Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Terjatuh


__ADS_3

"Mbak mau menampar pipi saya? silakan. Saya tidak takut! karena saya tidak punya salah apa-apa." Anisa malah menantang ketika melihat tangan Carolin melayang di udara yang hampir saja mengenai pipinya.


"Kamu tidak tahu kesalahan kamu apa? mulut kamu itu lancang! mengatakan sesuatu yang tidak pernah kamu tahu, dan satu lagi. Saya tidak suka kamu setiap hari datang menemui Pramana," ucapnya Carolin sembari menurunkan tangannya kembali.


"Hem. Mbak yang cantik yang baik hati dan tidak sombong, sekalipun saya tidak menemui Pramana ke kantor, tetap saja setiap hari kami bertemu kok di rumah!" balasnya Anisa sembari mengayunkan langkahnya hendak meninggalkan Carolin.


Namun dengan cepat dan kasar, kaki Carolin menghalangi langkah Anisa, sehingga tubuh Anisa oleng dan terjatuh ke lantai.


Brugh ....


"Auwwwh!" desis Anisa.


Brok-brek, brak ....


Wadah tempat makan siang yang dibawa oleh Anisa pun, terjatuh dan terpisah dari yang lainnya. membuat orang-orang yang berada di sana menoleh dan langsung menghampiri seraya bertanya . "Kenapa, Bu ... kenapa?"


Carolin yang berdiri tersenyum puas sembari menyilangkan kedua tangannya di dada, sementara Anisa meringis merasakan sakit di pinggul dan kedua lutut yang menghentak lantai.


Orang-orang yang menghampiri Anisa pun langsung membantu Anisa berdiri. "Anda tidak apa-apa, Bu?"


"Nggak, enggak kenapa-apa. Makasih ya?" jawabnya Anisa sembari dengan ekspresi wajah yang meringis agak kesakitan, lalu menoleh pada Carolin yang masih juga mengembangkan senyumnya.


"Sepertinya kau sedang hamil ya? anak siapa dia? kok bisa-bisanya setiap hari kamu perhatian sama Pramana? sementara kamu cuman sepupu!" ucapnya Carolin sembari menatap tajam ke arah perut Anisa yang memang membulat.


"Apa perlu saya jawab? saya rasa tidak perlu ya, dan anak siapa ini anda pun tidak berurusan!" jelasnya Anisa sembari mengambil wadah dari salah seorang yang mengambilkan untuknya.


Setelah mengangguk dan berterima kasih kepada orang tersebut ... Anisa langsung meninggalkan Carolin yang masih berdiri di area lobby.


Carolin memandangi langkah Anisa dengan tatapan sinis. "Tidak akan pernah aku biarkan kau terus-terusan mendekati Pramana, sekalipun kau punya suami dan untuk apa juga? L baby nya Pramana juga bukan!"


Anisa berjalan mendatangi mobilnya sembari memegangi pinggang yang sedikit sakit.


Brugh.


Kini Anisa sudah terduduk di dalam mobil sembari memasang bell safety di tubuhnya, melihat ke arah depan ... rupanya mang Pei yang tertidur. Mungkin dia terlalu lama menunggunya.

__ADS_1


"Mang, Mang Pei!" suara lirihnya Anisa sembari menepuk bahunya mang Pei.


"Och, Non. Maaf Mamang ketiduran?" suara mang Pei yang langsung terbangun, dia merasa kaget setelah dibangunkan oleh Anisa.


"Tidak apa-apa, Mang! lama ya menunggu?" ucapnya Anisa sambil melihat ke arah mang Pei yang tampak dengan muka bantalnya.


"Tidak apa-apa, Neng ... Mamang tahu tadi Aden dari luar!" jawabnya mang Pei seraya menghidupkan mesin mobil.


Lalu sesaat kemudian Mang Pei, memutar kemudi nya. Merayap mundur terus maju meninggalkan tempat tersebut.


Kemudian suasana begitu hening kecuali suara mesin mobil. Anisa menyandarkan punggungnya ke belakang dan melamun, juga merasakan bagian-bagian tubuhnya yang terasa sakit.


Selang berapa puluh menit, akhirnya mobil pun tiba di kediaman Pak Lukman. Anisa turun berjalan menuju teras, namun sebelum masuk ... dia menoleh pada mang Pei yang baru keluar dari mobil.


"Em ... Mang, mau nggak nanti malam, tolong antar aku ke toko ya?" Anisa memandangi ke arah pria sekitar usia 45 tahun tersebut, yang langsung mengangguk.


"Oh tentu, Neng. Mamang siap nganterin, Neng kemanapun! asal dipanggil saja nanti. Ngomong gitu, pasti Mamang meluncur." jawabnya mang Pei sembari mengangguk dalam.


