
Kini Anisa dan Pram sudah berada di rumahnya bunda Farida, karena besok lusa akan di laksanakan nya resepsi pernikahan mereka berdua.
Aisyah beserta keluarganya pun sudah berada di sana
Dan saat ini mereka sedang berkumpul di meja makan sedang menikmati makan malamnya dengan sangat lahap.
"Semua persiapan sudah 100% selesai. Tinggal acaranya saja." Kata pak Joni sambil menikmati makannya.
"Iya, Yah. Semua tinggal acara nya saja dan Semoga semuanya lancar tanpa ada halangan apapun." Balasnya Pram sambil mengangguk lalu mengambil gelas nya yang berisi air putih.
"Aamiin, semoga saja tanpa ada halangan apapun!" Timpalnya Ibu Farida.
Acara resepsi pernikahan itu akan diselenggarakan di sebuah gedung, yang tidak jauh dari kediamannya mereka.
Anisa menatap ke arah Pramana dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah mendengar ponsel Pramana berdering.
"Ponselnya Pram berdering terus, apa mungkin itu Adisty yang menghubunginya?" Gumamnya Anisa dalam hati sembahyang menatap ke arah yang asik nikmati makan malamnya.
"Pram. Apa itu ponsel mu? berbunyi terus mungkin penting!" ucap Aisyah kepada Pram.
Kamu menoleh kepada Aisyah. "Paling itu temen-temen, Kak yang iseng."
"Jawablah dulu, setidaknya dilihat dulu. Siapa tahu itu penting!" timpalnya Anisa sembari memandangi suaminya tersebut.
Memang Pramana pun terganggu dengan adanya nada dering yang berasal dari ponsel miliknya. Kemudian dia merogoh sakunya mengambil ponsel tersebut dan dapat dia lihat siapa yang memanggil itu, nama kontak Adisti. Sejenak pria tampan itu menatap layar ponsel. Dimana kontak Adisty terus memanggil dan pada akhirnya Pram langsung mematikan ponselnya begitu saja.
"Siapa? beneran penting." Tanya Aisyah kembali.
"Oh, itu teman-teman! biasalah suka iseng-iseng gitu kan," jawabnya Pramana sembari memasukkan kembali ponsel dalam saku.
"Oh gitu!" semua mengangguk lalu melanjutkan kembali makannya.
__ADS_1
Suasana meja makan pun sesekali ramai dengan celotehannya Fika dan Ferly yang rebutan ikan.
"Eh eh jangan rebutan ih kan masih banyak ngapain rebutan sih!" Aisyah melerai kedua putra-putrinya.
"Iya nih, kayak ikan tinggal satu biji aja direbutin. Tuh masih banyak bila perlu Tante goreng lagi ikannya," timpalnya Anisa sembari menunjuk ke arah lemari pendingin.
"Ambillah satu-satu sayang, nggak boleh rebutan!" tambah lagi Aisyah dan kedua anaknya pun menurut.
Lamanya tersenyum melihat anak-anak itu Dan Dia pun mengambilkan ikan goreng untuk nikah dan peri satu-satu. "Ayo, dimakan nanti kalau kurang ... tante goreng lagi lho." Sambil melirik ke arah Anisa.
Pram lebih dulu menyudahi makannya dengan meneguk setengahnya air minum sisa dia tadi. "Aku duluan masuk kamar."
Yang lain hanya mengangguk menyilakan Pramana untuk beranjak dari tempat tersebut.
Kemudian Pram berjalan memasuki kamarnya Anisa. Pendudukan dirinya di atas tempat tidur bengong sesaat kemudian merogoh sakunya, mengambil ponsel yang tadi dia matikan dia tetap layak tersebut yang hitam tanpa background.
"Buat apa Adisty menghubungi aku lagi? yang ada nanti gerecokin, apa harus ku blok aja kali ya nomornya? tapi kalau diblokir justru takutnya dia akan mencari aku ke rumah segala, jadi bingung bin galau." Gua maunya Pramana sembari mengajak rambutnya frustasi.
"Kenapa kayak orang linglung gitu lagi bingung ya Apa yang sedang dipikirkan?" tiba-tiba ... suara itu muncul di tempat tersebut yang sama sekali tidak disadari oleh Pramana, kapan masuknya.
"Ya ... tau aja, dari mukanya aja tampak bingung dan kayak orang frustasi. Pasti yang nelpon barusan Adisty kan? kamu nggak bisa bohong sama aku! jujur aja, Aku nggak suka kamu bohong!" ucapnya Anisa sembari menatap curiga ke arah Pram.
