Pernikahan Yang Tak Di Anggap

Pernikahan Yang Tak Di Anggap
Mendukung


__ADS_3

Selamat membaca ....


"Ibu, apakah Kak Nita sering datang ke sini? selama Nisa gak ada?" tanya Anisa pada sang ibu mertua.


“Em ... waktu itu saja mereka ke sini waktu ke rumah sakit,” jawabnya sang ibu mertua.


“Ooh,” lau mereka menikmati makan malamnya dengan sangat lahap.


“Gimana soal pernikahan kalian Pram?” tanya pak Lukman yang di tujukan pada Pramana.


Sejenak Pram dan Anisa saling pandang lalu Pram mengalihkan pandangannya pada sang ayah. “Aku akan segera menikahi Anisa lagi, bila perlu dalam beberapa hari ini.”


“Bagus itu ... lebih cepat itu lebih baik dan itu gampang ... datang saja ke kantor untuk mengesahkan, soal resepsi itu bisa kita bicarakan nanti. Jangankan beberapa hari ini Pram, besok juga bisa dan ayah akan menghubungi pihak kantor.” Kata pak Lukman.


“Tapi aku belum bicara sama ayah dan bunda kalau mau besok,” sahutnya Pram pada sang ayah.


“Itu gampang Pram ... ayah dan Ibu yang akan bicara sama mertua mu agar mereka datang besok! Pokonya besok ijab dan kabulnya entah siang atau sore kan bisa ya yah?” sang bunda melihat ketiganya bergantian. Mereka tampak sangat mendukung dengan pernikahan Pram dan Anisa.


“Kalau begitu sih ... aku serahkan saja pada Ayah dan Ibu.” Katanya Pam sambil melirik ke arah Anisa yang sedang menunduk dan mengaduk makannya.


Anisa hanya terdiam sambil menikmati makanan di mulutnya, ada rasa bahagia dan juga was-was. Detak jantungnya terasa dag-dig-dug tak menentu.


“Nisa mau kan ... menikah lagi dengan Pram? Biar lebih tenang saja dan kalian bebas mau duduaan juga. Gak akan risih lagi seperti sekarang,” tuturnya bu Bella sambil memandangi ke arah Nisa yang tampak malu-malu.


Kemudian Nisa mengangguk saja dengan pelan, sementara tangannya yang berada di bawah meja di sentuh oleh tangan Pram di remasnya. Anisa panik dan takut di lihat oleh kedua mertuanya sehingga dia menarik tangannya dari genggaman Pram.

__ADS_1


“Besok pagi kalian siapkan diri saja yang tentunya kamu jangan masuk kantor dulu besok, Pram ... mungkin Nisa mau memakai pakaian pengantin atau kebaya yang dia suka, yang kemarin kan bukan pilihan Nisa sendiri,” ujar dari pak Lukman sambil mengarahkan pandangannya Anisa.


“Ayah tu benar deh Pram ... mungkin Nisa ingin membeli kebaya sekalian gaunnya buat resepsi nanti dan datang saja ke butik yang kemarin itu tapi dengan pilihan Nisa sendiri.” Timpal dari bu Bella yang membenarkan perkataan dari suaminya.


Pram menoleh pada Anisa yang kini menyudahi makannya. “Baik lah  besok pagi kita ke desainer. Tapi kalau kebaya yang ... sudah jadi saja kan buat di pakai besok juga.”


“Soal kua ... itu bagian Ayah yang mengurusnya. Kalian cukup mempersiapkan diri saja dan pakaian.” Tambahnya pak Lukman.


“Hooh. Orang tua mu pun biar ibu yang bicara dengan mereka. Selesai makan ... Ibu akan telepon jeng Farida dan mas Joni.” Lirihnya bu Bella kembali.


Bu Bella dan Pak Lukman sangat khawatir juga bila pernikahan mereka berdua di tunda-tunda. Takutnya Pram dekat kembali dengan Adisty yang kemungkinan besar akan mendekati Pram yang katanya dia kembali karena untuk Pram.


Mereka yakin kalau saja sudah menikah lagi Pram akan lebih merasa tanggung jawab terhadap Anisa sebagai istri sahnya. Sehingga pak Lukman dan istri sangat-sangat mendukung atas keinginan Pram yang ingin segera menikah lagi dengan Anisa. Lagian mereka pun melihat kalau keduanya sudah semakin dekat menjadikan mereka merasa khawatir.


