Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Malah bagus


__ADS_3

"Ya ampun ... Bunda sampai lupa, Nak Pram masuk? Nisa ... kok suaminya dibiarin berdiri di depan sih?" Bu Farida mengalihkan pandangnya pada Anisa.


Anisa pun menoleh ke arah Pram yang masih berdiri di teras dan baru mau masuk. Kemudian bersalaman dengan Bu farida penuh hormat.


"Apa kabar bunda?" sapa Pram pada sang ibu mertua.


"Baik, Pram ... mari kita duduk dan bunda akan ambil minum dulu ya?" Bu Farida akan ngeloyor pergi namun Anisa mencegahnya biar dia saja yang mengambilkan minumnya.


"Anis kan baru datang pasti capek dan biar Bunda saja yang mengambil minumnya!" kata ibu Farida menatap putri nya yang langsung ngeloyor ke dapur.


"Makasih Pram, mau mengantar Anisa dan bisa-bisanya dia mau datang gak bilang-bilang dulu," ucap Bu Farida sambil tersenyum kepada Pramana.


"Sama-sama, Bun. Aku gak tau, karena aku cuma ngantar saja." Jawabnya Pramana.


Anisa membuatkan tiga gelas minuman buah teruntuk dirinya dan yang lain. Kemudian di bawa ke ruang tengah dimana Pram dan ibunda nya berada.


"Minumnya sudah siap ..." Anisa seperti biasa berlutut untuk menyimpan ketiga gelas di meja, setelah itu dia menyimpan nampan di bawah meja dan barulah dia duduk di dekat sang bunda kembali memeluknya.


"Pram, minum dulu? pasti haus kan?" Bu Farida menyuruh Pram untuk minum.


Pramana mengangguk dan tersenyum lalu tangannya mengambil gelas tersebut, yang memang tenggorokannya terasa haus, butuh sesuatu yang segar-segar.


"Gimana, Nisa di sana kamu betah? dan sekarang tubuh kamu tampak gemukkan!" tanya sang Bunda kepada putrinya Anisa.


"Alhamdulillah, Bunda ... Nisa betah di sana dan seperti Bunda bilang, keluarga di sana sangat baik dan menerima Nisa apa adanya!" jawabnya Anisa tanpa melirik ke arah Pram.


"Termasuk saya dong ya?" sambarnya Pramana sembari mesem.


Anisa menolehkan kepalanya kepada Pramana, lalu berkata. "Baik, alhamdulillah punya suami yang baik yang perhatian dan peduli padaku."


"Syukurlah, kalau Nisa di sana betah dan keluarga juga menerima Nisa dengan baik! itu yang kami harapkan dari sini," balas sang bunda.

__ADS_1


"Oya, Bunda sudah chat kak Aisyah dan dia akan datang ke sini nanti sore! kalian menginap ya? pokoknya Bunda nggak izinkan kalian pulang hari ini juga." Jelasnya Ibu Farida.


Membuat Pramana merasa kaget, karena niatnya untuk pulang hari ini juga. "Tapi Bun!" namun Pramana tidak melanjutkan kata-katanya, bagaimanapun Pram mengerti.


Kalau mereka butuh waktu untuk saling melepas rindu apalagi kalau Aisyah datang nanti sore. Lagian gak masalah bila anisa menginap Berapa lama pun, yang penting dia bisa pulang minimal besok.


"Kenapa Pram? pokokya Bunda nggak izinkan kalian pulang hari ini juga, soalnya Aisyah mau datangnya Nanti sore, biar kita berkumpul bersama di sini. lagian kan bukannya hari libur! dan masuk kerjanya lusa ... iya kan?" Bu Farida menatap lekat ke arah Pramana.


Dan Pramana menolehkan kepala pada Anisa yang sedang menatap dirinya, lalu dia mengangguk.


"Oh iya, kalian ngobrol saja! aku mau ke kamar dulu. Rasanya pengen ganti baju! Anisa beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju lantai atas di mana kamarnya berada.


Pram sekilas melihat punggung Anisa. Lalu dia mengeluarkan tempat rokok lalu mengambil sebatang rokok yang lalu dia nyalakan dan mengisapnya.


"Bunda kira Pram nggak merokok!" suara Bu Farida kepada Pramana dan Pramana merespon dengan anggukan seolah menjawab kalau dia adalah perokok! namun tidak berat amat sih, karena paling kalau dia mau saja.


Anisa berdiri setelah sampai di dalam kamarnya dan tak ada satupun yang berubah atau satu barang pun yang bergeser dari tempatnya. Kondisinya masih tetap sama seperti sebelum dia tinggalkan.