Sejenak Pramana terdiam dan pandangan matanya mengarah pada Anisa yang bisa membaca apa yang sedang terjadi, dan juga dugaannya adalah benar, kalau yang menelpon dirinya itu adalah Adisty.
"Iya sayang, Adis yang menelpon ku. Tapi nggak sempat aku jawab dan tadi aku langsung matikan handphone nya, bukan ... bukan aku berniat membohongi mu! cuma ... kan aku nggak enak kalau ngomong di hadapan mereka semua!" Pram bergerak tangannya dan mengusap pipinya Anisa dengan punggung jemarinya.
"Apa dia sering menghubungimu atau setiap hari gitu?" selidiknya Anisa.
"Nggak juga, setelah waktu itu di resto ... baru sekarang ini dia hubungi lagi, sekarang aku udah aktifkan lagi ponselnya dan nanti kalau telepon ... maksud aku dia manggil lagi kamu aja yang angkat, kamu yang bicara dengannya." Sambungnya Pramana sambil menyalakan kembali ponselnya yang tadi sempat dia nonaktifkan.
"Buat apa aku ngomong sama dia? kan dia butuhnya sama kamu, makanya telepon kamu," balasnya Anisa dengan nada sedikit dingin.
__ADS_1
"Sayang ... biar dia mengerti kalau aku ini sudah punya istri, tolonglah dukung aku. Agar menjadi suami yang baik dan setia." Ungkap Pramana sembari memegang kedua tangan Anisa.
"Emangnya ada niat ya? untuk tidak setia dan untuk menjadi suami yang tidak baik?" serunya Anisa kembali sembari mengulum senyumnya, sedikit menggoda pria yang berada di hadapannya itu.
"Ya ... bukan begitu sayang ... tapi kan yang banyak melakukan hal menyimpang itu dikarenakan kebanyakan adanya kesempatan, dan tolong kepadamu istri ku. Jangan berikan aku kesempatan untuk menyimpang," ujar Pram dengan nada lembut mengarahkan tangannya membelai rambut manis yang terurai bergelombang.
Anisa menunjukkan senyumnya yang termanis kepada Pramuka. "Emangnya aku harus menjaga kamu selama 24 jam?"
"Bila seandainya, andaikata ... Itu diperlukan, he he he ... boleh! dijaga selama 24 jam setiap harinya, jangan biarkan suami mu yang tampan ini digoda wanita lain," jawabnya Pram sambil menyunggingkan bibirnya ke sudut samping.
"Ge'er amat, ngaku tampan sendiri." Anisa mesem-mesem sendiri mendengar perkataan dari Pram yang memuji dirinya sendiri.
"Biarin aja memuji diri sendiri, di puji istri aja nggak pernah, ha ha ha ..." Pram merangkul bahunya Anisa dari samping.
"Buat apa di buncit nanti tambah ge'er, nanti hidung terbang jauh gimana? ntar hidung mancungnya hilang, kan repot." Anisa menjepit hidungnya Pram yang mancung.
"Suka kan ... dengan hidung ku? Makanya saya mau juga tidur aku, suka kan ... Ayo ngaku?" Pram mendorong tubuh Anisa ke belakang di atas tomat tidur yang lebih sempit dari tempat tidurnya Pram di rumah itu.
"Nggak, aku nggak suka, cuma pengen saja menjepitnya." Kata Anisa sambil ketawa kerama pinggangnya mendapat gelitikkin dari tangan kekar nya Pram.
"Em, nggak mau ngaku. Gengsi amat sih jadi istri ku ini, Hem. Hem bikin aku gemes deh ...."
Keduanya berguling-guling di atas tempat tidur tersebut, lalu mereka bermesraan saling menumpahkan rasa rindu.
"Sayang, kapan akan memberikannya pada ku? Aku sudah tidak sabar nih. Masa tega sih biarkan aku menunggu terus!" suara lirih Pram penuh dengan rengekan, bak anak kecil yang gak di kasih jajan dan salah satu tangannya memainkan sesuatu yang terasa kenyal-kenyal, geli namun mengasikan.
Membuat Anisa tidak bisa berkutik, dan membelai rambutnya Pram penuh kasih sayang. Sesekali mencium kening pria yang sedang merajuk tersebut.
"Sabar dong ... nanti juga ada waktunya bukan?" lirihnya Anisa dengan lembut.
Kemudian mereka pun melanjutkan aktivitas bermesraannya sampai Pram merasa sedikit puas. Sehingga pintu di ketuk dan terdengar suara dari ponakan Anisa pun, tidak dihiraukan keduanya dan untungnya pintu tadi Anisa kunci. Kalau saja lupa mengunci terus anak-anak sampai masuk, wah ... bahaya banget, mana lampu nya menyala dengan sangat terang ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Bersambung.