
Pram ******* bibir ranum sang istri yang manis dan menjadi candu untuk nya. Pram menyudahi ritualnya yang entah sudah beberapa kali mencapai kepuasan. Memeluk erat tubuhnya dengan sangat erat dan menelusup kan kepalanya di leher sang istri yang masih mengontrol nafasnya dan masih naik turun tidak beraturan.
Tangan Anisa membelai rambutnya Pram yang berada di atas tubuhnya. Lalu merosot turun berbaring di samping sang istri yang gegas menarik selimut untuk menyelimuti tubuh keduanya.
Detik kemudian sudah terdengar suara dengkuran halus dari pria itu yang mungkin teramat kelelahan setelah melakukan olahraga barusan, membuat bibir Anisa tersenyum manis lalu mengecup pipinya pria yang menjadi suaminya tersebut.
Anisa merapikan selimut yang dia jepit di bawah ketiaknya dengan masih membuka mata, menatap kosong langit-langit serta pikiran yang melayang entah kemana?
Setelah beberapa saat akhirnya Anisa menguap dan kantuk pun telah menyerangnya sehingga dia memposisikan dirinya memeluk tubuh pria tegap itu lalu memejamkan sepasang manik matanya sambil bibirnya komat kamit membaca doa sebelum tidur.
Malam semakin larut dan semakin dingin membuat pelukan Anisa semakin mengerat di tubuhnya Pram yang tampak sangat lelap sekali itu.
...----------------...
Di sebuah jembatan yang di sampingnya terdapat sebuah jurang yang lumayan cukup tinggi dan terlihat gelap menyeramkan. Berdiri seorang wanita yang tampak melamun menatapi jurang tersebut. Suasana terasa hening dan tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang apalagi orang yang berjalan kaki di sana tidak terlihat ada seorang pun yang lewat.
Tatapan wanita muda nan cantik itu kosong menatap ke arah jurang tersebut. Dimana di berdiri di pinggir jembatan memegangi penghalang jembatan. Wajahnya yang kusut dan kalut begitu tampak dan air matanya pun terus mengalir begitu deras berjatuhan dan hilang di ujung dagu.
“Tidak ada gunanya lagi aku hidup, bila orang yang aku sayangi sama sekali sudah tidak perduli lagi padaku. Bahkan dia sudah bahagia dengan wanita lain dan itu gara-gara aku juga yang meninggalkan nya, hik-hik-hik,” gumamnya wanita itu yang tida lain dan tiada bukan adalah Adisty.
Adis menangis sejadi-jadinya dan memanggil-manggil nama Pram yang kini sudah bahagia dengan wanita yang bernama Anisa. Wanita pengganti menjadi mempelai sebagai dirinya yang telah kabur dari pernikahan.
“Aku usahakan kembali untuk mu Pram ... tapi kamu lebih memilih dia sebagai istri mu, kamu jahat Pram ... kamu jahat sama aku, hik hik hik ...” Adis menangkup wajahnya banjir dengan air matanya terus berjatuhan
__ADS_1
mengalir deras membasahi pipi.
“Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Pram, apa kau tahu itu Pram?” teriak Adis sambil menatap ke arah jurang, bila jatuh ke sana mana terlihat dalam dan pasti sebelum sampai di bawah pun tubuh sudah terkoyak duluan kena dahan ranting pohon yang tampa runcing.
“Aku tidak sanggup bila harus melihat kamu bahagia dengan orang lain, aku tidak sanggup Pram ... aku tidak sanggup, hik-hik-hiks.” Gumaman Adisty semakin meratapi nasibnya yang intinya tengah patah hati.
“Aku sangat mencintai mu Pram dan kamu juga seperti itu dulu dan sekarang berubah dengan mudahnya melupakan ku setelah mengenal wanita itu. Kamu kejam Pram, kamu tega sama aku. Selamat tinggal Pram selamat berbahagia dengan wanita mu itu.” Adisty kembali menyebut-nyebut nama Pram pria yang sangat dia cintai.
“Ayo Adis, lompat dari situ! Percuma kamu hidup pun. Pria yang kamu sangat cintai sudah bahagia dengan wanita lain, dan kamu hidup pun akan merana karena tak kan kuat melihat pria mu itu hidup bahagia. Sementara tidak mungkin ada yang mau sama wanita yang sudah tidak suci lagi seperti dirimu.” Dorongan yang berbisik di telinganya Adis sebelah kiri.
“Jangan, sebaiknya jangan kau lakukan itu Adis. Hidup mu masih panjang dan kamu masih muda, cantik dan pintar untuk melanjutkan hidup mu, jangan pernah berpikiran sempit untuk mengakhiri hidup. Kau harus sadar bahwa bunuh diri itu berdosa. Kamu masih banyak orang yang menyayangi mu, ingat orang tua mu yang sudah melahirkan dan merawat mu. Mereka akan sedih dna kecewa bila kamu berbuat demikian.” Bisikan dari telinga sebelah kanan.