"Akhirnya aku bisa kembali ke kamar ini lagi. Setelah semuanya aku tinggalkan dan tak ada yang berubah. Lantas kemudian Anisa menghampiri lemarinya dan mengambil pakaian ganti yang ternyata sudah banyak yang nggak muat akibat perutnya yang membesar.


"Lho, pada ke mana nih orang! kok nggak ada?" kepala Anisa celingukan lalu menemukan sang Bunda sedang di dapur yang tengah menyiapkan makan siang.


Sementara pria yang menjadi suaminya itu nggak ada entah ke mana? langkah Anisa mendekati sang Bunda. "Bunda Pram nya mana? kok nggak ada!" tanya Nisa sambil tetap celingukan.


"Em ... sepertinya Pram di taman deh soalnya tadi pas ibu ke dapur dia masih di ruang tengah sedang menikmati rokoknya--"


"Tapi nggak ada, Bun bekas rokoknya pun nggak ada," tambahnya Anisa.


"Oh ... mungkin di taman, karena dia suntuk habis Nisa kelamaan di kamar jadinya dia nggak ada teman. Cari di taman, temani dia kasihan dia kan baru di sini, masih asing!" suruhnya sang Bunda agar Anisa menemani Pramana.


"Yapi Anisa mau bantuin, Bunda masak!" jawabnya Anisa sambil mengambil sayuran.

__ADS_1


"Nggak usah ... ini biar Bunda saja yang ngerjain, Nisa temenin aja Pramana sana? kasihan dia nggak ada temen, sana cari!" Bu Farida malah mendorong kedua bahu Anisa agar mencari suaminya.


"Aaduh ... Bunda! dia itu bukan anak kecil deh, dia sudah tua. Lagian kalau nggak ada temen kan bisa nonton televisi dan dia juga punya HP yang bagus!" Anisa tampak malas-malasan.


"Pokoknya Bunda bilang temenin Pramana, Nisa jangan dulu bantuin Bunda masak biar aja bunda sendiri kecuali kalau Pramana, dia duduk di ruang tengah atau di ruang tv! Sudah cepetan sana cari dia nya," sambung sang Bunda membuat Sonia pun akhirnya mengiyakan dan mencari keberadaan pria tersebut.


Anisa mengayunkan langkahnya ke pintu keluar yang ada di dapur, yang menembus ke taman dan benar saja Pramana berada di sana. Sedang menikmati sebatang rokoknya. Dengan di samping dia ada gelas air jus tadi yang masih tersisa seperempatnya saja.


Kedua netra nya Pramana melihat ke arah Anisa yang datang menghampirinya.


"Sedang apa di sini?" tanya Anisa sembari mendudukkan dirinya di kursi yang sama, namun terlihat jaraknya antara mereka.


"Sedang mandikan kerbau, apa kau tidak lihat aku sedang duduk-duduk dan menikmati rokok!" jawabnya Pramana dan dia langsung mematikan rokoknya! setahu dia ibu hamil nggak baik bila menghisap asap rokok.


"Kenapa dimatikan, rokoknya?" Anisa kembali bertanya.


"Setahuku ... ibu hamil itu tidak baik bila menghisap asap rokok!" jawabnya Pramana sembari menyimpan tempat tokonya ke dalam saku.


Kedua sudut bibir Anisa tertarik membentuk senyuman dan manik matanya sedikit berbinar, biarpun terkadang mulutnya suka pedas ternyata perhatian juga.


"Kenapa senyum-senyum? apakah ada yang lucu!" Pramana menolehkan kepalanya melihat Anisa yang senyum-senyum sendiri.


"Nggak, aku enggak senyum-senyum kok! biasa aja." Anisa langsung mengatupkan bibirnya.


"Di sini sunyi juga ya? sama dengan yang di sana tidak terlalu ramai Sunyi, sepi ..." ucap Pramana sembari menghirup udara yang terasa segar di sana.


"Em ... boleh ya? aku tinggal di sini untuk berapa hari?" ucapnya Anisa sambil menatap ke arah Pramana yang sedang memejamkan kedua matanya dan mendongak ke langit-langit.


Pramana langsung menoleh. "Kalau kamu mau nginep? ya nginep saja! siapa yang melarang? nggak ada yang larang juga, malah bagus itu. Jadi ... nggak ada yang campuri hidupku di sana!" Pramana menaik turunkan alisnya.


"Nah-nah-nah ... mulai mulutnya pedas seperti sambal yang memakai level kepedasan tertinggi. Kadang aku berpikir ini laki-laki mulutnya kayak perempuan ya?" batinnya Anisa sambil memeicingkan sebelah matanya pada pram ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Yang belum subscribe, subscribe dulu ya ... biar dapat notifikasinya. Makasih


__ADS_2