
"Kamu ikut aja, Dea ke sana yo? biar kamu tahu dan lain kali kamu bisa main ke sana!" ajak Anisa kepada sepupunya Dea.
"Tapi besok gue ada kuliah, minggu depan aja deh! main ke sana nya dan ... lihat dulu jadwal kak Deni nya." Kata Dea sambil melirik ke arah Pramana dengan tatapan yang gimana gitu. Bagaimanapun Dea pernah menyimpan rasa kepada pria tersebut.
Namun rasa itu harus pandai-pandai dihalau, dia tepis Dan dia buang. Setelah dia tahu Pramana mempunyai kekasih apalagi sekarang Pramana sudah menjadi suaminya Anisa yang tiada lain adalah sepupunya sendiri.
"Den, Minggu depan kita barbeque. Di rumah, ntar aku serlok ya?" Pramana menepuk bahu Deni yang benar saja dia nambah lagi makan baksonya.
"Oke, gue akan datang dan ajak teman-teman ya? siapin saja Berbeque nya yang banyak." Jawabnya Deni dengan mulut penuh bakso.
"Tuh kan ... Kak Deni aja mau datang, jadi kamu ikut aja ya?" Anisa menoleh ke arah Dea yang langsung mengangguk.
"Oke, kalau begitu Aku pasti ikut ke sana! tapi awas ya kalau aku di cuekin di sana!" Dia menunjukkan ke arah Anisa dengan telunjuknya.
"Ya ampun ... dicuekin gimana? gue di sana nggak ada temen kali." Anisa menggeleng. Lalu dia beranjak dari duduknya lantas masuk ke dalam rumah.
Dea pun mengikuti langkah Anisa. "Emangnya sekarang kalian mau pulangnya?"
"Hem, kayaknya sih iya. biar tidak kesorean juga!" jawabnya Anisa sambil terus berjalan dan menemui orang tuanya.
"Bun, Ayah ... sepertinya Pramana tidak lama lagi mau pulang deh--"
"Terus, Nisa mau menginap lagi di sini?" sang Bunda langsung memotong perkataan dari Anisa.
"Nggak, aku juga di ajak pulang! nggak papa kan?" Anisa menatap lesu pada sang Bunda karena sebenarnya dia ingin sih masih menginap di sana.
"Ya nggak apa-apa, kalau Pramana mengajak Nisa pulang, berarti dia tidak mengizinkan Anisa untuk menginap lagi di sini, pulanglah karena di sanalah tempat mu." Timpalnya sang ayah.
"Kak Aisyah juga mau pulang kok bentar lagi. Nanti kapan-kapan Kak Aisyah mau main ke sana di serlok kan nanti alamatnya!" kata Aisyah yang ditujukan kepada Anisa.
"Oke. Nanti aku kirim alamatnya aku akan sangat senang, sekali kalau Kak Aisyah bermain ke sana, jangan lupa ajak juga anak-anak!" Anisa menoleh pada sang kakak.
"Aku sama Kak Deni mau ke sana Minggu depan, katanya Pramana mau ngajak berbeque, alias masak dan kita akan makan-makan." Celetuk Dea.
__ADS_1
"Oh, ya-ya ... ya sudah. Kak Aisyah minggu depan juga, biar rame-rame Iya nggak?" Aisyah menatap ke arah Dea dan Anisa lalu mau mengantarkan mangkok bekas bakso suaminya.
"Oh iya, bakso nya sudah dibayar sama Pramana semuanya!" kata Anisa.
"Oya, makasih?" Aisyah menyambut senang dengan traktiran nya dari Pramana.
Lantas Aisyah ngeloyor keluar rumah mendatangi tukang bakso. Untuk mengantarkan mangkok, sementara Anisa naik ke lantai 2 untuk menyiapkan diri karena sebentar lagi mau pulang ke tempat Pramana.
Sebenarnya Anisa merasa bimbang mau nginep di sana lagi namun nggak enak dengan omongan tetangga.
Anisa mendudukan dirinya di tepi tempat tidur, apa yang harus dipersiapkan? tak ada yang harus dia bawa, mau bawa baju aja di larang sama Pramana.
Anisa segera mengganti bajunya dengan yang panjang dan juga kerudung pashmina yang tampak cantik di wajahnya.
Tidak lupa dia mengambil pakaian Pramana yang sempat dia cuci dan mungkin kemejanya akan dipakai lagi.
Namun sejenak mematung sembari memegangi pinggangnya yang terasa sakit dan keram di perutnya. "Ya Allah, kenapa ya perut ku suka kram gini? huuh ...."
Terdengar suara dalam langkah kaki yang mendekati kamar pintu Anisa, dan tidak lama kemudian pintu pun terbuka dimana Pramana masuk untuk mengambil kemejanya.