Selesai makan, Anisa membantu bibi untuk beberes di dapur terutama mencuci bekas makannya. Sementara Pram naik ke kamarnya. Lalu mengecek ponselnya yang ada beberapa kali panggilan dari Adisty. Mau di blok ... nanti malah memuat penasaran dan takutnya datang lagi ke rumah, akhirnya Pram chat di adan mengatakan kalau lusa akan mengajak ketemuan di sebuah tempat dan Pram meminta agar Adis tidak menghubungi sampai Pram sendiri yang menghubunginya.


Menatap ke putaran jarum jam yang terdengar dentingannya, begitu nyaring bagai karena heningnya suasana di malam yang dingin ini. Dia ingin merokok untuk membuang rasa penat yang menyiksa dirinya, namun ingat kalau Anisa meminta dirinya untuk berhenti merokok.


Akhirnya Pram bangkit dan meraih kaosnya tanpa dia pakai dan berjalan mendekati pintu kamarnya. Berdiri di depan pintu sambil mengamati pintu kamar nya Anisa. “Di kunci gak ya?”


Pram membawa langkahnya ke dekat kamarnya Anisa dengan harapan pintunya tidak di kunci dan tidak lupa mengedarkan pandangan nya ke arah sekitar yang tampa sepi. Hentikan langkahnya setelah sampai di depan pintu kamarnya Anisa. Dengan ragu memutar kenop pintu lalu di dorongan dengan sangat perlahan yang kebetulan sekali tidak di kunci dari dalam, sehingga Pram melanjutkan niatnya untuk masuk.


Tidak lupa mengunci pintunya, sebelum Pram berjalan di dalam kamar yang dengan sinar remang-remang dan mendekati tempat tidurnya Anisa yang tampak meringkuk di bawah selimut putih dan tampak sangat lelap. Pram merangkak naik ke tas tempat tidur nya Anisa, dan tidur di sampingnya Anisa yang tidurnya menyamping, dia tidur telentang menatap langit-langit.


Anisa yang nyenyak tidurnya, tidak merasakan pergerakan dari Pram yang tidur di sampingnya. Pram menggerakan tubuhnya dan tidur miring menghadap ke arah Anisa yang memunggungi Pram.

__ADS_1


Perlahan tangannya Pram bergerak, merayap ke bagian pinggang Anisa yang mulai merasakan pergerakan dari tangan Pram. Sehingga Anisa pun terbangun dan terkaget-kaget ketika melihat ada bayangan Pram yang memeluknya.


“Ka-kamu, kenapa ada di sini?” Anisa menggosok matanya yang terasa sepet dan ngantuk.


“Aku tidak bisa tidur dan ... makanya aku pindah ke sini.” Jawabnya Pram sambil mendudukan dirinya dan mengambil bantal di peluknya.


“Sebaiknya kamu jangan tidur di sini, nanti ayah dan ibu tahu gimana?” Anisa mengusap wajahnya dan menyampingkan rambutnya.


“Nggak pa-pa, lagian pintu sudah aku kunci kok. Mereka gak bakalan tau kalau aku tidur di sini bila kamu gak cerita.” Kekehnya Pram sambil menguap.


“Aku gak mua dan pokonya kamu keluar dan balik ke kamar mu. Percuma dong aku di sediakan kamar terpisah dengan mu bila satu kamar juga,” protesnya Anisa.


Pram menidurkan kembali tubuhnya di tempat semula. “Sayang ... besok kita akan menikah lagi dan otomatis kita akan satu kamar, ayolah tidur? ngantuk nih ...”


“Aku gak mau nanti ketauan ... aku gak enak sama ibu dan ayah Pram ...” Anisa pun kekeh tidak mau Pram tidur di sana.


Pram menarik tangan Anisa yang membuat tertarik dan wajahnya Anisa membentur dada Pram yang bertelanjang dada, tangan Pram pun mengunci sehingga Anisa tidak bisa bangun. “Tidur lah dan tidak perlu banyak bicara lagi, aku ngantuk berat dan aku tidak akan ngapa-ngapain kamu kok ....”


“Lepas ach? Aku gak mau kamu peluk!” pintanya Anisa sambil berusaha agar Pram melepaskannya.


“Oke. Kalau tidak mau aku peluk ... mau, aku cium nih?” ancam Pram sambil berusaha melek padahal matanya sepet banget.


Anisa merengut dan akhirnya diam juga dan kebetulan dia pun sangat ngantuk. Sehingga tidak butuh waktu yang lama untuk tertidur kembali ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Makasih ya pada reader ku semua yang masih menunggu Anisa dan Pram hadis kembali.


__ADS_2