
Pramana merangkul Anisa sembari menutup tubuh wanita itu dengan handuk, lalu berjalan untuk mengantarnya ke kamar.
"Nggak usah di gandeng, aku bisa jalan sendiri." Protesnya Anisa pada Pramana sembari memegangi handuknya.
"Ach. Jangan banyak bicara!" gumamnya Pramana sambil terus berjalan di samping Anisa.
Andre dan Renita hanya saling pandang melihat Anisa digandeng Pramana. Kemudian keduanya saling melepas senyuman.
"Aku yakin deh, lama-lama mereka akan saling cinta. Mungkin sekarang juga sudah punya perasaan cuman ... pura-pura cuek aja!" ucapnya Renita kepada Andre suaminya.
"Hooh, aku juga merasakan yang sama. Sekarang juga Pramana mulai perhatian sama istrinya, baguslah. Dari pada mengharap kekasihnya yang tidak respect sama dia, waktu nikah saja ninggalin! apa yang akan di harapkan bukan!" timpalnya sang suami sembari memandangi adiknya tersebut
"Anisa, kenapa Pram?" tanya sang Bunda setelah melihat Anisa digandeng oleh Pramana.
"Ini, Bu ... cuma ... Anisa kedinginan, gak nurut nih! udah dilarang juga," jawabnya Pramana sambil terus berjalan bersama Anisa mendekati anak tangga.
Anisa menoleh ke arah Pramana sembari mendelik kan matanya dengan sangat sempurna. "Enak saja bilang gitu! lepasin? aku bisa jalan sendiri." Anisa menggerakkan kedua bahunya yang Pramana pegangin.
Namun Pramana tidak menghiraukannya, dia terus saja mengandeng, merangkul bahunya Anisa sambil terus berjalan sama-sama menaiki anak tangga.
"Kamu akan terus mengantar ku ke dalam kamar? awas ya, berpikiran mesum!" ucapnya Anisa sebelum sampai di dekat daun pintu kamarnya.
"Emangnya kenapa? masalah? kan aku sah-sah saja bila berada di sana! wajar dong bila berpikiran mesum juga, kan aku normal," sahutnya Pramana sembari mengulum senyumnya.
Lagi-lagi Anisa dibuat mendelik, melotot kepada Pramana sembari melepaskan diri dari rangkulannya. "Lepas! aku mau masuk kamar, mau ganti baju!"
Anisa buru-buru masuk ke dalam kamarnya itu dan tidak lupa menutup daun pintunya.
Brugh!
Untung saja daun pintu tidak mengenai batang hidungnya Pramana yang mancung, karena dia tidak berdiri tidak terlalu di ambang pintu.
Sejenak Pramana berdiri di sana, lanjut. Pria yang sedang mengenakan kaos street hitam serta celana pendek selutut itu, mengayunkan langkahnya menuju tempat ternyaman nya yaitu kamar.
Saat ini ... di meja makan sudah berkumpul keluarga pak Lukman, untuk menyantap makan malam bersama. Anisa berdiri dan mengambil piring Pramana lalu mengambilkan nasi dan lauk pauknya.
Setelah itu ... barulah Anisa mengambil untuk dirinya sendiri.
"Yang ibu hamil ... makannya yang banyak ya ... biar kandungannya pun sehat!" kata sang ibu mertua sembari menatap ke arah Anisa juga Renita.
__ADS_1
"Nisa, nggak ada masalah ngidam ya?" tanya Andre karena melihat Anisa baik-baik saja nggak ada dia melihat Anisa mengidam atau gimana-gimana.
Pramana melirik ke arah Anisa yang duduk di sampingnya itu. Setelah Andre bertanya demikian.
Dan lantas Anisa menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak."
"Alhamdulillah ... Anisa tidak terlalu terganggu dengan namanya ngidam kehamilannya, kehamilannya tidak merepotkan Anisa!" timpal nya sang ibu mertua.
Sebenarnya Anisa bersyukur juga, karena dia tidak terlalu merasakan gimana rasanya mengidam ini itu. Atau terlalu mual atau gimana? karena kalau seandainya semuanya dia rasakan, dia minta tolong sama siapa kalau inginkan sesuatu! sementara dia ngerasa nggak enak kalau harus merepotkan Pramana ataupun yang lainnya.
"Sudah diperiksakan belum kehamilan nya?" tanya Renita sembari memasukan sendok ke mulut, pandangannya setuju ke arah Anisa.
"Belum--"
"Kok belum ... periksa kan dong ..." Renita yang memotong perkataan Anisa.
"Lagi-lagi Pramana menoleh ke arah Anisa. "Kenapa nggak diperiksakan dan kenapa nggak bicara sama aku? aku bisa mengantarmu."
"Tuh kan ... Nisa, Pram bersedia nganter kamu, Nak. Ke dokter. Lagian masa sih ... Pram gak mau nganterin istri nya sendiri!." Timpal sang ibu mertua kembali sambil menikmati makannya.
