
"Pram?" panggil Anisa sembari membuka pintu dan tampak. Pramana yang sedang berbaring telungkup di tempat tidur entah apa yang di rasa.
Karena sebenarnya dia bukan karena nggak enak badan. Dia cepat-cepat pulang karena ada maksud lain, yaitu menghindari Adisty yang katanya mau datang ke kantor.
Mendengar Anisa memanggilnya. Pramana menoleh tanpa merubah posisi tidurnya. "Ada apa?"
"Kamu. Kurang enak badan, ke dokter atau mau gimana?" tanya Anisa sambil menatap Pramana.
"Hem ... malas ach tubuh ku rasanya pegal-pegal nih, mungkin karena tidur di lantai kali." Kata Pramana dengan suara lemas.
Anisa melihat pintu yang sengaja dia buka, lalu melihat ke arah Pramana kembali. "Apa mau ku pijit?"
"Hem ... boleh," Pramana langsung melonjak bangun dan menatap ke arah Anisa.
Kemudian Anisa mengambil body lotion dari tempatnya, dia bawa ke dekat Pramana.
Anisa merangkak naik ke atas tempat tidur, duduk di dekat Pram yang sedang melepas kaosnya.
Lalu Pramana tengkurep kembali dan Anisa mulai mengaplikasikan body lotion, di punggung dan tangan Pramana.
"Emang kamu bisa memijat?" tanya Pram ragu.
"Nggak tau, baru nyoba kali ini. Hi hi hi ... makanya kalau gak enak maaf-maaf aja ya?" Anisa terkekeh sendiri.
"Hah. Meragukan sekali," gumamnya Pramana sambil menempelkan pipi nya di bantal.
Lama-lama enak juga pijitan dari Anisa, sehingga Pramana merem melek. Menikmatinya.
Tangan Anisa dengan lembut menyusuri tangan dan punggung Pramana. Di pijitnya dengan teliti, di akhiri dengan kedua kakinya.
"Nisa ... Pram ... makan dulu." Suara Bu Farida berdiri di depan pintu yang terbuka.
Anisa yang melihat ke arah sang bunda. "Iya, Bun ... sebentar."
"Pram nya di pijat ya?" kata bunda Farida kembali.
Pram menoleh pada sang ibu mertua. "Bun. Enak juga nih, apa karena emang lagi anu aja kali ya?"
"Ya sudah, nanti kalau sudah selesai pijitnya! kalian makan ya!" tambahnya Ibu Farida sembari ngeloyor lagi kembali ke lantai dasar.
"Iya Bun, nanti kami nyusul!" kata Pramana dengan posisi yang masih sama.
Anisa yang sedang memijat kakinya Pramana bergantian senyum-senyum sendiri, melihat bulu kaki Pramana yang panjang-panjang dan dengan isengnya dia mencabut satu rambut yang ada di betisnya pria itu.
__ADS_1
Sehingga sang Ibu memakai kesakitan. "Auwh! nyeri sayang," pakai Pramana spontan memanggil Sayang.
Sementara Anisa cekikikan sembari melihat bulu kaki Pramana di tangan dan memperlihatkannya pada Pramana.
"Apa-apaan sih, kamu iseng banget mulu kaki orang dicabut. Emangnya kau pikir nggak sakit apa?" orang mana terbang dan mengusap-ngusap betisnya yang terasa perih geli-geli gimana gitu.
"Hi hi hi ... habis geram aku. Lihat panjang-panjang." Anisa nyengir dan menunjukan giginya yang putih.
"Nggak usah ketawa, buka iklan pasta gigi." Pramana masih mengusap-ngusap kakinya.
"Maaf deh ..." kata Anisa namun dengan isengnya, lagi-lagi berniat mencabut satu bulu kakinya.
Namun kaki Pramana keburu menghindar dan menangkap tangan Anisa. "Awas ya? beraninya." Pramana memegangi tangan Anisa.
"Iya ampun-ampun, lepasin aku!" Anisa sambil tertawa.
"Nggak ada, nggak ada ku lepasin! kecuali ini dulu," Pramana menunjuk pipinya yang minta dicium.
"Aah ... nggak mau. Tempat tetangganya aku mau makan." Anisa menarik tangannya dari genggaman Pramana.
Sementara perangai Pramana pun ketawa-ketawa pada Anisa, kalau di saat-saat seperti ini dia pun menjadi lupa pada Adisty.
"Ya udah, aku kangen Bunda nih kalau nggak boleh lepasin!" ancamnya Anisa.
"Ayo dong lepasin, Aku mau cuci tangan dan perutku sudah lapar." pinta Anisa kembali.
"Iya makanya ini dulu, buruan? nanti ku lepasin!" lagi-lagi Pramana menunjuk pipinya. "Atau aku aja lah yang ngasih!"
"Ih nggak mau, katakan siapa kita nggak boleh walaupun tidak satu kamar, apa lagi gitu-gitu!" ucapnya Anisa sembari melihat kanan dan kiri.
