
Selamat membaca ....
Sekitar pukul 08.00, Pramana baru nyampe di rumah. Sebenarnya Pram lama di jalan sih ... magrib berhenti di sebuah masjid dan sampai menunggu isya. Makanya jam segini dia baru sampai rumah.
Anisa yang berada di balkon menunggu Pram pulang, melihat mobil Pram masuk! dia langsung keluar setengah berlari menuruni anak tangga dan membukakan pintu untuk sang suami.
"Assalamu'alaikum ..." ucap salam dari Pramana setelah berada di teras dan berhadapan dengan Anisa.
"Wa'alaikum salam, kok baru pulang? dan nggak bilang dulu mau lembur!" balasnya Anisa seraya meraih tangan mencium punggung tangannya.
Pram.
"Maaf ya! aku pulang terlambat dan lupa bilang sebelumnya," ucap Pramana dengan lembut lalu memeluknya sebentar dan mengecup keningnya.
Kemudian mereka berjalan beriringan, masuk ke dalam rumah dan di sana ada kedua orang tua Pramana yang langsung menyapa putranya yang tampak lelah.
"Lembur bukan? kok baru pulang!" sapa sang ibu dan juga anggukan dari sang ayah.
"Iya Bu, aku ada urusan sebentar di luar. Makanya telat pulang!" sahutnya Pramana sambil sedikit bengong, kemudian Pram mengerutkan langkah mendekati anak tangga.
"Sudah makan belum?" tanya Nisa kepada Pram, sebelum langkah kaki Pram menaiki anak tangga tersebut.
"Belum, tapi aku mau mandi dulu. Nanti setelah mandi baru kita makan." Balasnya Pramana sambil meraih tangannya Anisa agar ikut bersamanya ke lantai atas.
Keduanya berjalan menuju lantai atas. Dimana kamarnya berada. Setelah berada di kamar, Anisa langsung menyiapkan pakaian ganti untuk Pramana. Kaos oblong dan celana pendek.
Setelah menyimpan tas kerja dan jasnya. Pram mendekati Anisa dan memeluknya dari samping. "Aku kangen sama kamu sayang!" cuph! kecupan hangat mendarat di keningnya Anisa.
"Kangen! Kayak lama aja nggak ketemu." Anisa menggeleng lalu memposisikan dirinya hingga berhadapan dengan Pramana, lalu membalas pelukan pria itu memeluk punggung pram. Menyembunyikan wajah di dalam dada bidangnya.
Beberapa saat, mereka saling berpelukan. Tenggelam dalam perasaan yang bergelora dan tak ada yang mengeluarkan kata-kata dari bibirnya, hanya dengan nafas yang terdengar halus dan dentingnya suara jarum jam di dinding.
Sesaat kemudian Anisa mendongak kan wajahnya melihat wajah Permana. "Ya sudah katanya mau mandi, mandi dulu gih ... aku udah lapar nih! belum makan!"
"Cuph." Pramana mengecup kening Anisa dengan durasi yang lama. "Aku masih kangen dan ingin memeluk mu lebih lama lagi."
Anisa menggeleng lalu menempelkan punggung tangannya di kening Pramana. "Kamu tidak kenapa-napa kan! kali aja kesambet apa gitu he he he ...."
"Kesambet cinta kamu sayang ... Cuph!" kecupan lagi mendarat di pipi dan kening Anisa.
__ADS_1
"Sudah ach, mandi dulu sana. Lapar nih ..." Anisa mendorong pelan dada Pram agar mandi dulu.
"Iya-iya ... iya ... aku mau mandi dulu." Pram hendak membawa langkahnya ke kamar mandi, namun lebih dulu membuka jam tangan dan kemeja juga celana panjangnya.
"Em, lupa aku belum membuka sepatu!" Pram duduk di tepi tempat tidur lalu membuka sepatunya.
Langsung Anisa ambil dan dia simpan pada tempatnya, lalu mengambil celana dan kemeja bekas Pram yang lalu dia masukan ke dalam wadah pakaian kotor.
Namun sebelum menyimpan baju bekas itu, hidung Anisa sedikit mendengus mencium bau aneh, bukan cuma bau wangi parfum Pram saja.
Pram menatap ke arah Anisa yang mencium bajunya, ia sedikit was-was khawatir Anisa curiga yang sementara dirinya belum siap bicara yang sebenarnya.
Lantas Pramana berjalan menuju kamar mandi nya. Anisa menatap panggung pria tersebut yang kemudian hilang di balik pintu.
"Kok baju Pram barusan baru aneh ya? ach, aku tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh. Nanti aku sendiri yang tersiksa dihantui perasaan yang tidak seharusnya." Gumamnya Anisa sambil menatap pakaian Pram yang sudah berada di keranjang.
Terdengar suara dering ponsel miliknya Pram, sepertinya dering sebuah panggilan! membuat Anisa mengarahkan pandangannya ke arah tas yang tergeletak di meja dan suara ponsel tersebut berasal dari tas itu.
