bu Hajah Bella lalu mencium pucuk kepalanya Anisa.


Pramana yang sudah di teras, sesekali melihat ke arah dalam


Di mana Anisa baru saja mau jalan menuju teras.


Lalu Pramana memasuki mobilnya dan memanaskan mesin. "Apakah tidak mau membawa oleh-oleh? buat keluarga di sana? tanya Pramana. kepada Anisa yang baru saja duduk di kursi belakang.


"Nggak. Nanti aja lah di supermarket, beli apa gitu!" jawabnya Anisa sembari menggeleng.


Sesaat kemudian Pramana kembali turun dan mengitari mobilnya, menuju pintu yang barusan Anisa gunakan untuk masuk.


"Keluar?" pintanya Pramana sembari membukakan pintu tersebut.

__ADS_1


Anisa marasa heran dan tidak mengerti, namun tak ayal dia pun turun dari mobil itu.


Brugh.


Pramana menutup pintu mobil yang barusan Anisa gunakan dan sementara Anisa berdiri di dekatnya Pramana, dengan perasaan yang tidak mengerti dengan maksudnya Pramana! yang menyuruh dia keluar. Tidak jadi kah atau gimana?


Detik kemudian, Pramana pun membukakan pintu depan yang berdampingan dengan kursi belakang kemudi. "Masuk?" pintanya pria tersebut pada Anisa.


Biarpun kebingungan. Anisa pun tetap naik dan duduk dengan tenang di sana, tidak lupa memasang bell safety di tubuhnya.


Pramana kembali mengitari mobilnya lalu duduk di belakang kemudi, yaitu di samping Anisa.


"Ngapain duduk di belakang? emangnya saya ini sopir kamu apa?" gerutu Pramana.


Anisa melirik ke arah Pramana. Dan dia baru mengerti kenapa dia harus pindah dari belakang ke depan dalam hati Anisa tersenyum. Namun tidak sepatah kata pun ya keluarkan di saat itu.


Mobil sudah berjalan beberapa puluh meter dan mereka memilih untuk sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dalam pikiran Anisa sudah sampai di rumah dan berkumpul dengan keluarganya.


"Di depan ada supermarket, mau belanja di sana nggak?" tawarnya Pramana sembari melirik sekilas pada Anisa.


Namun yang diajak bicara hanya diam saja sbati.melihat keluarga jendela, sehingga Pramana mengulang kembali perkataannya.


"Di depan ada supermarket! mau belanja dulu nggak di sana?" ulangnya Pramana dengan nada bicara yang agak keras.


Sehingga memecah lamunan Anisa yang tengah anteng. "Ha? bicara apa barusan, mau nanyain apa sama aku?"


"Ck. Lagi melamun apa sih? orang dari tadi ngomong nggak didengerin, di depan ada supermarket mau belanja di sana dulu nggak? Sudah berapa kali orang nanya, nggak didengerin!"


"Maaf, mungkin aku lagi melamun. Ya udah berhenti aja, belanja dulu di sana! tapi mau beli apa ya? Aku bingung soalnya ... aku nggak pernah ke mana-mana ataupun membawakan oleh-oleh buat orang rumah!" kata Anisa sambil melihat-lihat ke depan yang kata Pramana ada supermarket nya.


"Sama sekali nggak pernah ke mana-mana?" selidik Pramana.


"Em, bukan nggak pernah ke mana-mana sih ... cuman nggak pernah ada niat buat membeli oleh-oleh buat orang rumah! nggak pernah, kalau soal bepergian sih sering!" balasnya Anisa sambil mengangguk pelan dengan tangan bertaut satu sama lain.


Kedua netra mata Pramana terkadang sering mencuri-curi pandang kepada Anisa, yang kini sedang mengenakan jilbab berwarna krem cocok dengan warna kulitnya! begitupun dengan pakaian yang dikenakan sangat senada menambah dia semakin manis dan cantik ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Like komen dan like nya ya ... subscribe juga biar dapat notifikasinya, makasih


__ADS_2