Kemudian Anisa menoleh pada paper bag yang siap di jinjing. "Ada di situ, sudah aku rapikan."
"Kenapa dirapikan? kan mau kupakai." Pramana langsung menghampiri dan mengambilnya.
Ketika melintasi tubuhnya Anisa dan mencium aroma wangi dari wanita yang tengah berdiri tersebut. Posisinya Pramana terkunci menikmati keharuman yang mengganggu penciumannya.
Begitupun dengan Anisa, dia tetap mematung di tempat. Dengan pandangan mata kepada Pramana yang begitu dekat darinya.
Namun lama-lama tangan Pramana bergerak mengambil kemejanya yang berada di dalam paper bag.
Anisa keluar lebih dulu meninggalkan Pramana yang tengah memakai kemejanya. Kedua netra Pramana pun mengikuti pergerakan Anisa.
Dengan bibir sedikit tertarik membentuk senyuman, entah apa yang membuatnya tersenyum. Pramana mengancingkan kemejanya, mau segera menyusul Anisa yang berjalan menjinjing paper bag ke bawah. Tetapi panggilan alam menyerangnya sehingga dia terburu-buru ke tamar mandi.
__ADS_1
Di bawah pun Deni dan Dea sudah siap untuk pulang, mereka berbaur dengan orang tua Anisa.
Lalu mereka melihat ke arah Anisa yang tengah menuruni anak tangga, Nisa pun langsung berpamitan kepada ayah bundanya dan juga Aisyah juga suaminya, Azis.
"Anisa pulang dulu ya! lain kali Nisa main ke sini lagi, Bunda. Ayah sehat-sehat ya?" Anisa mencium kedua tangan orang tuanya bergantian lalu memeluk sang Bunda sesaat.
"Iya kamu juga hati-hati ya, dan yang betah di sana. Baik-baik, pandai menjaga diri. Menitipkan diri, jangan macam-macam jadilah istri yang baik! yang sholehah!" deretan perkataan dari sang ayah kepada putri bungsunya tersebut.
"Iya, Ayah. Insya Allah Anisa nggak akan lupa pesan ayah dan juga Bunda!" Anisa mengulas senyumnya pada ayah dan bundanya.
"Ingat ya, jadi istri yang baik yang berbakti pada suami, karena kebaikan mu akan menjadi pahala untuk orang tuamu!" lagi-lagi Aisyah berpesan seperti itu kepada sang adik.
"Ya ampun ... Kak, aku nggak akan lupa kali." Anisa mesem dalam berpelukan sang kakak, Aisyah.
"Kakak cuma mengingatkan ... seumpama mengingatkan Kakak sendiri, he he he ..." kata Aisyah sembari mengeratkan pelukannya pada sang adik.
"by the way anak-anak mana nih?" tanya Anisa sembari langa planga-plongo mencari keberadaan kedua ponakannya itu yang tidak ada di sana.
"Fika tidur baru aja dia, kalau si Ferly sih dari tadi. Makanya mau pulangnya nanti aja, nungguin mereka bangun!" kata dari Aisyah.
"Oh tidur, ya udah deh kalau tidur nanti kasihan terganggu. Nanti kalau ke sana diajaknya mereka kak." Sambungnya Anisa pada sang kakak, Aisyah.
"Tentu ... nanti kakak ajak mereka kok, kapan sih Kakak pergi sendirian tanpa mereka! mereka selalu aja membuntuti." jawabnya Aisyah sembari memegangi kedua tangan Anisa.
Anisa menolehkan pandangannya ke arah Azis. "Mas Azis ... jagain kak Aisyah ya! dan jangan dilarang Kalau dia mau main ke tempatku!" Anisa meraih tangan Azis untuk dicium punggungnya dengan penuh rasa hormat.
"Tentu. Emangnya selama ini Mas Azis nggak jagain kak Aisyah apa? kamu itu ada-ada aja dek!" jawabnya Azis sambil menunjukkan barisan gigi yang putih.
"Iya memang sih Mas Azis pria baik, suami yang tanggung jawab. Yang perhatian ... tapi kan kali aja nanti kalau Kak Aisyah mau main ke tempat ku dilarang! jadi gak ketemu deh!" Anisa mencabikan bibirnya ke depan.
"Di ijinkan kok ... apalagi perginya sama Mas Azis!" tambahnya Azis yang melirik ke arah sang istri yang sedang tersenyum ke arah dirinya dengan senyuman yang manis dan menenangkan.
Lalu pasang mata mengalihkan pandangan ke arah Pram yang sedang menuruni anak tangga pria tampan tersebut berjalan sembari menyingsingkan lengan bajunya sampai ke siku ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Terima kasih banyak sudah like comment dan subscribe juga.