Mau Annisa ambil, namun dia tidak berani. Dia belum berani untuk menyentuh sesuatu yang lebih pribadi milik suaminya itu, sehingga dia biarkan saja. Terkecuali kalau ponselnya terletak di meja.
Anisa membiarkan ponsel itu terus berdering begitu saja, lalu dia mengambil remote televisi lalu duduk di sofa panjang.
Pram mendapati Anisa yang tengah duduk di atas sofa sambil menonton televisi, lalu menoleh pada dirinya yang berjalan mendekati gadis itu.
"Sepertinya ... ada panggilan deh, ponsel mu terus berdering, tadi!" kata Anisa sembari menunjuk ke arah tas Pram yang tergeletak di meja dengan dagu nya.
Pram terdiam sejenak, wah ... Jangan-jangan Adis yang telepon. Begitu pikirnya Pram. "Di terima gak sayang?"
Anisa menoleh lalu menggeleng. "Nggak."
"Oya, biar saja. Di saat ini waktu ku hanya ingin bersama mu." Pram mendekat dan merangkul pinggang Anisa dan tak ayal memberi kecupan di pipi.
"Aish ... Pakai baju dulu sana ihc ..." lagi-lagi Anisa mendorong dada Pram yang memeluknya dan mendekatkan wajahnya yang nyosor terus seperti bebek.
"Sayang ... gak mau membuatku bahagia? sebentar aja." Pram menunjukan wajahnya yang sendu.
Anisa menatap lekat wajah Pram yang begitu dekat dengannya. "Kok. Bicara seperti itu sih?"
"Habis, kamu menghindar terus sih. Seolah kamu nggak mau sama aku!" Pram pura-pura merajuk dan melepas rangkulannya.
__ADS_1
"Ya ampun ... apa sih maksudnya ngomong kayak gitu?" kini Anisa mengalungkan kedua tangannya di pundak Pram, dengan tetapan yang sangat dalam. Sesaat mereka saling bertukar pandangan satu sama lain.
Kemudian dengan sedikit malu-malu Anisa mencium pipi Pram kanan dan kiri bergantian. "Kamu pakai baju dulu terus kita makan. Masa sih ... gak kasian sama istrinya yang kelaparan menunggu dari tadi," kini giliran Anisa yang merajuk dengan tangan masih di pundak nya Pram.
Pramana mengembangkan bibirnya, senyum senang karena mendapat ciuman hangat dari sang istri biarpun hanya di pipi.
"Oke, baiklah ... oke kita makan dulu sudahlah gini aja!" Pramana hanya memakai kaosnya dan handuk masih juga ya pakai.
Anisa melihat ke arah Pramana dari atas sampai bawah dengan sangat meneliti. "Ach gak mau kayak gini, malu ih ... masih pakai handuk itu kan ... sudah aku siapkan celana pendek, di pake napa? nggak mau, nggak mau kayak gini!" gumamnya Anisa.
Dia tidak mau melihat Pram yang menggunakan kaos saja dan handuk, yang jadi masalah adalah handuknya. Sementara mereka akan turun untuk makan malam, walaupun cuman di rumah! tapi kan ada orang lain juga. Seperti orang tua dan Bibi.
"Tidak apa-apa lah sayang ... kan aku laki-laki, lagian nggak kemana-mana juga cuma di rumah doang." Jawabnya Pramana sambil mengamati tubuhnya.
"Hah pokoknya nggak mau, pakai celana dulu! nanti kalau di jalan melorot gimana? Nggak mau, iyy ..." Anisa tidak bisa bayangkan kalau sedang berjalan, handuk Pramana melorot.
"Nggak apa-apa, kuat kok ... nggak akan melorot juga, kecuali kalau kamu yang nurunin. Ha ha ha ..." Pramana sambil mesem.
"Aku turunin? Iiy ..." lagi-lagi Anisa bergidik geli.
Setelah itu mereka pun berjalan meninggalkan kamarnya, dengan Pramana yang masih hanya memakai handuk dan kaos pendek saja.
"Mudah-mudahan ibu sama ayah sudah tidur, malu aku kamu cuman pakai handuk. Dikira macam-macam, lagi," gumamnya Anisa sambil berjalan dan tangannya dituntun oleh Pramana
"Emangnya kenapa mesti malu? kita sudah menikah sudah sah sayang ... ngapain juga boleh!" Pramana menggeleng seraya terus menuruni anak tangga,
Kebetulan di lantai bawah tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua.
Kemudian mereka makan malam berdua. Sesekali Anisa menyuapi Pram sangat menikmati makannya.
"Em ... besok kita harus ke butik untuk fitting." Kata Anisa sambil menyuapi Pram.
"Ooh ... besok aku pulang dulu dari kantor, jam makan siang. Sebab besok nggak bisa ninggalin kerja, paling bisa juga setelah siang aku akan jemput kamu." Pram meneguk minumnya.
"Eeh ... Atau gini saja, aku pergi saja sama ibu dan yang lainnya. Nanti kamu langsung ke butik dari kantor nya. Gimana?" Anisa memandangi ke arah Pram.
"Begitu juga boleh!" Pram mengangguk setuju ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Bersambung.