"Bener tuh ... masa sih ... gak mau nganterin istri tercinta!" celetuk Renita dengan mulut penuh dengan makanan.
"Sebaiknya periksakan lah, Nisa ... ajak Pram ke dokter. Biar lebih tenang dan tahu gimana-gimana nya!" tambahnya sang ayah mertua sembari menatap penuh perhatian pada sang mantunya tersebut.
Semua pasang mata mengarah pada Anisa yang terdiam, mereka ingin tahu jawaban dari Anisa.
"Em ... lusa aja periksa nya." Jawabnya Anisa terbilang singkat.
"Ooh ... ya sudah kalau begitu. Pram. Antar Anisa ke dokter." Lirih sang bunda pada Pramana.
"Iya, Bu ... tapi paling sore bisa nya." Pramana mengangguk setuju.
"Pram, kita nonton yu ach ke bioskop? malam Minggu nih ... nongkrong." Ajaknya Andre sambil menatap ke arah Pram.
"Iya Pram ... ajak istri mu jalan-jalan, nonton ... selama di sini belum pernah kamu mengajak sekalipun jalan kecuali kemarin yang ... Anisa ada keperluan membeli pakaian!" tambah sang ibu dengan lirihnya kepada Pramana.
Pramana dan Anisa sejenak saling pandang, kemudian Anisa kembali menanduk dan menikmati makannya.
Sejenak Pramana terdiam sembari melihat ke arah Anisa. "Baiklah, oke!"
__ADS_1
Kepala Anisa dengan cepat terangkat dan menoleh ke arah Pramana, sebelumnya dia pikir nggak mungkin Pramana mau mengajaknya jalan sama sang Abang nya tersebut, tetapi ternyata dia mau mengajaknya untuk pergi.
"Ye ... kita jalan, Nisa siap-siap kita ... berangkat nonton ke bioskop! tapi nonton film apa ya?" Renita menoleh pada sang suami.
"Ya ... apa saja, yang diputar di bioskopnya kalau mau sesuka hati sih ... Sudah aja di rumah ha ha ha ..." jawabnya Andre Seraya menarik gelas minumnya.
Setelah makan selesai, yang mau keluar pun bersiap-siap Begitu pun dengan Anisa, dia memilih setelan panjang dan juga kerudung pashmina berwarna coklat senada dengan pakaian yang dia kenakan saat ini.
Ketika Anisa dan Pramana berbarengan keluar dari kamar, sejenak pasang mata Pramana mengarah kepada Anisa yang tampak cantik, apapun yang dia pakai selalu nampak cantik. Begitupun dengan pakaian yang dia beli untuk Adisty yang semuanya Nisa pakai, pas di tubuhnya dan pas juga auranya.
Beberapa saat kemudian, mereka sama-sama melangkah berjalan beriringan, sama-sama turun menuruni anak tangga dan sekali tangan Pramana pun menyentuh tangan Anisa yang memegangi pagar tangga.
"Kenapa sih pegang-pegang mulu!" ucapnya Nisa sembari menarik tangannya dari pagar.
"Iddih ... Siapa juga yang pegang-pegang? orang cuman pegang pagar kok!" akunya Pramana sambil mengulum senyum di bibirnya.
"Dasar alasan!" Anisa menggelengkan kepalanya sambil terus berjalan menapaki satu persatu anak tangga hingga sampailah di lantai dasar.
"Yo, kita mau pergi nya pakai mobil siapa? kita satu mobil aja berempat! jangan satu-satu biar ramai!" ajaknya Andre yang sudah siap bersama sang istri berdiri di ruang tengah.
"Pakai mobil ku sajalah dan biar aku yang nyetir!" balasnya Pramana lalu mereka berpamitan kepada orang tuanya.
"Hati-hati ya, bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut! ingat lho ... bawa wanita hamil dua lagi," pesan sang ibu kepada kedua putranya.
Lalu Mereka bergantian mencium tangan kedua orang tuanya tersebut.
Kini mereka berempatnya sudah berada di dalam mobil Pramana, yang akan di kemudikan oleh Pramana sendiri dan Anisa duduk di belakang bersama Renita.
Sementara Andre duduk di depan bersama Pramana yang mengemudikan mobilnya tersebut.
Sambil memfokuskan pandangan ke depan dan tangan pun terus memutar kemudi, sesekali Pramana mencuri-curi pandang melalui kaca spion yang ada di atas kepalanya, melihat Anisa yang berada di belakang, yang tampak ceria mengobrol dengan Renita.
Senyumnya begitu manis, wajahnya begitu nampak indah dipandang mata. Dan bikin adem yang memperhatikannya.
Tiba-tiba ....
Plak .... tangan Andre menepuk paha nya Pramana, membuat Pramana terkaget-kaget bahkan mobil pun oleng ckiiiiiit ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya, makasih.