"Makasih, Mang sebelumnya!" kemudian Anisa pun melanjutkan langkahnya memasuki pintu utama dan langsung ke ruangan dapur.


Rumah itu tampak sepi sekali, sepertinya kedua mertua Anisa tengah tidur siang. Sehingga rumah itu tampak tak ada penghuninya selain Bibi yang sedang menyetrika.


"Orangnya nggak ada, Bi. Kebetulan sedang keluar, makanya aku tungguin!" jawabnya Anisa.


"Assalamu'alaikum ... apakah di rumah ini ada orang?" suara seorang wanita dari arah pintu depan.


"Wa'alaikum salam, kebetulan di rumah sedang tidak ada orang! adanya orang-orangan sawah, he he he ..." jawabnya Anisa di barengi sedikit bercanda.


"Ohoo ... segitunya ... Apa kabar Anisa?" Renita langsung menghampiri dan memeluk Anisa.


"Alhamdulillah Kak ... sama siapa datangnya?" Anisa pun membalas pelukan wanita yang tengah hamil dan mengenakan gamis longgar berwarna piece senada dengan kerudungnya.


"Aku sendiri ke sini, pakai taksi karena suami ku masih ngantor. Dan dia baru mau ke sini sore," suara Renita.


"Oh ... gitu ya, kalian mau nginep di sini kan?" tanya kembali Anisa sembari menuangkan air ke dalam gelas.

__ADS_1


"Rencananya sih ... begitu, tapi nggak tau juga. Siapa tahu aja nanti malah di usir mertua! he he he ..." jawabnya Renita sembari terkekeh.


"Iih ... kak Renita kok kayak gitu. Emang ada, emang pernah ibu mertua mengusir Kakak!" sekarang Anisa mengurutkan keningnya penasaran.


"Ya ... nggak pernah, ya ... kan kali aja lagi kesurupan dan tidak mau diganggu sama menantunya yang cantik seperti aku ini, hi hi hi ..." Renita mengedipkan sebelah matanya sembari menunjukkan senyuman yang manis dari bibirnya.


"Kakak bisa aja, udah berapa bulan nih?" Anisa menyentuh perutnya wanita yang sudah semakin membesar.


"Berapa bulan ya?"


"Iih ... mana ku tahu! yang hamil Kak Renita kok." Timpalnya Anisa sambil mesem.


"Kurang lebih jangan 5 bulan deh. Gimana gimana kehamilan kamu juga? sudah ketara sekarang nih!" Renita pun menyentuh perutnya Anisa.


"Alhamdulillah, biasa saja." Jawabnya Anisa dengan nada datar.


"Oh iya, Bi ... tadi aku bawa buah tangan dan aku malas membawa ke sini, jadi kusimpan di luar! ambilkan deh?" Renita menoleh pada bibi yang langsung merespon dengan anggukan lalu dia meninggalkan setrikaannya setelah mencabutnya lebih dulu.


"Buah tangan apa tuh, Kak?" tanya Anisa yang kini mereka berdua Tengah duduk di kursi menghadap meja makan.


"Sebenarnya sih ... bukan buah tangan atau oleh-oleh! tapi untuk makan aku sendiri, seperti rujak pedas, buah-buahan segar, he he he!" Renita sembari meneguk minuman yang Anisa suguhkan.


"Oh gitu, gak kenapa-apa sih!" Anisa mengangguk.


Beberapa saat kemudian datanglah Ibu Bella dengan muka bantalnya, beliau menghampiri kedua menantunya tersebut. "Ada apa ini ribut-ribut, ganggu Ibu sama ayah yang lagi tidur, rupanya Ada mantu ibu yang super riweh. Nggak tahu apa, mertuanya lagi enak tidur siang!"


"He he he ... Ibu, maaf kalau terganggu? tapi kan bukan aku! kalau nggak kayak gitu, gimana kabar Ibu?" Renita memeluk pundaknya sang ibu mertua dan mencium pipi kanan dan kiri.


"Baik alhamdulillah ... gimana kabar cucu Ibu!" tanya sang ibu mertua sembari mengusap perutnya Renita.


"Oh ... baik, Bu ... dia sehat dan aku rajin periksakan dia!" jawabnya Renita sambil tersenyum bahagia.


"Masya Allah tabarakallah ... itulah yang kami harapkan, kalian berdua sehat tidak kurang suatu apapun!" ucap lirihnya Bu Hajah Bella.


Anisa melihat dan memperhatikan kedekatan antara mertua dan menantu di rumah itu, kemudian dia pun berpamitan untuk ke kamarnya ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like komen, subscribe agar dapat notipnya. Makasih


__ADS_2