“Tapi keluarga mu akan sangat kecewa berat bila tahu kamu sudah tidak suci lagi tidak mungkin ada pria yang mau sama wanita seperti kamu—“
Adis memang sudah tidak suci lagi, karena terenggut olah bosnya tatkala Adisty kabur waktu itu dan dia di tiduri oleh pria tersebut di saat dia tengah mabuk. Adis pernah meminta pertanggung jawaban dari bos nya, tapi dia tidak mau dan kebetulan bos nya itu sudah mempunyai keluarga. Sehingga apa daya Adis hanya mendapat kerugian dan juga penyesalan saja.
Adis pun berusaha agar dirinya tidak hamil, dan memang tidak sampai kejadian hamil sehingga dia tampak baik-baik saja ketika pulang ke rumah orang tuanya.
“Helehhhh ... sudah lah, buat apa kamu hidup? bila harus melihat kekasih mu itu bahagia, kamu gak akan sanggup untuk itu Adis. Dan kamu harus mendengar ceramah dan kekecewaan keluarga mu bila tahu kau sudah kehilangan sesuatu yang berharga, sudah lah ... kau akan lebih tenang bila melakukan nya. Kau tidak akan melihat kekasih mu lagi.”
Detik kemudian kakinya bergerak, menggeser lebih ke sisi dan dengan satu gerakan pun tubuhnya Adisty bisa melayang ke bawah jurang.
Adisty memejamkan pasang matanya seraya bergumam. “Selamat tinggal Pram ....”
__ADS_1
Adegan dramatis itu terlihat sama seorang yang sedang menunggangi sebuah motor yang melintasi tempat tersebut. Mungkin pengendara lain pun melihat keberadaan wanita itu namun mereka mungkin saja tidak curiga dan hanya melihat begitu saja ke arah Adisty yang berdiri di samping jembatan dan tidak jauh dari mobilnya yang terparkir cantik.
Geph.
Tangan Adis di tangkap dan lalu pinggangnya di tangkap juga, dengan susah payah tubuhnya Adis di seretnya ke tempat yang agak luas.
Adis terkesiap, namu tidak membuka matanya sedikitpun dan sembari bergumam. “ Sudah kali ya jatuhnya? kok tidak sakit? Tuhan ... baik benar menyabut nyawa ku tanpa rasa sakit di jiwa dan raga ku, padahal aku menjatuhkan diri ke jurang ini.”
“Kamu itu sudah gila ya, mau bunuh diri segala? he! banyak orang yang ingin hidup tapi kamu malah mau bunuh diri. Otak mu itu kemana sih? jangan simpan di dengkul dong ... tapi di kepala dan gunakan dengan baik.” Suara itu membuat kedua manik mata Adis terbelalak lebar dan mendapati seorang pria yang memeluk dirinya dan sudah menjauhkan dirinya dari bibir jembatan tadi.
Adisty celingukan mengedar kan pandangan ke tempat sekitar sambil mengusap wajahnya yang basah. “Siapa kamu? kenapa aku ada di sini?”
“Kamu itu cantik, kenapa otak mu bego? Sehingga mau bunuh diri segala?” bentak pria tersebut dan lalu melepaskan pegangannya di pinggang Adis.
Dengan tidak terduga, Adis malah kembali berlari mendekati bibir jurang dan berusaha untuk melompat lagi. Pria itu kembali meraih tubuh Adisty setelah berhasil menyusul.
“Sudah ku bilang. Kau jangan gila, hidup mu masih panjang.” Teriak si pria sambil memeluk Adis yang kini malah berontak dan ingin melepaskan diri menginjak, memukul dada si pria sambil terus berteriak ingin di lepas dan dibiarkan bunuh diri.
“Lepaskan aku? biarkan aku mati! aku tidak sanggup hidup tanpa orang yang sangat aku cintai. Aku gak bisa hidup tanpa dia, aku tidak sanggup.” Adis terus berontak, namun tubuhnya yang kecil tidak cukup mampu melepaskan diri dari si pria yang dengan sekuat tenaga menahan Adis. Agar tidak melakukan sesuatu yang tidak di inginkan.
Dan lama kelamaan, tubuh Adis semakin melemah dan tidak sanggup untuk berontak lagi ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Hi ... apa kabar semuanya ... semoga kabar baik ya. Dan aku pengucapan banyak-banyak terima kasih kepada kalian semua yang masih menemani ku sampai saat ini. Dan semoga kalian senantiasa berada dalam lindungan yang maha kuasa badan memudahkan rezeki dilancarkan setiap urusan.