"Aku tahu itu salah, tapi gimana ya? lagian kita kan sudah menikah bukan orang pacaran lagi! wajar dong kalau kita melakukannya apalagi sama-sama suka--"
"Iih enak saja. Siapa yang suka? gak ada!" timpalnya Anisa memotong perkataan dari Pramana.
"Beneran nggak suka? kalau nggak suka kenapa mau dan itu bukan sekali lho, ayo jawab?" Pramana sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Anisa yang mundur ke belakang, dengan tatapan yang sangat lekat.
"Em ... memang nggak suka!" jawabnya Anisa sembari membalas tatapan Pramana dengan menggerakkan kedua bola matanya.
"Kalau nggak suka kenapa nggak menolak? kenapa malah menikmati, kenapa nggak berontak? tetapi malah terlena. Kalau nggak suka ... nggak mungkin mau aku peluk dan aku cium. Apa itu tandanya tidak suka?" tatapan Pramana semakin lekat.
Dan wajahnya semakin mendekat membuat tubuh Anisa semakin ke belakang dan akhirnya terbaring ke atas tempat tidur. Tubuh Pramana pun berada di atas dengan tangan masih juga memegangi tangan Anisa yang malah semakin mengunci di samping kanan dan kiri tubuhnya wanita cantik tersebut.
"Lepasin Aku Pram? aku takut!" suara Anisa sangat lirih, serta tatapan mata yang bergerak mengarah pada Pramana. Pria yang bertelanjang dada itu malah tidak mendengarkan perkataan dari Anisa.
__ADS_1
"Pram, awas biarkan aku bangun please ... aku mohon! Jangan begini aku takut," suara Anisa nyaris tak terdengar. Apalagi ketika mulutnya dibungkam oleh mulut Pramana.
Nyess ...
Dingin, geli dan hangat.
Bibir Pramana ******* benda tipis miliknya Anisa dan sekian detik kemudian dia melepaskannya, bangun membiarkan Anisa bangun juga dengan cara dia tarik tangannya.
"Pergilah! nanti aku menyusul ke bawah, mau mandi dulu sebentar dan belum dzuhur." Suara Pramana yang sedikit berat terdengar dari nafasnya yang ngos-ngosan.
Namun Anisa tidak lekas pergi sejenak dia terdiam diri dan bersama mengontrol nafasnya yang sedikit memburu sembari menunduk dan menggigit Bibir bawahnya.
Pramana gagas turun dan pergi ke dalam kamar mandi. Sembari mencoba untuk mengontrol diri yang semakin ke sini semakin, nggak kuat menahan gejolak diri. Berusaha mengendalikan nafsunya yang hampir saja membludak bila tidak kuat menahannya.
Anisa melihat ke arah pintu kamar mandi, di mana Pramana berada di sana. Kemudian perlahan dia beranjak tempat duduknya, menyimpan body lotion ke tempatnya, dan lalu meninggalkan kamar tersebut.
Anisa menunggu Pramana untuk makan sudah 15 menit dia belum turun juga.
"Kok Pramana belum turun juga! jangan-janhan dia ketiduran?" tanya sama Bunda yang sudah selesai makannya.
"Tadi waktu Nisa turun, katanya mau mandi dulu dan belum Dzuhur juga." jawabnya Anisa.
"Oh pantas! boleh boleh bertanya sama Nisa!" sang Bunda menatap lekat ke arah putrinya dengan tatapan yang sangat serius.
"Em ... mau bertanya apa Bun?" tanya Anisa sembari meneguk minumnya sedikit demi sedikit.
"Anisa sayang kan sama Pram?" pertanyaan itu terdengar sangat serius di telinganya Anisa.
"Kenapa Bunda bertanya seperti itu?" Anisa malah balik bertanya kepada sang Bunda.
"Nggak ... Bunda cuma pengen tau aja, sepertinya Putri Bunda sedang jatuh cinta. Dan tentunya ... cinta setelah menikah itu lebih indah!" lirihnya sang Bunda sembil tersenyum manis.
Anisa tersipu malu mendengar perkataan dari sang Bunda. "Nisa rasa ... Nisa nggak perlu menjawabnya Bun. Karena Bunda pun pasti tahu dan mengerti tanpa harus bisa jawab!"
"Iya sih ... tanpa dijawab pun Bunda tahu, ya sudah! kalian makan ya? Bunda mau istirahat siang dulu!" Bunda Farida langsung beranjak dari duduknya setelah Pramana turun ke lantai dasar mendatangi meja makan.
"Bunda mau ke mana kenapa nggak makan?" tanya Pramana ketika melihat sang ibu mertua malah pergi.
"Sudah makan duluan! tinggal kalian saja berdua!" jawabnya Bunda Farida sembari melirik ke arah Anisa.
Kini Pramana dan Anisa menikmati makan siangnya berdua, mulanya diam-diaman tapi lama-lama mereka pun ngobrol juga ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Bersambung